Ibu Sambung

Ibu Sambung
Permasalahan yang di hadapin Syifa


__ADS_3

"Ingat ya nak, jika ada siapapun yang menganggu mu. Jangan pernah merasa takut jika Syifa tidak salah, gunakan akal tanpa harus menggunakan otot." bisik Shinta kepada Syifa, Syifa mengangguk mengerti. Revan merasa curiga dengan tingkah isteri dan Puteri sulung nya.


Di dalam perjalanan Revan menoleh ke arah Syifa, rasa ingin tahu Revan memuncak.


"Kak." Ia memanggil anak nya lalu memfokuskan pandangan ke depan.


"Iya, Pa." Syifa menoleh ke arah papa nya.


"Mungkin, papa memang tidak asyik seperti mama. Tapi, setidak nya kakak bisa menceritakan segala masalah kakak kepada papa."


Syifa terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Karena yang ia tahu, papa begitu sangat pemarah. Bisa-bisa, Revan membuat keributan di sekolah


"Iya, Pa. Jika Syifa ada masalah, Syifa akan cerita. Tapi, ini Syifa nggak ada masalah apa-apa kok pa. Jadi, nggak ada yang harus di ceritakan." ucap Syifa mencoba meyakinkan papa nya.


"Baik lah, Nak. Jika, kamu merasa begitu. Tapi, jika ada sesuatu yang membuat mu tidak nyaman. Segera cerita ke papa ya nak. Jangan pernah menyembunyikan apapun lagi kepada papa." tidak terasa, mereka sudah sampai di sekolah Syifa, dengan rasa malas Syifa turun dari mobil.


Syifa melangkah kan kaki nya menuju ke kelas, terlihat Amira yang sedang duduk bercanda tawa dengan kekasih dan teman-teman nya.


"Anak mami udah datang, Hari ini membawa bekal apalagi?"


Hahaha

__ADS_1


Terdengar tawa anak-anak nakal yang selalu menganggu nya, Syifa bersikap biasa saja. Tidak menghiraukan teman-teman yang nakal itu.


Syifa duduk di bangku biasa ia tempati, teman-teman yang lain nya juga sudah masuk karena lonceng sudah berbunyi menandakan sebentar lagi kedatangan guru. Raisa menatap aneh anak-anak nakal itu. Amira yang merasa tidak suka dengan tatapan Raisa, ia melempar Raisa sebuah pena yang runcing. Membuat dahi Raisa tergores, Raisa menangis namun tak berani berbuat apa-apa. Syifa yang kesal dengan perbuatan Amira yang sudah keterlaluan berdiri meneriaki Amira.


"Cukup Amira, Lo keterlauan!" Syifa yang begitu kesal menyiram Amira dengan air minum yang ia bawa. Keributan itu, membuat guru datang dan memarahi Syifa.


"Syifa, kenapa kamu menyiram Amira?" tanya guru itu kepada Syifa, Syifa pun membela diri dan menjelaskan segala nya kepada guru.


"Dia yang salah Bu, dia melempar Raisa dengan pena yang tajam. Lihat lah dahi Raisa Bu, tergores."


"Apa benar itu, Raisa?"


"Be-benar, Bu. Amira itu anak yang nakal, bahkan dia selalu mengganggu ku dan Syifa."


"Memang nya kenapa jika basah, Bu? Dia hanya basah, bukan terluka seperti Raisa." dengan berani Syifa menentang guru nya, walau tahu Amira yang bersalah. Namun, guru itu tetap membela Amira, karena orang tua Amira, investor terbesar di sekolah nya.


"Kamu jangan kurang ajar ya!" guru itu memukul Syifa, Amira yang melihat nya merasa begitu puas. Syifa menangis, menatap guru nya dengan begitu kecewa.


"Apa karena orang tua nya seseorang yang berpengaruh di sekolah ini makanya ibu bersikap tidak adil kepada kami? Walau mengetahui kebenaran nya. Ibu tetap saja membela ia dan menyalah kan ku?"


