
Sampai di pemakaman, cia terlebih dahulu mendoakan untuk ketenangan mamanya
"Mama, cia berharap jika Tuhan memberikan tempat yang layak untuk mama, agar Tuhan memberikan mama ketenangan di sisinya. Ma cia enggak mengerti, mengapa mama selalu memberikan kebohongan kepada cia? Bahkan cia tidak mengerti, apakah rasa sayang mama kepada cia itu benar-benar nyata atau hanya pura-pura?"
Cia menangis di depan makam mamanya "Cia mempercayai mama melebihi diri cia sendiri..bahkan cia tidak pernah meragukan mama sedikit pun, alasan demi alasan yang mama berikan kepada cia selalu cia terima dengan baik. Namun mengapa mama melakukan ini semua ma? Kenapa?"
Cia tidak tahu apakah ia harus marah atau bersedih, namun yang pasti dirinya sudah menyesali segala perbuatannya.
"Hanya karena untuk membalaskan dendam mama, Cia rela menghabiskan waktu dan hidup tanpa menikah ma. Semua itu Cia lakukan demi mama, namun mengapa semua ini terjadi? Mama tega membohongi cia?"
Ia terisak, karena merasa sangat bersalah. "Cia sudah mengabdikan cinta dan sayang Cia untuk mama, namun mengapa mama tega membohongi cia ma?" Suaranya terdengar serak karena kebanyakan menangis.
"Ma di depan makam mama, Cia bersumpah, cia akan memperbaiki segalanya walau semuanya mungkin sudah terlambat namun Cia akan memperbaiki segalanya ma!"
Setelah mengatakan itu, Cia langsung pergi dari makam ibunya. Mengapa bisa ia menyakiti hati Malaikat seperti Shinta? Jika bukan karena Shinta mungkin keponakannya Syifa tidak akan mendapatkan kasih sayang yang layak.
Syifa tidak akan mendapatkan kasih sayang yang layak atau tidak akan merasakan kasih sayang seorang ibu.
******
Shinta yang menatap anaknya Alana pun mendapatkan panggilan dari Syifa
Panggilan terhubung
"Iya sayang, ada apa?"
"Mama, tadi Tante Cia datang ke sini!"
Syifa pun menjelaskan semuanya kepada shinta, Shinta hanya diam. Ia tidak mungkin mengumpat atau memaki cia di depan Syifa, karena bagaimana pun Syifa dan Cia memiliki ikatan darah. Dan shinta tidak bisa membuat anaknya merasa sedih
"Mama, Tante Cia mengatakan ia ingin berubah dan menebus segalanya, ia mengatakan ingin meminta maaf kepada mama dan papa secara langsung..kamu sudah melarangnya,.namun kita harus tetap berjaga-jaga agar Tante Cia tidak akan menyakiti keluarga kita. Mama kakak hanya ingin memberikan kabar itu, agar mama dan papa bisa lebih berhati-hati,"
Shinta menghela nafas panjang "Terimakasih banyak sayang, karena kamu sudah mengingatkan mama. Mama akan menjaga adik-adik mu di sini, kakak juga hati-hati ya? Jagain adik Khanza agar dia tidak bisa menyakiti kalian. Dan jika perlu, Tante kamu enggak perlu bertemu dengan mama, mama tidak siap nak! Mama belum siap bertemu dengan wanita yang sudah membunuh adik kamu,"
"Iya mama, Syifa mengerti apa yang mama rasakan. Kami juga sudah mengatakan itu kepada Tante Cia. Mama jaga diri baik-baik ya, kakak merindukan mama!"
"Mama juga merindukan kamu sayang!"
Panggilan terputus
Shinta menghela nafas lega, semoga saja apa yang dikatakan oleh CIA memang benar, wanita itu bisa menepati omongannya.
Shinta berharap agar semuanya membaik!
Revan menghampiri istrinya "Sayang, ada apa?"
Shinta kaget mendengar suara suaminya "Kamu ini, selalu saja mengagetkan aku!"
Revan terkekeh, istrinya jika sedang kesal sangat mirip seperti Alana. Muka mereka sangat imut bayi yang menggemaskan
"Apakah kakak yang menelpon tadi."
"Iya, katanya tadi cia datang!"
