
"Apakah Raisa tidak berhak mengetahui kehidupan masalalu Daddy?"
"Bukan begitu nak, namun jika Daddy menceritakan nya sama saja dengan membuka luka lama Daddy. Apakah Raisa mau melihat Daddy bersedih karena luka itu?"
Raisa dengan cepat menggeleng dan memeluk Daddy nya.
"Jangan mengatakan itu, Daddy. Raisa sangat menyayangi Daddy. Raisa enggak mau Daddy sedih." Raisa mengecup pipi Daddy nya.
"Daddy juga sangat menyayangi kamu, menyayangi mami dan juga adek Khanza. Daddy hanya ingin selalu bersama kalian nak, jangan pernah lagi bertengkar atau meninggalkan daddy ya?" ucapan Arvan membuat hati Raisa tersentuh, Caca mendekati ke dua nya di saat Khanza sudah tenang.
"Mami, apakah Khanza sudah lebih tenang?" tanya Raisa kepada sang mama.
Caca mengatakan jika Khanza sudah lebih tenang dari sebelum nya, mungkin Khanza rewel karena haus.
"Sayang, kamu pergi lah istirahat di kamar mu nak. Pasti lelah kan?" ucap Caca kepada Raisa..Namun Raisa mengatakan masih ingin bersama Mami, Daddy dan juga adik nya.
"Raisa pulang karena ingin bersama Mami, Daddy dan juga Khanza. Bukan istirahat."
Caca pun tak mau berdebat lagi, dia mengiyakan kemauan sang anak..
"Baik lah, Sayang.. Mami mau memberikan ASI dulu untuk Khanza ya?" Raisa mengangguk, sebenarnya Caca begitu tidak enak memberikan ASI untuk Khanza di depan Raisa. Takut, Raisa merasa sedih dan cemburu karena Raisa tidak pernah merasakan ASI dari seorang ibu.
"Mami jangan khawatir kalau Raisa sedih atau cemburu, Raisa sudah lebih memahami dan menerima semua nya. Walau Raisa ingin, namun waktu sudah tidak bisa di putar lagi. Biar lah Khanza merasakan apa yang harus ia dapatkan, mami jangan khawatir lagi dengan perasaan Raisa." ujar Raisa kepada mami nya.
Walau Raisa mengatakan itu, namun Caca dan Arvan masih berhati-hati menghadapi anak mereka yang satu ini.
Caca pun memberikan ASI nya kepada Khanza, terlihat Khanza begitu lahap meminum ASI yang Caca berikan secara langsung.
"Mami, kenapa mami menggunakan baby sister untuk menjaga adik Khanza?" tanya Caca..Arvan menjawab jika baby sister hanya membantu sedikit saja. Tidak sepenuh nya.
"Sayang, itu hanya untuk membantu mami saja. Tapi, tidak sepenuh nya Khanza bersama baby sister kan?"
"Mama Shinta juga dulu enggak pakai baby sister."
"Tapi sekarang mama Shinta memakai nya, bahkan memakai tiga baby sister sekaligus." ujar Arvan yang tidak mau istri nya sedih.
"Kenapa harus memakai baby sister? Di panti dulu, walau kita banyak orang. Tidak ada baby sister."
Pernyataan Raisa membuat Caca dan Arvan bingung harus menjawab apa.
"Iya, Sayang. Tapi kan ibu panti juga banyak enggak cuman satu. Makanya tidak membutuhkan baby sister lagi."
Raisa mengangguk, walau ia belum sepenuh nya mengerti.
"Nak, memakai baby sister bukan berarti orang tua tidak sayang anak. Namun, ada alasan lain seperti orang tua nya tidak bisa kalau menjaga sendirian dan membutuhkan seorang pengasuh tambahan."
***********
Shinta yang sudah puas menghabiskan ice cream itu mengajak suami nya untuk pulang, Revan sangat tercengang melihat istri nya bisa menghabiskan ice cream sebanyak itu.
"Kau memang wanita tidak waras." mungkin manusia normal tidak akan sanggup menghabiskan makanan sebanyak itu.
