
Raisa dan Caca segera kembali kerumah sakit, untuk menjemput Arvan.
Caca berharap, jika di Penang nanti suaminya akan segera sembuh dan pulih seperti biasa. Mereka juga di temani oleh beberapa medis untuk berjaga-jaga di perjalanan.
Syafa memeluk Caca, mengucapkan perpisahan. Caca wanita yang baik, namun takdirnya kurang beruntung. Ia memiliki tiga putri, namun dia tidak bisa melihat tumbuh kembang ketiga anaknya karena keadaan.
"Raisa, Sayang. Jaga mami kamu baik-baik ya? Jaga mami, jangan biarkan mami menangis dan menanggung kesedihannya sendiri. Kuatkan mami, dan selalu buat mami percaya jika Daddy pasti akan sembuh!"
Raisa mengangguk, ia berjanji kepada Syafa akan menjaga mamanya dengan baik "Raisa janji nek, dan Raisa akan menjaga mami dan juga Daddy. Raisa tidak akan membiarkan mami merasa sendirian!"
Mereka pun mengucapkan perpisahan, sebelum Caca pergi. Syafa kembali memberikan kekuatan kepada anak angkatnya itu.
Mengapa takdir begitu tidak adil kepada anak-anaknya? Baru saja Shinta kehilangan anaknya, dan sekarang Caca harus berpisah dari anaknya Khanza.
***********
10 Tahun berlalu...
Kini, Syifa sudah tumbuh menjadi wanita cantik. Usianya memasuki 23 tahun, bahkan ia membantu ayahnya untuk mengurus kantor setelah pulang kuliah.
__ADS_1
"Ayo, sarapan dulu!" Ujar Shinta yang sibuk menyiapkan makanan untuk anak-anaknya.
Si kembar Alan dan Alana juga sudah memasuki sekolah menengah pertama, dan juga Khanza. Menjadi gadis kecil yang cantik, berusia 10 tahun.
"Mama, Khanza mau di suapi!" Khanza mengatakan itu dengan manja, Alana yang melihat Khanza begitu manja menjadi kesal. Ia kehilangan selera makannya!
"Alana pergi ke mobil terlebih dahulu ya, Ma!"
"Nak, kamu belum menghabiskan makanan mu!" Alana yang terlanjur kesal tidak mendengarkan ucapan mamanya.
Alana tahu, jika Khanza bukan anak kandung mamanya namun mengapa sang mama sangat menyayangi Khanza.
Berbeda dengan Khanza yang tidak tahu, jika dirinya bukan anak kandung dari Shinta dan juga Revan.
"Sudah lah, Ma! Biarkan saja Alana. Memang begitu sikapnya sejak dulu!" Alan mengatakan itu dengan dingin, sifatnya begitu mirip dengan papanya.
"Mama, kenapa kakak marah?" Khanza yang polos bertanya kepada Shinta, Shinta hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum "Kakak mungkin takut terlambat, sayang!"
Sudah sepuluh tahun berlalu, namun Caca belum juga kembali. Entah sampai kapan, Arvan bisa kembali pulih dan mereka kembali untuk bertemu dengan Khanza.
__ADS_1
"Ma, Syifa pergi dulu ya?" Syifa langsung memeluk dan mencium kedua pipi ibu sambungnya itu, Revan segera mengantarkan anak-anaknya untuk pergi sekolah.
Khanza yang masih manja, hanya ingin di antar oleh Shinta. Shinta pun tidak menolak ucapan anaknya.
"Baik lah, sayang. Mama akan mengantarkan Khanza ya?"
Khanza yang begitu senang langsung memeluk mamanya, kini Khanza duduk di sekolah dasar. Ia kelas empat SD, Khanza juga begitu pintar di kelasnya.
"Syifa, sayang. Apa kamu sudah selesaikan profosal yang papa minta?" Revan bertanya terlebih dahulu kepada anaknya, Syifa yang sudah menyelesaikannya langsung memberikannya kepada sang papa.
"Pa, Syifa sebentar lagi akan magang."
"Kamu magang di kantor papa saja!"
Syifa tersenyum, ia mendekati papanya dan memeluknya dengan senang "Terimakasih papa!"
Walau Syifa sudah bekerja di kantor papanya, namun ia ingin meminta izin agar dirinya magang saja di kantor sang papa. Syifa begitu malas jika harus magang di perusahaan orang lain.
Shinta terlebih dahulu mengantarkan Khanza ke sekolah, sedangkan yang lainnya ikut dengan Revan.
__ADS_1
Alana yang melihat mamanya mengantarkan Khanza dengan motor semakin kesal. Ia protes saat papa dan kakaknya masuk ke dalam mobil. "Kenapa sih mama sangat menyayanginya! Dia itukan bukan anak mama, dia hanya anak mami Caca."
"Cukup Alana!" Bentak Alan, ia tidak mengerti mengapa Alana memiliki sifat yang begitu buruk. Bagaimana pun, Khanza itu adik mereka