Ibu Sambung

Ibu Sambung
Season 2 - Hancur


__ADS_3

Di meja makan, terlihat wajah Syifa yang begitu murung memikir-kan ucapan sang adik. Di sisi lain, Alana masih saja cemberut dan adik yang lainnya makan dengan wajah datar. Syifa bingung di antara dua pilihan, ia sangat menyayangi adik-adik nya. Shinta yang melihat kecemasan di dalam diri anak sulung nya pun bertanya menggunakan kode. Syifa menggeleng kan kepala nya, mencoba tersenyum menyakinkan sang ibu bahwa semua nya baik-baik saja. Tapi, Shinta tau jika Puteri nya sedang menyembunyikan sesuatu.


Setelah selesai makan, Alan bergegas meninggal kan ruang makan tanpa mengucapkan satu kata pun. Begitu juga dengan Alana, Syifa menatap kedua adik kembar nya dengan mata yang berkaca-kaca.


Revan berpamitan kepada Shinta dan yang lainnya untuk ke ruang kerja, karena ada pekerjaan yang harus ia selesai kan. Yang tersisa di meja makan hanya Shinta dan Syifa saja.


"Sayang, kamu baik-baik aja?" tanya Shinta kembali untuk meyakinkan diri nya.


"Tidak apa-apa ma, Syifa mau ke kamar dulu. Mama segera lah ke kamar. Kasian adik jika mama terlalu lama meninggal kan nya dengan baby sister." Shinta pun tersenyum, menyentuh pipi anaknya dengan lembut.


"Mama akan ke kamar. Kamu jangan terlalu banyak fikiran ya?" Shinta pun berlalu pergi meninggal kan Syifa. Syifa yang menatap langkah kaki sang mama yang semakin menjauh, ia tak sanggup lagi membendung kesedihan. Syifa meluapkan segala rasa sedih nya di meja makan seorang diri. Syifa bingung harus melakukan apalagi.


Bruak!


Terdengar suara barang yang jatuh. Syifa menghapus air matanya dan segera mendekati arah suara itu berasal. Ia kaget melihat barang-barang yang berantakan di kamar si kembar. Bahkan, Syifa melihat Alan yang melempar suatu barang ke Alana. Begitu juga dengan sebalik nya.


"Alan, Alana? Ke-kenapa barang-barang ini kalian jatuh kan?"


"Kenapa kalian juga saling melempar satu sama lain? Itu bahaya, kalian bisa terluka dan menyakiti satu sama lain."

__ADS_1


"Diam kak! Kakak jangan ikut campul!" bentak Alana sambil menangis. Begitu juga dengan Alan, wajah dan mata nya memerah. Begitu sangat marah besar. Syifa mencoba melerai namun kedua kakak beradik itu tidak mau berhenti. Hingga suara kekacauan yang mereka ciptakan di dengar oleh semua orang.


Revan melerai kedua anak nya dan bertanya apa yang terjadi. Kedua nya tidak bicara satu sama lain, tidak ada yang menjawab pertanyaan Revan. Akhirnya, Revan menatap Syifa dengan dingin menanyakan apa yang terjadi. Syifa menceritakan segala nya, namun Revan malah menyalah kan Syifa. Sebagai seorang kakak yang tidak bisa menjaga adik-adiknya. Shinta membela anak sulung nya. Ia merasa tak terima, kenapa kesalahan Alan dan Alana harus di limpah kan ke Syifa.


"Ini bukan kesalahan Syifa kenapa kau memarahi nya?"


"Bagaimana aku tidak memarahi nya, dia ada di sini tapi membiar kan adik-adik nya saling menyakiti satu sama lain! Bukan menghentikan mereka, dia malah enak sebagai penonton yang melihat pertunjukkan saja!" bentak Revan. Mendengar ucapan sang papa membuat Syifa sakit hati, ia pun berlari pergi dari kamar si kembar. Dengan menangis Syifa berlari masuk ke dalam kamar nya.


