Ibu Sambung

Ibu Sambung
Pergi Liburan?


__ADS_3

Syafa masih sedih dengan apa yang terjadi. Seakan mimpi buruk untuk nya, ia juga masih teriang-iang dengan ucapan dan sikap anak nya.


Tidak pernah nya Shinta anak semata wayang nya itu berbicara atau bersikap seperti itu.


"Mungkin, kamu sudah terlalu kecewa sayang."


Syafa meneteskan air mata nya, ia akan menebus semua kesalahan nya kepada Shinta dan juga seluruh keluarga nya.


Rayhan begitu manja meminta Syafa menyuapi ia makan.


Syafa tidak mungkin menolak permintaan dari anak angkatnya itu, namun tidak bisa dipungkiri jika hati Syafa masih sangat sedih.


dengan tatapan kosong dan tidak bersemangat Syafa menyuapi makan anak angkatnya tersebut, Ia juga meminta kepada Raihan untuk makan yang banyak.


Gunawan membaringkan tubuh nya di atas kasur ranjang tempat tidur, kepalanya terasa sangat berat


Mengapa semua harus terjadi kepada keluarga saya, dosa apa yang telah saya perbuat di masa lalu?


Gunawan menatap langit-langit kamarnya, dia mengusap wajahnya dengan gusar.


ingin sekali Gunawan menyelesaikan semua masalah yang terjadi, namun Ia juga tahu jika kekecewaan putrinya sudah begitu dalam kepada sang istri.


Gunawan berdoa agar Putri semata wayang itu bisa memaafkan ibunya dengan lapang dada.


Gunawan memejamkan mata nya sejenak, ia juga kurang istirahat karena masalah-masalah yang terjadi beberapa belakangan hari ini..


******


Revan mengajak Shinta untuk pergi ke luar, ia ingin berbicara kepada istri nya dengan serius.


"Sayang, aku ingin mengajak mu dinner.."


Shinta mengangguk, ia tau jika Revan mengatakan itu agar pengintaian di rumah mereka tidak mengetahui maksud dari suami nya.


Shinta mengatakan ia akan bersiap-siap. Revan mengangguk, ia mengatakan jika istri nya tidak perlu berdandan yang berlebihan.


Shinta juga tau maksud dari suami nya, pasti Revan ingin segera berbicara kepada nya.


Shinta pun hanya mengangguk jaket Hoodie yang biasa ia gunakan di saat musim dingin atau musim hujan.


Wajah Shinta terlihat sangat kusut, kesedihan nya masih mendalam jadi ia tidak memikirkan tentang penampilan.


Revan merasa hancur dan sedih, ia berjanji kepada diri nya sendiri. Ia akan segera menemukan pelaku pembunuhan anak nya.


Polisi juga menghubungi nya, mengatakan jika sidang jennika akan di adakan Minggu depan.


Jennika akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan nya, Revan belum memberitahu Shinta karena ia yakin akan membuat istri nya semakin panik.


Revan juga tidak ingin jennika di hukum atas kesalahan yang jennika tidak lakukan.


Saat ini, Revan akan lebih hati-hati. Diri nya juga tidak terlalu cemas karena anak-anak sedang berada di rumah Caca.


Ia tidak perlu khawatir dengan keselamatan anak-anak.


Revan mengajak Shinta turun dari kamar, ia tidak akan membahas semua nya di rumah.


Shinta juga meminta kepada Revan untuk membawa mobil mereka sendiri.


Tidak perlu menggunakan supir.


Revan mengiyakan ucapan istri nya, ia hanya ingin istri nya merasa aman..


Mereka pun masuk ke dalam mobil, saat Shinta ingin berpamitan kepada ke dua mertua nya. Mertua nya berada di dalam kamar, Shinta tidak mau menganggu ke dua mertua nya itu.

__ADS_1


Revan melajukan mobilnya, mereka menuju sebuah restaurant.


Ke dua nya turun dari mobil dan masuk ke dalam restaurant tersebut.


"Sayang, katakan pada ku apa yang sebenarnya terjadi." ujar Revan..


Shinta melihat sekeliling, memastikan jika tidak ada yang mengikuti mereka.


