Ibu Sambung

Ibu Sambung
Berharap Hanya Sebuah Mimpi Buruk!


__ADS_3

Shinta pun bergegas menemui suami nya. Terlihat Revan sedang bermain dengan anak-anak dengan canda dan tawa. Tanpa ia ketahui jika sebelum nya terjadi sebuah drama namun Revan atau pun anak-anak tidak ada yang memberitahu nya.


Revan tidak mau membuat istri nya semakin kepikiran dengan hal-hal lain. Masalah Jennika saja pasti sudah membebani nya.


Suster penjaga baby Al pun berlari menghampiri ke dua nya, dengan suara ngos-ngosan.


"Ma-maaf, Tuan. Nyonya, i-itu, den Al."


"Ada apa?" belum mendengar jawaban dari suster yang menjaga anak nya, Shinta langsung berlari ke kamar baby Al. Terkejut sekali Shinta melihat anak nya sudah kejang-kejang.


Shinta menjerit ketakutan, Revan dan anak-anak menghampiri Shinta. Anak-anak menangis ketakutan.


Tanpa mengatakan apapun, Shinta dan Revan langsung membawa baby Al ke rumah sakit menggunakan mobil pribadi mereka.


Syifa dan si kembar ingin ikut namun Shinta melarang, ia memeluk bayi nya dan berdoa agar anak nya tidak apa-apa. Dia pun meletakkan baby Al di Sofa. Karena yang ia tau, jika anak-anak sedang kejang tidak boleh di gendong.


Shinta yang khawatir meminta suami nya untuk melajukan mobil dengan cepat, Revan melajukan mobil nya dengan mengebut.


Shinta memegang bayi nya, berdoa kepada Tuhan untuk kesehatan anak nya. Lalai nya dia mengabaikan sang anak selama ini. Shinta merasa sangat bersalah, wajah baby Al sangat pucat.


Di sepanjang jalan, Shinta dan Revan berdoa untuk keselamatan anak mereka.


"Sayang mama, bertahan ya nak."


Sampai lah di rumah sakit, Shinta pun langsung menggendong anak nya. Mencari perawat dan tim medis lain nya untuk segera menangani sang anak sedangkan Revan mempersiapkan administrasi dan segala keperluan yang akan di butuhkan.


Shinta berdoa tiada henti untuk sang anak, tim medis pun langsung memberikan tindakan kepada baby Al.


"Tuhan, jangan ada apa-apa kepada anakku. Aku mohon, berikan rasa sakit anakku kepada diri ku saja."


Revan menghampiri istri nya, Shinta menangis memeluk Revan..Mereka menunggu di ruangan tunggu.


"Van, anak aku." tangis nya pecah, ia sangat menyesal. Karena terlalu lalai menjaga anak nya dan terlalu mempercayai pengasuh seutuh nya. Walau ia belum tau apa yang sebenarnya terjadi kepada anak nya itu.


"Ini salah aku Van, harusnya aku enggak lepas tangan gitu aja dalam mengasuh baby Al."


Apalagi, baby Al sudah tidak lagi meminum ASI Shinta karena baby Al yang tidak menerima ASI yang di berikan oleh Shinta selalu saja muntah. Dokter juga menyarankan agar memberikan susu formula saja.


Revan menenangkan istri nya dan mengatakan jika tidak sepenuh nya salah shinta, ia juga kesalahan Revan.


Ke dua nya menyalahkan diri mereka sendiri atas apa yang terjadi kepada anak mereka.


"Van, anak kita enggak apa-apa kan?" ucap Shinta dengan nada yang berat. Ia tak sanggup, jika terjadi sesuatu kepada anak nya. Baru pertama kali nya ia menghadapi anak nya seperti itu.


"Tenang lah, sayang. Berdoa kepada Tuhan, anak kita akan baik-baik saja."


Revan merasa ragu, namun ia juga berharap jika anak nya akan baik-baik aja. Mereka belum mengetahui pasti apa yang terjadi kepada anak nya.


