
Shinta yang merasa terpojokkan hanya bisa diam, semua menertawakan tingkah nya itu.
Gunawan menyuruh anak dan menantu nya untuk menikmati teh dan makanan ringan tersebut, sudah lama sekali mereka tidak mengobrol bersama seperti ini.
"Ibu dan Ayah berharap, jika kami tidak ada. Revan, dan Arvan bisa menjaga isteri dan anak kalian."
Ucapan Gunawan tentu saja membuat semua nya terdiam sejenak, terutama dengan Shinta. Ia langsung memeluk ibu nya.
"Jangan bicara seperti itu, Tata belum siap dan nggak akan pernah siap kehilangan kalian."
"Nak, yang di kata kan oleh Ayah mu itu memang lah benar. Tidak selama nya, Ibu dan Ayah bersama kalian. Tapi, melihat kalian sekarang ibu dan ayah menjadi lega. Ibu berharap, kalian akan selalu kompak seperti ini walau nanti nya kami tidak ada."
"Ibu, jangan bicara seperti itu, kami masih sangat membutuhkan Ayah dan Ibu. Kami butuh bimbingan dari kalian, dan kalian akan terus sehat bahkan sampai nanti melihat cucu-cucu ibu dan ayah menikah bahkan memiliki anak." Ujar Caca, ia pun merasa sedih mendengar ucapan ke dua orang tua angkat nya itu.
Suasana yang tadi nya begitu damai dan hangat, kini merasa sangat tegang. Entah mengapa, Shinta jadi memikirkan tentang ucapan ke dua orang tua nya.
Ia tahu, jika setiap makhluk yang hidup pasti akan tiada. Namun, ia selalu meminta kepada Tuhan untuk mencabut nyawa nya sejam sebelum Tuhan mengambil ke dua orang tua nya.
Shinta tidak akan sanggup jika harus kehilangan ke dua orang tua nya.
Begitu juga dengan Caca, ia sudah sering kehilangan orang yang ia sayangi. Caca tidak akan sanggup jika harus merasa kehilangan lagi.
*****
Di sisi lain, ada Alana yang memandangi kedekatan Syifa dengan Raisa. Alana merasa sangat cemburu melihat itu semua, apalagi kakak nya tidak memperdulikan ia sedari tadi. Hanya fokus kepada Raisa.
"Kakak, Alana mau minum."
"Adik, Alana kan bisa mengambil sendiri. Kakak sedang mengajari kak Raisa bagaimana cara nya bermain ini."
Alana yang kesal pun berlalu pergi meninggalkan kakak dan saudara kembar nya itu. Alan menatap kepergian Alana, ia tahu jika adik nya itu merasa sangat sedih.
"Kak, apakah nanti kakak akan pulang belsama mami?"
Syifa menoleh ke arah Alan lalu melihat ke arah Raisa. Walau Syifa tidak menjawab, namun Alan sudah dapat menebak apa yang akan di katakan oleh Kakak nya.
Mungkin, kakak nya masih membutuh kan waktu bersama Raisa.
Alan pun hanya bisa diam, ia tidak mau mendengar ucapan kakak nya karena takut akan merasa sakit hati. Alan pun meminta izin kepada sang kakak untuk menemui semua orang yang ada di ruangan keluarga.
Syifa pun ingin mengantar Alan, namun Alan menolak. Ia tidak mau mengganggu waktu bermain kakak nya dengan adik baru nya itu.
Alan yang melihat Alana pergi dengan wajah sedih nya pun segera berlari menghampiri Alana.
"Alan, kenaapa Alan kelual?"
"Mau menemani Alana."
Alana pun tersenyum kepada Alan, ia senang karena saudara kembar nya itu mau menemani diri nya.
"Alana mau minum kan?"
__ADS_1
Alana mengangguk kepada Alan, Alan berlari menuju dapur untuk mengambilkan Alana segelas air minum.
Shinta yang melihat anak nya berlari pun segera bangkit dan menghampiri Alan.
