Ibu Sambung

Ibu Sambung
Memiliki Hati Yang Baik


__ADS_3

Arvan masuk ke dalam rumah, ia tidak mengatakan apapun kepada yang lain nya terutama kepada sang isteri Caca. Karena Arvan tahu, jika mereka saat ini harus memikirkan tentang keadaan dan kesehatan ibu Syafa.


Walau, Arvan tidak terlalu dekat dengan Ibu nya Shinta, namun ia sudah menyayangi keluarga Shinta seperti keluarga nya sendiri.


Caca bertanya kepada suami nya dari mana, Arvan pun berbohong dan mengatakan jika dia tadi keluar untuk melihat anak-anak.


Caca pun mengangguk, percaya dengan ucapan suami nya. Lagipula, ia yakin jika suami nya tidak akan berbohong.


Setelah Shinta selesai menyuapi ibu Syafa, ia pun menyuruh ibu nya untuk langsung minum obat agar bisa istirahat dengan nyenyak.


"Ibu minum obat nya. Biar ibu langsung istirahat,"


"Tidak sayang, ibu sudah membaik. Ibu ingin memasak kan makanan untuk kalian. Kalian datang, bukan untuk merawat ibu."


"Sudah lah ibu! Ibu bisa memasak apa saja untuk Kami setelah ibu sembuh. Untuk sekarang, ibu hanya perlu istirahat saja jangan memikirkan hal yang lain. Tata nggak mau ibu kelelahan yang ada kesehatan ibu semakin memburuk."


"Iya, Bu. Sebaiknya ibu istirahat saja, biar kan pekerjaan rumah Caca dan Tata yang mengurus nya. Ibu itu ibu nya kami, kami nggak mau melihat ibu sakit. Setelah ibu sembuh, kami sendiri yang akan meminta ibu memasak. Dan kami akan menghabiskan masakan ibu."


"Kalian berjanji? Dan tidak akan mengatakan, ibu tata dan Caca makan sedikit saja. Kami bisa gendut jika makan terlalu banyak. Kalian tidak akan mengatakan itu lagi?" tanya ibu Syafa dengan suara yang lemah.


Caca dan Shinta mengangguk dengan kompak, mereka berjanji tidak akan makan sedikit lagi jika ibu mereka yang memasak ketika sudah sembuh. Ibu Syafa pun memegang ucapan anak-anak nya. Ia mengatakan jika nanti ia sudah sembuh, ia akan menagih janji anak-anak nya.


Shinta, Caca dan yang lain nya pun tersenyum bahagia, apalagi melihat ibu Syafa mau minum obat..Lalu membaringkan tubuh nya untuk beristirahat.


Setelah ibu Syafa berbaring, Caca dan Shinta mengajak suami mereka untuk ke luar. Dan membiarkan ayah Gunawan yang menjaga Ibu Syafa.


Awal nya ibu Syafa menolak, namun anak dan menantu nya memaksa. Tak ada pilihan lain untuk ibu Syafa menuruti ucapan anak dan menantu nya..


Yang di ingin kan oleh Syafa adalah kebahagiaan anak-anak nya sebelum ia tiada, ia tidak mau mengecewakan para menantu dan juga anak-anak nya..


Syafa berharap, jika keluarga nya bisa terus kompak. Bahkan, saat ia telah tiada nanti.


Caca, Shinta dan para suami pun langsung ke luar dari kamar ibu mereka.


Mereka berkumpul di ruang keluarga, Shinta mendengar suara mobil, ia mendekati dan melihat dari jendela ada tiga orang bertubuh kekar yang mendekati rumah orang tua nya.


Shinta yang bingung pun langsung berjalan ke arah pintu, membuka pintu depan.


"Siapa kalian? Mengapa kalian berdiri di depan rumah Ibu ku?"


Tidak ada yang menjawab satu pun. Caca, Arvan dan juga Revan yang mendengar suara Shinta pun langsung bangkit melihat keadaan di luar.


Ternyata, itu adalah orang suruhan Arvan.. Ia meminta kepada Shinta untuk tidak khawatir.

__ADS_1


"Jangan khawatir, aku yang meminta mereka untuk menjaga di sini."


"Menjaga di sini? Memang nya kenapa? Bukan kah semua nya baik-baik aja?" tanya Shinta yang penasaran.


"Iya, dan kenapa kau memutuskan ini sepihak? Kenapa tidak mengatakan nya kepada kami?" ujar Revan yang terlihat kesal, ia juga menantu di keluarga ini, jika ada sesuatu yang terjadi. Ia juga bertanggung jawab untuk keamanan ke dua mertua nya.


Melihat sifat dan sikap Arvan yang melakukan tindakan sepihak membuat Revan tidak nyaman.


"Jangan salah paham, aku hanya ingin keamanan di rumah ini di perketat. Maaf kan aku, tapi rumah ibu dan ayah tidak menggunakan pagar juga satpam. Anak-anak ada di sini, bagaimana jika mereka main di teras dan ada orang jahat? Saat kita di dalam, mereka tidak ada yang mengawasi. Apalagi saat ini sangat musim penculikan anak."