*****


Di rumah Syifa yang merasa khawatir menghubungi Daddy dan juga kakek nya.


Memberitahu mereka jika sesuatu telah terjadi kepada baby Al. Dan si kembar Alan dan Alana yang terus saja menangis.


Caca mengatakan jika ia akan kerumah menemani mereka di rumah, sedangkan Arvan akan menyusul ke rumah sakit.


Begitu juga dengan ke dua orang tua Shinta yang akan menyusul ke rumah sakit.


Caca sampai di rumah Shinta, Syifa dan ke si kembar Alan dan Alana memeluk Caca.


"Mami." ujar si kembar yang merasa takut, Caca memeluk anak-anak Shinta dan menenangkan mereka.


"Jangan takut sayang, mami di sini bersama kalian."


"Mami, adik Al." tangis Alana pecah, walau ia sering merasa cemburu melihat mama nya menyayangi baby Al namun dia juga sangat menyayangi adik bayi nya itu.


Caca memeluk Alana menenangkan nya, ia meminta Syifa untuk bisa tenang dan berdoa.


"Sayang, kita berdoa sama-sama ya agar baby Al tidak kenapa-kenapa."


Caca memanggil pengasuh yang menjaga baby Al bertanya apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


"Mbak gimana sih? Halus nya kan bisa menjaga adik kami!" marah Alan kepada pengasuh nya itu. Baby sister itu menangis, merasa bersalah.


Kemarahan Alan melihat adik nya seperti itu, menganggap itu adalah keteledoran dari si pengasuh.


"Alan sayang, enggak boleh seperti itu ya. Nak, kasian mbak nya juga enggak sepenuh nya salah sayang. Mungkin, ini hanya sebuah musibah." ucap Caca yang menenangkan Amara Alan. Walau Alan masih sangat kecil, namun sifat pemarah nya begitu turun dengan papa nya Revan.


Amara yang meluap-luap dan siapapun yang ada di situ akan takut.


"Kalau teljadi apa-apa sama adik Alan, mbak nya Alan lapolin ke pak polisi." Syifa menangis memeluk adik nya Alan, terlihat wajah Alan yang begitu marah.


Syifa dan Caca khawatir jika Revan juga akan marah besar kepada perawat itu, entah lah.. saat ini mereka hanya berdoa untuk kesembuhan baby Al.


*******


Ibu Syafa yang sedang asyik merawat anak angkat nya pun di kabarin oleh suami nya jika cucu mereka masuk rumah sakit.


"Sayang, tadi mas mendapatkan kabar dari cucu kita Syifa, kalau baby Al masuk rumah sakit. Tubuh nya kejang-kejang."


Ibu Syifa yang mendengar nya merasa kaget dan khawatir, ia langsung mengajak suami nya langsung menyusul anak mereka.


Ibu Syafa bingung, tidak mungkin ia membawa Rayhan Karena Rayhan takut akan keramaian, namun juga takut meninggalkan Rayhan sendirian di rumah.


"Bu, saat ini cucu kita dalam bahaya, kamu jangan bengong." bentak ayah Gunawan untuk pertama kali nya kepada sang istri.


Gunawan tak habis pikir, di saat kritis seperti ini, istri nya justru memikirkan anak yang mereka adopsi kemarin.


"Mas, saya di rumah saja bersama Rayhan. Saya akan berdoa di rumah. Tidak mungkin, saya meninggalkan Rayhan sendirian di rumah."


Ayah Gunawan malas berdebat dengan istri nya itu, dengan kesal ia pergi membanting pintu rumah..


Gunawan merasa, kehadiran Rayhan membuat istri nya lupa jika mempunyai anak yang lain, ia tidak keberatan jika istri nya menyayangi Rayhan. Namun, tidak dengan melupakan keluarga mereka juga.


Ayah Gunawan pergi ke rumah sakit yang sebelum nya sudah ia tanyakan kepada Revan menantu nya.


