
Caca menatap mata Raisa dengan penuh keteduhan, ia merasa iba dengan cerita dari teman anak nya itu.
Caca pun berterimakasih kepada Tuhan, telah mengirimkan Shinta untuk menjadi isteri Revan. Jika tidak, mungkin anak nya Syifa. Akan merasakan hal yang seperti Raisa rasakan. Caca juga tahu, jika dahulu Syifa ikut dengan nya pasti Syifa tidak akan bahagia. Karena mama nya, Elsa. Selalu saja mengusik kehidupan mereka. Caca merindukan ibu nya.
"Sayang, kamu manis sekali. Sini, Tante peluk" Caca memeluk Raisa dengan penuh kasih sayang, Raisa menangis di pelukan Caca. Untuk pertama kali nya, ia merasakan pelukan dari seorang ibu. Caca menenangkan Raisa
"Jangan menangis, kamu bisa memanggil ku Mama atau Mami, seperti si kembar." Caca melepaskan pelukan mereka satu sama lain, Raisa pun bertanya apakah yang di katakan Caca benar atau tidak. Caca mengangguk.
"Iya, Sayang."
"Lihat, benar kan kataku. Keluarga ku begitu sangat penyayang. Kau tidak akan mendapat kan kekurangan kasih sayang apapun. Keluarga ku begitu baik,"
"Kau benar sekali, keluarga mu sangat baik. Aku senang sekali karena boleh bermain di rumah mu yang seperti istana ini."
"Sudah, Mama Shinta membuatkan kue untuk kalian. Ayo, kita makan di bawah. Si kembar juga ada."
"Iya, Ma." Syifa pun mengajak teman nya Raisa untuk turun ke bawah
Di bawah, si kembar Alan dan Alana sangat menikmati kue yang telah di buat oleh Mama mereka. Alana begitu lahap sampai memakan setengah dari porsi yang di buat mama nya.
"Anak-anak nya mami lahap banget sih makan nya. Mami nya jadi kepingin deh." goda Caca kepada si kembar. Alan, Alana menoleh ke arah swuara itu berasal. Caca mendekati si kembar Alan dan Alana. Awalnya Alana tersenyum, namun melihat teman kakak nya itu. Raut wajah Alana seketika berubah, ia kembali fokus memakan kue itu dengan lahap.
__ADS_1
"Duduk di sini, Sayang." ujar Shinta meminta teman anak nya untuk duduk di meja makan. Shinta mengambil sepiring kue dan segelas susu untuk Raisa. Raisa meminum susu itu perlahan, lalu memakan segigit kue yang di buat oleh Shinta. Tiba-tiba, tubuh Raisa gatal, Shinta, Caca, Syifa pun merasa bingung.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Apakah kamu alergi kacang, nak?" tanya Caca mendekati Raisa, wajah Raisa memerah secara cepat tubuh nya bendol kemerahan. Caca memegang tangan Raisa mengamati apa yang di rasakan oleh Raisa.
"Astaga, Arvan juga seperti ini jika sudah alergi. Seperti nya, dia juga alergi kacang." ujar Caca. Shinta memanggil suami nya, Revan yang mendengar panggilan isteri nya segera menghampiri mereka di dapur.
"Ada apa?"
"Dia, alergi kacang. Cepat lah hubungi dokter, atau kita bawa dia ke rumah sakit."
"Iya, Papa. Tolong bawa teman Syifa ke dokter, dia sangat menderita." Syifa menangis, ia begitu khawatir dengan keadaan Raisa. Tubuh nya semakin di penuhi dengan kemerahan.
"Ak-aku tidak tahu, Syifa. Tapi, tubuh ku begitu sangat gatal. Aku memang tidak bisa memakan makanan yang terbuat dari kacang."
Caca terkejut, bagaimana bisa anak itu memiliki alergi yang sama seperti suami nya. Caca menatap anak itu, air mata nya menetes. Tidak lama kemudian, Shinta membawa Raisa ke kamar Syifa untuk nanti di periksa oleh dokter. Dokter datang dan memeriksa keadaan Raisa.
