Ibu Sambung

Ibu Sambung
Solusi


__ADS_3

"Sayang, berhenti lah menjadi anak kecil. Anak kita udah empat dan kamu masih saja meragukan diri ku, apa harus kita punya anak lagi biar kamu yakin dengan ku?"


"Terserah padamu! Intinya aku nggak setuju!" Shinta yang merasa kesal pun pergi meninggalkan suami dan para pengasuh yang ingin interview.


"Astaga, sulit sekali meyakinkan dirinya." Revan membuang nafas dengan kesal.


Shinta yang menuju kamar pun merasa sangat kesal, suami nya tidak mengatakan siapa yang ingin mengasuh anak-anak nya.


"Dia kan bisa meminta data-data para pengasuh itu, alasan saja bilang nggak tau!" gerutu nya. Rasanya ingin sekali Shinta mengacak-acak rambut atau mencabik-cabik daging suami nya. Shinta menoleh ke arah pintu yang terbuka, itu adalah Revan yang mencoba ingin meyakinkan diri nya.


"Jika kau ke sini ingin berdebat, lebih baik kau pergi! Aku nggak mau bicara padamu! Kau ingin pengasuh-pengasuh yang cantik itu kan? Baik lah! Terserah apa katamu dan apa yang ingin kau lakukan! Aku nggak perduli, jika kau membutuhkan pengasuh pribadi untukmu juga terserah!"


"Benar nih aku bisa memakai pengasuh pribadi untukku?" goda Revan, mendengar ucapan suami nya darah Shinta semakin mendidih. Wajah nya memerah


"Sayang, aku hanya bercanda." Revan mendekati lalu memeluk isteri nya dengan penuh cinta.


"Jika kau tidak ingin mereka, baik lah. Kita akan mencari pengasuh yang lain. Namun, sebaiknya kamu interview mereka dulu, hargai mereka yang sudah menunggu dari tadi. Jika kita menyuruh mereka pergi tanpa inteview, mereka akan sakit hati." Shinta pun memikirkan ucapan suami nya.


"Ayo, keluar. Dan seleksi mereka, jika tidak ingin tidak apa. Yang penting kita menghargai mereka yang sudah capek menunggu dari tadi. Mereka sudah datang dari jam enam pagi. Lihat jam sekarang pukul berapa. Apa kamu tega?" Shinta yang tak tega pun akhirnya mau turun ke bawah. Dia juga meminta pelayan nya memberikan minuman dan makanan ringan untuk pengasuh yang ingin di seleksi. Bahkan, Shinta menyuruh mereka untuk makan terlebih dahulu. Salah satu syarat agar di interview. Aneh memang, tapi begitu lah Shinta. Ia tak mau membuat orang lain menderita karena diri nya. Masalah di terima atau tidak, itu urusan belakang.


Para calon pengasuh untuk anak-anak nya pun makan di ruang makan, mereka di hidang kan makanan yang begitu lezat dan di perlakukan dengan layak. Shinta merasa bahagia, bisa berbuat kebaikan kepada orang lain. Setelah selesai makan, para perawat itu pun kembali ke ruangan tunggu untuk di seleksi satu persatu. Shinta pun menanyakan satu persatu calon untuk pengasuh anak nya.

__ADS_1


Setelah selesai menyeleksi semua nya, Shinta menyuruh mereka untuk pulang dulu. Nanti, akan segera di hubungi. Para pengasuh itu hanya perlu meninggalkan copy an identitas dan juga nomer telepon.


*******


Shinta yang selesai menyeleksi calon pengasuh untuk anak nya pun, menemui pengasuh nya yang saat ini. Dirinya curhat tentang lelah nya hari ini. Pengasuh itu pun memberikan saran pada majikannya untuk tidur saja.


"Kamu tolong jaga anak-anak ya? Saya juga udah masukkan stok ASI di dalam kulkas. Kepala saya sangat pusing sekali, saya tinggal dulu."


"Iya, Non." Shinta pun pergi meninggalkan pengasuh nya, Perawat itu menatap punggung Shinta yang mulai menjauh. Ia begitu kagum dengan majikannya.


