Ibu Sambung

Ibu Sambung
Kehadiran Rayhan


__ADS_3

Arvan menghapus air mata isteri nya "Sudah jangan menangis lagi, aku yakin jika tata tidak bermaksud membuat mu sedih. Dia hanya merasa khawatir saja karena melihat Syifa demam seperti itu."


Caca mengangguk, ia pun memahami perasaan Shinta saat ini. Shinta terlalu menyayangi anak nya.


Shinta membuat air jahe untuk anak nya, ia pun memberikan sirup obat batuk kepada anak nya.


Syifa pun meminum nya tanpa mengeluh sedikit pun padahal Syifa tidak menyukai air jahe.


"Sayang, kamu tidur lah. Jangan kemana-mana dan jangan bermain dulu dengan adik-adik oke? Mama ingin kamu fokus dengan kesembuhan kamu dulu."


"Iya, mama." Shinta menyelimuti tubuh anak nya. Membelai rambut Syifa.


Setelah anak nya tertidur dengan lelap, Shinta ingin berbaring di samping anak nya. Ia akan menjaga Syifa sampai anak nya benar-benar sembuh. Namun, ia melihat Raisa yang berdiri memperhatikan nya dan Syifa. Karena terlalu panik karena Syifa sakit Shinta sampai mengabaikan Raisa.


"Raisa sayang, sini nak." Shinta meminta Raisa untuk mendekat, Raisa pun mendekati Shinta dan ia duduk di samping Shinta.


Shinta membelai rambut Raisa dan meminta maaf karena sudah mengabaikan Raisa. "Mama minta maaf ya nak, mama sampai tidak menyadari keberadaan kamu."


Raisa pun mengangguk, dan tersenyum "Tidak apa-apa ma, mama kan sedang mengurus kakak."


Raisa melihat kasih sayang dan perhatian yang begitu besar dari Shinta untuk kakak nya. Kakak nya sungguh orang yang sangat beruntung, memiliki ibu sambung sebaik Shinta. Bahkan, mereka tidak seperti anak dan ibu sambung.


"Sayang, kenapa melamun hmmm?" Raisa pun menggelengkan kepala nya, dan mengatakan jika kakak nya benar-benar beruntung memiliki ibu sebaik mama Shinta.


"Sayang, mama yang merasa beruntung memiliki anak-anak seperti kalian yang begitu pengertian dan manis."


Raisa pun tersenyum bahkan mama Shinta tidak mau di puji oleh kebaikan yang ia buat sendiri.


"Sayang, kamu nggak bobok siang juga?" tanya Shinta kepada Raisa. Raisa pun mengatakan jika diri nya tidak bisa tidur ketika melihat kakak nya sakit.


"Jangan khawatir, kakak Syifa sebentar lagi akan segera sembuh untuk kita."


"Mama juga khawatir dengan kakak bahkan sampai membentak mami tadi." Shinta terdiam, ia pun menyadari perkataan nya tadi pasti Caca merasa sedih.


Shinta meminta Raisa untuk menjaga kakak nya sebentar, ia harus menemui Caca dan meminta maaf. Raisa pun mengangguk. "Raisa akan menjaga kakak Syifa, mama jangan khawatir."


"Terimakasih nak." Shinta segera bangkit berjalan ke arah luar kamar untuk mencari keberadaan Caca.


Shinta sungguh menyesali kebodohan nya. Ia terlalu terbawa emosi dan khawatir yang berlebihan sampai membuat hati Caca terluka.


Shinta melihat Caca yang menangis di luar memeluk suami nya. Shinta mendekat Caca dan memanggil sahabat nya itu "Caca."


Caca menoleh ke arah Shinta, ia menghapus air mata nya dan tersenyum. "Iya? Bagaimana keadaan Syifa."


Shinta langsung memeluk Caca dan meminta maaf karena sudah menyakiti hati nya "Maaf kan aku, aku sungguh tidak bermaksud menyakiti hati mu. Sungguh, aku terlalu khawatir dengan keadaan Syifa tadi. Seharus nya aku tidak mengatakan itu kepada mu. Aku juga ibu nya Syifa, bukan hanya kau saja yang harus bertanggungjawab. Aku juga, karena aku tidak becus mengurus anak."


