
"Terimakasih ya! kau sudah mau menerima anak ini, maksudnya anak ku, eh anak kita berdua." ucap Kaynara dengan bingung. Rangga hanya tersenyum melihat tingkah Kaynara. Ia merasa sangat gemas melihat wajah lucu kaynara jika sedang gugup
"Kenapa kau senyum-senyum begitu?"
"Aku hanya sedang menikmati wajah lucu mu." jelas Rangga secara terang-terangan. Spontan Kaynara memegang pipi nya
"Apa aku terlihat seperti badut?"
"Melebihi," Rangga mengedip kan satu mata nya untuk mengganggu Kaynara. Melihat wajah Kaynara yang memerah membuat Rangga semakin bersemangat untuk mengganggu wanita yang sebentar lagi menjadi isteri nya.
"Sudah lah! jangan melihat ku begitu!"
"Bukan kah kita teman? barusan kau meminta ku untuk menjadi teman mu. Ya aku tau, aku bakalan menjadi teman hidup mu. Tanpa kau minta aku akan menjadi teman hidup mu,"
"Tidak! maksud ku berteman sebagai seorang teman."
"Iya, teman hidup. Aku tau itu!" ledek Rangga kembali. Kaynara mengepal kan kedua tangan nya merasa geram
"Sudah lah, kau keluar sana! aku akan beristirahat." pinta Kaynara. Rangga pun berlalu pergi tanpa berpamitan pada Kaynara.
"Dia pergi tanpa mengucapkan satu kata pun?" batin Kaynara dengan perasaan yang kesal.
__ADS_1
"Mengapa dia sangat menyebal kan, sabar ya nak. Calon Ayah mu memang sangat menyebal kan." ucap nya sendiri sambil mengelus perut rata milik nya.
"Aku mendengar nya Nona." Kaynara merasa sangat terkejut melihat Rangga tiba-tiba kembali ke hadapan nya
"K-kau! sedang apa kau kembali lagi?"
"Untuk mengucap kan selamat istirahat untuk calon isteri dan anak ku.“ Rangga memegang perut rata Kaynara, hati Kaynara merasa sangat tersentuh, ada getaran yang berbeda saat Rangga memegang perut nya
" Aku permisi," pamit Rangga. Kaynara hanya diam dan memandangi tubuh kekar Rangga yang meninggal kan ruangan tersebut. Ia memegang dada nya yang hampir copot karena gugup.
"Mengapa detak nya cepat sekali."
"Sayang?" panggil Shinta kepada Revan dengan suara manja nya. Revan mengangkat satu alis nya, ia merasa curiga mengapa Shinta memanggil nya dengan nada selembut itu
"Pasti ada mau nya." batin Revan.
"Sayangggg," ucap nya lagi dengan manja
"Iya, Sayang. Kenapa?"
"Apa kau pernah melihat badut di pinggiran jalan yang sedang berjoget?"
__ADS_1
"Iya, kenapa?“
" Aku ingin melihat nya.“
"Baik lah ayo kita cari." Revan pun melajukan mobil nya dan mencari badut keliling yang sedang berjoget.
"Itu dia!" tunjuk Caca.
"Badut itu sedang berdiri di lampu merah. Ayo kita kesana," Mereka ber-empat pun turun dari mobil dan menemui badut itu. Badut keliling tersebut bergoyang sangat lincah dan lucu, membuat Caca dan Shinta tak berhenti tertawa.
"Apa kau sudah puas, Sayang?" tanya Revan. Shinta pun mengangguk
"Kalau begitu ayo kita pulang! Syifa dan si kembar sudah menunggu kita di rumah." ajak Revan
"Tidak, Sayang."
"Tidak? bukan kah kamu sudah puas, Sayang? mengapa tidak mau pulang?"
"Aku ingin kau memakai kostum badut itu dan berjoget di sini." ucap Shinta.
"Tidak! aku tidak ingin, sudah jangan meminta yang aneh²! dulu sewaktu kau hamil si kembar Al dan Alana kau meminta ku memakai kostum badut dan berjoget di rumah. Sekarang kau meminta ku untuk memakai nya dan lebih parah kau menyuruh ku untuk berjoget di depan umum. Aku tidak ingin!"
__ADS_1