
"Kita akan menunggu di sini."
"Apa kamu yakin, Sayang?"
"Iya, Sayang. Lagian tidak enak jika aku mengganggu percakapan mu atau meninggalkan Kaynara di sini sendirian."
"Baik lah. Aku akan segera kembali." ucap Arvan lalu mengecup kening Caca. Arvan pun menyuruh Caca dan Kaynara untuk duduk di ruangan tunggu
2 jam berlalu.
Akhir nya Arvan keluar dari ruangan dengan wajah yang sangat bersinar. Caca merasa sangat penasaran.
"Mengapa kamu terlihat sangat bahagia?" tanya Caca dengan penasaran.
"Seluruh aset ku tidak akan di sita, Sayang."
"Benar kah?" tanya Caca dengan perasaan yang senang, Arvan pun mengangguk lalu memeluk isteri nya dengan perasaan yang sangat bahagia.
"Mengapa bisa?"
"Entah lah, Sayang. Tetapi yang terpenting saat ini. Rumah dan mobil bisa kita nikmati kembali. Aku akan memulai usaha ku dari nol lagi." Arvan memberikan penjelasan.
*Flashback end.
Mendengar penjelasan dari Caca membuat Shinta merasa sangat lega*.
"Oh begitu ceritanya. Pantas saja kalian tidak bisa di hubungi."
"Maaf ya sudah membuat mu khawatir."
__ADS_1
"Sudah lah itu tidak penting, yang terpenting adalah kau, dan Kaynara baik baik saja."
"Mama." panggil Syifa. Shinta pun menoleh pada sang putri sulung nya.
"Ini mama Caca, Sayang." Shinta memberikan ponsel nya pada Syifa agar Syifa bisa berbicara pada sang ibu.
"Mama, Syifa kangen."
"Syifa sangat merindukan mama dan Daddy." ucap nya dengan manja.
"Mama juga sangat merindukan kamu, Sayang. Cepat lah kembali" Setelah berbicara pada Caca. Semangat Syifa pun kembali, wajah ceria nya terlihat sangat jelas.
"Awwwshh." Shinta memegang perut nya yang terasa sangat sakit.
"Mama" teriak Syifa dengan panik. Revan pun dengan langkah yang tergesah menghampiri isterinya.
"Kamu kenapa ta?" terdengar suara caca yang berteriak karena juga merasa sangat panik."
"Hallo?"
Tut......
Ponsel pun terputus
Caca merasa sangat cemas
"Ada apa kak?" tanya Kaynara yang penasaran. Caca pun memberitahu kepada Kaynara
"Semoga kak Tata baik-baik saja." ucap Kaynara dengan penuh harap. Terlihat seorang pria yang memberhenti kan motor nya dan berjalan mendekat ke arah mereka
__ADS_1
"Rangga." ucap Kaynara yang merasa bingung sekaligus canggung.
"Aku sudah mencoba menghubungi kalian tetapi tidak bisa dan aku tadi pagi ke rumah kalian tetapi tidak ada siapapun. Akhirnya aku melacak keberadaan kalian dan menyusul kalian ke sini." ucap Rangga memberi kan penjelasan.
"Kalian sedang apa di sini?"
"Kami sedang menunggu kak Arvan." ucap Kaynara
"Apa ada masalah lagi?"
"Tidak. Arvan hanya mengurus berkas-berkas yang harus dia tanda tangani."
"Bukan kah kalian harus pergi dan meninggal kan semua aset. Mengapa harus tandatangan?" Kaynara pun membantu untuk menjelas kan pada Rangga. Akhir nya Rangga pun mengerti
"Sudah selesai, mari kita pulang." ucap Arvan tiba-tiba yang keluar dari ruangan. Mereka bertiga pun menoleh ke arah suara itu berasal
******
"Mama kenapa?" tanya Syifa dengan penuh khawatir, begitu juga dengan Revan. Revan menuntun shinta ke ranjang. Shinta terduduk perlahan. Dengan sigat Revan mengambil kan segelas air putih dan memberikan nya pada Shinta. Shinta meminum nya dengan perlahan
"Apakah masih sakit?"
"Tidak, sudah lebih baik dari sebelum nya."
"Mama mungkin kelelahan, mama istirahat saja."
"Tidak, Sayang. Mama tidak apa-apa. Ayo kita bermain di pantai, kamu juga sudah sangat bahagia mendengar suara mama Caca tadi." Shinta tidak ingin mengecewa kan Syifa
"Tidak, Ma. Kesehatan mama jauh lebih penting."
__ADS_1