
Alan dan Alana memulai untuk suwit. Agar mengetahui siapa yang bisa memainkan mainan itu terlebih dahulu. Alana yang memenangkan permainan ini, yang arti nya Alana yang berhak bermain mainan itu terlebih dahulu. Jadi Alan harus menerima nya dengan lapang dada, kedua anak nya kembali kompak lagi. Shinta begitu senang, si kembar Alan, Alana bermain sampai mengantuk, ke dua nya pun berhenti bermain. Naik ke atas tempat tidur, tidak butuh waktu lama kedua nya terlelap dalam tidur nya. Ketika, memastikan anak-anak nya tidur. Shinta berlalu pergi ke luar kamar, untuk ke dapur. Ia tahu, sebentar lagi Syifa akan pulang sekolah.
Shinta memasak masakan kesukaan Syifa dengan penuh rasa sayang, walau sedikit lelah mengurus si kembar tapi ia juga begitu bahagia. Bisa mengurus anak-anak nya dengan tangan nya sendiri.
"Mama," panggil Syifa yang mencari keberadaan sang mama, Shinta menoleh ke arah belakang.
"Mama di sini, Sayang."
Syifa menuju arah suara itu berasal, Syifa menemukan mama nya di dapur yang sedang memasak. Ia melihat keadaan mama nya yang begitu berantakan sekali.
"Ma? Mama baik-baik saja? Kenapa mama kelihatan begitu berantakan? Tidak seperti biasa nya?"
"Iya, pengasuh kalian sedang sakit. Jadi, mama yang mengurus si kembar dan baby Al dari pagi. Si kembar juga begitu sangat nakal, pasti pengasuh kalian begitu kwalahan setiap hari nya di repot kan oleh keusilan si kembar."
"Apa Alan dan Alana membuat kekacauan lagi, ma?"
"Tidak, Sayang. Adik-adik mu tidak nakal. Dan iya, mereka sedikit nakal saja. Mereka bertengkar karena merebutkan satu mainan. Tapi, tidak membutuh kan waktu lama, mereka sudah berbaikan dan sekarang tidur dengan nyenyak. Dan Mama ingat, jika anak mama yang satu ini akan pulang sekolah pasti kelaparan nanti. Jadi, mama buru-buru ke dapur untuk memasak makanan yang lezat untuk anak mama yang cantik ini." Shinta memegang pipi Syifa dengan lembut, Syifa tersenyum bahagia karena mama nya tidak pernah berhenti memperhatikan diri nya. Walau ia sudah tumbuh beranjak dewasa.
"Terimakasih mama," Syifa memeluk mama nya dengan erat, ke dua nya mencium aroma bau gosong. Kedua nya langsung melepaskan pelukan satu sama lain, Shinta menoleh ke arah masakan nya yang sudah gosong. Dengan cepat Shinta mematikan kompor, ke dua nya saling menoleh, menatap satu lama lain. Lalu tertawa bersama.
"Mama memasak makanan yang gosong,"
"Itu semua karena Syifa yang mengajak mama mengobrol terus." kedua nya kembali tertawa bersama, walau melakukan kesalahan. Mereka tidak saling menyalahkan satu sama lain, malah menjadikan itu sebagai hiburan. Shinta menyuruh anak nya untuk berganti pakaian dulu, sedang kan ia akan memulai memasak makanan yang baru. Syifa pun menuruti ibu nya, pergi dari dapur menuju kamar nya untuk berganti baju.
Di dalam kamar, Syifa teringat dengan Raisa. Mengingat tangisan Raisa tadi, hati nya seketika merasa tidak tenang. Apalagi melihat langsung sikap tidak baik teman nya Raisa itu yang bernama Lala. Syifa khawatir, jika terjadi sesuatu kepada Raisa.
"Bagaimana ini? Aku juga tidak bisa menghubungi nya, Raisa kan tidak mempunyai ponsel. Jika aku menghubungi pihak asrama, nanti Raisa akan di hukum oleh ibu asrama. Ibu asrama itu kan sangat galak sekali" Syifa begitu ngeri membayangkan ibu asrama yang begitu galak itu.