"Tidak, kau tidak salah tata. Seharusnya aku memang tegas kepada anak-anak dan tidak memanjakan keinginan nya."


Shinta dan Caca mengeratkan pelukan mereka. Lalu, saling melepaskan pelukan satu sama lain. "Aku sungguh kekanak-kanakan dan selalu berkata hal yang membuat mu bersedih, aku sungguh menyesal."


"Sudah lah, Tata! Jangan mengatakan hal seperti itu, Aku mengerti keadaan mu, aku juga tidak menyalahkan mu atas itu."


"Ayo, sebaiknya kita menemui Syifa kalian akan terus meminta maaf secara bergantian terus menerus?" tanya Arvan..Caca dan Shinta pun tertawa mendengar nya.


Terkadang, mereka seperti anak kecil yang mudah bertengkar hanya karena masalah kecil, Dan tidak butuh waktu lama ke dua nya saling meminta maaf satu sama lain dan saling menyalahkan diri sendiri.


"Syifa sedang tidur, ada Raisa juga. Sebaiknya kita jangan ganggu mereka dan biarkan mereka istirahat." ucap Shinta


Caca dan Arvan pun mengangguk, mereka bertiga menuju ruang keluarga.


Terlihat Revan yang duduk sendirian menikmati teh sambil membaca koran. Shinta yang melihat nya pun tersenyum, jika melihat suami nya seperti itu Shinta seperti melihat ayah Gunawan. Untung saja, Revan tidak memakai sarung, jika ia memakai sarung dia akan sama percis seperti ayah Gunawan.


Shinta berjalan, mendekati dan duduk di samping suami nya itu.


"Bagaimana keadaan Syifa?" ujar Revan yang mengecup kening Shinta, Shinta mengatakan jika anak nya sudah membaik dari sebelum nya dan sekarang sedang istirahat.

__ADS_1


"Bagus lah jika begitu. Aku merasa lega mendengar nya dan aku tidak perlu mendengar teriakan mu itu." ledek Revan, Shinta memukul bahu suami nya dengan pelan.


Revan meringis, padahal ia memang tidak merasakan sakit, ia hanya ingin mengerjai isteri nya saja.


Melihat suami nya yang meringis, Shinta khawatir dan bertanya apa yang sakit.


Revan menahan tawa nya, benar saja dugaan nya istri nya itu pasti akan panik. Shinta orang yang panikan dalam masalah sekecil apapun.


Caca dan Arvan saling memandang satu sama lain, mereka pun tersenyum melihat tingkah sepasang suami istri yang ada di hadapan mereka.


Tok! Tok! Tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Shinta pun ingin beranjak dari tempat duduk nya dan melihat siapa yang datang. Namun, Caca mencegah dan mengatakan jika dia yang akan membuka pintu nya.


Shinta mengangguk, menuruti permintaan Caca.


Caca berjalan ke arah luar pintu, ia segera membuka pintu rumah itu. Caca melihat seorang wanita cantik dengan anak lelaki sekitar usia delapan tahun.


"Siapa?" tanya Caca yang tidak mengenal nya. Wanita itu tersenyum dan bertanya keberadaan Shinta. "Maaf, apakah Shinta nya ada?" Caca mengangguk dan menyuruh tamu itu masuk. "Silahkan masuk."


Wanita itu mengikuti langkah Caca dari belakang.


"Ta, ada yang mencari mu."


"Siapa?" mata Shinta tertuju kepada anak lelaki itu, wajah nya begitu mirip dengan Rayhan mantan kekasih nya yang telah tiada.


"Ci-cinta?" lirih Shinta yang tak percaya, cinta tersenyum kepada Shinta.


Shinta bangkit menyambut kedatangan Caca. Mata nya masih fokus dengan seorang anak lelaki itu.


"Anakmu?" tanya Shinta kepada cinta, cinta pun mengangguk "Nama nya Rayhan."


Shinta terkejut dengan ucapan cinta. Wajah dan nama nya begitu mirip. "A-apakah ini anak." cinta mengangguk, ia mengatakan jika dulu ia dan Rayhan pernah mengasih cinta semalam.