Dokter menjelaskan jika Raisa memiliki alergi kacang yang sangat serius, diri nya begitu sangat sensitif. Memakan sedikit saja, bisa membuat kulit nya terluka atau terbakar. Dokter pun memberikan obat dan salep untuk di berikan kepada Raisa. Caca dengan lembut dan perhatian, mengoles kan salep itu di tubuh Raisa.
"Nak, Tante minta maaf ya. Tante nggak tahu, jika Raisa alergi terhadap makanan yang terbuat dari kacang-kacangan."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Tante, Raisa baru pertama kali nya main ke sini. Raisa juga tidak mengatakan apa yang bisa atau tidak Raisa makan, bagaimana Tante bisa tahu. Ini semua bukan lah kesalahan Tante. Raisa juga sangat berterimakasih kepada Tante, om dan seluruh keluarga ini. Kalian sangat baik kepada Raisa. Dan memperlakukan Raisa sangat luar biasa. Terimakasih Tante, Om. Karena kalian, Raisa bisa merasakan kehangatan di dalam keluarga."
"Sama-sama, Sayang. Jangan merasa seperti itu, Raisa bisa main ke sini kapan pun Raisa mau." ujar Shinta yang tersenyum ramah kepada teman dari anak nya itu. Syifa menyuruh Raisa untuk menginap di rumah nya. Namun, Raisa menolak. Bagaimana pun, ia harus mengikuti peraturan yang ada di asrama sekolah. Syifa merasa begitu sedih, Arvan yang tak tega melihat anak nya sedih pun ingin menghubungi pihak sekolah. Namun, Caca melarang nya.
"Walau pun sekarang keluarga kita yang memiliki sekolah, Bukan berarti kita bisa seenak nya. Peraturan tetap lah peraturan. Jika, kita sendiri memberikan contoh yang sangat tidak baik. Bagaimana murid-murid lain akan mengikuti peraturan yang ada di sekolah? Aku mohon, jangan memberikan contoh yang akan membuat anak-anak kita lalai dengan peraturan yang ada." bisik Caca. Arvan pun mengangguk, membatalkan rencana nya.
"Sayang, Raisa akan menginap di sini. jika hari libur, pihak sekolah akan mengizinkan anak murid nya untuk pulang jika hari libur. Kakak Syifa jangan sedih dong, kan masih ada hari libur." ujar Caca yang menghibur anak nya
"Baik lah, jika hari libur sekolah. Kau menginap lah di rumah ku, Raisa. Mama dan papa ku tidak akan keberatan. Iyakan ma?" tanya Syifa yang menoleh ke arah Shinta. Shinta pun mengangguk
"Kapan pun Raisa ingin bermain di sini, selama itu tidak menganggu sekolah kamu. Rumah ini terbuka lebar untuk kamu, Sayang. Jadilah anak yang pintar dan membanggakan untuk keluarga mu ya nak. Buat lah ibu panti mu bangga, jika Raisa sukses. Raisa juga bisa membantu adik-adik Raisa yang ada di panti."
"Iya, Tante. Terimakasih sudah mau menerima Raisa dengan sangat baik."
"Sama-sama, Sayang." Shinta mengelus rambut Raisa dengan penuh keibuan. Raisa memejamkan mata nya, merasakan ketulusan yang di berikan oleh keluarga teman nya itu, membuka mata nya perlahan. Ia melihat jam sudah menunjukan pukul empat sore, diri nya harus segera kembali ke asrama sekolah. Jika tidak, diri nya bisa di hukum.
"Kalau begitu, Raisa pamit pulang ke asrama sekolah dulu ya, Tante."
"Raisa akan di antar oleh supir pribadi kami ya nak."
"Tidak usah, biar aku saja. Sekalian kami jalan pulang." ujar Caca menimpali, Raisa menolak dengan sopan.
__ADS_1
"Ti-tidak usah, Tante. Raisa nggak ingin merepotkan kalian, Raisa bisa pulang sendiri kok."
"Tidak merepotkan, Sayang. Kami juga sekalian jalan pulang kok."