"Aku juga tidak tau, tapi pastinya kita sedang tidak aman.. Keluarga kita sedang dalam bahaya, percaya kepada ku. Bukan jennika pelaku nya. Kemarin saat kejadian dan sebelum kejadian, aku selalu mengunci jennika dari luar. Bagaimana bisa ia melakukan itu sementara pintu kamar nya selalu aku kunci dari.luar?"


ucapan Shinta begitu masuk akal, namun ia tidak mengerti mengapa botol bekas racun itu ada di kamar jennika.


"Lalu bagaimana bisa botol itu ada di kamar nya?" tanya Revan.


Shinta menggeleng, ia tidak tau pasti.


"Aku ingat, saat kita sibuk dengan pemakaman baby Al. Aku baru membuka pintu kamar nya, tidak mengunci nya lagi. Berarti, seseorang yang ada di rumah kita yang melakukan nya. Kemungkinan adalah salah satu pelayan atau salah satu pengasuh anak kita." ucap Shinta.


"Tapi mengapa mereka baru melakukan nya? Kenapa tidak dari awal?" tanya Revan kembali, Shinta pun menggeleng..


Ia juga tidak mengerti, dan Revan bertanya mengapa Shinta mengetahui ada cctv dan suara penyadap?


"Aku tidak sengaja mengamati rumah kita. Dan aku melihat alat penyadap itu. Aku tidak berani mengatakan nya kepada mu atau siapapun di rumah. Saat ini, siapa saja bisa menjadi tersangka." ujar Shinta.


Revan mengelus rambut istri nya, ia mengatakan kepada Shinta untuk tidak perlu khawatir.


"Jangan khawatir. Kita akan menyelesaikan semua nya."


Shinta mengangguk, ia meminta kepada Revan untuk segera menemukan pelaku nya.


Revan berjanji kepada Shinta namun ia ingin Shinta memberikan waktu untuk nya.


"Aku mohon, kendalikan diri mu setiap di rumah. Jangan membuat mereka curiga." ucap Shinta.


"Aku akan berusaha sebisa nya, dan tadi polisi menghubungi ku."


"Sidang jennika akan di adakan Minggu depan, untuk memberikan hukuman yang pantas untuk jennika dapat kan."


Shinta mengambil nafas panjang, dada nya sangat sesak.


Tidak mungkin ia membiarkan sahabat nya mendapatkan hukuman atau apa yang tidak di perbuat.


"Tenang lah, sayang. Aku tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi kepada jennika. Kendalikan diri mu!"


"Bagaimana bisa aku biasa saja. Kau dan kita tau, jika jennika tidak bersalah. Namun, kita membiarkan nya mendekam di penjara." Shinta menutupi wajah nya. Ia merasa sangat frustasi.


"Aku berjanji akan segera membebaskan jennika. Kita harus mendapatkan bukti dulu dan menemukan pelaku nya."


Shinta mengangguk, ia berdoa jika mereka bisa segera menemukan pelaku nya dengan cepat.


******


Caca merenung di mendung nya cuaca sore ini. Ia merindukan mendiang kakak nya yang sudah lama tiada..


"Kak, andai kakak masih hidup. Banyak sekali yang ingin Cassandra katakan kepada kakak. Cassandra merindukan kakak." gumam nya. Bahkan, ia tidak melihat jenazah kakak nya untuk terakhir kali karena keegoisan mama mereka.


Jika kakak nya masih hidup, Lee pasti akan menjaga dan menyayangi Caca dan juga anak-anak nya namun takdir berkata lain, takdir merebut Lee dari pelukan Cassandra.


Ia memegang satu album yang berisi Poto nya bersama mendiang kakak nya saat masih kecil.


"Hanya ini yang Cassandra punya kak. Cassandra sangat merindukan kakak hiks."


Arvan mendekati istri nya, ia memeluk Caca dari belakang.

__ADS_1


"Kamu rindu kakak mu?" Caca pun mengangguk, ia sangat merindukan mendiang kakak nya itu.


"Aku sangat merindukan nya, sayang."


Arvan mengelus rambut Caca dengan penuh hati, Arvan mengatakan jika sebaiknya Caca mendoakan untuk ketenangan jiwa kakak nya di syurga.