Shinta pun mengangguk mengerti, "Sebulan sebelum Rayhan pergi, kami."


Shinta mempersilahkan cinta untuk duduk.


"Ta. Aku kesini untuk meminta tolong kepada mu."


"Meminta tolong apa?"


"Aku ingin menitipkan Rayhan kepada mu. Ibu nya Ray telah meninggal dunia. Aku tidak bisa merawat nya, saat ini aku telah mempunyai kehidupan baru, dan suami ku tidak mengetahui tentang Rayhan."


Shinta tak mengerti dengan ucapan cinta. "Dia anakmu, mengapa kau ingin menitipkan nya kepada ku?"


Shinta melihat ke arah Rayhan yang hanya diam "Tolong mengerti aku, dia anak di luar nikah antara aku dengan Ray. Suami ku tidak tahu tentang kehamilan ku sebelum kami menikah, aku sudah bahagia sekarang. Dulu, mama nya Rayhan yang membesarkan Ray. Namun, sekarang nenek nya telah tiada. Siapa yang akan merawat nya. Aku yakin, hanya kau yang bisa."


Shinta melihat ke arah suami nya. Dia tidak bisa mengambil keputusan hal yang sebesar ini.


Shinta pun tak menyangka mengapa cinta begitu tega meninggalkan anak nya dengan Rayhan.


Shinta tahu jika Ray dan cinta tidak pernah menikah, dan mereka melakukan kesalahan hingga memiliki anak dari hubungan gelap. Namun, apa kesalahan anak nya hingga cinta dengan tega meninggalkan anak nya.


"Shinta, aku mohon. Aku tidak bisa mempertaruhkan rumah tangga ku hanya karena dia."


"Tapi dia adalah anakmu!" sentak Shinta dengan kesal. Shinta tahu jika cinta begitu mencintai Rayhan dulu namun mengapa sekarang cinta membuang anak nya. Peninggalan terakhir dari Rayhan.


"Aku tahu itu, tapi aku nggak bisa merusak kebahagiaan ku. Aku sudah banyak berkorban selama ini untuk ayah nya yang nggak pernah mencintai ku..Bahkan, aku dan mama nya sudah membuat keputusan untuk siapapun tidak boleh mengetahui hal ini. Setelah mama nya juga telah pergi ikut dengan rayhan. Bagaimana nasib anak ini?"


"Aku tidak tahu, itu urusan mu sebagai orang tua..Kenapa kau datang ke rumah ku?"


Shinta kesal dengan kelakuan cinta, sebagai seorang ibu dia tidak memiliki sedikit rasa sayang kepada anak nya.


"Baik lah, mungkin aku salah datang ke sini. Lebih baik aku menitipkan nya ke panti."

__ADS_1


Cinta membawa Rayhan dengan kasar, Shinta menatap mata Rayhan junior dengan teduh. Seperti ia sedang bertatapan dengan mantan pacar nya itu.


Mata Rayhan junior berkaca-kaca membuat Shinta tidak tega. Namun, ia juga tidak berani mengambil keputusan.


Kehadiran Rayhan bisa membuat Revan merasa sedih dan merasa jika Shinta masih tenggelam dengan kenangan masa lalu.


Cinta menarik paksa Rayhan. Terlihat sekali jika cinta tidak menyayangi anak nya itu.


"Tunggu!" semua orang menoleh ke belakang, terlihat ibu Syafa yang berdiri dengan lemah nya. Lalu berjalan mendekati mereka.


"Ayo, sayang." Ibu Syafa pun menggenggam jemari Rayhan dengan lembut. "Jika kalian tidak ingin merawat nya biarkan dia di sini tinggal bersama ibu dan ayah."


Shinta, Revan, Caca dan Arvan merasa terkejut dengan keputusan ibu mereka.


Cinta tersenyum ia merasa lega akhir nya ada yang akan melindungi dan menyayangi anak nya.


"Ibu, apa yang ibu katakan? Ibu sedang sakit ibu tidak bisa mengurus anak kecil lagi."


