Ibu Sambung

Ibu Sambung
Badai Pasti Berlalu


__ADS_3

Khanza mengangguk "Khanza selalu berusaha Daddy, tetapi Khanza rindu dengan mama Shinta, papa Revan, kakak Alana, kakak Alan dan kakak Syifa. Biasanya, Khanza tinggal dengan mereka. Di rumah selalu ramai, selalu ada keceriaan namun di sini. Hanya ada pertengkaran, terkadang Khanza bingung Daddy mengapa keluarga saling bertengkar?"


"Itu karena semuanya saling menyayangi sebab itu saling bertengkar sayang. Khanza jangan bingung lagi ya nak? Sekarang Khanza lebih baik tidur, Daddy akan membawakan dongeng untuk Khanza,"


"Di rumah mama juga sering membacakan dongeng untuk Khanza!"


"Oh iya? Mama membacakan dongeng apa nak?"


"Dongeng maling Kundang Daddy, dan mama selalu mengajarkan Khanza dan kakak-kakak untuk harus selalu menghormati dan menghargai orang yang lebih tua. Enggak boleh membantah atau berkata kasar,,"


Arvan tersenyum, ia yakin jika Shinta bisa memberikan didikan yang baik untuk anaknya Khanza. Sebab itu Syifa tumbuh menjadi wanita yang bijaksana.


Arvan pun membacakan dongeng untuk anaknya hingga Khanza tertidur. Setelah memastikan Khanza tidur, baru Arvan keluar menemui istrinya


Caca menangis "Mengapa sulit sekali membuat anak aku dekat kepada ku?"


Terlihat ia sangat emosi dan kesal, Arvan duduk di samping istrinya "Itu karena kamu terlalu membawa emosi. Coba seperti dahulu, jangan semua-semua kamu gunakan dengan amarah tapi dengan hati yang tulus. Aku yakin seiring berjalannya waktu Khanza bisa menerima kamu, sayang! Tapi kalau kamu sendiri saja selalu marah-marah. Bagaimana anak-anak bisa dekat dengan kamu jika kamu selalu marah-marah?"


"Bagaimana aku tidak marah jika dia selalu saja menyebut nama Shinta. Ibu kandungnya itu aku, sayang!"


"Loh, kamu jangan egois dong! Memang kamu itu ibu kandungnya, namun selama ini dia tinggal dan tumbuh bersama Shinta dan Revan bukan dengan kita, wajar dong dia begitu. Lagipula saat masih di Penang, apa pernah kamu sekali saja mencoba menghubunginya? Tidak kan? Dengan alasan Raisa memegang ponsel kamu dan Raisa meminta kamu fokus dengan aku. Enggak masuk akal, sayang! Masa kamu enggak ada rasa khawatirnya dengan Khanza, lebih mementingkan aku dan mendengarkan Raisa?" Caca terdiam, ia pun tak banyak lagi bicara


"Aku minta maaf sayang," dia mengatakan itu dengan sedih


"Aku tidak menyalahkan kamu. Aku bahkan berterima kasih karena kamu sudah merawat aku namun yang aku enggak bisa pikir. Kenapa kamu marah saat Khanza menyebut Shinta? Seharusnya kamu berterima kasih dengannya karena ia sudah merawat anak kita sampai sekarang. Bahkan, dia tidak meminta bayaran apapun! Dia menganggap anak kita seperti anaknya sendiri!"


Cekrek!


Pintu terbuka, Raisa pulang ke rumah. Namun kali ini ia tidak mabuk, wanita cantik itu mendekati mami juga Daddy-nya, lalu memeluk mereka "Mami, Daddy!"


Arvan dan Caca terhentak kaget, sekaligus senang melihat anaknya yang bahagia "Sayang, kenapa kamu bahagia sekali?"


"Hari ini, Raisa berkenalan dengan seseorang dia tampan sekali!"


"Benar kah? Lalu?"


