
Syifa membuka mata perlahan ia melihat di samping kanan nya ada Shinta yang memeluk diri nya dan di samping kiri ada Revan yang memeluk diri nya juga. Sudah lama Syifa tidak merasa kan momen seperti ini
"Selamat pagi sayang nya mama." ucap Shinta dengan suara khas bangun tidur nya. Shinta mengecup pipi Syifa.
"Pagi ma."
"Gimana tidur nya? nyenyak tidak?"
"Sangat ma."
"Ayo kita membersih kan diri dulu, lalu sarapan." ajak Shinta yang bangkit dan mengikat rambut panjang nya. Syifa pun bangkit dan mengikuti sang mama ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan bersiap diri. Shinta dan Syifa duduk di balkon hotel yang mereka tempati
"Ma."
"Iya, Sayang?"
__ADS_1
"Apa boleh Syifa menghubungi mama Caca?"
"Tentu saja boleh, Sayang. Kenapa tidak? sebentar ya. Mama ambil ponsel mama dulu." Shinta mengusap rambut Syifa lalu beranjak pergi dan mengambil ponsel genggam milik nya.
Ponsel Shinta berada di dalam tas yang belum sempat ia keluarin dari kemarin. Ia kaget melihat notif panggilan yang begitu banyak dari sang ibu.
"Apa terjadi sesuatu dengan si kembar?" batin nya. Dengan buru-buru Shinta langsung menghubungi sang ibu
"Hallo nak." terdengar suara wanita paru baya dari seberang sana
"Ibu kemarin banyak sekali menghubungi, Tata. Maaf ya Bu, ponsel Tata di silent jadi Tata tidak tahu bahwa ibu menghubungi Tata. Bagaimana Baby Alan dan Alana Bu? apa mereka merepot kan Ibu dan Ayah? atau si kembar sakit?" tanya nya dengan khawatir
"Lalu?"
Setelah menerima telepon dari Syafa. Shinta merasa sangat khawatir, ia mencoba menghubungi seseorang namun tidak bisa. Shinta terduduk dan mencoba membangun kan suami nya.
"Sayang. Bangun lah!" Shinta menggoyang kan tubuh Revan
__ADS_1
"Iya, sayang. Kenapa?"
"Ayo bangun!!!" pinta Shinta serius. Revan pun membuka mata nya dan duduk di atas tempat tidur
"Kenapa, Sayang?"
"Ibu kemarin menghubungi ku berulang kali, namun karena ponsel nya aku silent tidak terangkat."
"Kan bisa kamu menghubungi mama kembali, mengapa terlihat sangat khawatir."
"Sudah."
"Lalu? apa masalah nya? Apakah si kembar rewel?" tanya Revan. Shinta menggelengkan kepala nya.
"Ibu memberitahu ku bahwa Caca dan Arvan sedang mengalami musibah. Rumah, mobil dan seluruh aset milik nya sudah ia pertaruhkan di perusahaan itu. Semua nya sudah habis dan Arvan tidak memiliki apapun lagi. Kemungkinan pagi ini, pihak Bank akan menyita rumah dan mobil mereka. Ibu dan Ayah sudah menyarankan mereka untuk tinggal bersama mereka. Namun, Caca tidak mau. Aku sudah menghubungi mereka namun tidak bisa, aku sangat khawatir sayang. Caca dan Kaynara saat ini sedang mengandung. Akan kemana mereka?" ucap Shinta yang begitu sangat panik.
Revan yang mendengar ucapan isteri nya merasa kaget, bagaimana pun Caca adalah Ibu dari anak nya. Hubungan mereka juga sangat baik dan dekat layak nya saudara. Apalagi Shinta yang sudah menganggap Caca seperti kakak bagi nya. Ia tau bagaimana khawatir nya sang isteri.
__ADS_1
"Apa tidak sebaik nya kita balik saja?" ucap Shinta
"Tidak! itu akan membuat Syifa sangat sedih. Aku mohon padamu, jangan memberitahu apapun pada Syifa dulu. Biar kan ia ini menjadi rahasia kita, biar kan Syifa merasa kan liburan ini. Aku akan menyuruh orang ku untuk mencari dan menolong mereka." Ucap Revan. Shinta pun setuju dengan suami nya.