"Besok kami akan bertemu, aku akan tahu bagaimana keadaan nya." ujar Syifa yang menatap cermin di hadapan nya ini.
Tok! Tok!
"Masuk!" ujar Syifa dengan ramah, terlihat seorang pelayan yang masuk ke dalam kamar Syifa.
"Paman? Ada apa?"
__ADS_1
"Begini nak, Syifa di panggil oleh nona ke bawah. Sebentar lagi, masakan nona selesai."
"Baik, terimakasih paman."
"Sama-sama nak," pelayan itu pun keluar dari kamar, benar. Walau mereka hanya pelayan atau pengasuh. Tidak ada yang memanggil Syifa dan adik-adik nya dengan sebutan nona atau tuan. Karena ke dua orang tua mereka marah, keluarga mereka tidak pernah membeda-bedakan status mereka. Shinta ingin, jika anak-anak nya juga bisa menghargai seluruh orang yang lebih tua, tidak perduli apakah status mereka setara dengan keluarga nya atau tidak. Shinta mengajari sopan santun kepada anak-anak nya dengan tegas. Dia tidak ingin, anak-anak nya tumbuh menjadi anak yang kurang ajar. Sebab itu, walau memiliki banyak pelayan. Shinta sering masak untuk suami, mertua, dan anak-anak nya
Syifa turun ke bawah, terlihat Shinta sedang menyiapkan hidangan yang sudah ia masak. Syifa mendekati Ibu sambung nya itu.
"Wah, wangi sekali masakan mama. Ini sangat lezat." walau belum mencicipinya, Syifa yakin betul jika masakan sang mama sangat lezat. Apalagi, mama nya memasak makanan itu untuk nya dengan penuh cinta.
Shinta menghidangkan makanan nya di meja makan, Syifa duduk di meja makan itu. Ia tidak sabar lagi menikmati masakan sang mama.
"Aw panas," tanpa rasa sabar, Syifa memakan masakan mama nya. Ia pun kepanasan karena makanan itu baru saja masak.
"Pelan-pelan, Sayang. Itu sangat panas, lidah mu pasti kepanasan kan." Shinta mengambil kan segelas air minum untuk anak nya. Meringankan rasa panas yang di rasakan oleh lidah anak nya. Syifa meminum segelas air yang di berikan oleh Shinta. Meneguknya sampai tak tersisa, memang benar. Lidah nya terasa begitu sangat panas
"Maaf ma, kakak begitu tidak sabar menikmati masakan mama."
"Mama mengerti, Sayang. Tapi kamu harus lebih berhati-hati, jika tidak. Lidah kamu akan terluka, memakan makanan yang terlalu panas itu tidak baik. Kamu mengerti kan, sayang?"
"Iya, Mama."
Cekrek!
Shinta membuka pintu kamar pengasuh nya, terlihat pengasuh yang menjaga anak-anak nya masih berbaring lemah, Shinta mendekati pengasuh itu. Mendengar suara langkah kaki, pengasuh itu segera menoleh ke arah pintu. Ia berusaha duduk ketika melihat majikan nya yang berjalan mendekati diri nya.
"Sudah, jangan! Tetap baring kan tubuh mu senyaman nya saja. Saya tidak akan marah." ujar Shinta yang duduk di tepi ranjang, perlahan pengasuh itu duduk.
"Nona, jangan membuat saya malu. Jangan repot-repot membawakan saya makanan nona, nona sudah mengurus saya dengan sangat baik. Saya tidak enak hati merepotkan nona begini, nona juga pasti lelah mengurus anak-anak."
"Tidak! Saya merasa lelah, jika saya lelah. Saya tidak akan ke kamar kamu memberikan makanan, jangan banyak bicara dulu. Sekarang, kamu makan makanan mu dengan habis, setelah itu minum obat!"
"Ta-tapi, nona."
