Ibu Sambung

Ibu Sambung
Sikap Dingin Shinta


__ADS_3

Shinta pun menghubungi ke dua mertua nya, membawa anak-anak pulang ke rumah. Emosi Shinta menjadi tidak stabil, ia pun tak lagi menatap hangat Caca.


Shinta tau, ini bukan kesalahan Caca. Namun, semua ini terjadi alasan nya adalah Caca.


Revan mendekati Shinta, mencoba menenangkan nya.


Shinta pun marah kepada Revan.


"Kenapa masa lalu kalian anakku yang menjadi korban? Kenapa?" Shinta masih menangis, hati dan pikiran nya kacau.


Mungkin, jika bukan anak nya yang menjadi korban ia bisa mengerti dan memahami.


Namun, masa lalu suami nya sudah membuat bayi nya meninggal dunia.


Bahkan, Shinta pun tidak ada di kehidupan Revan saat ia menikah dengan Caca.


Shinta tidak pernah merebut suami dan anak sambung nya dari siapa pun.


Shinta masuk ke dalam kamar, ia menangis sejadi-jadinya. Harus kepada siapa ia menumpahkan segala rasa sakit hati nya itu?


Sedangkan, ibu kandung nya sendiri pun sudah melupakan nya..


Jennika, ia memikirkan tentang jennika. Shinta menghapus air mata nya, mau menjemput jennika di kantor polisi.


Shinta berlari menuruni anak tangga, Revan bertanya kemana istri nya akan pergi namun Shinta tidak menggubris nya


Revan mengikuti kemana Shinta akan pergi, Shinta menaiki taxi online yang sebelum nya ia pesan.


Hati nya campur aduk menjadi satu, saat ini Shinta hanya membutuhkan seseorang untuk berbagi duka dan kepedihan nya.


Revan berdecak dengan kesal sambil membawa mobil, begitu rumit masalah yang mereka hadapi.


Revan pun tak habis pikir mengapa keluarga Caca selalu saja mengganggu ketenangan dan kedamaian keluarga nya.


Namun, Revan juga tidak menyalahkan Caca karena ia sendiri pun tidak tau tentang semua ini.


*****


Caca menangis, Arvan yang membawa mobil berusaha menenangkan istri nya ia juga fokus dengan jalan.


"Sudah lah, sayang jangan menangis."


Brian yang ikut dengan anak dan menantu nya pun menawarkan agar diri nya yang menyetir.


"Nak, biar papa yang menyetir. Kamu dan Caca lebih baik duduk di belakang saja."


Arvan pun meminggirkan mobil nya, ia bertukaran tempat dengan ayah mertua nya.


Arvan juga meminta Caca untuk duduk di belakang, Caca membuka pintu dan pindah ke belakang bersama suami nya.


Mobil kembali di lajukan, Caca menangis di pelukan suami nya.


Ia sakit, melihat tatapan sinis dari Shinta bahkan Shinta pun seakan tidak mau di sentuh oleh nya.


Arvan menenangkan Caca.


"Sayang, saat ini tata sedang mengalami syok yang berat. Kemarahan nya hanya sementara, kita harus memahami duka dan sakit nya. Tolong, jangan tersinggung."


Caca mengerti dengan kemarahan Shinta, mungkin jika ia di posisi Shinta juga akan melakukan hal yang sama.


"Papa takut ini terjadi sebenarnya, papa sudah berusaha mencari keberadaan kakak mu Cia. Namun, papa tidak berhasil menemukan nya."


"Pa, kenapa mama sangat kejam menjadi kan anak-anak nya alat untuk membalas dendam?"


Brian menggeleng, ia pun tidak mengerti apa yang ada di pikiran mantan istri nya itu.


"Mama mu kehilangan harapan pada Lee, karena Lee sudah tiada. Dan, mama juga gagal menebarkan kebencian kepada mu, nak. Kamu tumbuh menjadi anak yang jauh dari impian mama mu. Ia pun gagal menjadikan mu alat sebagai balas dendam nya. Dan ternyata, ia berhasil menurunkan sifat jahat nya kepada kakak mu yang satu nya, Cia."


