
Revan merasakan kenyamanan di peluk isteri nya. Mungkin, ini pubertas Revan yang ke-dua namun ia bersyukur karena menjadi bucin kepada isteri nya sendiri tanpa tergoda dengan wanita lain yang nanti nya akan menyakiti hati sang sang isteri.
"Sudah, Jangan menangis!" Shinta semakin mengerat kan peluk kan mereka.
"Terimakasih, sudah mau menjadi isteri ku." Revan semakin tenggelam dengan rasa sedih nya.
"Mama." Shinta dan Revan di kejut kan oleh suara Alana yang tiba-tiba masuk ke kamar.
"Mama dan Papa ngapain? Kok peluk kan?" Mereka tersadar dan saling melepaskan pelukan satu sama lain. Alana menatap wajah papa nya yang sembab
"Papa nangis? Kok melah mata nya?"
"Tidak, Sayang. Papa nggak nangis, papa hanya kemasukkan debu."
"Emang nya papa dali mana? Di lumah kita ini kan sangat belsih, tidak ada debu."
*Taman ~ Shinta
Dapur ~ Revan*
Ucap kedua nya secara serentak namun dengan ucapan yang berbeda. Alana mengerut kan dahi nya dengan penuh selidik.
"Dapul atau Taman?"
"Maksud nya tadi papa ke dapur terus ke taman, Sayang." jawab Shinta lagi yang mencoba meyakinkan anak nya.
"Alana kan tanya sama papa, kenapa dali tadi Mama aja yang jawab?" Alana kembali mengerutkan dahi nya, menatap wajah kedua orang tua nya untuk mencari kebenaran. Shinta sampai bingung harus menjawab apa, ia pun mengalihkan pembicaraan.
"Kamu kenapa ke sini, nak? Kok udah bangun."
"Iya, Ma. Tadi Alana bangun, telus Mama nggak ada. Kan sebelum Alana bobok Mama ada di samping Alana. Jadi, Alana mencali Mama. Di bawah tidak ada siapa-siapa cuman ada pala pe-pelayan. Di Kamal kakak Syifa hanya ada kakak dan Alan. Jadi, Alana mencali Mama di Kamal. Dan Mama ada di sini."
"Iya, Sayang. Maafin Mama ya? Tadi Mama memberikan ASI kepada adik baby nya. Sayang, mau apa?"
"Alana mau mendengal kelanjutan celita tadi, apa sudah habis ma?"
"Ayo, sini Mama ceritakan!"
"Nggak mau!"
__ADS_1
"Bukan nya Alana mau mendengar kelanjutannya?"
"Nggak mau di sini, mau nya di Kamal Alana. Nanti, jika di sini. Baby Al akan bangun kalena belisik."
Shinta pun mengikuti sang anak dan mengajaknya keluar dari kamar menuju kamar milik Alana. Sesampai di kamar Alana, Shinta menggendong Alana untuk naik ke tempat tidur, Shinta duduk di sebelah anak nya.
"Ayo, Mama celitakan lagi yang tadi."
"Sebelum Mama lanjut ceritakan kelanjutannya. Mama mau buatin susu dulu untuk Alana, Alan dan juga kakak."
"Nanti aja Mama, kan meleka masih bobok. Alana juga masih kenyang."
"Tapi, nak."
"Ayo Mama, celitakan." Shinta tersenyum kepada Alana dan mulai menceritakan kelanjutan dongeng tadi.
...Puteri itu merasa sangat sedih, seluruh teman-teman dan orang terdekat nya menjadi jahat dan selalu mengejek dirinya. Ayah sang puteri sudah melakukan segala cara untuk kesembuhan aroma bau badan sang puteri. Namun, segala upaya yang di lakukan namun semua nya sia-sia. Sang puteri yang awal nya begitu sombong dan arogan pun menjadi wanita baik hati dan suka menolong orang lain. Tidak sedikit pula, ia mendapat cibiran dari para warga desa. Puteri itu pun berusaha untuk ikhlas dan menerima segala nya. Suatu ketika, dia bertemu dengan seorang pangeran yang tampan. Tapi, pria itu begitu sangat membenci sang puteri yang dulu nya sangat arogan....