Caca dan Arvan memang tidak melarang anaknya bergaul dengan lawan jenis asal anaknya tetap tau batasannya


"Dia ganteng banget ma, pa! Namanya Azam!"


Caca dan Arvan dengan antusias mendengarkan curahan anaknya "Sayang, mami dan Daddy enggak melarang kamu untuk dekat dengan siapapun namun jika bisa kamu harus menjaga diri ya nak. Mami dan Daddy percaya sama kamu, tapi kita enggak percaya sama orang-orang di luar sana!" Ujar Arvan karena ia tahu pergaulan anak-anak sekarang sangat menakutkan


"Iya Daddy, Raisa akan menjaga diri! Daddy jangan khawatir dengan Raisa!"


"Daddy khawatir karena Daddy sayang sama kamu sayang?"


Caca pun menjelaskan kepada anaknya jika mereka sangat menyayangi Raisa dan mereka ingin yang terbaik untuk Raisa


Khanza yang terbangun, pun keluar dari kamar. Ia melihat bagaimana mami dan Daddy-nya sangat menyayangi kakaknya Raisa.


"Kak Raisa sangat beruntung karena mami dan Daddy sangat menyayanginya!" Batin gadis kecil itu, saat Khanza ingin kembali ke kamar, Caca melihat ke arah anaknya "Khanza sayang!"


Raisa yang melihat kedatangan adiknya pun melihat jengah "Si pengacau!" Gumamnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Caca dan arvan


"Raisa, jangan begitu sama adik kamu!"


"Terserah deh! Raisa males berdebat sama mami juga daddy hanya karena dia! Mending Raisa ke kamar aja!"


Raisa pergi meninggalkan ke dua orangtuanya juga adiknya tersebut


"Sayang, kamu kenapa bangun?" Arvan menghampiri anaknya, Khanza pun mengatakan jika dirinya tidak bisa tidur sendirian


"Khanza enggak bisa tidur Daddy kalau sendirian, biasanya selalu ada yang menemani Khanza di rumah mama Shinta,"


"Ya sudah, sekarang Khanza mami temani boboknya ya nak?"


Caca menggandeng tangan anaknya, ia pun membawa Khanza ke kamar. Membaringkan anaknya di atas tempat tidur


"Khanza sayang, maafin mami ya sayang. Kalau mami membuat Khanza merasa enggak nyaman. Mami tahu mami salah, mami selalu membuat kamu sedih. Tapi sungguh, mami sangat menyayangi kamu! Mami sedih kalau Khanza selalu enggak mau sama mami, Khanza hanya selalu menyebut nama mama Shinta. Iya sayang, mami tahu jika mami bukan ibu yang sempurna tapi andai kamu tahu, jika mami ingin merawat kamu nak!"


Khanza pun beranjak dari tidurnya. Ia duduk di samping sang mami "Khanza enggak memahami semuanya mami. Tapi yang Khanza tahu, mami dan Daddy adalah orang tua kandung Khanza. Dan mama Shinta juga Papa Revan hanya orang tua angkat Khanza, tapi boleh kah Khanza tetap menyayangi mereka? Karena dari Khanza kecil Khanza hanya mengenal mereka sebagai mama dan papa Khanza!"

__ADS_1


Caca terdiam, ia juga tidak bisa memaksa anaknya. Caca pun tersenyum, dan mengusap rambut anaknya "Senyaman kamu aja sayang, mami hanya ingin anak kesayangan mami ini bahagia. Tapi mami hanya minta satu saja nak, terimalah mami sebagai ibu kamu! Mungkin, mami jauh berbeda dari mama Shinta kamu. Namun kami berdua sangat mencintai kamu!"


Keduanya saling berpelukan, kini Khanza sudah mulai bisa menerima Caca sebagai ibu kandungnya.