Brian mengambil nafas dengan kasar, andai saja Brian menjaga anak nya dengan baik. Mungkin, ini semua tidak akan terjadi.


"Papa jangan salahkan diri papa. Ini semua bukan kesalahan papa!" ujar Caca dengan suara yang berat.


Semua ini memang berat untuk mereka semua, namun apalagi yang bisa mereka lakukan semua sudah terjadi.


Mereka pun sampai di kantor polisi, Caca ingin bertemu dengan kakak nya Cia namun tidak mau bertemu dengan mereka.


"Pak, tolong. Saya harus bicara dengan kakak saya." Caca memohon kepada polisi tersebut, mereka yang tak tega dengan Caca pun mempertemukan Caca dengan Cia.


"Ada apalagi?" tanya Cia dengan angkuh.


Caca menampar kakak nya itu. Ia mengatakan sangat jijik memiliki kakak yang begitu jahat dan kejam.


Namun, Cia terlihat sangat santai

__ADS_1


"Haha, kau lihat wajah ku..Apakah aku perduli?" ujar Cia yang sudah merasa kecewa dengan adik nya.


Ia melakukan ini untuk membalas rasa sakit adik nya namun yang dia terima adalah perlakuan kasar dari Caca.


"Nak, mengapa kamu melakukan ini semua? Kenapa kamu menjadi orang yang kejam?" tanya Brian kepada putri nya.


Cia dengan santai menatap mata ayah nya.


"Aku selalu bersama mama, kalian saja yang tidak menginginkan ku ada. Kalian bisa mencari ku, tapi nyata nya? Kalian hanya sibuk dengan dunia kalian sendiri. Hanya mama yang perduli kepada ku."


"Kak, mama tidak sebaik yang kamu bayangkan."


"Diam! Jangan pernah menjelekkan mama kita! Dia ibu terbaik di dunia ini kau tau? Mama begitu mencintai mu dan selalu mengatakan kepada ku untuk melindungi mu, Cassandra. Namun, begitu kah balasan mu untuk mama?"


"Nak, apa yang di katakan oleh adik mu itu benar."


Cia tidak mau mendengarkan penjelasan dari papa dan juga adik nya.


Dia begitu kecewa, orang yang begitu Cia sayangi dan ia lindungi malah membela orang lain.


"Sudah tidak ada lagi yang mau kalian bicarakan? Pergilah, aku muak!"


Cia mengusir papa dan adik nya, mengapa mama nya mengatakan jika mereka orang yang baik. Sementara, Cia melihat adik dan papa nya itu malah membela orang yang sudah menghancurkan hidup Caca.


"Aku dan papa akan pergi, tapi satu hal yang kamu tau. Apa yang mama katakan kepadamu hanya lah setengah dari kebenaran nya. Mama tidak pernah mengatakan kejahatan nya kepada mu, karena itu tujuan mama. Membuat dan memelihara kebencian di diri mu. Revan dan keluarga nya tidak bersalah di ini, terutama Shinta. Dia itu wanita yang berhati malaikat, dia lah penolong di saat keponakan mu Syifa tidak mempunyai tujuan hidup. Kak, andai kau mencari tau sekali saja kebenaran yang ada mungkin kau akan menyesali segala perbuatan mu!"


Setelah mengatakan itu, Caca pun pergi meninggalkan Cia.


Arvan dan juga Brian mengikuti Caca, Cia terdiam. Ia memikirkan ucapan adik nya, namun ia menepis semua itu.


"Tidak, aku tidak bisa percaya kepada mereka. Kami bertemu juga baru beberapa kali, dan papa aku baru pertama kali bertemu dengan nya secara langsung..Aku tidak mengenal mereka, mama yang selalu ada bersama ku. Jadi aku lebih percaya dengan mendiang mama daripada mereka yang hanya memikirkan orang lain!" teriak Cia dengan kesal, mengapa keluarga nya seakan tidak perduli dengan nya.


