Ibu Sambung

Ibu Sambung
Waktu bersama Alana


__ADS_3

Terlintas bayangan masa lalu itu muncul, di mana Caca selalu mendapat kan kekerasan dari sang suami. Tidak sepenuh nya kesalahan Arvan, tapi memang Caca lah yang tidak mau menghargai kehadiran Arvan. Sering mencaci Arvan. Tiada hari tanpa pertengkaran yang sangat hebat. Bahkan, Caca di perlakukan layaknya tidak manusia saat memenuhi hasrat dari sang suami. Ada satu rahasia yang saat ini Caca sembunyikan dari suami dan semua orang. Caca takut jika suatu saat suami nya mengetahui itu dan tak akan pernah memaafkan nya. Lamunan Caca tersentak karena Arvan memanggil dan menepuk pundaknya perlahan.


"Kenapa?"


"Ti-tidak apa-apa, Aku cuman memikirkan tentang anak-anak kita ke depannya." bohong Caca. Arvan pun mengangguk, Syifa mendekati Caca dan memeluk nya.


"Terimakasih ma."


"Terimakasih untuk apa, Nak?"


"Sudah melahirkan Syifa, mama adalah Ibu terhebat untuk Syifa."


"Mama memang melahir kan mu nak, tapi mama Shinta lah yang memberikan kehidupan kedua untukmu. Jika, tidak ada mama Shinta. Mama tidak tahu, apakah saat ini mama bisa memeluk mu sekarang."


"Jangan begitu, aku yang seharus nya berterimakasih padamu, Ca. Karena sudah melahirkan anak yang baik dan secantik Syifa. Kau yang paling berjasa untukku. Sewaktu aku belum mengenal Syifa, hidup ku kacau. Bahkan dokter memvonis ku tak akan punya anak. Aku wanita yang tak tahu arah kehidupan, namun kehadiran Syifa membuat ku menjadi ibu yang sempurna. Bahkan, aku melupakan kesedihan ku untuk tidak bisa punya anak. Tapi, rencana Tuhan memang indah, walau memiliki beribu cobaan yang membuat ku jatuh bangun, aku sekarang melahirkan tiga anak. Aku menjadi Ibu dari keempat anak. Hati ku sangat bahagia, kau ibu terbaik sudah melahirkan malaikat kecil ku, Syifa." ujar Shinta yang meneteskan air mata. Caca dan yang lainnya pun merasa terharu dengan ucapan Shinta.


"Kalian berdua, malaikat dan Ibu terbaik di dunia ini. Syifa selalu meminta kepada Tuhan di berikan ibu yang sama di kehidupan-kehidupan selanjut nya."

__ADS_1


Shinta dan Caca bersamaan memeluk Puteri nya. Syifa begitu sangat dewasa pemikirannya. Benar yang di katakan orang


...kedewasaan seseorang bukan dari umur melainkan dari cara berfikir nya...


******


Shinta dan Revan pun memutuskan membuat acara untuk nama bayi mereka. Sebelum acara itu terjadi, Shinta dan suami nya akan mencari pengasuh sesuai yang di bicarakan sebelum Shinta keluar dari rumah sakit.


"Kita sudah punya satu pengasuh, kita akan mencari satu pengasuh lagi." ujar Shinta. Tapi, Revan menolak


"Dua? Untuk apa? Kita sudah punya satu pengasuh, itu akan terlalu berlebihan."


"Tidak! Di sini ada Syifa, si kembar dan juga Baby kita. Bagaimana bisa hanya dua pengasuh?"


"Sayang, aku masih bisa menjaga dua anak kok, bergantian dengan pengasuh-pengasuh kita. Jika, kita punya tiga pengasuh itu akan tidak baik. Kapan aku memiliki waktu untuk anak-anakku?"


"Itu sebab nya aku memberi tiga pengasuh, agar kamu dan aku bisa berbagi waktu dengan anak-anak. Jika, tidak aku pasti akan mencari tiga pengasuh. Satu anak akan di tanganin oleh satu pengasuh. Jika kau menolak, aku akan mencari tiga pengasuh lagi. Bagaimana?" Shinta yang tak punya pilihan lain pun mengikuti perintah dari suami nya. Lagipula, diri nya terlalu lelah untuk terus-terusan berdebat.

