
Caca membawa mobilnya memasuki parkiran makam tersebut
Syifa, Khanza, Raisa dan Caca segera turun dari mobil. Mereka menghampiri Daddy-nya yang terlihat marah-marah
"Apa kesalahan anak-anak ku? Mengapa kau membawa kutukan kepada keluarga ku?"
Caca berlari mendekati suaminya, ia langsung memeluk Arvan dengan erat "Sayang, kamu kenapa ke sini? Aku dan anak-anak sangat khawatir dengan kamu. Kamu belum sembuh total. Kenapa kamu melakukan mobil sayang? Untung aku dan anak-anak lewat sini,.kalau tidak kami tidak akan menemukan kamu,"
Arvan diam tanpa menjawab ucapan istrinya "Daddy! Kenapa Daddy pergi, Daddy marah sama kakak? Maafin kakak Daddy. Kakak salah karena kakak sudah menyakiti Raisa, kakak janji tidak akan melakukan itu lagi Daddy,"
Syifa merasa bersalah, dan Raisa pun tersenyum "Lihat kan kak, karena ulah mu Daddy ku sampai sedih dan pergi. Kalau Daddy kecelakaan lagi bagaimana?"
"Hentikan Raisa! Sudah berapa kali mami katakan sama kamu untuk kamu diam!"
Caca tidak mengerti dengan anaknya yang satu itu, begitu keras kepala mengapa Raisa tidak diam saja. Arvan pun menoleh ke arah anaknya Raisa
Ia pun melepaskan pelukannya dari sang istri, berjalan mendekati Raisa "Nak, apa kamu tahu? Daddy merasa hancur dan sedih bukan karena kakak mu. Tapi karena kamu! Daddy tidak mengerti, kutukan apa yang ada di keluarga kita sehingga Daddy memiliki anak seperti kamu!"
Raisa pun tidak terima dengan ucapan Daddy-nya "Apa yang udah aku lakuin Daddy? Aku bahkan tidak pernah menyakiti orang lain, seperti yang di lakukan oleh kak Syifa dan juga Khanza. Kemarin Khanza melemparkan sendok hingga bibir ku berdarah, dan tadi kak Syifa ingin mendorong ku ke tangga..dan sekarang Daddy menyalahkan aku? Kenapa aku yang selalu salah padahal aku tidak pernah menyakiti orang lain! Kalau Daddy enggak suka punya anak seperti aku oke! Aku akan pergi dari rumah, enggak perlu Daddy dan Mami selalu menyalahkan aku! Enggak perlu! Aku juga muak, aku juga bosan dengan keluarga yang penuh drama seperti kalian! Kalian terlalu munafik!"
"Hentikan Raisa! Mengapa kamu berbicara kasar kepada Daddy?" Syifa bertanya kepada adiknya, Raisa pun menatap Syifa dengan penuh kebencian "Kenapa? Apa hanya kalian aja yang boleh berbicara? Iya? Apa hanya boleh kalian aja yang menyalahkan aku? Aku enggak boleh membela diri ku sendiri? Aku capek ya! Semenjak ada kalian berdua! Hidup ku itu enggak tenang, kamu lagi kak! Ngapain kamu tinggal sama kami? Hah? Kamu punya keluarga mu sendiri, dan kamu Khanza! Sana sama mama Shinta yang selalu kamu banggakan! Kalian ke keluarga ku hanya sebagai pengacau aja!"
Plak!
Satu tamparan mendarat di wajah Raisa, Caca kembali menampar anaknya, hal itu tentu saja membuat Arvan, Syifa, dan Khanza tersentak kaget.
Bukan itu juga yang Arvan harapkan "Ha-ha-ha," Raisa tertawa dengan kencang seperti orang yang kehilangan kendali
"Dulu,.memarahi ku saja mami enggak pernah namun sekarang, mudah sekali, ringan sekali tangan mami memukul aku? Ayo mi pukul lagi, kalau bisa bunuh aku di hadapan makam nenek ku! Ayo bunuh aku!"
