Ibu Sambung

Ibu Sambung
Pertemuan Raisa Dengan Si Kembar


__ADS_3

"Kau anak yang sangat baik, Mama mu pasti senang mempunyai anak sebaik diri mu. Jika, aku memiliki orang tua pasti." wajah Raisa seketika berubah menjadi sedih, Syifa merasa tak enak hati, ia pun mencoba menghibur sahabat nya itu.


"Kau bisa menganggap keluarga ku sebagai keluarga mu. Mama, Papa, Daddy orang yang sangat baik. Aku juga memiliki adik yang sangat lucu-lucu. Mereka pasti akan sangat senang bertemu dengan mu." mobil terhenti di sebuah rumah yang begitu megah, Raisa melihat dan merasa begitu takjub dengan kemewahan rumah Syifa.


"Rumah mu, besar sekali. Tapi, di sekolah. Kau bersikap seperti anak-anak biasa saja seperti ku. Padahal, kau bisa menunjukkan kemewahan mu."


"Untuk apa? Itu bukan harta ku, itu harta kedua orang tua ku. Lagi pula tidak baik menunjukkan apa yang kita punya. Karena, tidak semua bisa seberuntung kita. Memiliki tempat tinggal, pakaian, makanan yang layak. Itu tidak akan baik, karena orang yang tidak beruntung akan merasa sedih melihat kemewahan yang kita miliki."


"Sungguh, Syifa. Pemikiran mu begitu sangat dewasa, keluarga mu pasti mendidik mu dengan sangat baik."


"Sudah, ayo kita masuk. Jika, kita terus mengobrol di sini. Kita tidak akan masuk-masuk sampai malam."


"Hehe, baik lah." Syifa turun dari mobil di ikuti oleh Raisa. Syifa dan Raisa masuk menuju rumah mereka. Syifa di sambut oleh beberapa pelayan yang membawa tas milik nya.


Syifa mengajak sahabat nya itu ke ruang keluarga.


"Mama." panggil Syifa, berjalan mendekati mama dan papa nya.


"Mama Caca dan Daddy di sini juga?"


"Iya, Nak. Mama dan Daddy di sini. Hey, siapa dia?" tanya Caca menoleh ke arah Raisa.


"Sa, mendekat lah kemari. Ini Mama, Papa dan Daddy yang aku ceritakan kepada mu." dengan langkah perlahan, Raisa mendekati keluarga Syifa.


"Ma, Pa, Dad. Kenalin, ini temannya Syifa. Nama nya Raisa, dia tinggal di asrama sekolah."


"Hallo, Sayang. Senang bertemu dengan mu." ujar Shinta dengan ramah, Shinta mengajak anak dan teman nya itu untuk makan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Kalian pasti letih, ayo kita makan dulu. Sebelum makan, Syifa ajak teman mu untuk ganti pakaian dulu ya nak. Pakaian Syifa kan masih banyak yang baru."


"Iya, Ma." Syifa mengajak Raisa ke kamar nya untuk mengganti baju. Raisa melihat sekeliling kamar Syifa, begitu mewah.


"Kau beruntung sekali Syifa, selain terlahir dari keluarga yang kaya, keluarga mu juga menyayangi diri mu."


"Semua keluarga menyayangi anak nya, Sa."


"HM kau benar, mungkin hanya aku saja yang tidak beruntung."


"Sa, udah ya. Kamu dari tadi bandingin Mulu, aku bosen tau nggak. Satu hal yang harus kamu tau, apa yang kamu lihat belum tentu itu hal yang sebenarnya. Misal nih, kamu lihat aku seperti ini. Bukan berarti keluarga ku itu tidak mempunyai kekurangan. Jadi, aku mohon. Berhenti untuk ngebandingin atau ngejatuhn diri kamu sendiri. Love your self Baby!"


Syifa menyemangati sahabat nya. Tak ingin sahabat nya semakin sedih, Syifa memberikan Raisa pakaian yang bagus. Raisa merasa senang


"Untuk pertama kali nya aku memakai baju seindah ini. Pasti harga nya sangat mahal."