"Sayang, kenapa Alan lari nak? Nanti Alan jatuh."
"Alan mau mengambil kan ail minum untuk Alana, ma. Sekalian, Alan mau meminta maaf kepada Alana kalena Alan tadi mau memukul Alana."
Shinta pun merasa terharu dengan ucapan anak nya. Ia membantu Alan untuk mengambil kan segelas air minum untuk Alana.
"Ini, sayang. Hati-hati bawa nya. Jangan lari, nanti gelas nya pecah." ujar Shinta dengan lembut kepada Alan. Alan yang mengerti dengan ucapan Mama nya pun mengangguk, ia segera ke luar dari dapur untuk menemui Alana memberikan air yang ia bawa.
"Ini, Alana. Minum lah."
"Telimakasih, Alan."
Alana langsung meneguk minum itu, sebenarnya Alana tidak haus. Ia tadi berbohong agar Kakak nya Syifa mau memperdulikan nya. Namun, melihat usaha dan niat baik dari Alan. Alana pun segera menghabis kan air minum tersebut.
"Alana, maafin Alan ya? Tadi Alan udah mau jahatin Alana. Alan cuman nggak suka, liat Alana sepelti itu. Alana mau kan maafin Alan?"
"Tidak apa-apa Alan! Alana juga mintak maaf, kalena sudah membuat Alan kesal. Alana hanya sebal, semenjak ada kak laisa. Kakak begitu tidak mempeldulikan Kita. Padahal, Alana kan juga Lindu sama kakak. Alan juga tadi lihat kan, kakak nggak peduli sama Alana. Bahkan, Alana meminta minum kakak tidak peduli." ujar Alana yang merasa sedih.
Ke dua kembar itu pun tidak tahu, jika mama mereka telah menguping pembicaraan Alan, dan Alana.
Shinta pun tediam, ia tidak tahu harus bagaimana. Syifa tidak sepenuh nya salah karena ia juga pasti ingin menghabiskan waktu dengan puas bersama Raisa.
Apalagi, Syifa juga tidak tinggal bersama Caca.
Shinta mencoba untuk memahami anak-anak nya. Bukan berarti, ia menyalahkan Alana yang egois. Shinta tahu, jika si kembar begitu sangat dekat dan menyayangi Syifa..Seperti diri nya yang menyayangi Syifa.
Si kembar pun setuju, daripada harus di kamar dan di cueki oleh Syifa.
Ibu Syafa membawa Alan dan Alana ke dalam pangkuan nya.
"Cucu Oma udah besar sekarang, udah mau masuk SD juga."
"Wah, anak-anak mami udah besar ya?" Alan, Alana tersenyum kepada semua orang, menunjukkan gigi putih mereka yang beberapa gigi ompong.
"Sayang, kenapa kalian tidak bermain dengan kakak Raisa dan Syifa?" tanya Caca kepada si kembar. Alana ingin menjawab, jika diri nya tidak suka dengan Raisa.
Namun, Shinta yang menyadari nya langsung memotong pembicaraan Caca dengan anak nya Alana..
"I-iya, tadi Alana haus dan dia ku ajak sekalian di sini. Lagian, Alana dan Alan juga merindukan mu dan Arvan. Jika mereka terus-terusan di kamar, kapan mereka akan bertemu dengan kalian."
Caca pun tidak mencurigai alasan Shinta. Ia mengira jika alasan Shinta sangat masuk akal.
"Mami juga sangat merindukan kalian, sayang. Kapan-kapan kalian tidur dong di rumah mami."
"Tidak mau!" jawab Alana dengan ketus, memonyongkan mulut nya.
Caca pun bertanya alasan mengapa Alana tidak mau. Shinta menyangkal dan mengatakan jika Alana tidak bisa jauh dari baby Al.