Benar apa yang Arvan katakan jika harus dari hati ke hati berbicara kepada Khanza agar ia bisa memahami semuanya


**********


Shinta dan Revan kembali ke rumah sakit, mereka melihat ketiga anaknya sedang tertidur nyenyak


"Untung lah mereka sudah memasukan kasur tambahan. Jadi Syifa bisa tidur dengan baik di sini!"


Shinta mengangguk, ia pun menyusun barang-barang bawaannya di laci yang sudah disediakan. Shinta melihat mata anaknya yang sembab


Apakah kakak habis menangis? ~batinnya


Ia akan bertanya kepada Syifa saat anaknya itu sudah bangun.


"Kamu mau buat teh?"


"Boleh!" Jawab Revan dengan tersenyum, Shinta pun menyeduh kan teh untuk suaminya.


"Minum lah!"


"Kau makan lah sana! Tadi dirumah saat aku meminta mu untuk makan dan kau mengatakan akan makan di rumah sakit. Sekarang menunggu apalagi?" Tanya Revan dengan penuh perhatian kepada istrinya


"Aku tidak lapar!"


"Kau harus makan, atau kau bisa sakit!"


Shinta pun mengatakan jika ia akan makan kalau dirinya merasa lapar. Namun sekarang, ia tidak akan makan karena ia belum merasa lapar!


"Terserah kau saja!"


Revan bahkan meminta maaf kepada mendiang ayah mertuanya karena tidak bisa seperti Gunawan yang selalu bertutur lembut kepada istri, bahkan ayah Gunawan tidak pernah membentak ibu Syafa dalam keadaan marah sekalipun.


Keluarga mereka terasa sangat sunyi saat kepergian kedua orang tua Shinta. Revan pun berfikir jika ia tidak panjang umur bagaimana nasib anak-anaknya?


Shinta mengangguk, ia sudah siap jika nanti mertuanya akan menyalahkan dirinya. Memang betul, hanya orang tua kandung yang bisa menerima dan menyayanginya dengan tulus.


Bahkan di saat Ibu dan Ayahnya sudah tiada, Shinta masih merasakan cinta dari keduanya.


"Kapan mama dan papa akan sampai?"


Revan menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu! Kemungkinan besok mereka akan sampai ke sini. Dan saat papa mengatakan hak buruk kepada kita tolong jangan tersinggung karena kamu tahu dari awal papa sangat keberatan saat Caca menitipkan Khanza kepada kita. Dan saat aku memberitahu mama dan papa dari telepon mereka terlihat sangat marah!""


Shinta mengerti, ia semua memang kesalahannya dan ia yang akan menanggung semua risiko-risiko yang ada.


"Aku tahu, jika papa marah. Papa berhak marah kepada ku, tapi aku mohon. Tolong katakan kepada papa, jangan pernah mengatakan apapun di depan anak-anak. Juga jangan pernah salahkan Khanza, cukup aku saja! Karena ini kesalahan ku, anak itu masih sangat kecil dan tidak tidak tahu apa-apa! Aku tidak akan bisa menerima jika siapapun menyalahkan dia!"


Revan mengerti, andai istrinya tahu bukan hanya shinta yang sudah menyayangi Khanza. Namun ia juga menyayangi Khanza seperti anaknya sendiri, namun lelaki sangat sulit mengungkapkan perasaannya.


Alana batuk membuat percakapan mereka terhenti, Shinta langsung mendekat ke arah anaknya dan memberikan segelas air putih "Minum lah dulu sayang!" Alana terduduk, ia pun meminum air putih itu


"Ma, Pa Alana ingin pulang, Alana enggak betah di sini!"


"Sayang, dokter belum memperbolehkan kamu untuk pulang. Kamu bersabar ya nak? Setelah dokter memastikan kondisi kamu baik-baik aja maka kita akan pulang ke rumah,"


Dokter masuk, ia pun memanggil Revan dan Shinta untuk berbicara di ruangannya.