Raisa semakin keterlaluan, Arvan bahkan tidak tahan mendengar ucapan anaknya. Ia memegang dadanya yang terasa sangat sakit
"Daddy!" Teriak Khanza saat Daddy-nya terjatuh di makam. Khanza, Syifa, Raisa dan Caca pun berlari ke arah Arvan
"Sudah berapa kali mami bilang, jangan bertengkar di depan Daddy. Namun kalian selalu saja seperti ini, dan kamu Raisa! Senang kamu nak lihat Daddy kamu seperti ini sekarang? Senang!"
Raisa menangis, ia juga khawatir dengan Daddy-nya. Syifa segera memanggil ambulans karena mereka tidak mungkin sanggup mengangkat Daddy-nya
"Sayang, bertahan lah! Maafkan aku!"
Tidak membutuhkan waktu yang lama, ambulans pun datang. Khanza, dan Syifa ikut di dalam mobil ambulans sedangkan Raisa membawa mobil Daddy-nya, ikut dengan Caca yang menggunakan mobil mereka tadi menuju rumah sakit
Mereka pun menuju rumah sakit, di perjalanan Khanza dan Syifa berdoa untuk kesehatan Daddy mereka
"Kak, Daddy enggak apa-apa kan? Khanza takut Daddy kenapa-kenapa,"
"Tenang lah sayang! Jangan khawatir, Daddy enggak kenapa-kenapa. Kita berdoa semoga Daddy enggak kenapa-kenapa ya?"
Khanza memeluk Daddy-nya yang tidak sadarkan diri "Daddy bangun, Khanza sayang sama Daddy. Khanza enggak mau kehilangan Daddy!" Khanza menangis di pelukan Daddy-nya yang masih tidak sadarkan diri.
Mereka pun sampai ke rumah sakit, Khanza juga Syifa turun. Perawat membawa Arvan ke dalam, tidak lama Raisa dan Caca pun menyusul
"Bagaimana keadaan Daddy?" Tanya Raisa yang terlihat khawatir, Syifa mau pun Khanza tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
Caca segera masuk untuk melihat keadaan suaminya, ini semua memang kesalahan Caca yang gagal menjadi ibu untuk Raisa selama ini dia selalu saja memanjakan Raisa sehingga anaknya tidak bisa menghargai orang lain.
Andai Raisa bisa lebih menghargai orang lain, semua ini tidak akan terjadi!
"Daddy, maafin Raisa!"
Caca melihat anaknya, ia pun menarik Raisa yang menjauh dari ruangan. Syifa yang melihat maminya bersikap kasar kepada adiknya pun langsung menghampiri maminya
"Mami, lepasin! Sakit!" Raisa meringis, karena maminya mencengkram tangannya begitu kuat "Mami, sakit! Lepasin!"
"Mami, apa yang mami lakukan kepada Raisa? Syifa pun bertanya kepada maminya "
"Mami melakukan hal yang seharusnya dari dulu mami lakukan kepada anak kurang ajar ini! Selama ini, mami selalu saja memanjakannya dan membela dia. Namun semakin hari perbuatannya sudah keterlaluan. Dia sudah menyakiti Daddy hingga Daddy seperti ini,"
"Kenapa aku mami? Apa yang aku katakan memang benar! Mami enggak bisa menyalahkan aku!"
"Lalu, mami harus menyalahkan siapa?"
Caca yang kehilangan kendali pun mendorong anaknya hingga ingin terjatuh, namun seorang wanita paruh baya menahan tubuh gadis cantik itu.
Raisa, Syifa dan Caca mengenali wajah yang tidak asing itu
"Kau, untuk apa kau ke sini? Kau pembunuh!" Syifa berteriak, ia masih ingat wajah orang yang sudah membunuh adiknya Al.
Namun dengan santai, wanita itu tersenyum kepada Syifa dan juga Raisa
"Sayang, kenapa kamu kasar dengan Tante mu sendiri?"
"Tutup mulut mu! Kau sudah membunuh adik ku, mengapa pembunuh seperti mu bisa keluar dari penjara?"
Cia tersenyum dengan santai, ia tidak menanggapi teriakan Syifa..
Cia justru memeluk keponakannya Raisa "Caca kenapa kamu bersikap buruk kepada keponakan ku? Raisa anak yang cantik, dan kamu jangan menyalahkan nya!"
