Ibu Sambung

Ibu Sambung
Mencari Arvan


__ADS_3

"Sayang, kenapa kamu mengatakan itu kepada Raisa? Kamu sadar dengan ucapan kamu?""


Arvan tidak menjawab istrinya bahkan ia memukul dinding dengan keras, membuat Caca tersentak kaget "Sayang, hentikan! Apa yang kamu lakukan? Jangan menyakiti diri kamu sendiri seperti ini!"


"Lalu aku harus apa? Coba katakan kepada ku, apa yang harus aku lakukan? Bisa kah kau menjawab ku? Mengapa, Raisa tidak pernah sekali saja tidak membuat keributan? Kenapa?"


Caca menenangkan suaminya, ia tidak mau suaminya terus merasa sedih "Sayang, aku juga ingin Raisa berubah. Agar Raisa tidak membuat kekacauan, namun apa yang bisa kita lakukan? Ia melakukan itu di luar kendali kita. Tapi kamu harus tahu, walau Raisa seperti itu dia tidak pernah menyakiti atau melukai orang lain. Tidak seperti Syifa dan Khanza. Aku tidak mengerti mengapa mereka bisa bersikap nekat seperti itu,"


"Itu semua karena Raisa! Kalau Raisa tidak terus mencari masalah. Maka anak-anak ku akan bersikap manis!"


"Sayang, raisa juga anak kamu?""


Caca ingin suaminya sadar, jika Raisa juga anak mereka "Tidak! Bahkan aku tidak sudi memiliki anak sepertinya! Aku lelah! Aku lelah dengan sikapnya yang begitu buruk dan selalu membuat keributan! Ucapannya yang tidak bisa di jaga selalu saja menyakiti orang lain. Kamu tahu, jika Syifa dan Raisa itu penyayang namun karena Raisa yang selalu menguji kesabaran mereka. Jadilah mereka kasar seperti itu, seperti ibu kamu Elsa!"


"Cukup Van! Cukup! Kenapa kamu selalu saja membawa-bawa mami aku dalam hal ini? Kenapa? Kenapa selalu mama aku, mama aku sudah lama pergi meninggalkan kita semua dan ini enggak ada hubungannya dengan mama aku! Jika ada yang harus di salahkan itu adalah orang yang selama ini mengasuh Syifa dan Raisa."


Arvan memilih pergi meninggalkan istrinya, dia malas untuk berdebat lagi. Dan Raisa masih berdiri di depan pintu


"Daddy! Daddy mau kemana? Daddy! Tungguin aku!" Raisa mengejar Arvan namun lelaki itu sudah malas memperdulikan anaknya lagi, ia capek harus memahami sikap buruk Raisa selama ini. Ia sudah cukup bersabar dengan tingkah Raisa yang sangat keterlaluan.


Rumah ini tidak pernah ada kedamaian dan itu semua karena Raisa. Andai saja Raisa bisa memahami segalanya, Raisa bisa membagi cinta dan kasih sayang. Semua ini tidak akan terjadi. Mereka pasti akan hidup bahagia semuanya namun Raisa tidak bisa menerima segalanya.

__ADS_1


"Daddy, Raisa mohon tunggu Raisa! Daddy jangan mendiamkan Raisa seperti ini! Daddy tahu bagaimana sayangnya Raisa dengan Daddy, tolong Daddy cabut kata-kata Daddy tadi Daddy! Tolong Daddy!"


Walau berulang-kali Raisa memohon namun arvan tidak mendengarkan ucapan anaknya


Ia sudah muak dengan semuanya.


Syifa dan khanza melihat bagaimana Raisa memohon dengan Daddy mereka "Kak, Khanza sebenarnya enggak tega dengan kak Raisa..namun mengapa kak Raisa selalu saja mencari masalah dengan kita? Mengapa kak Raisa selalu menyalahkan mama dengan semua yang terjadi?"