Polisi membawa Cia kembali ke ruang tahanan, ia tersenyum puas. Walau ia mendekam di penjara namun ia puas sudah membalas sakit hati mama nya.


Dan ketika nanti ia keluar dari penjara, ia pastikan dia akan mencari pembunuh mama nya.


Ia akan membunuh orang yang sudah melakukan hal dengan kejam.


"Mama ku orang baik, kalian akan merasakan apa yang sudah kalian perbuat kepada mama ku!" itu janji Cia.


Selama ini Elsa selalu memakai topeng didepan Cia, ia melakukan itu dengan sengaja agar Cia terus memendam kebencian kepada semua orang yang Elsa benci.


Elsa selalu memasang air mata palsu dan bertingkah ia lah manusia yang paling di dzolimi


Caca tersenyum kepada Shinta, namun wanita itu berlalu pergi meninggalkan mereka tanpa membalas senyuman Caca. Bahkan ia memberikan tatapan yang begitu sinis kepada Caca, Arvan dan juga Brian.


Caca terlihat murung, untuk pertama kali nya Shinta bersikap cuek kepada nya.


Revan menghampiri mereka.


"Maafkan segala sikap Shinta, aku harap kalian mengerti dengan kondisi nya sekarang. Dia juga begitu dingin kepada ku, ia marah kepada ku dan juga masa lalu ku."


Revan pun terlihat sangat sedih, Arvan memegang bahu Revan dan mengatakan kepada Revan agar bisa lebih sabar menghadapi sikap Shinta yang sekarang.


"Aku mengerti apa yang tata rasakan, dia hanya korban dari kesalahan ku dan juga Elsa di masa lalu." ujar Arvan.


Dia pun mengakui, kesalahan nya di masa lalu.


"Semua sudah berlalu, dan yang terjadi saat ini bukan lah kesalahan mu. Jangan menyalahkan diri mu dengan semua ini." ujar Revan.


Memang, di masa lalu Arvan orang yang begitu jahat dan kejam namun sekarang ia sudah berubah.


Shinta masuk ke kantor polisi terlihat jennika sudah di bebas kan.


Shinta berlari memeluk jennika.


"Maafkan aku, jen. Seharusnya aku mempercayai mu."


Jennika membalas pelukan Shinta dengan erat, ia mengatakan jika diri nya tidak merasa tersinggung sama sekali dengan sikap Shinta di waktu lalu.


"Aku tidak marah kepada mu dan juga keluarga mu, Ta. Aku malah khawatir dengan kalian karena pelaku nya belum di temukan."


Shinta melepaskan pelukan mereka, ia mengatakan jika pelaku nya sudah tertangkap.


"Aku sudah tau, Ta. Tadi kami bertemu, dan dia di tempat kan di sel tempat ku berada. Namun, yang aku tidak mengerti apa motif nya melakukan itu?"


"Aku akan menceritakan segala nya kepada mu, ayo ikut lah dengan ku."


Shinta melingkar kan tangan nya di lengan jennika, mereka keluar dari kantor polisi.


Terlihat Caca dan yang lain nya masih berkumpul di luar, dan Shinta melihat suami nya.


Jennika tersenyum ramah kepada mereka namun Shinta membawa jennika tanpa mengabaikan mereka.

__ADS_1


Caca ingin mengejar namun di tahan oleh Revan.


"Sebaiknya tidak sekarang, biarkan dia menjernihkan pikiran nya..Aku tau, dia tidak membenci kita. Ia hanya marah kepada keadaan, apalagi kehilangan anak bukan lah hal yang mudah bagi seorang ibu kan?" Revan mencoba memberikan pengertian kepada Caca.


Caca pun mengangguk, menghargai keputusan dari Revan.


Shinta pun berbalik, ia juga mengatakan kepada Revan untuk membiarkan Syifa tetap berada di rumah Caca.


"Biarkan Syifa di rumah mereka, bawa saja si kembar pulang!" ujar nya dengan dingin.