"Sayang, ibu dan ayah hanya tinggal berdua di rumah. Biarkan kami yang akan merawat Rayhan daripada ia harus di panti asuhan. Anggap saja ibu dan ayah sedang meng-apdosi anak.


Cinta mengucapkan kata terimakasih kepada ibu Syafa, ia pun memberikan barang-barang Rayhan junior kepada orang tua Shinta.


Shinta geram karena dengan tidak malu nya Cinta membuang anak nya secara tidak langsung.


"Terimakasih banyak Tante. Aku akan mengirimkan uang setiap bulan nya untuk kebutuhan Ray."


Shinta semakin kesal dengan ucapan cinta.."Tidak perlu! Sekarang, kau bukan lah ibu nya lagi. Keluarga kami akan mengurus surat adopsi untuk Rayhan dan kau tidak akan bisa bertemu dengan nya lagi.!"


"Itu tidak masalah, aku juga sudah memiliki keluarga baru dan memiliki dua anak sekarang. Aku tidak akan sempat berkunjung ke sini."


Shinta menggeleng kan kepala nya, mengapa ada orang sekejam dan tak mempunyai hati seperti cinta.


Caca mengingat diri nya dahulu yang meninggalkan Raisa di panti asuhan. Ia menganggap diri nya tak jauh buruk dari apa yang dilakukan cinta.


"Aku sudah tidak ada keperluan lagi Di sini. Aku harus pergi Karena anak-anakku sudah menunggu di dalam mobil. Aku permisi dulu."


Cinta pun pamit kepada semua nya. Ibu Syafa memeluk Rayhan yang hanya diam saja.


Seperti nya jiwa Rayhan terganggu. Sangat jelas dari wajah nya. Bahkan Rayhan merasa ketakutan saat ayah Gunawan ingin mendekati nya.


Seakan Ray mengalami trauma yang begitu dalam, mereka mengajak Ray untuk duduk terlebih dahulu. Caca mengambil kan segelas air minum untuk Ray minum.


Syafa menyuruh Ray untuk minum terlebih dahulu, dengan nada gemetar Ray meneguk segelas air itu.


Shinta dan suami nya saling pandang, mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi kepada Rayhan.


mental nya seakan terganggu, Syafa mencoba untuk menenangkan Rayhan agar diri nya tidak merasa histeris.


Cinta yang masuk ke dalam mobil menghapus air mata nya, ia merasa lega karena kini anak nya berada di tempat yang paling aman.


Sebenarnya cinta tidak mau meninggalkan anak nya. Namun, suami nya tidak menyukai Rayhan bahkan sering memukuli Rayhan. Cinta juga habis di pukuli setiap kali membela anak nya. Cinta tidak tega melihat Ray yang terus-terusan di aniaya. Dia ingin bercerai dari suami nya namun suami cinta mengancam jika mereka bercerai maka anak-anak nya akan di bawa oleh suami nya.


Cinta tidak akan bisa melihat anak-anak mereka lagi. Dan membawa jauh anak-anak nya. Cinta merasa bingung dengan situasi yang ada, dia juga tidak bisa membiarkan anak nya Rayhan terus saja di aniaya dan di jadikan pelampiasan kemarahan oleh suami nya itu.


Cinta ingin anak nya merasa aman dan bahagia, dia yakin hanya keluarga Shinta yang menjaga Rayhan dengan baik.


Jika saja nenek dari anak nya itu masih hidup pasti ia akan memberikan Ray junior kepada ibu dari sahabat sekaligus ayah dari anak nya itu.


"Maaf kan mama, sayang. Namun, ini lah yang terbaik untuk kamu."


Cinta menghapus air mata nya, ia pun segera melajukan mobil untuk pergi dari sana.


Cinta berharap, jika suatu saat nanti anak nya itu akan bisa mengerti mengapa ia harus menelantarkan anak nya itu.


"Sayang, maafkan mama. Mama sangat menyayangi mu, dan kau Ray. Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga anak kita. Peninggalan mu yang terakhir, aku menyesal." ujar nya yang senggugukan.

__ADS_1


Siapa yang tidak sedih harus jauh dari anak yang nya sendiri.


__ADS_2