Ia merasa sangat kecewa dengan sikap istri nya itu namun Gunawan tidak mau memikirkan hal-hal yang lain. Ia hanya ingin segera menemui putri nya untuk memberikan semangat.


Gunawan sampai di rumah sakit, ia segera menghampiri anak dan menantu nya.


"Ayah, anak tata hiks." Shinta begitu terpukul, sampai saat ini dokter juga tidak keluar dari ruangan sudah berjam-jam. Entah apa yang terjadi kepada anak nya ia pun tidak tau.


Shinta melepaskan pelukan nya dari Gunawan, ia mencari di sekeliling belakang ayah nya.


"Yah, di mana ibu?" tanya Shinta, ia berharap ibu nya ada di sini. Selalu di samping nya di konsisi apapun seperti dahulu.


Gunawan mengalihkan pertanyaan anak nya.


"Nak, jangan pikirkan itu. Ayo kita menghampiri suami mu, ayah mau bicara dengan nya."


Shinta mengangguk, hati nya merasa hancur. Seakan ia kehilangan ibu nya yang selalu ada bersama nya di saat ia terpuruk.


Shinta dan Gunawan berjalan mendekati Revan dan juga Arvan yang kebetulan sudah sampai terlebih dahulu di rumah sakit.


"Mengapa semua ini bisa terjadi?" tanya Gunawan kepada menantu nya, Revan menggeleng. Ia juga tidak tau pasti mengapa semua itu terjadi.


"Tidak tau, Pa. Revan dan Shinta berada di kamar si kembar. Baby Al bersama pengasuh, tiba-tiba pengasuh datang dan memberitahu keadaan baby Al. Kami juga belum sempat bertanya karena langsung membawa baby Al kerumah sakit." ujar Revan.


Shinta masih menangis, Gunawan memeluk anaknya memberikan kekuatan kepada Shinta.


"Nak, jangan menangis. Ingat, jika kamu melemah siapa yang akan menguatkan suami dan anak-anak mu?"


Tapi Shinta memang tak kuasa lagi, ia melemah melihat anak nya tidak berdaya di dalam ruangan. Apalagi, tanpa kehadiran ibu nya Syafa yang selalu menguatkan nya.


Padahal, ibu nya masih hidup namun Shinta merasa ibu nya sudah tiada. Karena ibu nya sekarang sangat berbeda, tidak seperti yang ia kenal.


Arvan bertanya keberadaan ibu Syafa kepada Gunawan. Gunawan bingung harus menjawab apa kepada anak dan menantu-menantu nya.


"Hem, ibu lagi enggak enak badan. Tapi, nanti ibu ke sini saat ibu udah mendingan."


Gunawan terpaksa berbohong agar tidak menyakiti perasaan anak nya Shinta, Shinta tau jika ayah nya itu berbohong namun ia tidak mau memikirkan apapun lagi selain keselamatan anak nya..


Jika ibu nya bisa bersikap egois, maka ia juga bisa bersikap egois untuk rumah tangga dan juga anak-anak nya.

__ADS_1


"Ayah, Tata enggak perduli. Bahkan jika ibu enggak mau ke sini, yang penting ayah selalu ada buat tata." tata mempererat pelukan mereka, yang di balas oleh ayah Gunawan..


Gunawan meminta anak nya untuk duduk dan minum, sebelum kerumah sakit ayah Gunawan membelikan beberapa makanan dan minuman untuk mereka.


Gunawan tau, di saat seperti ini pasti anak dan menantu nya tidak mempersiapkan segala nya. Gunawan meminta anak dan menantu nya untuk minum.


"Kalian makan dan minum lah dulu. Ayah tau, tidak selera makan apalagi saat anak sedang sakit. Tapi, kalau kalian terpuruk dan sakit bagaimana nasib anak-anak kalian?"


Revan dan shinta mengangguk, walau mereka tidak selera makan. Namun, ke dua nya memaksa untuk makan walau hanya beberapa suap.


