Ibu Sambung

Ibu Sambung
Keadaan Caca


__ADS_3

Bahkan Caca merasa diri nya memang tidak pantas di sebut sebagai seorang ibu. Karena seorang ibu, tak akan pernah tega membuang anak nya ke panti asuhan, pertama dia sudah gagal menjadi ibu untuk Syifa. Hingga Syifa memilih orang yang tidak di kenal sebagai ibu nya, Caca merasa sangat bersyukur karena Syifa mendapat kan ibu sambung yang begitu baik hati. Bahkan, menyayangi Syifa seperti anak kandung nya sendiri. Namun, Raisa. Bahkan ia pernah di jadikan pengemis. Membayangkan itu, hati Caca begitu sangat sesak.


*******


Keesokan pagi nya, Shinta mencari ponsel yang sedari kemarin ia cari tidak ada.


"Kau mencari apa, Sayang?"


"Aku mencari ponsel ku, di mana aku meletakan nya, sungguh aku tidak ingat."


"Sudah lah, nanti saja. Lagipula, tidak ada yang terlalu penting bukan?"


"Iya sih, baik lah. Aku akan mengecek anak-anak terlebih dahulu, dan juga Syifa. Apakah dia sudah bersiap ke sekolah." melihat jam yang menunjukan pukul enam pagi. Shinta yang sudah membersihkan diri terlebih dahulu segera turun ke bawah untuk mengecek anak-anak nya. Baby Al sudah bangun dan diberikan ASI terlebih dahulu oleh Shinta. Setelah memberikan baby Al ASI, ia memberikan baby Al kepada baby sister tersebut.


"Tolong, kamu jaga baby Al dulu ya? Saya ingin mengecek anak-anak. Dan iya, jam sepuluh nanti akan ada baby sister tambahan yang datang. Saya berharap, kamu bisa mengajari mereka tentang jadwal anak-anak ya. Tidak usah di tentukan baby sister memegang siapa. Yang penting, kalian bisa mengatur menjaga anak-anak."


"Baik, Nona." setelah memberikan anak nya kepada sang baby sister. Shinta menuju dapur, ia akan memasak untuk sarapan serta bekal untuk Syifa.

__ADS_1


Pagi ini, diri nya akan memasak nasi goreng saja. Shinta takut, jika memasak makanan inti anak nya akan telat pergi ke sekolah. Sekarang, Shinta begitu ahli memasak, pelayan pun membantu majikan nya untuk menyiapkan segala yang perlu di siap kan. Shinta meminta tolong kepada pelayan untuk mengupas buah saja. Biar ia yang akan membuat susu untuk anak nya. Dan juga jus untuk semua orang yang akan sarapan nanti.


Nasi goreng itu pun telah selesai ia hidangkan di meja makan, ada beberapa makanan lainnya seperti ayam goreng, bakso, sosis dan nuget. Setelah selesai menghidangkan makanan tersebut, Shinta membuat kan jus sambil membuat jus. Kedua tangan nya ia gunakan dengan begitu cepat.


Revan, Mama Lily, Papa Tommy, si kembar dan juga Syifa pun duduk di ruang makan untuk sarapan bersama, wajah Syifa begitu sangat murung.


"Nak, ada apa? Apa kamu masih memikirkan hal kemarin?" tanya Revan, Syifa pun mengangguk. Shinta yang menoleh ke arah anak dan suami nya sambil menuang jus ke semua gelas. Pelayan pun membawa gelas yang berisi jus dan susu ke meja makan. Shinta mendekati meja makan. Duduk di samping suami nya.


"Sayang, kamu kenapa? Ada apa dengan kemarin?" tanya Shinta yang begitu penasaran, Revan pun menenangkan isteri nya dan mengatakan jika tidak ada hal yang terlalu serius.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu diam?"


"Sayang, tenang lah. Tidak akan ada hal sesuatu yang terjadi."


Bel rumah mereka berbunyi.