__ADS_1
"Maksud Alana, dia tidak mau karena jika dia tidur di rumah kalian, siapa yang akan bermain dengan baby Al. Kau tahu Caca, Alana dan Alan begitu sangat menyayangi baby Al. Bahkan, mereka juga sering membantu baby sister untuk menjaga dan mengajak main baby Al."
"Oh iya? Bagus dong, jadi nya baby Al juga memiliki teman."
Shinta merasa lega karena Caca mempercayai alasan nya, namun tidak dengan ibu Syafa dan ayah Gunawan. Mereka tahu jika anak nya sedang berbohong, walau ke dua nya tidak tahu apa alasan yang membuat anak nya berbohong.
"Bu, Caca apa boleh istirahat di kamar sebentar? Kepala Caca sangat pusing." ibu Syafa pun segera mengajak Caca untuk pergi ke kamar nya yang ada di sini..
"Nak, kamu istirahat saja ya." ibu Syafa juga memerintahkan Arvan untuk menemani isteri nya Caca.
Ayah gunawan juga menyuruh Shinta dan Revan untuk istirahat sejenak. Dan meminta kepada Caca dan Arvan untuk menginap.
Caca dan Arvan tidak enak hati untuk menolak, mereka pun setuju dengan permintaan ke dua orang tua Shinta.
Hal itu, tentu saja membuat ibu dan ayah merasa sangat senang.
Alana hanya diam, ia bukan tidak menyukai melihat Daddy dan mami nya di sini.. Namun, Alana tidak nyaman dengan kehadiran kakak baru nya, Raisa.
Alan meyakinkan saudara kembar nya tersebut, jika kakak mereka yang bernama Raisa itu orang yang baik.
Dan bagiamana bisa Alana tidak menyukai Raisa padahal Raisa tidak melakukan kesalahan apapun.
Shinta mengajak anak-anak nya untuk ke kamar dan beristirahat.
"Sayang, kalian sebaik nya tidur ya? Pasti lelah kan bermain seharian, dan kakak Syifa juga ada di dalam. Kalian bisa tidur dengan nya."
"Iya, ma."
*****
Syifa dan Raisa sedang bercanda dan tertawa begitu keras, sesekali mereka membahas tentang pelajaran sekolah.
Raisa mengatakan kepada Syifa jika Syifa tinggal bersama nya dan mami juga Daddy pasti mereka akan sering mengerjakan tugas sekolah bersama.
Syifa pun tersenyum, ia mengatakan jika diri nya akan sering bermain ke rumah mami Caca.
Dan mereka akan mengerjakan tugas sekolah bersama, Alana yang mendengar itu pun merasa keberatan. Ia tidak mau jika sang kakak lebih sering menginap di rumah mami Caca
.
"Sayang, tidak menginap. Kakak Syifa hanya bermain saja."
"Alana kan bicala dengan kakak Alana, kenapa kakak laisa ikut campul?" ujar Alana dengan mata yang berkaca-kaca.
Syifa menegur adik nya itu dengan lembut, ia mengatakan jika Raisa juga adalah kakak mereka.
"Alana, sayang. Kakak Raisa ini juga kakak nya Alana dan Alan. Alana nggak boleh bicara seperti itu ya dik? Mama dan Papa kan tidak pernah mengajari kita untuk kurang ajar dengan orang yang lebih tua."
"Tapi, Alana kan tidak salah kak. Alana tidak bicala dengan kakak laisa. Kenapa kakak laisa yang menjawab, kan Alana bicala nya dengan kakak Syifa. Bukan dengan kakak laisa."
Syifa dan Raisa pun hanya menggeleng dan mengalah. Raisa juga meminta maaf kepada adik nya itu karena sudah menyela pembicaraan Alana dan Syifa.
__ADS_1
"Maafin kakak ya? Kakak sungguh menyesal, kakak berjanji tidak akan melakukan itu."
Alana menatap Raisa, ia melihat ketulusan di mata Raisa. Alana tidak membenci Raisa, ia hanya tidak ingin jika kakak tersayang nya Syifa. Di ambil oleh Raisa.