"Kemana? Ke rumah sakit, lalu apa dia menyakiti Syifa ku?"
__ADS_1
Shinta menggelengkan kepalanya "Tidak sayang! Aku yakin dia tidak akan menyakiti Syifa! Bagaimana pun dia adalah tantenya Syifa,"
"Lalu? Untuk apa dia datang?"
"Katanya meminta maaf, dia menyadari kesalahannya dan ingin ketemu dengan kita. Namun aku katakan dengannya jika aku tidak siap bertemu dengannya! Aku meminta Syifa agar cia tidak bertemu aku! Ya walau dia sudah berubah namun aku belum siap sayang!"
Shinta masih merasa kesakitan yang mendalam karena kepergian Al yang tidak wajar, Revan langsung memeluk istrinya
"Sudah jangan menangis lagi! Aku mencintai mu dan anak-anak. Aku akan menjaga kalian sekuat hati ku! Tak akan ku biarkan siapapun menyakiti keluarga kita, biarkan dia berubah. Dan semoga apa yang ia katakan memang benar!"
"Iya aku berharap juga seperti itu, karena kita semua tahu. Cia seperti itu karena dorongan dari ibunya yang selalu menebarkan kebencian. Dan setelah ini semoga saja dia.memang berubah,"
"Mama, Alana takut!"
Alana memeluk mamanya, ia pun menangis jika mengingat kejadian saat masih kecil. Mungkin Alana dan Alan belum memahami segalanya namun Alana takut jika sesuatu kembali terjadi kepada keluarga mereka
"Jangan takut sayang, tidak akan ada yang terjadi kepada keluarga kita! Papa akan menjaga keluarga kita dengan baik! Papa berjanji kepada kamu!"
"Semoga saja wanita itu tidak melakukan kesalahan lagi!"
Revan dan Shinta memeluk Alana yang terisak "Sudah sayang jangan menangis!"
Alan yang tampan pun datang melihat si kembar yang menangis "Alana, kenapa menangis?"
Tommy Dan Lily pun masuk ke dalam ruangan, Shinta tahu jika papa mertuanya tahu pasti semua akan panjang
"Ada apa? Mengapa Alana menangis?"
"Alana mengingat tentang kepergian Al, jadi dia sedih,"
Alana mengangguk, jika saja Al masih hidup mungkin dia sudah sebesar Khanza sekarang!
"Sudah lah nak jangan mengingat tentang kesedihan lagi!"
"Bagaimana Alana enggak sedih? Alana merindukan Al!"
Shinta menenangkan anaknya, begitu juga dengan Tommy "Sudah lah jangan sedih lagi! Lebih baik kita berbahagia sekarang!". Alan mencoba menenangkan kembali saudara kembarnya itu
"Kamu jangan manja! Biarkan saja yang berlalu,.mau sampai kapan kita terus menerus sedih?"
Alana tidak tahu "Tapi bagaimana jika Tante itu sudah kembali dan menjahati kita?"
"Tante siapa?" Tanya Tommy
*****
Cia yang masih hancur pun pulang
"Tante, Tante dari mana? Raisa menunggu dan mencari Tante!" Raisa dengan manja memeluk tantenya.
Cia bertanya kepada keponakannya itu "Sayang, ada hal yang ingin Tante tanyakan kepada kamu!"
"Apa Tante?"
"Mengapa kamu tidak membiarkan kakak dan adik mu Khanza berbicara dengan mami dan Daddy saat di Penang?"
__ADS_1
Raisa terdiam sejenak, lalu ia berpikir "Tante, itu semua Raisa lakukan demi kesembuhan Daddy! Tante tahu enggak? Setiap hari mami sedih karena keadaan Daddy, Raisa hanya ingin mami fokus dengan kesembuhan Daddy. Itu saja! Raisa enggak pernah bermaksud lain Tante!"
"Apakah itu kebenarannya?"
"Tante kenapa sih? Semenjak mami datang Tante langsung berubah?"
Cia tidak menjawab, ia pun memilih masuk ke dalam kamar. Namun ia melihat pintu gudang yang terbuka, Cia pun masuk untuk berniat mematikan lampu gudang. Namun saat ia berada di depan pintu, dia menemukan banyak tumpukan buku diary.
