
"Besok ulang tahun ibu" Gumam Shinta mendekati Revan
"Kalau gitu sekarang kita pergi mencari kado buat mama Syafa" ajak Revan, Shinta pun mengangguk dan bergegas untuk siap siap, shinta melihat tubuhnya di depan cermin.
"Kenapa gardigan ini begitu pas untukku, perasaan kemarin gardigan ini begitu besar" Shinta pun menaikkan satu alisnya, ia merasa tubuhnya sekarang begitu gemuk, Shinta di kejutkan dengan Revan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang
"Kenapa"
"Lihatlah, sekarang ini sudah begitu pas denganku. Padahal dulu ini begitu kebesaran" ucapnya cemberut.
"Bukankah itu bagus? kenapa malah kelihatan tidak senang"
"Itu tandanya tubuh ku semakin gemuk" ucap Shinta frustasi. Revan pun melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Shinta menghadap ke dirinya
"Sayang, kurus atau pun gemuk aku tetap mencintaimu" Revan memegang kedua pipi Shinta dan mengecupnya secara bergantian, Shinta pun masih cemberut.
"Kenapa masih cemberut, senyum dong. Mana senyumnya" Bujuk Revan namun Shinta melepaskan tangan Revan dari pipi nya dan pergi mendahului Revan namun dengan cekatan Revan langsung menggenggam tangan Shinta dan membawa Shinta kedalam pelukannya, sejenak mereka saling pandang Revan mengecup kening Shinta.
"Sudah ya, kau tetap cantik ketika kurus maupun gemuk" Mata Shinta berbinar, wanita itu membalas pelukkan suaminya.
"Aku takut jika aku gemuk, tidak cantik lagi dan kamu berpaling dengan wanita lain"
"Tidak akan, bahkan kau terlihat begitu sexy ketika gemuk" goda Revan. Shinta melepaskan pelukkan itu dan memukul bahu suaminya.
"Sudah ayo kita cari kado untuk mama Syafa" ajak Revan yang di anggukin oleh Shinta, Revan menggengam tangan sang isteri keluar dari kamar. Terlihat Mama dan Papa Revan sedang duduk di sofa ruang tamu. Revan dan Shinta mendekati Lili dan juga Tommy untuk berpamitan, awalnya Shinta ingin mengajak Syifa namun Puterinya sedang tertidur pulas membuat Shinta tidak tega membangunkannya.
Shinta dan Revan pun pergi ke salah satu Mall terbesar di kota A, mereka mencari kado yang cocok untuk ibu dari wanita yang ia cintai.
"Mungkin itu cocok untuk mama Syafa" Revan menunjukkan salah satu toko perhiasan yang ada didepan mereka, Shinta pun menggeleng.
"Aku tidak setuju" ucapnya
"Kenapa sayang, bukan kah setiap wanita menyukai perhiasan?" Tanya Revan bingung
__ADS_1
"Iya, tapi aku tak ingin perhiasan"
"Hey, aku membelikkan hadiah untuk mama Syafa. bukan untukmu" protes Revan
"Tetap saja, aku tidak ingin! sudah ayola" Shinta menarik tangan Revan dan membawa suaminya masuk kedalam sebuah toko
"Apa kau sudah tidak waras" Shinta pun tersenyum, bagaimana Revan tak kesal. Shinta membawa nya masuk kedalam toko kostum badut
"Mengapa kita kesini"
"Karena aku ingin membeli ini" Shinta menunjukkan kostum badut berbentuk hello Kity.
"Tapi buat apa sayang? apa kau ingin memberikan mama Syafa kado hadiah ini?" Shinta pun langsung mengangguk kesenangan.
"Astaga, wanita aneh ini" ucap Revan frustasi, tak ingin berdebat Revan langsung memanggil salah satu karyawan untuk membawa kostum badut itu ke kasir dan menelpon supir sekaligus sektaris pribadinya untuk menemui mereka ke toko kostum badut. 5 Menit kemudian pria itu pun datang
"Kenapa Van" ucap pria tampan itu yang usia nya tak jauh beda dengan Shinta. Revan sudah menganggap nya seperti sahabatnya sendiri jadi tak heran jika pria itu memanggil Revan dengan nama
"tolong bawa ini ke dalam mobil" Perintah Revan kepada Marvel.
