
Shinta menghapus air mata nya, meminta maaf kembali kepada Krystal. Ia berjanji akan berusaha kuat dan tidak menangis lagi.
Gunawan terharu melihat anak nya yang kini mulai bisa tersenyum, walau ia tau. Jika itu hanya sesaat, tapi setidaknya anak nya bisa makan dan minum obat.
"Ayah,"
Panggil Shinta kepada ayah nya, Gunawan pun mendekat.
"Iya, nak? Apakah tata membutuhkan sesuatu?"
"Di mana ibu?" sejak awal, Shinta tidak melihat kehadiran ibu nya. Gunawan tidak bisa menjawab pertanyaan anak nya, Shinta pun sudah mengerti.
Shinta mencoba tersenyum dan mengatakan jika diri nya tidak akan bertanya lagi tentang kehadiran ibu nya.
"Nak,"
"Sudah ayah, tidak perlu ayah jelaskan lagi. Tata juga tau kok, ibu di rumah sedang menemani anak kesayangan nya."
Hati nya kecewa, ibu yang selama ini ada di samping nya justru lebih mengutamakan orang lain. Ia tidak keberatan jika ibu nya mengadopsi anak dari cinta dan mantan kekasih nya namun kehadiran anak cinta membuat ibu nya Syafa melupakan ia.
Salah kan Shinta merasa kecewa? Dia hanya ingin di peluk oleh ibu nya. Mama Queen dan Krystal mendekati Shinta, memeluk Shinta dengan lembut.
"Jangan sedih ya nak, kamu juga bisa panggil saya mama seperti Revan. Kamu juga anak mama,"
Shinta mengangguk, merasakan cinta dan sayang seorang ibu dari sosok ibu nya Queen.
"Kak, kak Revan lama sekali." tanya Krystal yang mengarahkan pandangan nya ke luar ruangan, memang kehamilan Krystal selalu membuat nya ingin makan dan ngemil.
"Krys, sabar dong!" ujar Queen, ia tak habis pikir dengan adik nya itu. Bukan nya Queen mau menyalahkan adik nya namun mengapa Krystal tidak melihat situasi.
Krek!
Suara pintu berbunyi, Revan masuk membawa dua plastik besar belanjaan. Queen menegur Revan karena sudah membeli makanan sebanyak itu.
"Van, enggak seharusnya kamu nuruti permintaan nya. Lihat nya, kamu jadi kerepotan begini." Queen mendekati Revan dan membantu nya membawa kantung plastik itu.
"Enggak apa-apa Queen, Aku juga membeli beberapa roti dan makanan berat. Aku berharap, kehadiran krystal bisa membuat istri ku melupakan sejenak yang terjadi. Kamu liat, tadi istri ku mau makan dan minum obat. Itu semua berkat krystal." bisik Revan kepada Queen, dia sengaja tidak berbicara kuat agar Shinta tidak mendengar nya.
Queen pun mengerti, memang di saat kondisi seperti ini orang seperti Krystal memang sangat di butuhkan.
"Van, kalau gitu aku sama mama pulang dulu ya? Krys jangan menyusahkan Revan dan juga Shinta ya?"
Krystal mengangguk, Queen dan mama nya pun berpamitan.
Kini, hanya ada Revan, Gunawan dan Krystal yang menemani Shinta.
Shinta meminta ayah nya untuk istirahat pulang, ia tau jika ayah nya juga tidak ada istirahat.
"Yah, ayah sebaiknya istirahat di rumah. Tata enggak mau ayah sakit karena menemani tata di sini."
"Nak, ayah kuat. Ayah akan menjaga mu di sini."
"Pa, yang Shinta katakan benar. Papa juga harus istirahat, Revan akan mengantarkan papa pulang. Lagian, mama kasian tidak ada yang jaga di rumah." ucap Revan kepada ayah mertua nya.
Gunawan pun tak mau lagi berdebat, ia tau jika anak dan menantu nya tidak mau melihat nya sakit.
__ADS_1
Revan pun berpamitan kepada istri nya untuk mengantar ayah mertua nya.
"Sayang, aku akan mengantarkan papa dulu. Kamu di sini sama Krystal, Krys tolong jaga Shinta ya?"
Siap kakak!
Gunawan memeluk Shinta, Shinta menangis di pelukan ayah nya. Gunawan menguatkan anak nya, ia berjanji akan kembali besok pagi.
"Sayang, kamu jangan bersedih terus. Ayah akan kembali lagi besok." Shinta mengangguk, Gunawan mengecup kening Shinta dengan penuh cinta seorang ayah kepada anak nya..
Gunawan dan Revan segera keluar dari ruangan, Shinta menatap kepergian ayah nya. Ia ingin ayah nya menemani nya dan selalu ada untuk nya di saat ini seperti ini namun Shinta tidak mau jika ayah nya sakit kalau terus-terusan menemani nya di sini.
Kak, aku makan kue ini..Lezat sekali, ini kakak cobain.
Tanpa persetujuan Shinta, Krystal langsung memasukan sepotong kue ke mulut Shinta. Shinta mengunyah nya perlahan.
Enak kan kak?
Shinta mengangguk, memang kue itu begitu lezat.
Gunawan dan Revan mengamati ke dua nya dari luar ruangan, Revan tersenyum. Ke dua nya pun yakin jika Krystal bisa menjaga Shinta dengan baik.
"Ayah bersyukur karena nak Krystal bisa membuat Tata sedikit membaik dengan luka nya."