"Kita hanya bisa berdoa untuk ketenangan jiwa kakak kamu, sayang. Kamu jangan bersedih, nanti kakak kamu di sana tidak merasa tenang melihat adik kesayangan nya ini menangis." Arvan berusaha menghibur istri nya.


Caca tau jika ia harus merelakan kepergiaan kakak nya, namun rasa rindu itu sering hadir dan menurut nya itu bukan sebuah kesalahan.


"Sudah, jangan menangis lagi." Arvan menghapus air mata Caca, ia bersyukur jika Caca memiliki sifat yang jauh berbeda dari ibu nya Elsa.


Caca dan Elsa bagaikan langit dan bumi, Caca bagaikan malaikat sedangkan Elsa bagaikan Dajjal.


Walau Caca di besarkan oleh jiwa yang pemarah, dan penebar kebencian namun Caca tidak memilki sifat seperti itu. Dia begitu jauh berbeda.


Arvan mengajak istri nya untuk masuk ke dalam, ia tidak mau melihat Caca sakit karena udara yang begitu dingin.


Sebenar lagi, pasti akan turun hujan yang begitu deras.


Benar dugaan Arvan, baru mereka masuk dan menutup pintu balkon.


Hujan turun begitu lebat, seakan langit juga ikut merasakan kesedihan Caca.


"Van, kenapa orang yang aku sayangi pergi ya? Kak Lee, mama, papa juga walau masih ada namun sudah sibuk dengan keluarga baru nya. Setelah menikah, papa tidak peduli dengan aku dan juga anak-anak."


"Sayang, jangan di pikirkan. Aku yang perduli dengan kamu, aku mencintai kamu. Bahkan anak-anak, Shinta dan keluarga nya juga mencintai kamu. Jangan memikirkan orang yang tidak memikirkan kamu, sayang. Papa juga sudah memiliki kehidupan yang baru. Kamu juga harus paham, papa juga tidak pernah bahagia dulu saat bersama mama. Kini, biarlah papa merasakan kebahagiaan bersama keluarga baru nya."


Caca tidak merasa keberatan dengan itu, namun ia sedih karena papa nya seakan melupakan nya.


Ia seperti tidak memiliki seorang ayah lagi.


Arvan mengatakan jika Caca harus merasa bersyukur dapat merasakan kasih sayang orang tua cukup lama. Karena Arvan tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari ke dua orang tua nya.


"Sudah dong, jangan sedih lagi. Lebih baik kita doakan untuk ketenangan jiwa kakak dan juga mendiang kakak mu."


Caca mengangguk, si kembar Alan dan Alana mengetuk pintu kamar Caca.


Caca membuka pintu, terlihat Alana yang terlihat begitu bete.


Caca menggendong tubuh mungil Alana sedangkan Arvan menggendong tubuh Alan.


"Anak mami kenapa cemberut?"


"Kapan kita libulan mami? Kalau enggak jadi, mending Alana pulang saja."


Caca merasa gemas dengan tingkah Alana yang mengancam begitu juga dengan Arvan


"Besok kita akan pergi berlibur. Alana jangan cemberut dong, sayang. Mami dan Daddy harus mencari tempat yang indah untuk kita sayang." bujuk Arvan.


Alan mengatakan jika ia sudah membujuk Alana dan meminta saudara kembarnya itu untuk mengerti, namun bukan Alana namanya jika tidak keras kepala.


"Sudah jangan bertengkar, besok kita akan pergi oke?"


Alan dan Alana mengangguk, Syifa dan Raisa menghampiri mereka.


"Kalian di sini. Kakak dari tadi mencari keberadaan kalian berdua loh." ujar Raisa dan Syifa secara bersamaan.


Caca memberitahu Raisa untuk bersiap-siap


"Syifa, Raisa kalian bersiap lah menyusun barang-barang. Besok pagi kita akan pigi berlibur."


"Yeay!" teriak Raisa kegirangan, Syifa hanya tersenyum. Bukan nya ia tidak merasa senang. Namun, ia memikirkan keadaan Mama dan Papa nya di rumah.

__ADS_1


Arvan memahami apa yang di rasakan oleh anak sambung nya itu.


"Nak, sudah Daddy katakan jangan khawatir. Syifa tidak percaya dengan Daddy?" tanya Arvan kepada Syifa.


__ADS_2