Syifa naik ke atas tempat tidur, menangis di pojokkan. Ia juga tak menyukai adiknya bertengkar seperti itu. Tapi, kenapa sang papa tega berkata seperti itu.


Shinta yang merasa kesal dengan sikap suami nya menatap Alan dan Alana dengan tatapan marah. Si kembar seketika takut, dan bergemetar. Shinta mencoba mendekati anak nya. Namun, Revan maju dan bagai perisai untuk kedua anak nya.


"Apa yang akan kau lakukan pada mereka?" tanya Revan kepada isteri nya.


"Sebagai orang tua, seharus nya kau bisa bersikap adil! Jika, Syifa kau marahi karena tingkah mereka. Kenapa, Alan dan Alana tidak kau marahi?"


"Aku akan memarahi mereka nanti!"


Shinta semakin dekat dengan suami nya, menatap suami nya dengan penuh kemarahan.

__ADS_1


"Kau sudah melukai perasaan anak yang tidak bersalah, dan yang bersalah kau lindungi? Ayah semacam apa kau ini! Seharusnya kau bisa adil Van!"


"Jangan mengajari ku dalam bersikap kepada anak, Kau saja yang terlalu memanjakan Syifa! Dia bukan anak kecil lagi yang harus dan terus-terusan kau lindungi!"


Suasana sangat memanas di antara pasangan suami-isteri ini. Seketika, Shinta mengingat Syifa yang pergi dengan perasaan terluka. Shinta meninggalkan suami dan kedua anak kembar nya.


"Papa, Alana takut jika mama malah."


"Sudah sayang, jangan takut! Papa ada untuk kalian, lebih baik kalian istirahat saja. Biar papa suruh Bibi untuk membereskan ini semua ya?"


Alan dan Alana pun mengangguk, mereka mencium pipi Revan dengan sangat manja.


Shinta yang masuk ke dalam kamar Syifa, menghidup kan Lampu yang tidak menyala. Terlihat Syifa yang masih menangis di pojokkan. Shinta berjalan perlahan mendekati Syifa. Hatinya begitu sangat sedih dan hancur mendengar isakan tangis sang Puteri. Syifa yang merasa rambut nya di sentuh. Mengangkat kepala nya, mata nya begitu sangat sayu. Tanpa mengucap kan kata apapun, Syifa langsung menangis di pelukkan Shinta. Shinta mencoba menenangkan anak sulung nya itu.


"Sudah, Sayangku." Shinta mengecup kening Syifa dengan penuh kasih sayang. Walau sudah melahir kan tiga anak, kasih sayang Shinta terhadap anak sambung nya tak pernah berkurang sedikit pun.


Di dalam pelukkan sang mama, Syifa meluapkan segala rasa sakit nya.


"A-apa Sy-syifa kakak yang b-bu-buruk ma?" suaranya terdengar sangat berat.

__ADS_1


"Tidak, Nak! Kamu kakak terbaik di seluruh dunia ini. Jangan berkata seperti itu. Mama tau, bagaimana rasa sayang kamu kepada kedua adikmu. Sudah jangan menangis ya? Cukup sayang, jangan menangis. Anak mama tidak akan cantik lagi jika menangis. Sudah sayang ya? Sudah sayang, sudah. Semua akan baik-baik saja. Kamu adalah kakak terhebat di seluruh dunia. Tidak ada yang berhak meragukan itu. Sudah sayang ya? Hentikan tangisan kamu, air mata mu begitu sangat berharga." Shinta mencoba menenangkan Syifa dengan penuh kelembutan. Ia semakin mengeratkan pelukan nya dan mengelus rambut Syifa.


"Ke-kenapa papa berfikiran seperti it-itu ma? Huaaa...!" tangisan Syifa semakin memecah, jika orang lain yang mengatakan itu diri nya tak akan merasa sesakit ini. Tapi, yang mengucap kan hal sesakit itu adalah papa nya sendiri. Syifa begitu merasa sangat hancur dan terluka. Bahkan ia merasa bahwa diri nya adalah anak sekaligus kakak yang tidak berguna


__ADS_2