
Shinta masuk kedalam rumah, ia menggandeng tangan kedua orang tuanya. Duduk di sofa bersama kedua org tuanya.
"Maafin aku Bu, Yah." Memeluk kedua orang tuanya secara bergantian, lalu menceritakan semua kejadian tersebut.
"Siapa gadis itu?" Tanya ibu dengan heran.
"Dia pasien ku Bu, dan ternyata papa nya seniorku di bangku SMU."
"Aku sangat menyayanginya, waktu dokter mengatakan bahwa ia tak bisa di selamatkan mendadak nafasku di paksa untuk berhenti. Sesak sekali rasanya." ucap Shinta dengan mata berkaca-kaca. Ibu Shinta langsung memeluk tubuh anak semata wayangnya tersebut. Shinta menangis di pelukan ibunya. Syafa mengangkat kepala anaknya,memegang kedua pipi anaknya lalu menciuminya.
"Jangan menangis lagi nak" menghapus air mata Shinta yang membasahi pipi.
"Bagaimana keadaan anak tersebut?"
"Saat ini dia belum sadarkan diri namun sudah melewati masa kritis nya Bu, Yah. Aku tak sanggup melihat nya seperti itu hiksss" mengelap ingus yang keluar dari hidung dengan tangannya layaknya seperti anak kecil.
"Sudah jangan menangis lagi, ikatan kalian sangat kuat. Sampai ia bisa melewati masa masa kritis itu, padahal dokter mengatakan dia tidak bisa di selamat kan lagi." Lirih ayah sambil mengacak acak rambut anaknya.
__ADS_1
"Sebaiknya kau bersihkan badanmu lalu makan lah nak" Ucap Syafa dengan lembut.
"baik Bu, Yah." menghapus air mata, bangkit dari duduknya dan segera masuk kedalam kamarnya. Kedua orang tua Shinta melihat anaknya dari belakang. Shinta masuk kedalam kamarnya.
"Aku heran mengapa ikatan batin mereka sekuat itu padahal tidak ada hubungan apapun" Kata Syafa memandang suaminya, ayah Shinta langsung mendekati dan memeluk tubuh ibunya dengan penuh kasih sayang.
"Entahlah, mungkin ini sudah takdir dari Tuhan, kita liat aja gimana kedepannya" Menciumin pucuk kepala Syafa. walau mereka sudah tua dan memiliki Shinta yang sudah dewasa, tak mengurangi rasa sayang dan keromantisan diantara mereka berdua.
"Mas, aku khawatir dengan anak kita. Apalagi melihat wajahnya yang kacau hanya karena seorang gadis yang baru ia kenal"
"Sudah jangan cemas, anak kita akan baik baik saja." mencoba menenangkan Syafa yang sedang khawatir dengan Puteri semata wayangnya.
Shinta merendamkan badannya di bath up, memandang langit langit, memejamkan mata nya sejenak dan memijit pelipis matanya agar sedikit relax.
Shinta masih membayangkan kejadian dimana Syifa kecelakaan di depan matanya, dan hampir kehilangan nyawanya.
"Apa salah gadis itu, dia hanya menginginkan seorang mama tapi dia harus mengalami hal menyedihkan seperti ini" Gumamnya dalam hati. Air matanya terus saja keluar dari sudut matanya.
__ADS_1
"Mengapa aku sangat sakit melihat dia menderita seperti ini Tuhan? bangunkan dia aku mohon, aku berjanji jika dia sadar aku akan menjadi mama untuknya dan menyayangi serta melindunginya dengan segenap jiwa dan ragaku." Shinta terus saja mengomel didalam hatinya, pikirannya hanya tentang Syifa dan kesembuhan Syifa. dia berendam selama 1 jam dan memejamkan matanya namun ia tak tidur, dia memikirkan keadaan Syifa dirumah sakit sekarang.
"Aku akan kembali kerumah sakit, aku akan menunggu sampai dia sadar" Shinta bangkit dari bath up. Membersihkan dirinya di shower. Mengambil kimono handuk dan segera keluar dari kamar mandi, ia mengambil pakaian dan memakainya. Tak lupa memakai minyak telon dan farfum favorit nya. Memberikan lipblam di bibir tipisnya yang pink. Menyisir rambut dan segera keluar kamar.
"Mau kemana lagi kamu?" Tanya ayah yang masih di ruang keluarga bersama isterinya.
"Mau kerumah sakit lagi Yah" Jawabnya dengan enteng.
"Ini sudah malam nak"
"iya ini sudah malam, ayah tak mengizinkan kamu keluar malam malam, besok saja jika ingin menjenguk" ucap ayahnya.
"Tapi Bu, Yah." memelas.
"Tidak ada tapi tapi! kalau Ayah bilang tidak ya tidak!" Ucap Ayahnya dengan meninggikan suara. mata Shinta sudah berkaca kaca dia tak membantah omongan ayahnya lagi dan segera masuk dalam kamar.
"Kenapa harus membentakku seperti ini sih hiks...hiks..." lirihnya. Ya Shinta anak yang sangat manja, jadi dia akan sangat sakit hati jika ayah ataupun ibu nya berkata dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Kamu ga seharusnya membentak Syifa seperti itu!" Ucap ibunya sebal.
"Aku harus begitu agar anak kita tidak keras kepala" Ucap ayah tak mau kalah nya.