
"Ayo!" Shinta menarik tangan Caca.
"Tunggu!"
"Ada apa lagi?"
"Kita ajak mereka," Caca menatap Revan dan Arvan dengan senyuman yang mencurigakan.
"Okey, ayo!"
Arvan dan Revan pun sudah mulai curiga dengan tingkah isteri-isteri mereka
"Kita mau kemana?“
" Iya, kita mau kemana?“
"Sudah, Ayo lah! jangan banyak tanya."
"Tidak! aku tidak akan ikut sebelum kalian katakan ingin pergi kemana!"
"Hey, mengapa kau memarahi mereka," Bisik Arvan pada Revan.
"Sudah! kau diam saja!"
"Iya-iya. Baik lah!" Arvan pun menurutin ucapan Revan.
__ADS_1
"Tata ingin memakan ice cream, apa kalian tidak mau melindungi kami dan bersama kami? jika tidak yasudah kami akan pergi berdua saja," Caca memasang wajah cemberut dan ingin pergi bersama Shinta. Namun, Revan dan Arvan mencegah mereka.
"Tunggu! kalian jangan cepat marah. Baik lah kita akan mengikutin kalian," ucap Arvan.
"Iyakan?"
"Aw, apa kau sudah gila menginjak sepatu ku!" kesal Revan. Arvan pun menyengir terpaksa.
"Kita akan bersama mereka kan?"
"Sudah lah, ayo ikut bersama mereka atau nanti malam kita di suruh tidur di luar," Arvan berbisik pada Revan.
"Apa yang kalian bicara kan?"
"Tidak ada, ayo!" Mereka pun pergi ke toko ice cream. Shinta memakan ice cream tersebut dengan sangat lahap, Melihat cara makan Shinta yang menikmati ice cream seperti waktu ia hamil dulu. Revan memandangi isteri nya, dan tingkah aneh isteri nya belakangan hari ini. Setelah menemanin shinta yang menikmati ice cream dengan puas. Shinta dan Caca mengajak Revan dan Arvan ke pohon mangga yang tidak jauh dari toko ice cream tersebut. Caca melihat beberapa buah yang masih berwarna hijau bergantungan di atas, rasanya ia tidak sabar untuk menikmati mangga-mangga tersebut.
"Aku ingin itu," Caca menunjuk ke mangga mangga tersebut.
"Tapi itu belum matang, Sayang. Lihat lah warna nya masih sangat hijau begitu. Jika kau ingin mangga aku akan membelikan yang banyak untuk mu di supermarket,"
"Tidak! aku ingin buah yang ada di pohon!" pinta Caca dengan manja nya.
"Tapi, Sayang. Kita tidak tahu ini punya siapa,"
"Iya, benar. Ca! Ayo kita pulang aja," ajak Revan.
__ADS_1
"Tidak! aku tidak mau! aku mau itu," Lagi-lagi Caca merengek membuat kepala Revan dan Arvan sangat pusing, sedangkan Shinta hanya tertawa melihat permintaan Caca
"Sayang, kenapa kamu tertawa? ayo jelas kan pada Caca bahwa itu belum matang. Kita bisa membeli nya yang banyak di supermarket," ucap Revan.
"Sudah lah, Sayang. Turutin saja keinginan Caca. Dan kau kak, turutin saja permintaan dari isteri mu."
"Baiklah, aku akan meminta mangga ini pada orang nya dulu," Mereka bertanya pada penduduk di situ, siapa pemilik dari pohon mangga itu. Dan kebetulan pemilik pohon itu adalah yang punya toko ice cream dan pemilik nya mengizinkan mereka untuk mengambil buah mangga milik nya. Arvan dan Revan membawa kayu besar untuk mengambil mangga tersebut dan berjalan mendekati Shinta dan Caca. Caca merasa bingung mengapa suami dan mantan suami yang sudah seperti seorang kakak bagi nya membawa kayu panjang.
"Untuk apa ini?"
"Untuk memancing ikan," Ketus Revan.
"Hey, mengapa kau berkata seperti itu!" tegur Arvan.
"karena mereka sangat menyebal kan, Sudah tau ini kayu panjang untuk mengambil mangga nya. Masih saja di tanya lagi!"
"Tapi aku ingin kalian memanjat nya, bukan mengambil nya menggunakan kayu ini!" ucap Caca memberikan penjelasan.
"Apa!!" teriak Revan dan Arvan bersamaan.
"Iya, aku ingin kalian memanjat nya dan mengambil kan buah mangga itu untukku!" Ucap Caca memasang wajah imut nya.
"Apa kau sudah tidak waras? tidak! aku tidak mau! Ada-ada saja!" Revan melepas kan kayu itu dan membuang nya ke sembarang arah.
"Ayo lah!" Caca memohon pada Revan.
__ADS_1
"Sayang, mengapa kau begitu? apa kau tidak ingin menuruti permintaan adik mu? Bukan kah kau sudah menganggap Caca seperti adik mu sendiri?" ucap Shinta.