"Lalu bagaimana lagi, Mama?"
"Sabar dong, sayang. Mama belum selesai cerita kamu udah potong aja."
"Iya, Nak."
Tiba-tiba, terdengar ketukkan pintu dari luar. Shinta beranjak turun dari tempat tidur. Melihat siapa yang mengetuk pintu kamar anaknya. Shinta membuka pintu dan melihat Alan berdiri di luar kamar.
"Sayang nya Mama udah bangun?"
"Mama kenapa di sini?"
"Mama sedang menemani adik kamu."
"Ma, Alan mau susu." rengek Alan. Shinta pun menyuruh anaknya untuk masuk ke kamar. Sebelum menuju dapur, Shinta ingin mengecek apakah Syifa udah bangun apa belum. Ternyata anak nya itu pun sudah bangun
"Mama." panggil Syifa dengan suara lembut nya. Shinta masuk ke kamar dan mendekati Puteri sulung nya.
"Kakak udah bangun juga? Mama mau buat susu. Kakak mau?"
"Nanti aja ma, Syifa masih kenyang. Mau lanjut mengerjakan tugas dari sekolah dulu."
__ADS_1
"Baik lah, nak. Syifa mandi dulu ya biar segar."
"Iya, ma." Shinta pun menuju dapur membuat kan susu untuk anak-anak nya. Setelah selesai membuat susu, Shinta kembali ke kamar anak nya untuk memberikan susu kepada si kembar Alan, Alana.
"Mama, ayo celitakan lagi."
"Celita apa?"
"Dongeng dong, Alan. Kamu nggak tahu, celita nya selu tau! Apa kamu mau dengal juga?"
"Enggak!" jawab Alan singkat, meneguk segelas susu yang di buat kan oleh Mama nya.
"Yasudah kalau nggak mau, Alana nggak maksa jugak!" sewot Alana Kembali. Shinta memikirkan baby Al yang sudah bangun atau belum. Shinta meminta izin kepada Alana untuk melihat baby Al.
"Kenapa mama meminta izin kepada Alana? Mama boleh kemana aja yang Mama mau." ujar Alan yang kurang senang melihat Mama nya harus meminta izin dulu kepada saudara kembar nya untuk melihat sang adik.
"Bukan begitu, ganteng nya Mama. Tadi, Mama udah janji sama Alana untuk menceritakan dongeng untuk Alana."
"Nanti malam juga bisa Mama." lanjut Alan kembali, Alana pun setuju dengan ucapan saudara kembar nya.
"Mama pelgi lah, lihat adik." pintu kamar si kembar pun terbuka, ternyata nenek Lily nya yang masuk.
"Alan, Alana. Kalian sedang apa? Ayo mandi, biar nenek yang memandikan kalian. Dan Tata, pergi lah nak. Lihat bayi mu, mungkin baby Al sudah bangun."
"Iya, Ma."
"Kan ada bibi, nek. Bibi bisa membantu kami mandi." jawab Alana.
"Bibi sedang istirahat, sayang. Jangan di ganggu, kasihan. Sudah terlalu lelah seharian menjaga kalian."
"Bibi lelah bukan kalena Alan ma, Tapi Alana! Dia selalu saja menyusahkan bibi sampai bibi lelah. Alan jadi anak yang baik ma."
"Enggak ma! Alan juga cuka buat bibi lelah, Alan memang diam saja, itu semakin membuat bibi pucing. Apa-apa Alan diam sampai pup di celana haha." ledek Alana, Alan merasa malu di hadapan Mama dan nenek nya.
"Alan pup di celana?" ledek nenek Lily lagi, Wajah Alan memerah karena malu. Ia juga menatap saudara kembar nya itu dengan sinis.
Dia selalu suka membuat ku malu, awas kau Alana. Kan aku malu, hisk ~ batin Alan
"Iya, Nek. Benel, Alan seling pup dan pipis di celana. Dia hanya diam aja, nggak mau ngomong tiba-tiba Alana dan bibi melasa kebauan." adu Alana kembali.
__ADS_1