"Kakak juga tidak mengerti, kakak juga salah! Enggak seharusnya kakak bersikap kasar dengan kakak Raisa kamu..tapi kakak sangat kesal saat Raisa menyalahkan mama dan mempertanyakan ajaran mama kepada kita!"


"Iya kak, Khanza juga begitu. Kakak tahu kan kalau Khanza enggak akan mungkin menyakiti orang lain, namun kak Raisa sudah keterlaluan dan mami selalu saja memaafkan kesalahannya kak Raisa. Jika begini, kasihan Daddy! Daddy pasti merasa sangat sedih!"


Kakak beradik itu terlihat sedih melihat semua yang telah terjadi. Mereka hanya bisa berdoa agar raisa bisa sadar dan tidak akan membuat kedua orang tua mereka sedih


"Daddy!""


Syifa dan khanza berteriak, bahkan mereka mengejar agar Daddy-nya tidak membawa mobil sendirian apalagi dalam keadaan sedih dan emosi namun keduanya terlambat Daddy mereka sudah pergi.


Caca pun melihat dan menghampiri anak-anaknya "Kenapa kalian enggak melarang Daddy pergi? Raisa kenapa kamu membiarkan Daddy mu pergi? Kamu tahu kalau Daddy belum sembuh total. Kenapa kalian diam aja?"


Caca terlihat khawatir, ia pun mengejar suaminya menggunakan mobil satunya lagi.

__ADS_1


Syifa, Khanza dan Raisa meminta ikut kepada mami mereka, Caca pun mengizinkan mereka untuk ikut.


Terlihat Arvan membawa mobil dengan menyebut membuat Caca tidak bisa mengejar mobil suaminya.


"Ini semua karena kamu kak, andai kamu bisa cegah Daddy pergi! Kamu keterlaluan!" Khanza menyalahkan Raisa, dan Raisa pun menyalahkan adiknya "Ini karena kamu, andai kamu dan kak Syifa tidak memukul aku. Daddy enggak mungkin akan sedih dan pergi! Kalian itu terlalu bar-bar seperti bukan seorang wanita!"


"Hey, kami tidak akan seperti itu kalau kamu tidak keterlaluan!"


Caca mengerem mobilnya secara tiba-tiba membuat mereka terkejut "Sudah cukup! Kenapa kalian masih saja bertengkar? Apa kalian belum puas? Tunggu aku dan Daddy kalian mati baru kalian puas dan berhenti bertengkar? Iya?" Syifa, Khanza dan Raisa langsung bungkam


"Udah dong! Kalian enggak capek ribut terus? Mami capek melihat kalian terus saja bertengkar, dan karena kalian Daddy pergi. Kalian bertiga salah dan jangan menyalahkan satu sama lain! Jika kalian ingin tetap bertengkar lebih baik kalian bertiga turun! Mami sudah khawatir dengan Daddy kalian dan sekarang kalian ribut terus, ribut terus! Capek loh mami!"


Caca pun menangis mengatakan itu kepada ketiga anaknya, ia stres melihat ketiga anaknya yang selalu saja bertengkar. Entah mau bagaimana lagi memberitahu mereka agar ketiganya akur tanpa bertengkar sehari saja.


"Maafin khanza mami!" Khanza memeluk maminya dari belakang, ia sedih melihat maminya menangis. Syifa dan Raisa pun memeluk Caca dan meminta maaf


"Maafin kita mami, kita salah. Kita udah membuat mami dan Daddy sedih karena tingkah kita bertiga,"


Setelah tenang, Caca Kembali melajukan mobilnya untuk mencari sang suami.


"Sayang, di mana kamu? Aku takut kamu kenapa-kenapa sayang. Kenapa kamu pergi sendirian tanpa aku? Aku harus mencari kamu kemana?"

__ADS_1


Caca melihat kanan dan kiri, mencari suaminya yang pergi menggunakan mobil entah kemana.


__ADS_2