Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 68


__ADS_3

Sudah seminggu Shinta selalu berkunjung ke rumah sakit setiap hari menjenguk Rayhan, namun belum ada perkembangan yang dialamin oleh Rayhan. Bahkan kondisinya semakin hari semakin memburuk, tiada hentinya Shinta memanjatkan doa untuk kesembuhan Rayhan. Terkadang Shinta sampai melupakan Revan sebagai suaminya saat ini. Dan Revan, hanya mencoba memaklumi Shinta dan selalu berada di samping isterinya. Memang Shinta di bilang cukup egois untuk saat ini namun ia juga tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia begitu sangat khawatir dengan keadaan Rayhan.


"Kau jangan terus terusan menangis seperti itu" Revan menghapus air mata yang mengenang di pipi istrinya.


"Van, aku mohon. Sembuhkan Ray"


"Kita berdoa saja pada Tuhan" Revan pun memeluk isterinya.


"Kalian datang" sapa Chyntia ibu kandung dari Rayhan.


"Tante" sapa Revan, Shinta dan Revan pun mensalim tangan Chyntia.


"Tata udahama sampe sayang" tanya Chyntia.


"Belum ma" jawab Shinta dengan nada lesu


"Sayang, mama tidak suka melihat kamu begini"


"Mama tau, Ray itu sebagian dari kisah masa lalu kamu, tapi kamu juga harus tau. Saat ini kamu sudah memiliki suami dan juga anak, jangan karena anak mama. kamu sampai melalaikan tugas kamu sebagai seorang isteri dan juga ibu" Perkataan Chyntia di cerna oleh Shinta, ia pun meminta maaf kepada Revan karena seminggu belakangan ini ia terlalu fokus sama kesehatan Rayhan sampai harus melalaikan tugasnya sebagai seorang isteri dan ibu.


"Sudahlah, ini bukan salah mu" ucap Revan,walau Revan selalu merasakan sakit melihat Shinta yang lebih perhatian kepada sang mantan tapi Revan mencoba untuk tidak egois dan mencoba mengerti di posisi isterinya.


*************


Di sisi lain, Caca memegangi photo Puterinya ia begitu merindukan Syifa. Arvan masuk kedalam kamar melihat Caca yang duduk ditepi tempat tidur memegangi album anak kecil, Arvan yang merasa geram langsung mengambil bingkai photo itu dan membantingnya.

__ADS_1


"Apa kau gila" Teriak Caca. Arvan hanya diam dan menarik tangan Caca dengan kasar, selama 5 tahun belakangan ini Caca selalu di perlakukan sangat kasar oleh suaminya bahkan dalam masalah ranjang sekalipun.


"Lepas, ini sakit! kau tidak waras" maki Caca. Arvan yang merasa geram pun langsung ******* bibir Caca dengan kasar, Caca ingin melepaskan diri namun Arvan dengan sekuatnya menampar pipi putih Caca.


"Mengapa kau selalu kasar denganku"


"Karena wanita tidak tahu seperti mu pantas di perlakukan seperti ini" Arvan menarik baju Caca dengan kasar sampai baju itu robek, ia memegang tangan Caca dengan kuat agar wanita itu tidak berontak, Caca yang di setubuhi dengan kasar pun hanya mampu menangis. Setelah puas dengan hasratnya Arvan meninggalkan Caca sendirian dikamar, tubuh wanita itu penuh dengan noda keunguan akibat kekasaran yang dilakukan oleh Arvan, Caca hanya bisa menangis senggugukkan dikamar


"Mengapa takdir ku begini" Teriaknya, ia melemparkan semua barang barang yang ada disampingnya, Elsa yang mendengar teriakan sang anak pun langsung masuk kedalam kamar Caca. Dia begitu terkejut melihat kondisi Caca yang begitu menyedihkan. seluruh tubuhnya penuh dengan luka lebam. Elsa pun mendekat kearah Puterinya.


"Kau kenapa" tanya Elsa dengan nada khawatir namun Caca hanya diam dengan airmata yang mengenang di pipinya.


"Apa yang di lakukan Arvan padamu, bilang sama mama" Elsa memegang pipi Puterinya, ia meminta jawaban namun Caca hanya diam saja


"Ayo bicara lah ca!" teriak Elsa, Caca menatap mamanya dengan tatapan penuh kebencian..