"Sayang, aku mengerti dengan ke khawatiran mu, tapi kenapa kamu tidak mendiskusikan ini kepada kami dulu. Bahkan, kami tidak tahu jika tata tidak melihat kedatangan mereka. Maksud ku, bagaimana pun Shinta adalah anak dari keluarga ini. Dia juga berhak tahu."


"Kau juga anak nya ibu Caca, dasar bodoh!" kesal Shinta. Namun, pada kenyataan nya Caca hanya lah orang asing yang di anggap sebagai anak oleh keluarga Shinta.


Walau Shinta sendiri tidak pernah menganggap dan mengatakan hal seperti itu. Tapi, Caca selalu tahu dengan status diri nya di keluarga itu. Dia tidak mau, keputusan suami nya secara sepihak membuat Shinta atau Revan merasa tidak nyaman.


"Aku tidak keberatan, dan suami ku juga. Tapi kenapa secara tiba-tiba? Bahkan, Caca sendiri juga tidak tahu tentang ini semua." tidak ada pilihan lain selain Arvan berkata dengan jujur. Menjelaskan tentang kejadian tadi.


"Tadi, Raisa dan Syifa memanggil ku. Dengan wajah yang sangat ketakutan. Raisa mengatakan jika ada yang memperhatikan rumah ini. Syifa ingin mengecek dan mendekati nya namun Raisa mencegah karena Raisa takut jika itu adalah orang jahat. Aku keluar dan memeriksa nya sendiri, benar saja ada orang yang memperhatikan rumah ini. Saat aku ingin mendekatinya, ia langsung lari dan naik ke dalam angkutan umum. Aku khawatir dengan keamanan rumah ini. Jadi, aku memutuskan untuk menyuruh orang suruhan ku berjaga. Maaf jika kalian menganggap ini semua salah, dan jika kalian keberatan aku akan menyuruh mereka pergi."


"Tidak! Kami tidak keberatan, justru aku ingin berterimakasih kepada mu karena kau sudah sangat peduli dengan keselamatan ibu, ayah dan anak-anak." ujar Shinta. Revan pun mengatakan jika ia setuju dengan ucapan isteri nya.


"Yang dikatakan oleh isteri ku memang benar, aku bersyukur karena kau sudah sangat perduli dengan keluarga kita. Kau memikirkan tentang anak-anak juga, maaf jika tadi aku sempat salah dalam menilai mu. Aku seharus nya berterimakasih kepadamu."


"Tidak! Jangan meminta maaf, kamu memang Abang yang sangat hebat. Kakak terbaik di sini, bahkan walau kau tidak terlalu dekat dengan ibu, kau memikirkan tentang keamanan ayah dan ibu. Aku sungguh terimakasih kepada mu."


"Sudah lah! Yang terpenting saat ini, adalah kesehatan ibu. Dan jika anak-anak ingin bermain di luar, kita tidak perlu khawatir lagi. Aku juga memikirkan bagaimana jika halaman rumah ibu kita tambah kan pagar jadi keamanan nya lebih. Itu juga jika kalian setuju."


"Aku setuju saja. Asal Ibu dan Ayah baik-baik saja."


"Aku juga setuju, masalah pemasangan pagar, biar orang suruhan ku yang menangani nya." ujar Revan, Arvan pun mengangguk.


Ia juga tidak mau berdebat dengan Revan lagi..


Caca dan Shinta sangat senang karena mendapatkan suami yang begitu menyayangi ke dua orang tua mereka.


Revan pun segera menghubungi David. Dan memberitahu nya untuk menyiapkan orang yang akan memasang gerbang untuk rumah Ibu Syafa dan Ayah Gunawan.


Arvan mengatakan kepada tiga pengawal nya untuk tetap fokus dalam pengamanan. Dan nanti, akan ada tiga pengawal yang bergantian menjaga rumah tersebut.


Arvan juga memberitahu kepada pengawal nya, jika ada tiga waktu dalam penjagaan secara bergantian. Seluruh penjaga yang akan menjaga rumah orang tua Syifa ada sembilan orang. Tiga orang pagi, tiga orang sore sampai malam, dan tiga orang nya lagi dari malam sampai pagi. Jadi, mereka tidak akan terlalu lelah dan ada waktu untuk istirahat.


Caca, Shinta dan Revan pun memberikan kepercayaan itu kepada Arvan..Jika hal seperti ini, Arvan lah yang lebih berpengalaman.

__ADS_1


"Rumah ayah dan Ibu dua puluh empat jam dalam pengawasan, aku juga akan memasang Cctv yang akan menyambung ke perangkat ponsel kita. Dengan itu, jika kita tidak ada di sini. kita bisa mengawasi Ibu dan ayah. Jadi, kita tidak perlu khawatir lagi."


Shinta pun merasa sangat lega, jika nanti mereka akan kembali ke rumah masing-masing, ia bisa kembali ke rumah nya tanpa harus merasa khawatir.


"Sungguh Arvan, kau sangat luar biasa. Bahkan, kau sejauh ini memikirkan segala nya."


