
Revan membuang nafas dengan kasar dan memilih untuk mengalah.
"Baik lah! Baik lah! aku akan membantu Arvan mengambil mangga itu."
"Yeyy, terimakasih Van." ucap Caca dengan semangat.
Revan dan Arvan memanjat pohon mangga itu, mereka juga terjatuh berkali kali bahkan di gigit oleh serangga.
"Mengapa isteri mu menyusah kan sekali!"
"Hey, kau jangan berbicara seperti itu. Dia tidak menyusah kan"
"Terserah kau saja!" Setelah berhasil mengambil beberapa mangga tesebut mereka pun turun.
"Ini, Sayang." ucap Arvan yang penuh sayang memberikan mangga tersebut pada Caca.
"Terimakasih, Sayang." Caca mengambil beberapa mangga yang sudah di ambil oleh Revan dan Arvan.
"Ayo, Ta" Caca menggenggam tangan Shinta dan berlalu meninggalkan Revan dan Arvan. Di dalam mobil, Caca begitu menikmati mangga nya.
__ADS_1
"Mengapa kau memakan nya begitu?" Tanya Shinta yang sedikit mengilu melihat Caca yang sangat lahap memakan mangga yang sudah kelihatan dari warna nya pasti begitu masam. Shinta menelan ludah nya.
"Apa kau mau mencoba nya? ini sangat lezat."
"Ti-tidak! kau saja yang makan ya," Shinta menolak dengan halus. Melihat Caca makan saja sudah membuat diri nya sangat kenyang. Revan dan Arvan pun segera masuk ke dalam mobil, mereka melihat Caca yang sangat lahap memakan mangga asam yang ada di tangan nya. Bahkan Caca tidak menggunakan pisau untuk memotong nya, ia lebih memilih menggunakan gigi nya. Revan dan Arvan pun menelan ludah mereka merasa sangat mengilu.
"Sayang, mengapa tidak pakai pisau mengupas nya?" Tanya Arvan dengan sangat lembut.
"Tidak, Sayang! makan seperti ini jauh lebih nikmat. Apa kau mau?" Arvan dengan cepat menggeleng kan kepala nya
"Tidak, Sayang! kamu sangat menyukai nya. Lebih baik kamu saja yang makan ya,"
"Sudah lah makan! itu kan permintaan isteri tercinta mu," ledek Revan.
"Iya, benar kak. Makan saja lah!" Shinta mencoba memanas manasin Caca. Arvan melotot ke arah Shinta dan Revan.
"Sayang, apa kau tidak ingin memakan nya untuk ku," ucap Caca kembali memelas.
"Hehe, iya. Sayang, aku akan memakan nya ya untuk mu," Arvan mengambil mangga itu dengan tangan gemetar, ia menelan ludah nya sendiri.
__ADS_1
"Sayang, ayo makan!” Arvan menyengir kepada Caca. Shinta menahan tawa nya, rasanya sangat lucu sekali melihat wajah Arvan yang takut memakan mangga yang pasti rasanya sangat asam itu. Arvan memakan mangga asam itu. Ingin sekali Arvan membuang mangga yang sangat asam itu namun ia tak ingin membuat Caca bersedih.
"Bagaimana ia bisa memakan selahap ini," batin Arvan. Revan dan Shinta tak mampu menahan tawa mereka.
"Enak kan, Sayang?" tanya Caca kepada Arvan tanpa merasa bersalah. Arvan hanya tersenyum dengan paksa. Ia berharap mangga ini segera habis agar penderitaannya segera berakhir.
Caca sudah menghabis kan empat buah mangga tersebut, sedang kan Arvan setengah nya saja belum habis.
"Sayang, sudah lah! jangan terlalu banyak memakan nya. Nanti perut kamu bisa sakit!"
"Tidak! ini sangat lezat"
"Tapi kau sudah memakan mangga itu sudah 4, Sayang. Sudah ya!"
"Baik lah," Caca pun menuruti permintaan suami nya. Arvan pun bernafas lega. Ia dengan cepat membuang buah yang sudah tak sanggup ia makan nya. Arvan pun menyuci kedua tangan Caca dan juga mulut Caca yang kotor akibat memakan mangga.
"Apa kau sedang mengidam?" tanya Revan
"Mengidam?"
__ADS_1