"Sudah lah jangan terlalu banyak bicara, yang terpenting semua sudah habis dan tak ada yang mubazir."
Shinta memanggil pelayan dan memesan beberapa ice cream untuk di bawa pulang.
"Kau sudah menghabiskan banyak ice cream dan mau membawa pulang lagi?"
"Memang nya di rumah hanya ada kita dua? Kamu enggak mikirin anak-anak? Raisa juga lagi di rumah."
"Iya aku tahu, tapi jika di bawa pulang pasti akan cair."
"Haha, kau terlalu norak, sayang! Zaman udah canggih, dan ada dry ice..Jadi, ice cream tidak mudah cair."
__ADS_1
"Terserah kau saja."
Revan pun membayar tagihan yang di berikan oleh pelayan, setelah selesai membayar dan mengambil ice cream mereka pun memutuskan untuk segera pulang kerumah.
"Ayo, cepat pulang..Kita sudah terlalu lama pergi meninggalkan anak-anak. Sebentar lagi Alana dan Alan juga bangun. Mereka akan menangis jika aku tidak ada,"
"Sudah lah, mengapa terlalu khawatir. Ada pengasuh yang menjaga mereka."
Dasar pria! hanya memikirkan kesenangan nya saja sudah mempunyai anak pun tidak memikirkan anak nya.
Shinta sangat kesal melihat suami nya itu, seolah tidak mempunyai anak saja.
"Sudah lah tak ada guna nya berdebat dengan mu. Kau hanya memikirkan diri mu tanpa memikirkan anak-anak."
Revan kesal mendengar ucapan istri nya bukan nya ia melupakan anak-anak, namun ia juga ingin Shinta memikirkan kesenangan nya sendiri.
Mau sampai kapan kau hanya memikirkan tentang anak? Kapan kau memikirkan diri dan kebahagiaan mu sendiri? Sejak kau menikah dengan ku, kau sudah mengurus Syifa dengan begitu baik tanpa memikirkan diri mu. Padahal saat itu kau masih sangat muda, dan diri mu juga dokter. Namun, demi aku dan Syifa kau melepaskan kebebasan mu.
Shinta terdiam sejenak dengan ucapan suami nya.
"Andai kau tahu, kebahagiaan seorang wanita adalah saat ia menikah dan menjadi seorang ibu. Di saat hari pernikahan ku, dunia ku sudah lengkap. Aku sudah menjadi seorang istri sekaligus ibu. Apalagi yang aku butuhkan? Aku melepaskan kebebasan ku namun aku mendapatkan harta yang begitu berharga. Yaitu kau dan juga anak-anak, dunia istri adalah suami nya. Dan dunia seorang ibu adalah anak-anak nya. Jadi, dunia ku saat ini adalah kalian. Aku tidak perduli dengan kebebasan karena aku merasa tidak pernah tertekan. Aku merasa bebas dan bahagia bersama kalian."
Shinta mengatakan semua nya dari hati nya yang paling tulus.
Revan menggeleng, ia pun tidak mengerti dengan yang ada di pikiran istri nya. Menurut nya Shinta begitu naif, Karena Revan tahu saat mereka sekolah dulu. Shinta sangat menyukai kebebasan.
"Van, kamu tahu. Saat dulu, aku batal menikah dan dokter memvonis ku tak bisa punya anak lagi. Aku merasa hancur dan merasa menjadi perempuan yang tidak berguna. Namun, kehadiran mu dan Syifa mampu membuat ku merubah cara pikir ku."
"Tapi nyata nya kamu tidak mandul, bahkan kamu memberiku anak yang banyak haha."
Shinta pun ikut tertawa, ia juga bersyukur jika apa yang dokter katakan itu tidak benar. Bahkan ia sudah melahirkan tiga anak dari rahim nya.
"Bahkan sebentar lagi kita akan mempunyai dua belas anak."
Revan tertawa kembali, mana mungkin ia membiarkan istri nya merasakan sakit sebanyak itu. Namun, jika Tuhan memberikan nya rezeki sebanyak itu, Revan akan menerima nya dengan senang hati.
