
Ayah Gunawan berharap, jika Puteri nya bisa mengerti keadaan sang ibu saat ini.
Ayah tahu kau terluka saat ini nak, tapi ibu seperti ini karena dia juga sangat menyayangi kalian. Apalagi, semenjak kamu menikah, ibu sering merasakan kesepian. Kehadiran Rayhan mungkin membuat ibu menemukan identitas nya kembali ~ Batin Gunawan
Gunawan terus menatap isteri nya, ia juga menyadari jika ini bukan kesalahan isteri mau pun Puteri nya.
Semenjak Shinta menikah, mereka hanya lah berdua di rumah. Terkadang, sering merasakan kesepian. Apalagi, Shinta anak tunggal mereka. Meski Ayah dan Ibu nya telah mengangkat Caca dan Kaynara sebagai anak mereka. Namun, kedua nya juga sudah memiliki kehidupan yang baru bersama keluarga kecil mereka.
Hanya sesekali mereka menjenguk ke dua orang tua tersebut, Ayah Gunawan kembali mengingat anak angkat nya yang bernama Kaynara.
Semenjak kepergian Kaynara, ia tidak pernah mendengar kabar tentang Kaynara. Ayah Gunawan sedikit cemas memikirkan Kaynara, namun ia menutupi nya dari sang isteri. Tak mau isteri nya semakin kepikiran, apalagi akhir-akhir ini kesehatan isteri nya sering tidak baik.
Ayah Gunawan, menyuruh sang isteri untuk makan terlebih dahulu. "Ibu makan lah! Jangan sampai ibu sakit lagi, saya tidak ingin kamu sakit."
Ibu Syafa pun mengangguk, menuruti ucapan suami nya.
********
Shinta memandangi Poto Ibu nya dari ponsel, tak terasa air mata nya menetes. Ia merindukan sosok hangat ibu nya dahulu. Shinta segera menghapus air mata nya ketika mendengar suara langkah kaki mendekati.
Ia pun menoleh ke arah belakang, ternyata itu Syifa. Syifa duduk di samping Shinta. Ia melihat wajah sedih dari sang mama, tanpa mengatakan apapun. Syifa memeluk mama nya dengan erat. Seakan mengerti apa yang di rasakan oleh sang mama.
__ADS_1
Shinta terisak di dalam pelukan sang anak, dengan lembut Syifa mengelus bahu mama nya.
Menangis lah ma, jika hal itu membuat mama tenang.
Syifa yang sudah beranjak remaja, kini semakin memiliki sifat yang dewasa, ia mengerti sekali apa yang di rasakan oleh mama nya. Apalagi, ia melihat perubahan sikap dari sang nenek.
Di dalam pelukan Syifa, membuat Shinta sedikit lebih baik. Mereka saling melepaskan pelukan satu sama lain, Syifa menghapus air mata mama nya. Tersenyum dengan wajah yang teduh.
"Ma, jangan menangis lagi. Grandma juga tidak salah di sini, jika mama berada di posisi grandma pasti mama juag akan melakukan hal yang sama. Tidak ada satu pun seorang ibu yang bisa melihat anak nya di bentak oleh orang lain." ujar Syifa yang memberikan penjelasan kepada mama nya.
"Apa mama ingat? Saat dulu, Papa memarahi bahkan ingin memukul ku, mama begitu murka kepada papa. Mama melawan papa bahkan kalian bertengkar. Padahal, yang memarahi ku adalah papa namun mama tidak terima bukan?"
Shinta mengangguk menatap anak nya dengan mata yang sembab.
Shinta menatap Puteri nya. Lalu memeluk Syifa dengan erat, ia tidak menyadari jika Puteri nya sekarang sudah begitu dewasa. Bahkan pemikiran nya jauh dewasa ketimbang dirinya.
Puteri nya lebih memahami situasi daripada diri nya saat ini.
"Terimakasih sayang, mama memang sangat bodoh. Kamu yang jauh lebih muda daripada mama saja mampu mengerti dengan keadaan. Mengapa mama tidak." ujar Shinta kepada Syifa.
Saat ini mereka bukan seperti ibu dan anak, namun seperti seorang sahabat.
__ADS_1
Kedua nya saling melepaskan pelukan kembali saat ponsel Shinta berbunyi, Shinta melihat jika yang menelpon itu adalah ayah nya.
Syifa pun berpamitan kepada mama untuk keluar kamar, ia tidak ingin menganggu pembicaraan sang mama dan juga kakeknya.
Setelah Syifa pergi dari kamar nya, Shinta mengangkat panggilan tersebut.
*Iya, Yah?
Sayang, Ayah tahu jika kamu pasti bersedih karena sikap Ibu tadi tapi Ayah berharap kamu bisa mengerti situasi ini*.
Terdengar suara ayah seperti berat, Shinta juga kembali meneteskan air mata nya. Ia juga tahu, jika Ayah nya tidak menyukai ini semua. Shinta menahan tangis nya agar sang ayah tidak mendengar itu semua.
Ayah, tidak masalah. Tata juga mengerti, apalagi saat ini Ibu sudah menemukan anak yang baru. Selama ini, hanya ada Tata. Namun, setelah Tata menikah Ibu sering merasa kesepian. Dan sekarang, ibu sudah tidak merasa kesepian lagi Yah. Ada Rayhan yang menemani Ibu.
Syukur lah nak jika kamu mengerti, Ayah lega sekarang. Semenjak kalian pulang, Ayah sangat kepikiran. Ayah takut kamu sedih dan tak mau menerima situasi ini.
Shinta pun tertawa, ia mengingat saat dulu diri nya merasa cemburu saat Ibu dan Ayah nya menyayangi anak dari keluarga atau pun tetangga.
Ayah Gunawan pun kembali mengingat kan Puteri nya, saat Shinta mogok tidak mau makan dan mengurungkan diri di kamar saat tahu jika Ayah dan Ibu nya saat mengetahui mereka telah memberikan baju baru untuk sepupu nya dan lupa membelikan baju untuk Shinta.
Saat itu usia mu masih sangat kecil nak, dan Ayah maupun ibu begitu kewalahan membujuk kamu.
__ADS_1
Shinta tersenyum mengingat itu semua. Kedua nya saling tertawa mengingat masa kecil Shinta.