"Udah deh gak usah banyak tanya, cepat sana bawa" ucap Revan malas. Marvel pun mengangkat bahunya dan membawa kostum hello Kity tersebut ke dalam mobil
"Yauda ayo kita pulang" ajak Revan kepada Shinta namun Shinta menggeleng
"Kamu mau kemana lagi sayang" Tanya Revan dengan sabar
"Ke toko perhiasan tadi" ucap Revan dan berlalu meninggalkan Revan, Revan pun membuang nafas dengan kasar dan mengikuti sang isteri dari belakang, di dalam toko perhiasan Shinta memilih sebuah kalung yang indah untuk Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan nya.
"Ini ya mbak, tolong di bungkus dengan rapi dan cantik" perintah Shinta kepada salah satu karyawan tersebut. Sedangkan Revan memilih sepasang kalung liontin untuk Shinta dan juga Syifa.
"sayang kesini" Ucap Revan yang menggenggam tangan isterinya dan menunjukan sepasang kalung liontin
"Bagus enggak?" Tanyanya
__ADS_1
"Bagus banget" ucap Shinta tersipu kagum melihat sepasang kalung liontin yang di tunjuk oleh suaminya
"Mbak ini juga di bungkus ya, tapi di pisahkan sama yang tadi" ucap Revan.
"Baik pak" Pegawai toko pun mengambil liontin tersebut dan membungkusnya
"Buat apa?" Tanya Shinta bingung
"Buat kamu, sama Syifa" ucapnya tersenyum. Shinta tersenyum bahagia
"Terimakasih sayang" ucapnya memeluk sang suami, pegawai toko tersebut memberikan perhiasan itu kepada Shinta, dan Revan memberikan kartu card nya untuk membayar perhiasan yang mereka beli. Sesudah itu mereka pun keluar dari toko perhiasan, Shinta melihat ada yang menjual popcorn dan ice cream
"Aku ingin itu dan itu juga" Shinta menunjuk kearah popcorn dan ice cream.
"Ayo kita beli" ajak Revan, mereka pun membeli popcron dan juga ice cream untuk Shinta dengan ukuran jumbo seperti permintaan Shinta , karena Revan kurang menyukai makanan yang manis. Jadi ia membelikan untuk Shinta saja. Shinta memakannya dengan lahap seperti anak kecil.
"Sayang" panggil Shinta dengan manja
"Hmm" sudah tau bahwa Shinta ada maunya jika memanggil seperti itu
"Mau lagi" ucap Shinta sambil menyengir.
"Tapi itukan tadi porsi jumbo sayang, lebih baik kita makan nasi saja"
"Gak mau" ucapnya memohon dengan wajah imutnya, Revan pun malas untuk berdebat, karena ia tahu sekeras apapun perdebatan itu ia takkan bisa menang melawan isterinya. Revan mengalah dan memesankan popcron dan juga ice cream namun kali ini dengan ukuran yang biasa
"Ini" Revan memberikan popcron dan ice cream kepada Shinta
"Kok kecil, enggak kaya tadi"
"Makan, atau enggak sama sekali" ucap Revan dengan nada dinginnya, Shinta pun mengerucutkan mulutnya kedepan lalu mengambil popcorn dan ice cream itu lalu memakannya, melihat wajah sang suami yang dingin membuat Shinta tak berani berkomentar lagi, shinta masih bersyukur Revan mengizinkannya tambah daripada tidak sama sekali. Bukannya Revan pelit, namun Revan tak suka melihat Shinta maupun Syifa memakan jajanan luar dengan berlebihan karena itu tidak sehat untuk tubuh mereka. Shinta dan Syifa memiliki sifat yang begitu percis, menyukai makanan yang begitu manis seperti permen, ice cream, dan cokelat. Namun begitu susah untuk makan makanan yang sehat seperti sayur, ikan, telur dan lainya.
"Selesai itu kita langsung pulang atau mau makan dulu?" Tanya Revan.
__ADS_1
"Pulang aja, kasian Syifa di rumah. Kita bisa makan bersama dirumah" ucap Shinta, Revan pun mengangguk dan memandangi isterinya yang sedang asyik menikmati popcorn dan ice cream yang ada di hadapannya.