Ke dua nya pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumah. Di tengah perjalanan, Revan tidak sengaja ingin menabrak seseorang.
Ke dua pun turun untuk melihat wanita yang terlihat begitu berantakan. Betapa terkejut nya Shinta melihat wanita itu adalah Jennika sahabat nya.
"Jennika!"
Shinta langsung memeluk sahabat nya itu, begitu banyak luka lebam di wajah Jennika.
"Ada apa dengan mu Jen." Shinta menangis sambil memeluk sahabat nya. Revan menyuruh Shinta untuk membawa Jennika masuk ke dalam mobil.
"T-tolong se-selamat kan a-aku." Jennika tidak sadarkan diri di pelukan Shinta. Shinta meminta suami nya untuk menggendong Jennika masuk ke dalam mobil. Revan segera mengangkat tubuh Jennika dan membawa nya masuk ke dalam mobil.
Shinta terlihat begitu khawatir dan cemas, sudah lama ia tidak berjumpa dengan sahabat nya dan sekarang mereka di pertemukan dengan kondisi yang sangat memperhatikan.
"Ayo, Van cepat bawa dia kerumah sakit."
"Iya, jangan panik dulu." Revan meminta istri nya untuk tidak panik seperti itu, Shinta pun mencoba untuk tenang.
"Jen, bangun!" Shinta menepuk pipi Jennika perlahan, dengan perlahan Jennika membuka mata nya.
"Akhir nya kamu sadar Jen." Shinta mengambil minuman milik nya, ia memberikan nya kepada Jennika dan meminta sahabat nya untuk minum terlebih dahulu.
Jennika meneguk minuman itu sedikit demi sedikit, lalu ia menangis kembali memeluk Shinta..
"Aku enggak beruntung, Ta." ujar nya.
"Ada apa Jen? Kenapa kamu seperti ini?"
__ADS_1
"Suami ku, Ta. Dia begitu kasar padaku, sering main tangan bahkan aku di sekap beberapa hari tidak di beri makan dan minum."
Shinta merasa hancur mendengar cerita sahabat nya. Bagaimana mungkin, Jennika wanita cantik dan begitu ceria memiliki suami yang sangat kejam sehingga membuat Jennika sangat kacau penampilan nya. Jennika juga sangat kurus dan kulit nya begitu kusam dan banyak sekali bekas memar di wajah juga di tubuh nya.
"Bukan kah suami mu itu adalah seorang dokter juga?"
Jennika mengangguk, namun suami nya begitu sangat kasar padanya. Sering tidak memberikan jennika makan, bahkan sering mengurung nya.
"Sungguh kejam suami mu. Dan mengapa kau bisa lari ke sini?"
"Aku kabur, Ta. Aku enggak sanggup, dia sering menyuruh ku untuk melayani teman nya. Jika aku tidak mau, dia akan memukuli ku, bahkan tidak memberikan aku makan. Dia seperti ada kelainan, Ta. Namun, di depan keluarga dan juga teman-teman ku dia selalu terlihat baik dan juga lugu."
Shinta juga mengakui, karena ia juga pernah bertemu dengan suami sahabat nya itu. Terlihat suami Jennika begitu menyayangi dan mencintai Jennika.
"Lalu anak kalian?" tanya Shinta, ia juga pernah mendapatkan kabar kalau Jennika sedang mengandung waktu itu, ia ingin bertemu dan sering berkunjung ke rumah Jennika namun suami nya mengatakan jika jennika berada di luar negeri.
"Di-dia memang tidak pernah membiarkan ku bertemu dengan orang-orang. Dia menyekap ku."
Shinta kembali memeluk sahabat nya, tak sanggup Shinta mendengar cerita Jennika. Shinta dan Revan mau membawa Jennika kerumah sakit namun Jennika tidak mau. Karena suami nya adalah dokter, ia takut bertemu dengan suami nya di rumah sakit.