"Iya, Pa. Revan juga begitu, lihat lah krystal terus membuat Shinta makan."
Revan dan Gunawan pun melanjutkan perjalanan mereka ke luar menuju parkiran. Ke dua nya pun begitu lega meninggalkan Shinta bersama Krystal.
"Krys, suami kamu enggak marah kalau kamu di sini?" tanya Shinta kepada Krystal
"Enggak kak, Raffa juga pasti akan paham. Lagipula, aku juga udah ngabarin Raffa."
"Aku enggak mau jika karena aku suami mu marah."
Enggak kok kak.
Seketika, Shinta mengingat Jennika. Apakah sahabat nya itu sudah makan atau belum. Ia juga memikirkan anak-anak nya yang lain.
Shinta mengambil ponsel nya, menghubungi pelayan di rumah nya, memberitahu untuk memberi makan Jennika. Dan jika ada yang datang, bertanya tentang Jennika. Ia meminta kepada pelayan nya untuk tidak memberitahu keberadaan sahabat nya itu..
Kepala pelayan itu langsung mengerti, ia pun bernafas lega.
Ia juga tidak harus takut jika anak-anak di rumah Caca. Caca pasti akan menjaga dan mengurus anak-anak dengan baik.
Kak, aku kenyang sekali.
Shinta menggeleng, bagaimana Krystal merasa tidak kenyang jika dari tadi mulut nya tidak berhenti makan, ia juga melihat tubuh Krystal yang sangat gendut semenjak hamil.
Tau enggak kak, timbangan aku naik dua puluh kilo haha.
Krystal tertawa, namun ia mengatakan jika suami nya tidak merasa keberatan tentang itu. Hal wajar jika wanita yang sedang mengandung timbangan nya naik.
Krystal mengupas buah, untuk ia berikan kepada Shinta. Shinta mengatakan jika diri nya sudah begitu kentang. Namun, bukan Krystal namanya jika permintaan nya tidak di turuti.
Kak, tapi ini kemauan anak aku
__ADS_1
Krystal membuat wajah nya begitu sedih, Shinta merasa tidak enak. Shinta pun memakan buah itu, Krystal tersenyum senang.
Ia memeluk Shinta, walau Shinta sedang berduka namun Krystal tidak ingin jika Shinta sampai drop. Shinta harus tetap kuat, dan semangat untuk keluarga nya.
Pintu ruangan terbuka, Krystal dan Shinta menoleh secara bersamaan, ternyata itu adalah suami Krystal.
Raffa
Krystal menghampiri suami nya dengan jalan yang sedikit payah karena perut nya yang buncit.
Raffa menghampiri Krystal.
"Hati-hati!"
Raffa tersenyum menyapa Shinta, Shinta pun membalas senyuman Raffa.
"Tadi aku membaca pesan mu, sayang. Dan aku membelikan makanan untuk mu. Aku tau, Jika kamu itu gampang lapar."
Raffa begitu sangat perhatian kepada istri nya, Krystal mengatakan jika Revan sudah menyediakan banyak makanan sehat untuk nya.
Raffa merasa lega, namun namanya juga seorang suami pasti khawatir dengan keadaan istri nya yang sedang mengandung berada di luar. Walau itu di rumah sakit.
"Baik lah, kalau begitu aku keluar."
Enggak pulang?
Raffa menggeleng, ia mengatakan akan menjaga mereka berdua di luar. Karena Raffa melihat tidak ada lelaki yang menjaga mereka.
Enggak usah, kak Revan nanti akan balik.
"Aku akan pulang nanti, saat Revan sudah kembali. Dan aku akan menjaga kalian dari luar."
Raffa langsung ke luar ruangan, begitu manis nya perlakuan Raffa kepada Krystal pantas saja jika Krystal menjadi sosok yang sangat manja. Mungkin juga karena faktor kehamilan.
"Kamu beruntung, Krys mendapatkan suami yang begitu lembut dan peduli." ujar Shinta, Krystal juga tidak mau kalah. Ia juga memuji Shinta, beruntung sudah memiliki Revan.
********
Caca mempersiapkan makanan untuk anak-anak, namun mereka tidak ingin makan dan memikirkan tentang keberadaan mama mereka.
"Sayang, mama kalian tidak apa-apa. Kalau kalian tidak makan, nanti mama Shinta akan sedih. Kalian mau mama semakin sakit?"
Mereka pun menggeleng, terutama si kembar Alan dan Alana.
"Bagus, jadi anak-anak mami makan ya? Mami akan menyuapi kalian."
Caca pun menyuapi si kembar Alan dan Alana. Caca menatap Syifa yang tak selera makan.
"Syifa, makan nak. Kalau kakak enggak makan gimana adik-adik kamu makan?"
Syifa mengangguk, walau ia tidak bisa menelan makanan itu. Namun, ia terpaksa memakan nya, Caca mengatakan jika Syifa harus kuat untuk adik-adik dan mama Shinta.
Syifa tanpa sadar meneteskan air mata saat mengunyah makanan nya. Raisa menggenggam salah satu tangan kakak nya memberikan kekuatan kepada Syifa.
Caca melirik ke arah putri sulung nya itu, namun Caca juga tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Ia tau betapa sakit nya kehilangan Al, Caca juga merasakan kehilangan baby Al. Namun, semua harus melanjutkan hidup masing-masing.
Tatapan mata Syifa sangat kosong, ia memikirkan mama nya Shinta. Bagaimana keadaan sang mama.