"Jangan tapi-tapi! Saya tidak suka jika di bantah, lagipula ini demi kebaikan kamu, bukan untuk saya. Kamu tidak ingin merepot kan saya lama-lama bukan?" pengasuh itu mengangguk, menunduk tidak berani menatap Shinta.
__ADS_1
"Jika begitu, habiskan makanan mu, istirahat yang baik agar kau segera pulih. Setelah kau pulih, kau bisa mengurus anak-anak. Jadi, saya tidak akan repot mengurus mereka sendirian. Kamu mengerti?"
"Mengerti, Nona."
"Bagus, ayo habiskan makanan mu." Shinta menyuapi pengasuh anak nya dengan sangat baik, setelah selesai makan. Ia memberikan obat dan segelas air minum kepada pengasuh itu.
"Nona baik sekali."
"Kau tahu, aku juga memiliki adik semanis diri mu. Saat ini, dia sedang berbulan madu kepada suami nya. Bukan bulan madu saja, lebih tepat nya tinggal di sana untuk beberapa saat. Anak nya juga pasti sudah lahir seperti baby Al dan baby Khanza. Aku sangat merindukan nya, ketika melihat mu. Aku teringat kepada nya. Kalian banyak memiliki kemiripan dalam sikap. Dia juga pendiam seperti mu."
"Benar kah nona?"
"Iya, di sangat manis dan baik."
"Siapa nama nya nona?"
"Nama nya Kaynara, sudah lama kami tidak bertemu atau mengobrol. Aku sangat merindukan nya."
"Kenapa nona tidak menghubungi nya?"
"Sudah, namun tidak bisa. Suami ku juga sudah menyuruh orang untuk mencari tahu keadaan nya, kata nya dia baik-baik saja. Mungkin, ia sibuk mengurus baby sendirian. Tidak sendirian juga, ada suami nya. Tapi, suami nya kan bekerja di sana."
"Bekerja? Bukan kah nona bilang mereka berbulan madu?"
"Benar, mereka sedang berbulan madu. Tapi, usaha suami Caca ada di sana. Jadi, suami nya yang mengurus usaha di sana. Lagipula, di keadaan Caca seperti ini. Tidak memungkinkan untuk Arvan sering-sering berpergian."
"Pasti, suami non Caca begitu kaya ya nona?"
"Iya, begitu lah. Apalagi, orang tua Caca juga begitu kaya. Tidak sulit bagi mereka untuk membuka usaha di mana pun, baik di luar atau pun di dalam negeri." pengasuh itu mengangguk mengerti, Selesai memberikan obat. Shinta berpamitan kepada pengasuh anak nya untuk ke luar kamar. Ia juga menyuruh baby sister itu untuk istirahat yang cukup sampai benar-benar pulih.
*******
Syifa yang sedang menikmati makanan nya tiba-tiba teringat dengan Raisa. Tadi, Raisa begitu sedih dengan sikap teman asrama Raisa yang bernama Lala.
"Sikap nya begitu buruk, bagaimana jika ia menyakiti Raisa nanti?" hati Syifa pun tak tenang, ia mengkhawatirkan keadaan Raisa. Apalagi, dengan terang-terangan Lala menyakiti hati Raisa di depan umum.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Raisa tidak memiliki ponsel, jika aku menghubungi pihak asrama, aku takut nanti nya Raisa yang terkena masalah. Peraturan di asrama begitu sangat ketat, apalagi ibu asrama yang begitu galak itu." Syifa memejamkan mata nya, begitu ngeri membayangkan wajah ibu asrama yang telihat sangat galak.
"Dia seakan ingin memakan ku jika melihat ku, begitu menyeramkan. Bagaimana Raisa bisa betah dengan ibu asrama itu. Ya aku tahu, ibu asrama tidak akan menyakiti nya. Tapi, ibu asrama itu akan menyusahkan Raisa dengan alasan sebagai hukuman. Kasihan sekali kamu Raisa, Andai aku bisa menolong dan mengeluarkan mu dari asrama yang seperti neraka itu." ujar Syifa.