"To-tolong jangan bawa aku kerumah sakit. Bawa aku ke suatu tempat yang suami ku tidak tahu." ujsr nya dengan nada yang berat. Shinta meminta Revan untuk membawa jennika kerumah mereka. Karena Shinta bisa menjaga sahabat nya itu jika suami nya datang mencari Jennika..
Revan dan Shinta membawa Jennika ke rumah mereka. Setelah sampai di rumah, Shinta mengajak Jennika untuk turun dan masuk ke dalam rumah nya.
Jennika takut, jika suami nya mencari keberadaan nya di sini. Shinta meyakinkan Jennika untuk tidak khawatir.
"Jangan khawatir. Kau aman di sini, tidak ada yang berani menyakiti mu. Kami di sini akan melindungi mu." ujar Shinta, mereka pun masuk ke dalam rumah. Shinta langsung mengajak Jennika untuk masuk ke dalam kamar tamu.
"Sementara kamu di sini ya, Jen. Maaf kalau aku enggak ada persiapan."
"Enggak apa-apa, Ta. Aku makasih banget karena kamu mau memberikan aku tempat berlindung."
Jennika sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, karena mama nya sudah meninggal Dunia beberapa tahun yang lalu.
Sungguh malang nasib Jennika, padahal sejak kecil. Jennika selalu bahagia dan di lindungi dan di kelilingi oleh orang-orang yang baik dan menyayangi nya.
"Jen, sebaiknya kamu mandi dulu. Aku akan membawa kan makanan untuk mu." Jennika mengangguk, ia pun membersihkan tubuh nya. Sedangkan Shinta menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk sahabat nya itu.
Setelah selesai Shinta kembali ke kamar Jennika, terlihat jennika sudah selesai membersihkan diri nya.
Shinta memberikan makanan yang ia bawa ke jennika.
"Makan lah, Jen. Jangan sungkan," Jennika langsung mengambil dan menghabiskan makanan itu dengan lahap, terlihat sekali jika jennika sangat kelaparan. Air mata Shinta kembali menetes, ia tahu bagaimana sahabat nya itu. Dulu Jennika begitu payah untuk makan, namun sekarang ia begitu terburu-buru menghabiskan makanan nya dengan tangan yang gemetaran.
"Suami ku sudah tiga hari tidak memberikan aku makan, Ta."
Pantas saja Jennika terlihat sangat lemah, Shinta begitu kesal melihat lelaki yang tega memperlakukan wanita nya dengan buruk.
"Apakah keluarga nya mengetahui perbuatan nya?" tanya Shinta, Jennika menggeleng, karena keluarga nya juga jauh dengan mereka. Jika mereka datang dan menginap di rumah mereka. Suami nya Jennika selalu bersikap baik dan lembut, bahkan memperlakukan Jennika seperti ratu.
Namun, jika keluarga sudah kembali. Sifat asli nya akan muncul, setiap hari Jennika di perlakukan seperti binantang. Di suruh melakukan hal-hal aneh ketika mereka berduel di ranjang. Bahkan sangat tidak wajar, jika jennika menolak. Suami nya akan melakukan tindakan kekerasan, bahkan tega mengurung Jennika di dalam kamar berhari-hari tanpa di berikan makanan dan juga minum
"Apakah kalian tidak mempunyai pelayan?"
"Ada, tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka mendengar jeritan ku namun juga tidak berdaya."
"Bodoh sekali mereka yang tidak mencoba menghubungi polisi dan membantu mu."
"Mereka takut, Ta. Karena suami ku selalu mengancam mereka, aku juga bisa kabur sekarang Karwna di bantu oleh pelayan ku." ujar Jennika.
"Apakah dia melakukan ini padamu sejak kalian menikah?" Jennika menggelengkan kepala nya, ia mengatakan jika suami nya berubah saat mereka kehilangan anak mereka.
Ia menyalahkan Jennika yang tidak bisa menjaga anak mereka dengan baik hingga anak mereka meninggal dunia. Padahal, Jennika juga tidak mau anak nya meninggal Dunia.
__ADS_1