
Shinta melangkahkan kakinya mendekati parkiran mobil, ia masuk kedalam mobil.
"Udah selesai?" Shinta menoleh kearah Revan dan tersenyum
"Udah kok" menoleh kebelakang melihat Syifa yang sedang tertidur.
"Tadi dia main, mungkin lelah dan tertidur" Shinta pun pun mengangguk dan bersandar di kursi mobil tersebut. Revan memegang kening Shinta dan mengelusnya dengan lembut lalu melajukan mobil nya menuju kerumah, tidak ada obrolan diantara mereka. Revan sejenak menoleh kearah Shinta yang melihat keluar arah jendela
"Masih sedih" Tanya nya memegang jemari Shinta. Shinta menoleh kearah Revan dan tersenyum
"Enggak kok, cuman mau lihat pemandangan aja" Shinta mencoba untuk tegar
"Aku tahu ini berat buat kamu, tapi aku yakin kami bisa melewati semua ini" Hanya ucapan itu yang bisa Revan katakan untuk menguatkan isterinya.
"Terimakasih ya" Shinta menggenggam tangan Revan dengan erat
**********
Sesampai dirumah, mereka pun turun dari mobil. Revan menggendong Puterinya yang sedang terlelap dan membawa Syifa kedalam kamar. Shinta pun masuk kedalam kamarnya, Ia menatap langit langit kamarnya.
Drttt...Drttt!!!
Suara hp Shinta bergetar, ia mengambil ponsel yang ada di tas kecilnya, ada satu panggilan masuk di layar ponselnya. Shinta pun menarik tombol hijau dan berbicara kepada sang penelpon. Orang itu adalah Jennika sahabat sekaligus rekan kerja Shinta di waktu klinik.
"Hai Ta, kangen banget ni sama kamu" Suara jeritan wanita yang ada di seberang sana begitu nyaring membuat Shinta menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya.
"Bisa gak sih kalau ngomong itu gak usah pakai acara teriak teriak gitu" Kesal Shinta
"Hehe maaf, habisnya aku kangen banget sama kamu. Apalagi mama, udah lama juga kamu enggak main kerumah kan Ta"
__ADS_1
"Iya Jen, maaf ya. Entar aku main kok kerumah dan jenguk Tante Sora"
"Kapan coba?"
"Iya enggak sekarang pokoknya" Shinta pun membalikkan tubuhnya dan membuang nafas dengan jengah.
"Ta"
"Hmm"
"Tata" kesal dengan jawaban Shinta yang begitu cuek, Jennika berteriak membuat kuping wanita yang sedang hamil muda itu sakit.
"Kalau ngomong bisa pelan enggak sih Jen! Sakit tau kuping aku dengar suara kamu yang nyaring itu" Kesalnya.
"Habisnya kamu ngeselin sih"
"Wahhhhhh, selamat sayang selamat" Jawab Jennika dengan semangat dari seberang sana. Jennika begitu bahagia mendengar kabar bahagia tersebut.
"Besok aku main ya kerumah mu Ta"
"Iya main aja kesini, gak ada yang larang kok!"
"Okey, udah dulu ya Jen. Aku ngantuk banget ni"
"Oke Ta, see you"
"See you" mereka pun saling menyakhiri panggilan tersebut. Shinta tersenyum, sejujurnya ia sangat merindukan sahabat sekaligus rekan kerja nya tersebut.
********
__ADS_1
Malam hari, setelah mereka selesai makan malam Revan mengajak Shinta untuk pergi ke salah satu taman di kota A. Shinta pun menyetujuinya dan menitipkan Syifa ke pelayan. Sebelumnya Shinta pun sudah menidurkan Syifa terlebih dahulu, Revan dan Shinta memutuskan untuk menaiki sepeda. Dijalan mereka bercanda gurau menaiki sepeda layaknya anak ABG yang sedang kasmaran.
Sesampai di taman Revan memarkirkan sepedanya di taman. Revan menggenggam jemari Shinta dan berjalan mengelilingi taman. Di malam hari taman begitu lebih indah yang di padukan dengan beberapa warna lampu. Shinta pun begitu takjub melihat suasana taman yang sangat indah, walau sudah malam namun banyak sekali orang berkunjung ke taman tersebut dan orang berjualan disana.
"Aku ingin itu" Shinta menunjuk pedagang yang berjualan permen kapas, Revan pun menuruti keinginan isteri nya dan membeli permen kapas tersebut. Shinta memakannya dengan lahap seperti anak kecil yang menikmati permen. Banyak makanan yang Shinta cicipin disana.
"Sayang aku mau itu lagi" Shinta menunjuk pedagang yang berjualan cilok. Revan begitu heran dengan Shinta, bukan ia pelit namun Shinta sudah begitu banyak makan makanan yang ada di taman itu. Bahkan hampir semua yang berdagang Shinta datangi dan membeli makanan tersebut.
"Tapi kau makan sudah terlalu banyak sayang" Revan membenarkan rambut Shinta yang berantakan.
"Tapi aku ingin" Shinta memasang wajah sedihnya, Revan yang tak tega pun menuruti permintaan sang isteri dan membeli cilok tersebut.
"Ini" Revan memberikan cilok ke Shinta, Shinta menerima dan memakan cilok itu dengan lahap sampai habis. Revan yang melihat cara makan Shinta langsung kenyang.
"Udah kenyang?" Tanya pria tersebut terhadap isterinya. Shinta pun mengangguk dengan wajah bahagianya. Revan mengajak Shinta untuk duduk dan menikmati pemandangan yang ada di depan mereka, ada beberapa anak anak yang masih bermain. Shinta membayangkan ketika anaknya lahir dan mereka ber empat pun bermain pasti rasanya sangat bahagia. Begitu juga dengan Revan ia membayangkan jika dirinya, Shinta, Syifa dan anak mereka yang akan lahir main di taman ini pasti begitu bahagia rasanya. Shinta dan Revan pun saling tatap dan tersenyum. Shinta menyenderkan kepalanya di bahu Revan.
*******
Jam sudah menunjukan pukul 21:00. Mereka pun memutuskan untuk pulang kerumah, Canda tawa mengisi mereka di sepanjang jalan. Shinta menjadi dirinya sendiri dan bernyanyi bahagia di sepanjang jalan. Revan pun merasa sangat bahagia melihat Shinta yang begitu senang malam ini
"Aku seneng banget van" ucap Shinta yang menoleh keatas menghadap suaminya yang sedang mendayuh sepeda. Revan pun sejenak menatap Shinta dan tersenyum lalu fokus kearah depan.
Sesampai di rumah Shinta dan Revan pun membersihkan diri terlebih dahulu dan langsung naik kekasur untuk tidur. Shinta menutupi dirinya dengan selimut sampai batas leher, Revan sebelum naik ketempat tidur mematikan lampu terlebih dahulu.
"Selamat tidur" Ucap Revan dan mengecup kening Shinta.
"Terimakasih untuk hari ini Van" Revan pun menatap mata Shinta dari dekat.
"Sama-sama, sudah tidur lah" Revan mengecup kedua mata Shinta dan berbaring untuk tidur. Shinta pun memejamkan matanya dengan perasaan yang sangat bahagia
__ADS_1