Ibu Sambung

Ibu Sambung
Season 2 - Suasana


__ADS_3

"Sudah, kamu jangan bingung lagi. Nenek mempunyai solusi untuk masalah cucu nenek saat ini. Agar tidak menyakiti, kedua hati Ibu mu. Kamu pakai saja pakaian mu yang lain, atau nenek akan memesan kan gaun untuk kamu pakai di acara nanti malam. Bagaimana?"


"Setuju." ucap Syifa bersemangat, ia kembali memeluk neneknya dengan erat.


"Terimakasih nenek, Nenek memang nenek yang paling terbaik. Syifa sayang nenek! Sangat, sangat dan sangat sayang nenek." Syifa kembali mengecup pipi neneknya berkali-kali.


"Sudah, Sayang. Kita akan memilih baju yang kamu suka." Syifa pun melepaskan pelukkan nya dari sang nenek.


Lili segera mengambil ponsel nya dan melihat butik dari akun online milik nya, menyuruh Syifa untuk memilih gaun mana yang ia sukai untuk ia pakai di acara nanti malam. Setelah Syifa memilih gaun berwarna baby pink yang senada dengan warna kulit nya. Ia memberitahu sang nenek. Lili segera menghubungi pihak butik tersebut, menyuruh mereka untuk mengantar ke alamat tinggal diri nya secepat mungkin.


"Masalah beres." ujar Lili


"Terimakasih nenek ku! Nenek memang nenek yang paling terbaik, Syifa sayang nenek."


"Nenek juga sayang kamu."

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, gaun yang mereka pesan pun datang. Segera pelayan membawa gaun tersebut ke kamar Syifa.


"Gaun nya lebih indah asli nya nek." ujar Syifa yang merasa takjub.


"Sangat cantik untuk cucu kesayangan nenek."


Syifa pun melihat dirinya di depan cermin, warna gaun yang ia pesan juga sangat cocok dengan kulit nya.


"Sekarang, kamu istirahat saja. Malam nanti pasti akan sangat melelahkan bagimu." pinta Lili. Syifa pun menuruti ucapan sang nenek dan beristirahat sejenak.


Di ruang keluarga, Shinta dan Caca begitu heboh mengurus kedua bayi dan si kembar Alan, Alana. Si kembar Alan dan Alana pun begitu sangat bahagia dengan kehadiran baby Khanza.


"Lucu sekali, Mi." ujar Alan.


Alana yang merasa gemas dengan baby Khanza pun mengecup kening Khanza dengan beruntu.

__ADS_1


"Sayang, Sudah! Nanti baby Khanza nangis karena kalian cium terus." ujar Shinta yang menegur kedua anaknya dengan lembut. Namun, Caca membela si kembar. Karena baginya, ini pertama kali si kembar bertemu dengan baby Khanza. Pasti mereka ingin bermain lebih lama dengan adik mereka.


"Aku cuman nggak mau Khanza nggak nyaman dengan kelakuan mereka, jujur saja. Terkadang aku sendiri pusing dengan kelakuan si kembar. Semakin besar, mereka sangat pandai bermain drama."


"Haha, itu biasa. Mungkin, Syifa dahulu juga seperti itu." Caca merenung, karena ia sendiri tak mengetahui tumbuh kembang Syifa.


"Sudah! Kita berdua juga tidak tahu bagaimana Syifa kecil. Tapi, saat ini dia tumbuh menjadi gadis baik yang begitu pengertian."


Caca tersenyum, ia tahu jika sahabatnya itu hanya ingin membuat hatinya bahagia saja.


Setidak nya kamu sudah merawat nya sejak ia umur 5 tahun, dia tinggal bersamamu. Sedangkan, denganku hanya sebentar saja. Jika waktu bisa aku putar, mungkin aku akan terus memantau dan menjaga anakku ~batin Caca.


Caca tersentak kaget merasakan ada yang menyentuh bahunya, ketika ia menoleh ternyata suami nya yang tersenyum.


"Kamu memikirkan sesuatu?" tanya Arvan, Caca hanya menggeleng saja.

__ADS_1


"Jangan berbohong padaku, Aku tahu kamu memikirkan sesuatu." bisik Arvan, Caca yang kuasa menahan kesedihannya ia langsung menangis di pelukkan suami nya. Shinta yang bingung pun bertanya apa yang terjadi. Arvan mengatakan itu hanya efek dari ibu yang terlalu lelah mengurus bayi nya. Dan kelelahan akibat perjalanan yang panjang


__ADS_2