Shinta dan Revan mengikuti dokter itu, sebelum pergi. Shinta meminta Alana untuk kembali istirahat, Syifa juga terbangun


"Kak, mama dan papa harus keruangan dokter. Kamu jagain adik dulu ya?"


"Iya, Ma!"


Shinta dan Revan mengikuti dokter itu hingga masuk ke dalam ruangan


"Silahkan duduk!"


Jantung Shinta berdetak kencang, ia gugup dengan hasil anaknya, ia berdoa agar tidak terjadi apapun kepada Alana

__ADS_1


"Dokter, bagaimana pemeriksaan anak saya?"


"Dari hasil yang sudah kami dapatkan, organ tubuh Alana masih aman dan tidak ada yang berdampak serius. Namun, anak kalian sudah kecanduan obat penenang itu. Dampaknya akan membuatnya gelisah, emosi menjadi tidak stabil atau mungkin ia bisa melakukan hal yang nekat."


Shinta pun lemas mendengar penjelasan dari dokter "Saat ini Alana butuh ke psikolog anak. Karena kita enggak bisa mengabaikan depresi ringan ini yang nantinya jika terus di biarkan akan menjadi berbahaya untuk mentalnya,"


"Anak saya enggak gila dokter! Jaga ucapan anda!"


Revan mengamuk, namun Shinta menenangkan suaminya


"Tuan! Anak anda memang tidak gila dan sebaiknya anda bisa membedakan depresi dengan tidak waras!"


"Sayang, tolong lah jangan seperti ini! Kamu harus tenang. Apa yang dokter katakan itu benar!"


Revan gusar mendengar ucapan dokter itu, walau begitu tetap saja ia tidak bisa menerima jika gangguan psikis anaknya terganggu.


"Saya tahu ini berat untuk kalian, apalagi di usia Alana yang masih belasan harus menanggung semua itu. Namun jika tidak sekarang, kapan lagi? Saya hanya dokter umum dan itu tidak ranah saya! Kalian bisa menghubungi psikolog terbaik yang kalian punya atau saya yang akan merekomendasikan sahabat saya!"


Revan terdiam, ia mengingat temannya Shinta yang bernama Jennika.


Bahkan walau mereka sudah berusaha untuk mengobatinya Jennika tidak bisa pulih bahkan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Revan takut jika itu terjadi kepada anaknya


"Terimakasih dokter, saya tahu saran dari anda yang terbaik. Lakukan yang terbaik untuk anak kami dok!" Shinta meminta dengan mata yang begitu rapuh "Dokter Shinta, anak kalian juga membutuhkan dukungan dan cinta dari kalian keluarganya. Dan jangan biarkan Alana merasa sendiri! Jangan biarkan ia sendiri!"


Shinta mengangguk mengerti, ia mengajak suaminya untuk keluar dari ruangan dokter itu.


Memang benar, saat ini yang di butuhkan anaknya bukan lah rumah sakit umum namun seorang psikolog.


"Aku tidak percaya dengan psikolog! Kau lihat kan? Kita bahkan sudah memberikan psikolog terbaik untuk Jennika. Namun ia tidak bisa sembuh, dia bahkan memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis!"


"Sayang, mengerti lah! Kasus Jennika dengan anak kita itu dua hal yang berbeda!" Shinta pun ingin suaminya mengerti


"Jennika seperti itu karena ia trauma, trauma terus menerus di siksa oleh suaminya secara fisik mau pun mental. Bahkan saat suaminya sudah di jatuhkan hukuman mati, trauma itu tidak bisa hilang dari pikiran Jennika! Dan Alana, ia merasa depresi karena ia selalu menahan kesedihan! Kesedihan karena merasa kesepian dan merasa aku tidak menyayanginya,"


"Tapi aku takut jika anak ku di katakan gila oleh orang lain karena ia pergi ke psikolog!"


