Ibu Sambung

Ibu Sambung
Sedih


__ADS_3

Alana sangat malas pulang ke rumah, namun Alan memaksa saudara kembarnya untuk pulang "Jangan membuat mama kepikiran, mama akan cemas jika kau tidak pulang!"


"Lepaskan aku! Aku tidak ingin pulang sekarang, aku mau kerumah temanku terlebih dahulu!"


Alan sangat marah, matanya memerah. Alan sama seperti papanya Revan yang sangat mudah marah!


"Lepasin aku, Alan!"


"Sayang!"


"Mama,"


Kedua anak kembar itu kaget saat mamanya menjemput mereka "Kenapa mama menjemput Alan dan Alana? Mama nanti lelah!"


Alan mendekati mamanya, namun Shinta mengatakan jika dirinya tidak merasa lelah "Mama tidak lelah, Sayang! Mama sengaja menjemput anak-anak mama"

__ADS_1


"Seharusnya mama enggak perlu repot-repot! Mama jemput saja anak kesayangan mama Khanza!" Alana pergi meninggalkan saudara kembarnya dan juga Shinta.


"Sayang!" Shinta ingin menyusul anaknya namun Alan mencegah "Sudah lah ma! Mama jangan mengejar anak yang kurang ajar sepertinya! Alan enggak mau mama terluka karena ucapannya."


Shinta menangis, Alan memeluk mamanya. Alana semakin hari semakin keterlaluan dengan mama mereka. Alan merasa geram.


"Mama tunggu di sini saja ya! Atau lebih baik mama menjemput Khanza terlebih dahulu, Alan akan bicara dengan Alana"


Alan menghampiri saudara kembarnya itu "Tunggu, Alana!"


"Mengapa kau mengatakan hal yang menyakiti hati mama? Mengapa semakin hari sikapmu begitu kurang ajar dengan mama? Apa kau tidak malu? Anak yang bukan berasal dari rahim mama aja bisa menyayangi dan menghormati mama. Sedangkan kau! Anak kandung mama sendiri begitu tega memperlakukan mama dengan sangat kejam!"


Alana terdiam, namun tidak bisa di pungkiri jika Alana juga merasa terluka.


"Sudah lah Alan! Aku tidak ingin berdebat denganmu! Kau tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi aku!"

__ADS_1


"Bagaimana? Bagaimana kami bisa memahami mu jika diri mu sendiri saja tidak pernah menghargai dan menghormati mama!"


"Aku sangat menyayangi mama! Tapi mama tidak pernah memandangku, mama selalu perduli dengan Khanza. Apa kau tahu bagaimana aku ingin mendapatkan perhatian mama?"


Alan terdiam, ia langsung memeluk Alana yang merasa hancur "Aku dapat memahami kesakitan mu, tapi aku minta. Jangan bersikap kurang ajar dengan mama. Bagaimana pun mama itu mamanya kita, kamu jangan membuat mama sedih!"


Alana mengangguk, Shinta yang mendengar ucapan anaknya langsung mendekati kedua anaknya. "Maafin mama jika mama tidak sesuai dengan harapan kalian!"


Shinta menangis, Alana meminta maaf dengan mamanya "Maafin Alana ma, jika Alana sudah membuat mama sedih!"


"Mama yang harus minta maaf sama kamu, nak! Seharusnya mama tidak membuat kamu merasa cemburu. Mama hanya ingin menjaga amanah dari Mami Caca dan Daddy Arvan. Mama takut, jika mama tidak bisa menjaga amanah dari mami Caca."


"Alana tahu ma! Tapi seharusnya kita katakan kepada Khanza jika dia itu bukan anak kandung mama! Mama juga harus bisa menjelaskan kepadanya. Bagaimana jika mami dan Daddy kembali? Apa yang akan kita katakan kepadanya? Dan mami juga akan merasa terluka jika Khanza tidak mengenali maminya sendiri!."


"Sayang, kamu tahu jika kita sudah pernah membicarakan itu kepada Khanza. Namun Khanza tidak bisa menerimanya, dan ia jatuh sakit. Dan mami Caca sendiri yang meminta kita untuk tidak memaksa Khanza menerima segalanya. Biarkan mami dan daddy kembali terlebih dahulu. Lalu kita akan menjelaskannya!"

__ADS_1


__ADS_2