Mereka yang ada di meja makan itu pun menoleh ke arah pintu. Bertanya siapa yang datang sepagi ini, Shinta ingin beranjak dari tempat duduk membuka kan pintu namun pelayan terlebih dahulu membuka pintu nya. Shinta pun mengurungkan niat nya.

__ADS_1


"Nyonya Caca, Ya Ampun non. Apa yang terjadi?" teriak pelayan tersebut, sontak saja membuat Shinta dan yang lainnya kaget. Mereka meninggalkan meja makan, melihat keadaan di luar.


"Mama,"


"Mami,"


"Caca." ujar semua orang yang begitu kaget melihat wajah Caca penuh dengan lebam. Shinta mendekati sahabat nya itu, begitu juga Syifa dan di kembar yang menangis melihat keadaan Caca. Caca yang tak kuasa pun terjatuh lemas, Revan segera menggendong Caca untuk masuk ke dalam rumah. Revan membawa Caca ke kamar tidur, di ikuti oleh yang lainnya. Syifa menangis, merasa khawatir dengan keadaan mama. Begitu juga dengan si kembar, sedangkan Shinta meminta Revan untuk menghubungi dokter terlebih dahulu setelah itu menghubungi Revan.


"Ca, ada apa ini?" Caca tidak menjawab. Dia hanya bisa diam, dan menangis memeluk Shinta. Saat ini yang Caca butuh kan hanya lah pelukan.


"Apa yang terjadi? Apa Arvan yang melakukan ini semua?" Caca mengangguk, hati Shinta begitu hancur. Walau ia tidak tahu apa masalah nya, namun mengapa Arvan begitu tega memukul isteri nya sampai seperti ini. Wajah Caca penuh dengan lebam. Shinta yang sebelum nya menyuruh pelayan mengambil es batu pun segera mengompres lebam di wajah Caca dengan pelan. Caca meringis kesakitan, dia pun hanya terus menangis tanpa mengatakan apapun. Syifa mengambil segelas air minum untuk sang mama dan memberikan nya kepada Caca. Caca meminum nya perlahan, tangan nya gemetar seakan begitu ketakutan. Shinta pun merasa begitu geram dengan Arvan. Ia ingin mendatangi Arvan, namun mama Lily mencegah nya.


"Sayang, kalian tenang lah dulu. Kita tidak tahu apa yang sebenar nya terjadi. Biarkan Caca yang menjelaskan segala nya setelah dia tenang. Dan ini, masalah pribadi mereka, keluarga mereka. Kita tidak bisa ikut campur, setelah mengetahui segala nya nanti. Kita akan membicarakan hal ini kepada Arvan dengan kepala dingin, jadi mama berharap kalian tidak akan melakukan sesuatu yang akan semakin membuat hubungan Arvan dan Caca semakin renggang." Mama Lily menyuruh baby sister untuk membawa anak-anak ke kamar. Sedangkan Syifa, di antar oleh kakek nya Tommy.


"Alana nggak mau, Alana mau di sini ajah sama mami. Mami kenapa hiks,"


"Iya, mami kenapa. Kenapa mami sepelti ini?" sambung Alan kembali, si kembar menangis dan merasa khawatir dengn keadaan Caca. Begitu juga dengan Syifa, namun mama lily membuat pengertian kepada cucu-cucu nya.

__ADS_1


"Sayang, ini masalah orang dewasa. Jadi, nenek minta kalian jangan mengikuti masalah orang dewasa ya nak? Lebih baik Alan, dan Alana bermain di kamar. Dan Syifa, segera lah berangkat ke sekolah sayang. Kalian kan masih ujian." Syifa menggeleng, ia tidak mau meninggalkan mama nya, namun Shinta memberikan pengertian kepada Syifa. Hingga, Syifa pun memilih mengikuti ucapan Mama dan juga nenek nya. Tommy segera mengajak Syifa ke bawah. Untuk berangkat sekolah.


Di dalam mobil, Syifa terus saja menangis. Ia meminta kepada kakek nya untuk menghubungi Arvan. Namun, Tommy menolak dan ia berkata jika sebaiknya Syifa tidak ikut campur dalam masalah rumah tangga mama nya


__ADS_2