__ADS_1


Shinta pun berfikir jika kasihan jika satu pengasuh mengurus dua anak. Itu juga akan sangat merepotkan.


"Mama, mama!" teriak Alana, Shinta pun mendekati sang anak yang berlari ke arah nya.


"Iya, Sayang?"


"Alana mengantuk, ingin di nyanyi kan oleh mama."


"Sayang, kamu tidur nya sama bibi aja ya? Mama kan baru keluar dari rumah sakit, mama masih butuh istirahat, Sayang." ujar Revan, Alana pun memonyongkan mulutnya ke depan.


"Gapapa kok, aku udah sembuh. Ayo sayang mama nyanyii Alana biar tidur ya?" Shinta menggendong tubuh mungil Alana untuk di bawa ke kamar.


Di kamar, Shinta meletakkan tubuh anak nya dengan lembut di atas kasur. Shinta berbaring di samping Alana, menepuk bahu anak nya dengan lembut serta menyayangi kan lagu pengantar tidur untuk Alana. Namun, Alana tidak merasa puas, dia pun meminta untuk di ceritakan dongeng oleh mama nya. Shinta tertawa dan menuruti keinginan sang anak.


......Suatu hari, hidup lah seorang Puteri cantik yang tinggal bersama keluarga nya yang kaya raya. Puteri ini selalu di berikan kemewahan oleh kedua orang tua nya. Puteri cantik ini tumbuh menjadi dewasa, karena berlinang harta. Puteri cantik ini pun menjadi manusia yang arogan, dan sangat angkuh. Suka menyakiti hati orang lain, bahkan orang tua sekaligus. Suatu hari, sang Puteri berjalan-jalan sore menikmati kesejukan di sekitarnya, ia bertemu dengan kakek-kakek yang membawa seekor domba. Karena domba itu sangat bau, Puteri cantik ini menghina dan menyakiti hati sang kakek. Bahkan memukul kepala domba nya hingga tewas menggunakan batu. Bukannya menyesali perbuatannya, Sang Puteri malah tertawa dengan begitu keras dan sombong nya. Melihat hal itu, Kakek pengembala ini pun sangat marah, dan mengutuk sang Puteri. Dia mengutuk sang Puteri agar badannya bau seperti seekor domba, dan tak akan ada yang mendekati nya. Tiba-tiba kilat yang sangat besar datang. Puteri terkejut, kakek itu pun segera menghilang. Ia tak memperdulikan ucapan sang kakek, dan menyepelekan rasa sakit hati sang kakek. Ia berjalan menikmati pemandangan dan kesejukkan yang ada di sekitar. Orang-orang pun memandangi dengan tatapan jijik, menutup hidung mereka. Puteri yang menyadari sikap dari para warga pun marah dan memaki mereka. Warga di situ tidak berani melawan karena keluarga sang Puteri adalah orang yang sangat berpengaruh di desa mereka. Dengan rasa kesal sang Puteri pulang ke rumah. Orang-orang yang di sekitar nya pun merasa bau jika Puteri melewati mereka, Puteri semakin kesal hingga menampar salah satu di antara warga. Sang ayah yang melihat kekacauan itu mendekati Puteri nya. Reaksi sang ayah pun sama seperti warga desa, begitu kebauan dengan aroma tubuh sang Puteri. Kini, sang Puteri mengingat kutukan yang di berikan oleh kakek pengembala tersebut. Diri nya pun menangis, meminta pertolongan sang ayah. Walau sudah menghabiskan banyak botol parfum untuk di mandi kan, sang Puteri pun masih tetap bau. Berbagai cara di lakukan sang ayah untuk mengobati Puteri kesayangannya namun hasil nya sia-sia. Puteri menangis dan menyesali segala perbuatannya. Sang Puteri bersama ayah nya mencari keberadaan sang kakek untuk menghapus kutuk kan itu tidak bisa di temui, semua nya sudah terlambat. Teman-teman dan seluruh orang terdekat bahkan seluruh warga desa menjauhi Puteri yang sangat sombong itu......


SELESAI

__ADS_1


__ADS_2