Gunawan meminta Arvan untuk makan, namun Arvan mengatakan jika diri nya sudah makan.


"Jika begitu minum lah agar pikiran kita semua tenang, jika kita tenang. Kita akan mendapatkan pikiran yang positif, dan mudah-mudahan semua nya akan membaik."


Arvan pun mengikuti perintah ayah angkat nya itu, mengambil sebotol air putih dan meneguk nya perlahan.


Gunawan menyuapi putri nya makan seperti dahulu, Gunawan masih memperlakukan Shinta seperti anak kecil.


Walau berat sekali untuk Shinta menelan makanan nya, namun ia memaksa kan diri. Ia juga tidak mau membuat ayah nya kecewa. Karena ia tau, kasih sayang dan perhatian ayah nya begitu besar. Dia tidak mau mengecewakan ayah nya, dan ia juga harus tetap sehat agar bisa menjaga anak-anak yang lain..


******


Walau Syafa di rumah, ia tiada henti berdoa untuk kesembuhan cucu nya Al.


Bukan nya ia tidak perduli dengan anak dan cucu nya, namun Syafa tau jika di rumah sakit sudah banyak yang menemani Shinta. Sedangkan, Reyhan. Tidak ada yang menjaga nya di rumah, ia juga tidak bisa dengan keramaian.


Hati nya merasa bimbang, ia menangis dan tiada henti terus berdoa untuk kesehatan anak, menantu dan cucu nya.


"Selamatkan cucu ku, Tuhan."


Tangan Rayhan menyentuh pipi Syafa. Membuat nya kaget, Rayhan menghapus air mata ibu angkat nya itu.


Menandakan agar Syafa tidak menangis, Syafa pun mengangguk dan mengatakan kepada Rayhan ia tidak akan menangis lagi.


Syafa tidak mau Rayhan merasa takut karena diri nya menangis.


**********


Dokter keluar dari ruangan, Shinta dan yang lain nya berjalan mendekati dokter dan perawat.


Terlihat wajah sedih dan tak berdaya dari mereka.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya? Baik-baik aja kan?" tanya Shinta yang berharap anaknya tidak kenapa-kenapa.


Maaf kami sudah melakukan yang terbaik dan semaksimal mungkin, namun anak kalian tidak bisa terselamat kan.


Bagai di sambar petir untuk Shinta dan seluruh orang yang ada di situ.


Shinta tak tahan dengan berita kematian anak bungsu nya, ia pun terjatuh tak sadarkan diri.


Revan menggendong tubuh istri nya, perawat memerintahkan Revan untuk membawa Shinta ke ruangan lain.


Revan menangis, di satu sisi kehilangan anak dan di satu sisi istri nya yang tidak sadar kan diri.


Mengapa Tuhan begitu tidak adil kepada keluarga ku?


Revan menjerit, seakan ini mimpi buruk untuk nya. Berulang kali ia menampar kan pipi nya, berharap ini hanya lah mimpi.


Gunawan mencoba menenangkan menantu nya, namun ketidakberdayaan dan luka yang begitu dalam di rasakan oleh keluarga mereka.


"Pa, tolong katakan sama Revan. Kalau ini hanya mimpi Pa! Ini mimpi kan pa?"


Gunawan pun menangis, ia tidak sanggup melihat kehancuran anak dan menantu nya.


Arvan mempersiapkan keperluan untuk kepulangan mayat anak Shinta. Sama seperti Revan dan Shinta ia juga merasa sangat kehilangan anak Revan.


Mereka sangat menyayangi baby Al, tapi Tuhan lebih menyayangi nya. Arvan menghapus air mata yang terjatuh membasahi pipi.


Arvan juga menyelesaikan administrasi rumah sakit.


Revan memukul tangan nya ke dinding. Ia merasa sangat bodoh dan gagal menjadi seorang ayah juga suami. Andai saja, ia tidak mengabaikan anak nya yang bayi mungkin mereka tidak akan kehilangan baby Al.

__ADS_1


__ADS_2