"Ingat, Ya! Di bawah nanti, aku nggak mau lihat kamu sedih atau kamu memikirkan hal yang membandingi kehidupan kamu. Ingat, Sa. Kita semua sama. Tuhan, tidak membedakan si kaya, atau si miskin, si jelek atau si cantik, si pintar atau si bodoh. Semua nya sama rata di mata Tuhan." Raisa pun mengangguk, Shinta menyambut mereka berdua dan menyiapkan makanan untuk mereka.


"Makan yang banyak, kalian pasti lelah." ucap Shinta yang menyajikan makanan di piring Syifa dan Raisa secara bergantian. Raisa terdiam, rasanya ia ingin menangis. Betapa iri nya diri nya, ia bertanya kepada Tuhan mengapa diri nya tidak seberuntung Syifa yang memiliki kedua orang tua.


"Sayang, kenapa melamun?" tanya Caca kepada Raisa, Raisa menatap Caca dengan tatapan sendu. Caca seakan merasa seperti sudah mengenal anak ini begitu lama. Caca terdiam sejenak, Arvan menegur sang isteri yang sedang melamun.


"Kamu, memikirkan apa?"


"Ti-tidak, ak-aku hanya melihat anak itu. Diri nya terlihat sangat sedih. Pasti dia sangat kesepian." ujar Caca yang merasa iba dengan Raisa. Arvan pun memandang teman Syifa, seakan ada ketenangan di dalam diri anak itu. Walau mereka baru bertemu, rasanya seperti sudah mengenal lama.


Raisa memakan masakan keluarga Syifa dengan begitu lahap. Untuk pertama kali nya, ia makan bersama dengan keluarga yang utuh. Seketika, Raisa menginginkan posisi Syifa.

__ADS_1


"Andai aku berada di posisi Syifa, pasti aku akan bahagia sekali memiliki keluarga seperti ini. Kenapa aku tak seberuntung Syifa?" ujar Raisa di dalam hati. Mereka pun kembali melanjut kan makan dan menghabiskan makanan nya.


"Sa, ayo ikut dengan ku bermain dengan adik kembar ku." ajak Syifa.


"Kau mempunyai adik kembar?"


"Iya, namanya Alan dan Alana. Mereka sedikit nakal, namun juga sangat menyenangkan. Aku juga mempunya dua adik bayi, tapi mereka masih sangat kecil. Belum bisa di ajak bermain." ujar Syifa. Raisa pun mengangguk.


"Sebaiknya kalian bermain lah di kamar. Mama akan membuat kan susu untuk kalian berdua" ucap Shinta, Syifa dan Raisa pun menaiki tangga menuju kamar si kembar


**********


Si kembar Alan, dan Alana melihat ke arah pintu, kedua nya saling menoleh satu sama lain. Bingung, dengan seseorang yang di bawa oleh kakak mereka.


"Kakak, siapa dia?" tanya Alana yang mendekati Syifa. Syifa mengenalkan Raisa kepada kedua adiknya.


"Ini Raisa, teman kakak. Kalian harus bersikap baik kepada kakak Raisa ya? Jangan nakal, ingat?" pinta Syifa kepada kedua adik nya. Alan mengangguk, Alana mengerutkan satu dahi nya dengan penuh curiga. Entah mengapa, Alana tidak menyukai teman kakak nya itu.


"Alana." panggil Syifa kembali, Alana melihat ke arah Syifa.


"Iya, kak." ujar nya dengan nada yang tidak menyenangkan.


"Apa Alana mendengarkan ucapan kakak?"


"Iya kakak, Alana dengal. Alana kan punya telinga."


"Adik mu ini sangat lucu sekali." ucap Raisa yang memandangi wajah Alana, namun Alana menatap nya dengan tatapan yang tidak bersahabat.

__ADS_1


"Kalian tidak mau berkenalan sama kakak?" tanya Raisa kembali kepada si kembar Alan dan Alana. Alan mendekati Raisa, menjabatkan tangan nya kepada Raisa, mengenalkan diri nya.


__ADS_2