"Ibu dan Ayah sudah semakin tua, dan kita juga memiliki keluarga masing-masing. Kita tidak bisa selama nya di sini bukan. Ibu dan ayah juga tidak ingin meninggalkan rumah yang begitu banyak kenangan ini."


"Iya, kau benar. Ibu dan ayah tinggal di sini saat mereka baru menikah sehari. Jadi, begitu banyak kenangan yang terjadi di rumah ini. Saat mereka masih berdua, aku lahir, aku tumbuh sampai dewasa. Sebab itu, ayah dan ibu sangat berat meninggalkan tempat tinggal yang begitu banyak kenangan di dalam nya. Aku sudah seringkali mengajak ayah dan ibu untuk ikut bersama ku, namun mereka tidak mau."


"Tapi, Kita tidak perlu khawatir lagi sekarang."


"Iya, benar. Aku juga akan mengirimkan Pengawal ku di sini untuk membantu pengawal mu menjaga rumah ibu dan ayah. Jika bisa, di pintu belakang juga. Aku khawatir, jika yang memantau itu adalah orang yang berbahaya. Ibu dan ayah hanya lah berdua saja di rumah ini."


"Tapi, bagaimana jika ibu tahu dan ibu tidak setuju? Ibu pasti tidak akan nyaman karena ada beberapa pengawal yang berjaga di depan rumah."


"Mereka hanya berjaga di luar rumah saja. Bukan di dalam rumah, jadi ibu dan ayah tidak perlu merasa tidak nyaman."


"Iya, aku nanti yang akan mengatakan nya kepada ayah dan ibu. Aku yakin, jika ayah dan ibu tidak akan menolak permintaan ku." ujar Shinta. Ia tahu benar, jika kedua orang tua nya sangat menyayangi diri nya.


Apapun permintaan Shinta akan selalu di turuti oleh ke dua orang tua nya, apalagi Shinta akan meminta dengan gaya dan ucapan nya yang begitu Manja.


Siapa pun yang melihat dan mendengat nya tidak akan sanggup untuk menolak permintaan dari seorang Shinta.


Caca dan Shinta mengajak suami mereka untuk kembali duduk di ruang keluarga, dan mereka akan membuatkan teh untuk para suami mereka masing-masing.


"Ca apa kau tahu, aku sangat senang sekali karena ada kalian. Jika tidak, mungkin aku hanya lah sendiri. Tapi, sekarang aku memiliki kakak seperti mu dan Arvan. Juga adik seperti Kaynara. Aku tidak sendirian. Oh iya, membahas tentang Kaynara aku sangat merindukan nya. Apa kabar nya? Mengapa dia tidak bisa di hubungi?"


Shinta pun sangat merindukan Kaynara, pasti anak nya juga sudah lahir. Tapi, mereka tidak tahu keponakan mereka itu lelaki atau wanita..


Caca menatap ke arah Shinta, ia juga mengatakan jika diri nya sangat merindukan Kaynara. Ia juga menyesal, Karena duka nya kehilangan Elsa membuat nya melupakan Kaynara juga Shinta..


"Sudah lama aku pergi meninggal kan kalian, aku terlalu sibuk dengan duka ku. Padahal, banyak yang terluka karena perbuatan mama ku, termaksud kau dan juga Kaynara. Aku berharap, agar tidak ada orang lain seperti mama ku yang sangat kejam."


"Kau jangan mengatakan itu, sudah lah! Mama mu sudah tenang di sana. Dan dia seperti itu juga luka nya di masa lalu, aku berharap walau kita mengalami sakit dan luka yang begitu dalam. Kita tidak akan kehilangan semangat dan diri kita. Jadi, kita tidak akan melakukan kesalahan seperti yang mama mu lakukan. Saat ini, aku berdoa untuk ketenangan jiwa mama mu. Sebaiknya, kau juga seperti itu. Jangan mengingat tentang keburukan nya, ingat saja jika ia adalah ibu yang paling mencintai mu. Mama mu melakukan itu juga demi kebahagiaan mu."


"Terimakasih karena kau sudah mau mendoakan mama ku juga mau memaaf kan nya padahal apa yang mama ku perbuat itu tidak bisa di maafkan."


"Sudah lah, yang lalu biarkan berlalu. Jangan lagi di ingat, hanya akan ada luka saja. Lagipula, mama mu sudah tenang di sana. Tidak ada yang harus di ingat kan? Saat ini yang terpenting adalah kebahagiaan keluarga kita. Dan aku berharap, agar Kaynara bisa segera di hubungi. Aku tak sabar melihat keponakan kita pasti tak kalah menggemaskan seperti baby Al dan juga baby khanza."


Caca dan Shinta pun tertawa bersama, mereka begitu sangat kompak. Bahkan, orang yang tidak mengenal mereka tidak akan tahu jika sebenarnya mereka itu hanya lah sebatas teman saja.


Kedekatan Shinta dan Caca bagaikan kakak adik kandung, wajah mereka juga sedikit mirip. Hanya, watak mereka yang begitu jauh berbeda. Namun, kedua nya sama-sama memiliki hati yang baik dan penuh keibuan.

__ADS_1


__ADS_2