__ADS_1
Cia membelai rambut Raisa dengan lembut, Raisa pun membalas pelukan wanita itu "Tante, untung ada Tante di sini. Mami dan Daddy enggak sayang sama aku hiks,"
"Hentikan sandiwara mu kak, jangan mengganggu anak-anak ku! Sini Raisa dengan mami, kamu jangan dekat dengan dia!"
"Enggak mau! Mami jahat sama aku, mami udah mendorong aku tadi kan? Jika enggak ada Tante, mungkin aku sudah tersingkur ke lantai! Kalian selalu saja bersikap kasar kepada ku!"
"Mengapa kau bisa di sini? Apa tujuan mu datang ke keluarga aku?" Caca bertanya dengan kakaknya, namun cia tidak menjawab. Ia mengajak Raisa untuk ikut dengannya
"Sayang, kamu ikut sama Tante ya? Percuma kamu di sini, mereka tidak sayang dengan kamu!"
Raisa pun memilih ikut dengan tantenya, walau Caca sudah mencegah namun Raisa yang keras kepala tetap memilih ikut dengan tantenya.
Ia merasa jika kedua orang tuanya tidak menyayanginya lagi, lebih baik ia ikut dengan Tantenya Cia
Caca tahu, kedatangan kakaknya akan membuat masalah yang lebih besar lagi. Baik itu di keluarganya mau pun di keluarga Shinta, ia dan Shinta harus kembali bersatu seperti dulu atau keluarga mereka akan terpecah belah.
Caca meminta Syifa untuk menjaga Daddy-nya "Syifa sayang, kamu harus menjaga Daddy di sini. Ingat, jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruangan. Bahkan perawat dan dokter yang tidak kamu kenal jangan biarin masuk! Mami harus pergi sekarang, atau semuanya akan terlambat,"
"Mami mau kemana?" Syifa bertanya kepada maminya, namun Caca tidak menjawab. Ia pun mengajak Khanza ikut bersamanya, awalnya Khanza menolak namun Syifa meminta adiknya untuk ikut dengan ibu mereka "Khanza sayang, kamu ikut lah dengan mami. Biar kakak di sini yang menjaga Daddy!"
Akhirnya Khanza mengikuti ucapan kakaknya "Baik kak!" Ia segera ikut dengan maminya.
Caca membawa Khanza ke rumah Shinta, dengan terburu-buru ia harus memberitahu Shinta dan keluarganya jika cia telah kembali
"Mami, Tante tadi siapa? Kenapa kakak begitu terlihat marah saat berbicara dengannya. Dan mami sangat ketakutan?" Khanza bertanya dengan maminya, namun Caca tidak bisa menjawab dan menjelaskan segalanya
"Sayang, mami akan menjelaskan segalanya namun tidak sekarang ya nak?"
Khanza mengangguk, namun satu hal yang Caca tidak mengerti, mengapa kakaknya bisa datang setelah bertahun-tahun dan bagaimana ia tahu jika mereka berada dirumah sakit?
Pikiran Caca masih berkecamuk, ia pun sudah sampai di kediaman rumah Revan dan Shinta
"Apakah Revan dan Shinta ada?" Caca bertanya kepada satpam yang membukakan pintu gerbang
"Ada nyonya, silahkan masuk saja!"
Pekerja itu sudah mengenal Caca sebab itu mereka membiarkan Caca dan Khanza masuk.
"Ayo sayang!" Caca mengajak Khanza masuk ke dalam rumah Shinta dan Revan.
Shinta kaget saat melihat Caca dan Khanza, ia ingin sekali memeluk Khanza namun di tahannya. Shinta tidak mau Caca kembali marah seperti kemarin
"Mama!" Khanza berlari memeluk Shinta, Shinta ingin sekali membalas pelukan Khanza namun ia ragu, "Khanza sayang, kamu ke kamar kamu dulu ya? Mami mau bicara sama mama dan papa!"
Caca meminta anaknya untuk masuk ke dalam kamar, Khanza pun menuruti ucapan maminya. Ia melepaskan pelukannya dengan Shinta lalu berlari menaiki anak tangga satu persatu
"Duduk lah dulu!" Seperti ada jarak di antara keduanya padahal sebelumnya mereka tidak pernah seperti ini.
