Ibu Sambung

Ibu Sambung
Alan Yang Kecewa


__ADS_3

Raisa memiliki sifat yang baik dan penyayang seperti Caca. Dia juga tidak pernah berkeras jika ada yang menyakiti diri nya. Begitu sangat mirip dengan sang mama.


"Sudah, Raisa istirahat saja ya nak?"


"Mi, apakah Raisa boleh tidur bersama mami?" tanya Raisa yang takut-takut, Caca pun tertawa.


"Tentu saja boleh, Sayang. Kamu kan anak nya mami, masa nggak boleh." Caca membaringkan tubuh nya di samping Raisa, Raisa tersenyum ia memandangi wajah ibu nya dengan sangat dalam.


Selama ini, Raisa berfikir jika diri nya hanya lah sebatang kara. Bahkan, memiliki keluarga yang utuh aja diri nya tidak berani.


"Mi, apakah kakak Syifa akan segera datang?"


"Iya, Sayang. Kakak Syifa mungkin sebentar lagi akan datang. Mami berharap, jika kalian terus kompak sampai kapan pun. Bahkan sampai mami tiada."


"Mami tolong jangan bicara seperti itu, Raisa baru saja bertemu dengan mami dan Daddy. Jangan katakan seperti itu lagi, Raisa tidak akan sanggup jika harus kehilangan kalian lagi."


Caca memeluk anak nya, ia pun menangis di pelukan Raisa.


"Maaf kan mami, sayang. Mami ibu yang gagal untuk mu juga untuk kakak mu."


"Tidak mami, mami tidak gagal. Mami adalah ibu terbaik untuk Raisa, kak Syifa, juga baby Khanza. Mami adalah ibu terbaik di Dunia ini. Jangan mengatakan hal itu lagi, mami." Raisa memeluk ibu nya. Di luar pintu, Arvan mendengar pembicaraan anak dan isteri nya.


Sejujurnya, Arvan juga sangat merindukan sang isteri. Namun, rasa sakit dan kecewa nya begitu teramat dalam.


"Daddy." Raisa yang melihat ke arah pintu pun memanggil sang Daddy. Caca segera melepaskan pelukan nya dengan Raisa dan bangkit.


Caca ingin turun dari ranjang, pergi dari kamar Raisa. Namun, Raisa menggenggam tangan Caca dan mencegah nya.


"Mami di sini saja. Kenapa mami pergi?"


Caca melihat anak nya, lalu menatap Arvan dengan tatapan takut, Caca segera menunduk.


Mereka seperti orang asing seperti dulu. Hal itu, membuat Raisa tidak senang.

__ADS_1


"Mami, Daddy. Kenapa kalian seperti ini? Apakah ini semua karena Raisa? Lebih baik Raisa kembali ke panti saja. Tapi, kalian tidak bertengkar seperti ini. Raisa tidak suka." Raisa pun menangis, Arvan yang melihat Puteri nya menangis langsung masuk ke dalam kamar.


Ia memeluk dan menggendong Puteri nya tersebut.


"Jangan menangis, Puteri nya Daddy! Cup, sayang." Arvan mengecup kening Raisa lalu menghapus air mata anaknya itu.


"Sudah ya, Sayang. Jangan menangis lagi?"


"Daddy dan mami harus berjanji tidak akan bertengkar lagi, atau lebih baik Raisa kembali ke panti daripada harus melihat mami dan Daddy seperti ini. Raisa ingin melihat kalian seperti awal Raisa bertemu dengan kalian. Kita makan ice cream, kalian begitu sangat romantis. Tidak secanggung sekarang."


Arvan dan Caca saling pandang, Arvan mengalihkan pandangan nya ke arah Raisa. Arvan berjanji kepada Raisa tidak akan mengulangi nya lagi.


Arvan tidak sanggup melihat anak nya menangis seperti itu, dan mengatakan akan kembali ke panti.


********


Di kediaman rumah mama Syafa. Si kembar Alan dan Alana merengek.


Mereka kesal dan marah, karena kakak nya Syifa pergi tanpa memberitahu mereka. Shinta kwalahan membujuk ke dua anak nya yang menangis.