Revan menggeram kesal, mengapa Syifa yang tidak tau apa-apa juga di salahkan?


Caca menahan Revan.


"Biarkan Syifa di rumah ku. Mungkin, Shinta membutuhkan waktu." ujar Caca yang begitu sedih melihat Shinta.


Ia tidak masalah jika Syifa berada di rumah nya namun Caca tidak tega melihat anak nya sedih jika mengetahui jika Shinta tidak menerima Syifa.


"Van, aku mohon jangan marahi Shinta ya. Jangan bertengkar dengan nya. Mungkin dia butuh waktu."


Revan tersalut emosi, dia memahami dengan kesedihan Shinta namun mengapa Syifa yang harus di jadikan sasaran..


Revan pun menghubungi ke dua orang tua nya. Bertanya mereka di mana.


Mama Lily mengatakan jika mereka sudah di rumah, Revan pun tidak mengatakan apapun.


Shinta dan jennika naik taxi. Jennika terdiam, ia tidak mengerti mengapa Shinta menjadi dingin kepada Caca dan juga suami nya.


Ia tau bagaimana kedekatan sahabatnya itu dengan mantan istri Revan. Bahkan mereka sudah seperti keluarga.


Shinta dan jennika pun telah sampai di rumah.


Alan dan Alana menghampiri Shinta, Shinta memeluk ke dua anak nya.


Syifa pun menghampiri Shinta, memang Shinta tidak memperlakukan Syifa dengan buruk.


Karena ia juga begitu mencintai dan menyayangi Syifa, namun terlihat Shinta sangat dingin dan acuh kepada Syifa.


Shinta mengajak si kembar untuk ke kamar.


Syifa memanggil mama nya, namun Shinta tidak menggubris panggilan Syifa.


"Maafkan mama nak, namun hati mama belum bisa menerima semua nya." batin Shinta sedih, ia tau ini bukan kesalahan Syifa.


Namun, baby Al juga tidak bersalah di sini, mengapa bayi nya menjadi korban kebencian di masa lalu?


Jennika pun semakin bingung dengan sikap sahabat nya.


Lily menghibur cucu nya, ia mengatakan kepada Syifa untuk jangan sedih.


"Nak, jangan sedih sayang. Mungkin, mama Shinta lagi pusing dan sedih."


"Nek, tapi mengapa mama mengabaikan Syifa? Mama tidak pernah seperti itu." tanya nya dengan sedih.


Caca, Arvan dan juga Brian ikut ke rumah Shinta.


Caca melihat kesedihan di wajah anak nya, ia langsung memeluk Syifa.


Walau Syifa tidak mengatakan apapun, namun Caca tau apa yang sudah terjadi.


Pasti Shinta bersikap dingin kepada Syifa seperti yang ia lakukan kepada Caca dan juga Revan.


"Sayang, kamu ikut Daddy ke rumah ya?" bujuk Arvan mengelus rambut Syifa.


Namun Syifa menolak, ia ingin menemani mama nya Shinta.


"Sayang, besok kita kan mau berlibur kasian dong Raisa jika tidak ada teman nya."


Akhirnya Syifa pun setuju untuk tinggal bersama Caca dan Arvan beberapa waktu.


Caca tidak bisa membiarkan anak nya terus di abaikan oleh Shinta.


Caca, Arvan dan juga Brian langsung berpamitan pulang.


Caca tidak mau berlama-lama di rumah Revan di saat suasana masih tegang begini.


Syifa pun menyalami papa dan juga kakek nenek nya, ia ingin berpamitan kepada Shinta namun di halangi oleh Revan.


Ia tidak mau anak nya merasa sakit hati yang lebih dalam lagi karena sikap istri nya.


"Nak, tadi Daddy dan mami mu sudah izin kepada mama. Mama juga tau kok, jadi Syifa enggak perlu pamit lagi kepada mama."


Revan terpaksa harus berbohong, apalagi yang bisa ia katakan?

__ADS_1


__ADS_2