Caca pun duduk di sofa terlihat ia sangat cemas dan gelisah "Ca, ada apa? Mengapa kau terlihat sangat cemas?" Revan pun bertanya, ia bingung dengan gerak-gerik Caca yang seperti orang ketakutan
"Arvan masuk rumah sakit," ujarnya dengan nada yang gemetar
"Apa? Masuk rumah sakit? Bagaimana bisa?"
"Tapi ada yang lebih penting lagi,"
"Apa?"
"Cia telah kembali,"
"Apa!" Sontak ucapan Caca membuat Shinta dan Revan kaget "Bagaimana bisa? Bukan kah ia masuk penjara? Bukan kah dia terkena hukuman seumur hidup? Namun bagaimana ia bisa keluar?"
Caca menggeleng, ia sendiri pun tidak tahu "Aku tidak tahu! Dia datang ke rumah sakit, di mana arvan di rawat dan ia sekarang membawa Raisa. Aku takut, jika Cia akan melakukan hal yang buruk dan dia akan mempengaruhi Raisa,"
"Kau benar! Kita enggak bisa tinggal diam,.kita semua tahu bagaimana dia begitu kejam dan licik!" Ujar Revan.
Mendengar pembunuh anaknya telah kembali,.Shinta ingin bertemu dengan wanita itu. Ia ingin membalas semua perbuatan Cia namun Revan melarang "Jangan! Wanita itu sangat berbahaya, jika kau datang ke sana sendirian. Dia bisa menyakiti mu!"
Revan takut jika istrinya kenapa-kenapa namun Shinta kekeh ingin bertemu dengan wanita yang sudah membunuh anaknya!
"Aku harus berbicara dengannya! Aku ingin bertemu dengannya!"
"Jangan! Jangan melakukan hal yang gegabah!" .
Revan menghubungi orang suruhannya untuk memperketat penjagaan di rumah sakit. Saat ini anak dan kedua orang tuanya ada di rumah sakit. Ia takut, jika cia akan melakukan hal yang nekat kepada di kembar dan juga mama dan papanya Revan.
Shinta tidak merasa takut sedikitpun bahkan ia ingin bertemu dengan wanita yang sudah membunuh anaknya sepuluh tahun yang lalu.
"Shinta, aku mohon jangan! Aku takut ia melakukan hal yang nekat," Caca memegang tangan Shinta namun wanita itu menepis tangannya
"Lepasin aku Ca! Aku berhak ingin ketemu dengan kakak mu, aku ingin menyelesaikan yang seharusnya dari dulu udah aku lakukan kepadanya. Dan dia tidak berhak menyakiti keluarga ku, apalagi membunuh anak ku Al!"
"Aku tidak mengerti, mengapa ibu dan saudara mu selalu berbuat jahat kepada ku. Kau marah dengan ku, hanya karena Khanza dekat dengan aku, padahal kau sendiri yang meminta aku merawat anak mu. Dan kau tahu ca? Karena permintaan mu itu, aku lebih mengutamakan tentang Khanza hingga anak aku sekarang di rumah sakit. Ia meminum obat penenang,"
Caca pun kaget, ia juga meminta maaf kepada Shinta karana dirinya selalu membuat masalah kepada keluarga mereka.
"Maafkan aku ta, aku selalu membuat masalah di dalam keluarga mu!"
__ADS_1
"Iya, dan sekarang. Aku ingin bertemu dengan kakak mu, katakan kepada ku di mana dia sekarang?"
Caca menggeleng "Aku tidak tahu! Dia pergi membawa Raisa bersamanya. Aku ke sini, karena aku takut, bagaimana jika ia memberikan pengaruh yang sangat buruk untuk Raisa?"
"Aku tidak perduli dengan itu Caca! Raisa itu anak mu, kau urus anak mu dan aku akan mengurus anak-anak ku. Aku sudah lelah ca, aku lelah terus saja memikirkan keluarga mu hingga akhirnya keluarga ku yang menjadi korban! Dan kali ini, tidak akan aku biarkan cia menyakiti anak-anak ku!"