"Apa maksudmu?" Tanya Elsa dengan bingung.


"Mama begitu terobsesi dengan harta dan tahta, sampai mama mengorbankan anak mama sendiri. Lihat Caca sekarang ma lihat!" Elsa yang melihat anak nya yang begitu frustasi pun menangis dan memeluk Caca dengan penyesalan.


"Maaf kan mama, karena keegoisan mama kamu jadi menderita seperti ini" Elsa yang terkenal dengan sifat angkuh itu pun sekarang menyesal dan menangis. Ia begitu sakit melihat kondisi anaknya yang memperhatikan, sudah 3 hari semenjak kejadian itu Elsa lebih sering kekamar Caca dan menemani putrinya anggap saja sebagai pembayaran penyesalannya. Arvan pun belum ada pulang sampai sekarang. Kini Elsa tahu penyebab anaknya sekarang menjadi sosok pendiem jangankan untuk tersenyum bahkan berbicara pun sekarang Caca begitu jarang. Elsa mengelus kepala Puterinya, Elsa semakin merasa bersalah. Andai dulu dia tak memisahkan Caca dengan lelaki yang dia sayang, mungkin saat ini putrinya sudah bahagia, tidak ada alasannya untuk bersedih.


"Apa kau ingin bertemu puterimu?" Caca langsung menoleh kearah Elsa dan mengangguk. Saat ini yang Caca butuhkan hanyalah pelukkan dari anaknya, mungkin dengan adanya Syifa membuat Caca tenang dan kembali hidup normal seperti biasa, Elsa pun berjanji akan membantu perceraian Caca dan juga Arvan.


Elsa pun memeluk dan mencoba menenangkan Puterinya. Elsa merasa begitu sangat bersalah, karena keegoisannya ia membuat Puterinya begitu menderita.

__ADS_1


"Bersiap-siaplah!"


"Mau kemana ma"


"Kita akan menemui puterimu" ucap Elsa.


"Tapi tidak mungkin ma"


"Kenapa?" Tanya Elsa dengan bingung.


"Revan Tidak akan membiarkan aku bertemu dengan Syifa ma. Dia sudah melarang keras untuk Caca menjauh dari Syifa" Elsa yang mendengar itu pun merasa geram dan semakin membenci Revan. Ia mengepalkan kedua tangannya.


"Kau ibunya, tentu saja berhak. Jika ia melarangmu kita akan berhadapan dengan dia melalui jalur hukum agar hak asuh puterimu jatuh di tanganmu" ucap Elsa dengan tegas, Caca pun menoleh kearah Elsa


"Benarkah ma?" Tanyanya dengan serius, Elsa pun mengangguk. Caca bukanlah wanita yang jahat namun sebagai seorang ibu yang sudah lama terpisah oleh anaknya ia ingin sekali merawat anaknya. Dulu Caca harus rela berpisah dengan Puterinya demi keselamatan Syifa dari ancaman sang mama. Namun sekarang Elsa pun sudah mau menerima anaknya, ia pun merasa ingin memperjuangkan sang Puteri kembali.


"Bersiap-siaplah!" Perintah Elsa, Caca pun mengangguk dan bersiap siap untuk menemui sang Puteri. Caca dan Elsa sudah bersiap untuk pergi kediaman Revan namun ketika mereka ingin keluar rumah tiba-tiba saja arvan masuk kedalam rumah.


"Mau kemana?" Tanya ya kepada Caca namun Caca hanya diam saja, Arvan yang merasa kesal pun menarik Caca dengan kasar, Elsa yang kesal melihat sikap kasar menantunya langsung menepis tangan Arvan.


"Jangan sekali-kali bersikap kasar pada Puteriku!"


"Sebaiknya mama jangan ikut campur, ini urusan Arvan dengan Caca"


"Haha, kau lupa aku siapa ya!" Ejek Elsa, Elsa pun memegang dagu Arvan dengan kuat.

__ADS_1


"Ku ingatkan sekali lagi jangan pernah kasar dengan Puteriku atau kau tau sendiri akibatnya" Elsa melepaskan tangannya dari dagu Arvan dengan kasar.


"Ayo sayang, kita pergi" Elsa pun mengajak Puterinya dan keluar dari rumah, sedangkan Arvan dia hanya mengepalkan tangannya dengan geram


__ADS_2