Shinta memegang pipi suaminya, menatap mata Revan yang berkaca-kaca "Tidak! Anak kita tidak gila, dan tidak akan ada yang mengatakan jika anak kita gila. Kamu jangan khawatir!"


Shinta berulang-kali meyakinkan suaminya namun Revan masih khawatir dengan masa depan anaknya "Tolong percaya sama aku! Dengan kita memanggil psikolog untuk Alana itu akan memudahkan Alana untuk sembuh! Namun jika kita tidak bergerak cepat itu akan berdampak buruk untuk Alana. Tolong percaya dengan aku!"


Bahkan Shinta memohon kepada suaminya akan Revan mengizinkan Alana di bawa ke psikolog


"Kenapa? Kenapa harus Alana yang masih sekecil itu? Kenapa enggak aku aja?"


Bahkan Revan memukul dinding rumah sakit, membuat Shinta terhentak kaget


"Aku tahu kamu terluka, aku sebagai ibu kandungnya juga terluka dengan keadaan Alana. Namun kita juga enggak bisa tinggal diam,"


Revan pun tidak memberikan jawabannya. Menurutnya anaknya masih sangat kecil, mengapa sangat tidak beruntung harus berkonsultasi dengan keadaan mental?


Shinta tak mengejar suaminya, ia hanya bungkam berdiri menatap punggung belakang Revan yang semakin jauh dari pandangannya.


Langkahnya yang lemas memaksanya untuk tetap berjalan perlahan kembali menemui ketiga anaknya di ruangan. Shinta pun memikirkan tentang ucapan dokter itu


Dulu, ia selalu berurusan dengan psikolog untuk membantu orang lain. Dan sekarang, anak kandungnya sendiri yang membutuhkan bantuan dari pihak kejiwaan. Apalagi yang paling menyakitkan dari itu?


"Ini semua kesalahan aku! Andai aku tidak abai dengannya. Mungkin Alana enggak akan meminum pil Jennika yang dosisnya cukup tinggi. Aku memang buruk menjadi seorang ibu hiks," ia tersungkur


"Maafkan mama sayang. Mama memang sudah gagal menjadi ibu yang baik untuk kamu,"


Revan memegang bahu Shinta, ia pun meminta istrinya untuk bangkit. Shinta kaget melihat Revan yang kembali


Lelaki itu memeluk istrinya dengan erat "Maafkan aku, seharusnya aku tidak meninggalkan mu! Kita sudah berjanji untuk menghadapi ini semua sama-sama namun mengapa aku yang lemah? Kita akan melewatinya bersama-sama. Aku hanya memikirkan tentang luka ku, tapi aku lupa jika kamu adalah ibunya dan jika aku yang tidak selalu bersama anak-anak sepanjang hari merasa hancur. Apalagi kamu yang selalu bersama anak-anak dan berusaha yang terbaik untuk mereka,"


Mendengar ucapan suaminya membuat Shinta sedikit kekuatan. Bukan kah tugas suami dan istri selalu bersama dalam menghadapi badai apapun?


"Saat ini kita sedang di uji dengan badai hebat di depan saja. Tapi aku yakin, jika kita melewatinya berdua dengan penuh cinta. Maka badai itu akan berlalu, aku minta maaf karena aku sudah pergi meninggalkan mu! Aku hanya belum siap menerima dan memahami badai yang sedang menunggu kita!"


Shinta mengangguk "Tidak apa-apa suami ku, tapi sekarang kamu ada di sini. Dan aku tidak akan melewati badai itu sendirian. Aku yakin, kita akan menang. Cinta kita kepada anak-anak akan membawa mereka menuju kekuatan yang sebenarnya." Ujar Shinta dengan tersedu


"Iya, jika kita ingin anak kita kuat melewatinya kita harus terlebih dahulu kuat melewati semuanya. Tanpa ada keluhan, agar anak-anak kita tidak memiliki alasan untuk mengeluh atau menyerah!"

__ADS_1


__ADS_2