"Nona Shinta memang wanita yang sempurna, udah cantik, baik, pengertian, sopan, pinter, juga dermawan." ujar nya.


Sudah beberapa kali ia bekerja di rumah lain, tapi hanya Shinta yang begitu baik dan mengerti diri nya. Bahkan, tidak pernah membeda-bedakan status antara majikan dan pekerja nya. Shinta juga selalu memenuhi segala kebutuhan para pelayannya tanpa kekurangan sedikit pun.


"Kenapa akhir-akhir ini aku merasa sangat pusing. Seharusnya aku sudah sembuh dan baik-baik aja."


"Sayang, ada apa?" tanya Revan yang tiba tiba berada di samping Shinta. Shinta mencoba bersikap baik-baik saja.


"Nggak, tadi kepala mu terantuk dan sedikit pusing. Tapi, nggak terlalu serius."


"Bener?"

__ADS_1


"Iya, Sayang."


"Yaudah kamu tidur aja, kan aku udah bilang juga. Kamu harus istirahat, jangan terlalu capek atau lasak. Ini kamu gak bisa di bilangin, ke sana kemari."


"Kan aku mengecek keadaan anak-anak."


"Kan ada aku, Mama, papa dan juga beberapa pelayan di rumah ini. Mereka akan baik-baik aja. Kenapa kamu harus khawatir. Jarak antara kamar kita dan anak-anak juga nggak dekat. Belum lagi kamar Syifa dan si kembar yang berbeda, kamar baby Al. Kamu itu terlalu lelah, sayang."


"Iya, Van. Tapi kan gimana aku nggak lihat mereka, mereka itu anak-anak aku. Aku nggak tenang kalau nggak lihat keadaan mereka secara langsung. Lagian aku nggak apa-apa. Mungkin tadi aku nya ceroboh."


"Sayang, aku berfikir kalau membuat satu kamar lagi untuk anak-anak. Jadi, mereka di ruangan yang sama tapi begitu lebar. Jadi, seperti tiga kamar di jadiin satu. Lagian kan Syifa, Alan, dan Alana selalu bersama. Kasihan juga jika si kembar mondar mandir dari kamar ke kamar satu, atau sebaliknya."


"Tapi, Itu akan membuat mereka nggak nyaman." jawab Shinta.


"Gini aja, kita ke kamar mereka. Dan bertanya, apakah mereka setuju atau enggak. Aku juga nggak akan maksa, jika mereka mau. Kita akan buat kamar mereka. Jika, enggak juga nggak apa-apa. Bagaimana?"


"Aku setuju. Tapi, lebih baik kita bicara dulu sama mama dan papa. Aku nggak mau mama dan papa berfikir jika kita tidak menghargai mereka dan selalu seenak nya dalam bertindak."


"Oke." Revan mengajak isteri nya untuk menemui kedua orang tua nya dan memberitahu rencana mereka.


"Papa dan mama setuju apapun keputusan kalian. Asal anak-anak merasa nyaman dan bahagia saja. Jika, mereka setuju oke lakukan, tapi jika enggak. Mama minta agar kalian tidak memaksakan kemauan kalian ya? Mama nggak mau cucu Mama merasa terkekang dan nggak nyaman. Mereka juga butuh privasi, lagipula Syifa juga udah mulai tumbuh dewasa."

__ADS_1


"Iya, Ma. Revan juga bilang begitu tadi. Sekarang, Revan mau tanya anak-anak dulu, setuju atau tidak. Revan juga tahu ma, makanya kamar mereka yang sekarang tidak akan Revan bongkar. Mereka akan menempati nya jika mereka udah tumbuh dewasa dan ingin memiliki privasi masing-masing. Untuk saat ini kan mereka masih begitu kecil ma, si kembar sering kali ke kamar Syifa. Bahkan hampir seharian mereka selalu bersama. Bahkan, mereka sering tidur di kamar kakaknya atau sebaliknya. Makanya Revan mengusulkan rencana ini. Sebelum Revan bertanya pada mereka, Revan ini meminta solusi kepada mama dan papa."


.


__ADS_2