Caca mengerti dengan kemarahan Shinta, selama ini dia juga sudah keterlaluan kepada Shinta, ia selalu mengatakan hal-hal buruk setelah ia kembali dari Penang
"Aku memahami perasaan mu, ta! Jika aku di posisi mu aku juga akan marah. Selama ini aku juga sudah menyakiti mu, dan aku minta maaf untuk itu. Maafkan aku Ta! Aku sudah egois selama ini, aku hanya memikirkan tentang perasaan ku saja tapi aku lupa di sini kamu lah yang paling sakit! Kamu sakit, dan paling menderita,"
"Bagus lah kalau kamu sadar! Bagus juga kalau kamu paham dengan kesedihan aku selama ini! Bagus jika kamu mengerti dan memahami penderitaan aku!" Shinta mengatakan itu dengan ketus. Revan mencoba untuk melerai dan menenangkan keadaan
"Sudah lah! Sekarang tidak ada gunanya untuk kita berdebat. Untuk melawan wanita jahat seperti Cia kita harus bersatu! Lupakan rasa sakit yang dahulu, enggak ada gunanya membahas tentang yang lalu-lalu sekarang! Aku hanya ingin kalian tetap akur seperti dulu! Dan kita akan kompak untuk melindungi satu sama lain,"
***********
"Tante, kita mau kemana?" Raisa bertanya kepada tantenya, cia pun mengatakan jika ia akan membawa Raisa ke rumah neneknya Elsa.
"Tante akan membawa kamu sayang ke rumah nenek kamu! Pasti mami kamu tidak pernah mengajak kamu ke rumah itu!"
Raisa pun mengangguk, "Iya Tante, karena selama ini mami tinggal di Malaysia bukan di Indonesia dan kamu juga baru kembali ke sini,"
"Oh iya?" Cia menaikan satu alisnya, matanya masih fokus mengendarai mobil.
Ia akan mencari informasi melalui keponakannya Raisa. Karena menurutnya, hanya Raisa yang bisa ia jadikan teman untuk membalaskan dendamnya
"Kenapa kalian tinggal di Malaysia?"
"Karena Daddy sakit, dan harus berobat. Kami membawa Daddy berobat ke Malaysia, dan kak Syifa juga Khanza tinggal bersama mama Shinta,"
Cih! Mendengar nama Shinta sudah membuat Cia merasa emosi
"Hey, dia itu bukan mama kamu. Enggak perlu kamu panggil dia mama! Untuk apa? Dia itu hanya orang asing! Mengapa kamu memanggilnya mama,"
"Iya Tante! Raisa juga sudah mengatakan itu dengan mami dan Daddy. Namun mereka tidak menerimanya dan mengatakan jika keluarga Tante Shinta dan om Revan sudah melakukan pengorbanan yang besar. Mungkin karena mereka yang merawat Khanza dari bayi,"
Raisa pun menggerutu, ia pun menceritakan semua kesedihannya kepada tantenya itu.
"Tante, mami dan Daddy enggak sayang sama aku, mereka selalu memarahi aku! Bahkan mami selalu memukul aku!"
Cia mengerem pegal gas mobilnya, ia kaget mendengar ucapan keponakannya itu
"kenapa? Kenapa mereka memarahi kamu? Kamu kan anak mereka, dan bahkan kamu yang menemani mereka selama pengobatan itu terjadi di Malaysia,"
"Mami dan Daddy sebelumnya sayang dengan aku sebelum kembali ke Indonesia. Namun semenjak kami kembali ke Indonesia, apalagi semenjak kak Syifa dan Khanza tinggal dengan kami, rasa sayang mereka terbagi. Mereka selalu saja memarahi aku. Tante tau enggak? Tante Shinta sudah merebut Khanza dan kak Syifa dari mami. Mereka enggak mau dan enggak perduli dengan mami. Bahkan, mereka lebih memilih Tante Shinta. Raisa udah bilang sama mami,.kalau Tante Shinta itu jahat, dia hanya ingin merebut Khanza dan kak Syifa namun mami enggak percaya! Mami justru memukul aku!"
Cia mengerang-kan rahang lehernya, ia merasa geram dengan cerita Raisa.
"Mengapa wanita itu tidak juga merasa kapok dengan pelajaran yang aku berikan? Apakah tidak cukup dengan kematian anaknya dulu?" Batin cia. Raisa pun memanggil tantenya "Tante, kenapa Tante melamun? Apakah Tante memikirkan sesuatu?"
