Ibu Sambung

Ibu Sambung
Khawatir


__ADS_3

Shinta yang merasa sangat pusing pun mencoba untuk memejamkan kedua mata nya. Pintu kamar terbuka, ia menoleh ke arah pintu. Terlihat Revan membawa makanan berjalan menghampiri dirinya.


"Belum berangkat?" tanya Shinta dengan suara yang lemah, lalu beranjak duduk perlahan. Revan duduk di sisi sang isteri.


"Belum, sebaiknya aku tidak masuk ke kantor."


"Kenapa?"


"Kondisi mu sangat tidak baik, Aku tak mau meninggalkan mu sendirian."


"Pergilah! Aku tak apa, lagipula ada mama, papa dan Syifa. Mereka akan menjaga ku, jangan khawatir." ujar Shinta. Revan memegang dahi isteri nya yang begitu panas.


"Astaga, panas sekali. Sebaiknya kita pergi ke dokter!"

__ADS_1


"Tidak! Aku tak apa, sudah. Pergi lah ke kantor, pekerjaanmu sangat penting."


"Tidak ada yang lebih penting dari keluarga ku. Kita akan ke dokter, jika kau tidak ingin. Aku akan menghubungi dokter untuk ke sini memeriksa diri mu." Revan meletakkan nampan di dekat meja. Lalu mengambil ponsel dari saku nya untuk menghubungi dokter. Setelah menghubungi dokter, Revan menyuapi Shinta makan. Awalnya Shinta menolak, namun Revan tetap kekeh untuk menyuapi Shinta.


Tak lama kemudian, Syifa masuk ke dalam kamar mereka dengan raut wajah yang cemas.


"Pa, Dokter datang dan Syifa membawa nya kesini. Mama kenapa?" tanya nya dengan penuh khawatir


"Dokter, bagaimana keadaan mama Syifa?"


"Anak baik, sayang sekali ya sama mama nya sampai-sampai cemas begini, Mama tidak apa-apa hanya saja butuh istirahat yang cukup. Anak baik jangan merepotkan mama ya?" pinta sang dokter, Syifa mendekati mama nya. Menangis, hati nya merasa sedih melihat sang mama berbaring lemah.


"Ma, Maafin Syifa ya? Harus nya Syifa membantu mama dalam mengurus adik-adik, mama pasti sangat lelah mengurus kami sekaligus hiks." Shinta menghapus air mata anak nya, tersenyum menenangkan anak nya.

__ADS_1


"Sayang, Mama nggak apa-apa kok. Sudah, jangan menangis. Kalau Syifa menangis, nanti adik-adik bagaimana? Bukan kah kakak Syifa mengajari adik-adik untuk tidak mudah menangis dan lemah? Kenapa kakaknya yang menjadi lemah?"


"Syifa akan lemah jika melihat mama seperti ini hiks."


Setelah selesai memeriksa dokter segera berpamitan pulang kepada Revan, Revan pun mengantar sang dokter sampai keluar rumah.


Syifa memeluk sang mama dengan hati yang masih sedih, Shinta mengelus rambut anaknya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Sudah ya nak? Jangan menangis, nanti mama akan sedih." Syifa melepaskan pelukkan dan menjauhkan kepala nya dari perut Shinta. Mengangguk, ia berharap jika mama nya akan segera sembuh. Syifa juga meminta mama nya untuk istirahat saja satu hari ini. Tidak perlu mencemaskan adik-adik nya karena dirinya yang akan menjaga ketiga adik nya. Syifa menyelimuti tubuh sang mama lalu keluar dari kamar.


******


Di bawah, terlihat wajah khawatir dari keluarga mereka. Revan mencoba menenangkan kedua orang tua dan anaknya jika Shinta akan segera pulih. Shinta hanya memerlukan istirahat yang cukup. Syifa menyuruh pelayan mereka untuk membuat susu untuk mama nya jika sang mama sudah bangun. Syifa kembali menemui si kembar Alan dan Alana

__ADS_1


__ADS_2