"Apa ini?"
Cia langsung masuk dan mengambil buku diary tersebut, ia sangat terkejut karena ini diary mamanya Elsa.
Terlihat jelas jika Elsa menyadari perbuatannya, dan apa yan caca katakan memang benar. Karena Elsa mengakui segalanya, bahkan Elsa meminta maaf kepada cia dan Caca. Karena sudah gagal menjadi ibu
"Tante ngapain Tante ke sini?" Raisa masuk dengan panik. Bahkan dia membuang diary itu
"Raisa, jawab Tante apa kamu yang menyembunyikan diary nenek ini?"
Raisa menggigit bibir bawahnya, ia kebingungan
"Tante, sebenarnya,"
Cia terlihat sangat marah dengan keponakannya itu "Kenapa Raisa? Kenapa kamu menyembunyikannya?"
"Karena Raisa enggak mau Tante mengetahui segalanya. Raisa ingin Tante tetap membenci keluarga ibu sambungnya kak Syifa. Raisa ingin Tante membalaskan rasa sakit nenek dan Raisa kepada mereka! Lagipula, untuk apa Tante membaca ini semua? Ini tidak penting Tante!"
Cia yang kesal langsung mendorong tubuh Raisa ke dinging, ia bahkan menampar keponakannya "Ini sangat penting! Karena ini kebenaran yang harus Tante ketahui! Apa kamu tahu? Tante hampir saja membuat kesalahan dan itu semua Karena ini!"
Raisa terlihat ketakutan "Tante, Raisa takut! Apa yang Tante lakukan?"
"Jangan menguji kesabaran Tante Raisa, Tante bisa saja membunuh kamu. Lebih baik kamu mati di tangan Tante daripada kamu harus menjahati orang-orang yang tidak bersalah!"
"Cih! Tante jangan sok suci! Ingat Tante juga baru keluar dari penjara karena menjadi pembunuh, dan Tante harus tahu jika nenek menginginkan itu dari Tante, kenapa sekarang Tante lemah? Kenapa Tante?"
Cia membuka buku terakhir kali yang di tulis oleh mamanya "Kamu baca ini! Di sini nenek kamu penuh dengan penyesalan karena sudah menyakiti keluarga Shinta. Dan kamu, menyembunyikan sebuah kebenaran ini, kenapa?"
"Karena Raisa enggak mau Tante jadi baik! Tante harus penuh dendam! Tante harus jahat? Tante harus melindungi aku dari ketidak adilan yang aku terima! Bahkan Tante harus membalaskan rasa sakit aku kepada kak Syifa! Mereka selalu saja menyakiti aku! Menampar bahkan ingin membunuh aku..dan sekarang Tante berpihak kepada mereka?"
"Kebenaran apa yang Tante ingin tahu? Kebenaran apa Tante? Kebenaran kalau aku benci dengan Syifa kenapa? Karena kak Syifa dan Khanza udah merebut perhatian mami dan Daddy dari aku! Tante harus tahu itu! Aku kesal Tante."
Cia sekarang mendapatkan fakta baru, walau ia yakin itu belum semua kebenarannya yang terungkap.
"Kamu jangan keterlaluan Raisa!"
"Aku keterlaluan? Bukan aku yang keterlaluan Tante mengapa Tante tidak mengerti!"
"Raisa lebih baik kamu masuk kamar Tante enggak mau menyakiti kamu! Kamu masuk sekarang!"
Raisa dengan kesal pun masuk kamar, kini tantenya sudah menemukan kebensran yang lain jika tantenya menjadi baik maka semua rencananya akan sia-sia.
Raisa tidak dapat lagi mendapatkan perlindungan dari tantenya. Hidupnya akan menderita
"Tante enggak sayang sama aku! Sama seperti mami! Kalian enggak sayang sama aku!"
"Tante sangat menyayangi kamu Raisa, begitu juga dengan mami mu. Namun karena rasa sayang kami kamu menjadi anak yang kurang ajar!"
__ADS_1
Raisa pergi "Kenapa Tante harus ke gudang sih? Bodoh banget aku! Kalau aku enggak buang ke gudang Tante enggak akan tahu semua kebenarannya!"