"Tidak sayang! Tante tidak memikirkan sesuatu, sudah kamu santai aja!" Raisa pun menuruti ucapan tantenya
Cia terlihat sangat marah mendengar semua penjelasan dari keponakannya itu, mengapa Shinta tidak pernah membiarkan adiknya Caca bahagia
Raisa tersenyum puas, ia ingin keluarga Shinta mendapatkan pelajaran dari tantenya.
"Itu akibatnya karena udah menyakiti aku. Kak Syifa, kau akan menyesal lihat saja! Kau sangat menyayangi mama Shinta mu itu kan? Aku ingin melihat bagaimana kesombongan itu saat tahu jika mama kesayangan mu menderita,"
Ia pun tersenyum puas, Raisa akan terus memancing tantenya agar memberikan pelajaran untuk Shinta. Ia memang tidak membenci Shinta, namun Raisa tahu jika kelemahan kakaknya ada pada ibu sambungnya itu
"Lihat lah kak, aku ini tahu bagaimana kau bertahan dengan keangkuhan mu itu? Haha!"
Cia dan Raisa kini telah sampai di rumah lama yang selalu Elsa tempati, begitu besar bagaikan istana
"Wah besar sekali, apakah Tante tinggal di sini?" Cia mengangguk "Iya, selama ini Tante tinggal di sini. Namun mami mu tidak pernah menjenguk Tante!"
Cia kesal jika mengingat itu, Caca menjadikannya seperti orang asing sedangkan memperlakukan keluarga Shinta seperti keluarganya sendiri "Tante jangan salah paham, mami selalu ingat Tante kok. Hanya saja kami kan baru kembali ke Indonesia dan Tante tahu bagaimana liciknya keluarga Tante Shinta. Mereka selalu berbuat berbagai cara untuk menjauhkan mami dari keluarganya. Bahkan, Khanza saja tidak mau dengan mami!"
"Apakah Shinta tidak memberitahu Khanza jika ibu kandungnya adalah mami mu? Bukan dirinya?"
"Tidak Tante! Tante Shinta tidak pernah memberitahu Khanza. Bahkan saat kamu datang ingin menjemput Khanza, Khanza histeris dan tidak mau dengan kami, ya wajar saja lah Khanza begitu, karena Khanza dari bayi sudah bersama kak Syifa dan ibu sambungnya itu. Tapi bukan kah seharusnya Tante Shinta memberitahu dan menjelaskan kepada Khanza? Kalau mami adalah ibu kandungnya?"
Raisa terus saja meracuni pikiran cia agar semakin membenci Shinta "Maafin Raisa Tante Shinta, namun hanya Tante yang tepat menjadi sasaran agar kak Syifa merasa sedih yang mendalam. Tante tahu kan kalau Raisa juga sayang sama Tante, tapi kak Syifa udah begitu menyakiti hati Raisa " batinnya
Raisa tidak sabar, hal apa yang akan di lakukan oleh tantenya terhadap keluarga Shinta.
Ia masuk ke dalam rumah neneknya yang begitu lebar seperti istana "Ternyata, keluarga ku berasal dari keluarga yang kaya raya. Mengapa mami tidak pernah membawa kami ke sini?" Raisa bertanya kepada Cia.
"Tante juga enggak tahu sayang, dulu Tante juga enggak tinggal di sini! Tante tinggal di sini saat nenek kamu telah tiada,"
"Mengapa bisa begitu Tante?" Tanya Raisa dengan penasaran namun Cia tidak mau membahasnya lagi
"Sudah lah! Tante tidak mau membahasnya lagi lebih baik kamu istirahat saja di kamar. Pilih kamar yang kamu suka di sini, Tante pun ingin istirahat dulu,"
"Iya Tante, terimakasih. Raisa sayang dengan Tante,"
Cia menatap anak dari adiknya dan tersenyum "Tante juga sayang sama kamu!" Keduanya berpelukan, meluangkan kerinduan satu sama lain yang tidak pernah bertemu
__ADS_1
Raisa terdiam, lalu ia bertanya kepada tantenya "Tante bagaimana Tante bisa menemui kami di rumah sakit?"