"Jangan kurang ajar, Syifa!" tegas guru nya kembali.

__ADS_1


"Ke dua orang tua saya tidak pernah mengajar kan saja untuk berbicara tidak baik kepada orang tua. Jika saya mau, saya bisa saja membalas pukulan ibu. Tapi, saya tidak melakukan itu. Jika, sekarang saya berbicara seperti ini kepada ibu. Bukan karena saya kurang ajar, melainkan saya meminta keadilan kepada seorang guru. Namun, saya salah. Guru yang seharusnya menjadi contoh yang baik untuk murid justru berbuat sebaliknya. Di buta kan oleh jabatan sehingga tidak tahu mana yang salah dan benar. Jika pun tahu, memilih untuk menjadi buta kepada sebuah kebenaran." ujar Syifa secara lantang. Bukan nya merasa bersalah, guru itu justru kembali menampar Syifa. Syifa yang tak tahan pun memilih ke luar kelas, ia pulang ke rumah dalam keadaan menangis.


Di rumah, Shinta yang sedang bermain bersama Alan, dan Alana melihat anak nya pulang dengan keadaan yang tidak baik.


"Nak, kamu kenapa menangis?" tanya Shinta dengan lembut, menghampiri anaknya. Si kembar menoleh satu sama lain, bertanya apa yang terjadi.


"Ti-tidak Ma, Syifa tidak menangis." Syifa mencoba bersikap biasa saja, ia tak ingin mama nya tahu. Shinta yang melihat keanehan pada anak nya, Shinta menyuruh sang anak menatap diri nya. Betapa terkejut nya shinta, melihat cap tangan di pipi anak nya yang putih.


"Nak, siapa yang melakukan ini?" Syifa tidak menjawab, diri nya hanya diam dan menangis.


"Nak, katakan sama mama. Siapa yang bertanggungjawab dengan ini?" tanya Shinta yang mulai meninggi kan suara nya, mama Lily dan papa Tommy pun datang karena keributan yang ada.


"Sayang, kenapa kau memarahi nya nak?" tanya mama Lily kepada menantu nya dengan lembut. Shinta menunjukkan wajah Syifa yang merah bercak jari di pipi nya yang manis. Mama Lily dan Papa Tommy pun begitu kaget.


"Nak, katakan pada kita semua. Ada apa, Sayang? Siapa yang melakukan ini?" Syifa masih terdiam, ia bingung harus memberitahu yang sebenarnya atau tidak. Shinta langsung menghubungi suami nya.


Sebelum Revan datang, Shinta menyuruh anak nya untuk duduk, ia memberikan air minum kepada sang anak agar merasa tenang. Shinta berharap, jika nanti Revan datang, Syifa mau berbicara yang sesungguh nya kepada mereka semua. Revan berlari, menghampiri Syifa. Melihat wajah Syifa.


"Siapa yang melakukan ini pada mu, Kak?" tanya Revan yang begitu marah melihat anaknya terluka. Syifa masih terdiam dan menangis.


"Kakak nggak perlu takut, ada kita semua. Syifa ingat kan janji Syifa pada papa tadi?" Syifa menatap papa nya, mengangguk. Akhir nya Syifa menjelaskan segala nya yang terjadi di sekolah.

__ADS_1


"Syifa mempunyai teman yang begitu nakal Pa. Namanya, Amira. Papa Amira orang yang sangat berpengaruh di sekolah. Kesalahan nya selalu saja di tutupin oleh semua guru. Tadi, Amira melempar pena yang tajam kepada Raisa, teman sebangku Syifa. Kening Raisa terluka. Syifa berfikir itu sudah yang sangat keterlaluan. Amira selalu saja mengganggu kami. Jadi, Syifa menyiram nya dengan air minum. Bu guru datang, walau kami sudah menceritakan segala nya. Ibu guru tetap membela Amira, dia menampar Syifa dua kali. Pa?." Syifa menangis menjelaskan itu pada papa nya.


"I-bu guru bilang, Syifa anak yang tidak sopan."


__ADS_2