"Iya, kenapa kakak tidak membelitahu kami." ucap Alan yang merasa kesal juga karena kakak nya tidak pernah seperti ini.


"Sayang, tadi kakak ingin memberitahu kalian. Tapi kalian tidur dan kakak tidak ingin kalian merasa terganggu."


"Kan bisa di banguni, biasanya kakak selalu menganggu kami kalau tidul. Apa kakak tidak sayang lagi pada kami?"


"Bukan begitu, nak. Kalian tahu kan jika kakak kalian begitu sangat menyayangi kalian dan juga baby Al. Kalian jangan bicara seperti itu ya?"


"Mama belbohong!"


"Mama tidak berbohong, sayang. Sungguh." kepala Shinta merasa sakit melihat ke dua anak nya yang menangis.


Ibu nya Syafa pun masuk, mencoba untuk membujuk cucu nya.

__ADS_1


"Cucu Oma yang cantik dan ganteng. Kenapa menangis hmmm? Sini sama Oma."


Syafa menggendong ke dua cucu nya di dalam pangkuan. Alana mengucek ke dua mata nya, hati nya merasa sangat sedih begitu juga dengan Alan.


"Jangan menangis dong, besok Oma akan membelikan kalian cokelat bagaimana?" Alana pun tersenyum senang mendengar kata cokelat.


Tidak seperti Alan, rasa kecewa nya tidak bisa di bayar oleh cokelat. Alan pun turun dari pangkuan sang nenek. Ia mengatakan jika ingin tidur saja.


Shinta memandangi anak nya yang satu itu. Karena Alan begitu dekat dengan Syifa. Pasti, dia akan merasa sangat kesepian.


"Sudah lah, Sayang. Besok Alan akan bicara dengan kakak yaa? Mama akan menghubungi kakak."


"Menghubungi? Apakah kakak tidak akan datang ma?" tanya Alan dengan tatapan kecewa nya. Sungguh, Shinta merasa tidak tega melihat Alan. Namun, apa yang bisa ia lakukan, diri nya juga tidak bisa memaksa Syifa untuk segera kembali.


Karena Shinta tahu, anak nya yang satu itu sedang menjalani misi yang sangat mulia. Menyatukan Caca dan Arvan seperti dulu.


"Sudah ya nak? Anak mama yang satu ini begitu pengertian, jangan bersedih lagi. Begini saja, mama akan menemani kalian tidur bagaimana?" Shinta pun memberikan penawaran. Alan dan Alana setuju, saat ini Alan yang sedang kecewa dengan sang kakak ingin di dekat mama nya.


Syafa pun merasa terharu melihat ikatan batin antara Syifa dan si kembar Alan, Alana.


Walau mereka hanya saudara beda ibu, tapi jika orang yang tidak tahu pasti tidak akan menyangka. Jika mereka hanya lah saudara tiri.


Alan dan Alana mengikuti mama nya Shinta untuk naik ke atas tempat tidur.


"Mama, Apakah ada dongeng?"


"Tidak, sekarang kalian tidur ya nak? Ini juga sudah larut malam. Baby Al juga pasti ingin meminum ASI saat mau tidur." tanpa waktu lama si kembar Alan dan Alana terlelap dalam tidur nya


Shinta menatap ke dua anak nya yang sudah terlelap. Sejujur nya bukan hanya anak-anak nya saja yang merindukan Syifa. Namun, juga Shinta.


Walau, ia bukan ibu yang melahirkan Syifa. Namun, Shinta terlebih dahulu jatuh cinta kepada Syifa ketimbang pada suami nya.


Bagi nya, Syifa adalah cinta sejati untuk nya. Cinta pandangan pertama, ya memang benar. Shinta sudah jatuh cinta kepada Syifa saat pandangan pertama. Di mana pertama kali mereka bertemu di klinik tempat Shinta bekerja dahulu.

__ADS_1


Shinta tersenyum, ia mengingat bagaimana dulu pertemuan nya dengan Syifa.


Seorang anak kecil berusia lima tahun, iya saat itu Syifa seperti Alana. Yang masih imut dan menggemaskan, kepolosan dan juga keluguan yang di miliki Alana dan juga Syifa sangat sama.


__ADS_2