
Caca dan Arvan sampai ke rumah orang tua Shinta.
"Ayo masuk!" sambut ibu nya Shinta.
"Terimakasih, Bu." semenjak Shinta dan Caca semakin dekat, Caca juga sangat dekat dengan kedua orang tua Shinta. Kedua orang tua Shinta pun menganggap Caca sebagai anak mereka sendiri. Caca dan Arvan pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu bersama Ayah, ibu dan anak-anak Shinta.
"Anak mami." ucap Caca dengan gemas melihat si kembar Alan dan Alana.
"Tadi Tata menghubungi Caca dan memberitahu bahwa Baby Alan dan Alana tidak jadi ikut, dan tinggal di sini bersama Ibu dan Ayah."
"Iya, Sayang. Si kembar masih sangat kecil untuk berpergian jauh seperti itu. Jadi, Ibu dan Ayah memberikan usulan pada Tata dan Revan agar si kembar tinggal di sini bersama Ibu dan Ayah." ucap Syafa dan memberikan Alana pada Caca. Caca pun menggendong tubuh mungil Alana dan mencium pipi anak dari mantan suami sekaligus sahabat nya. Alana pun terkekeh kecil memandangi wajah teduh Caca.
"Kalian sudah makan?"
"Sudah, Yah."
Drtd.... Drttt... Drttt.....
Arvan segera mengambil ponsel genggam dari saku nya. Arvan izin kepada semua yang ada di situ untuk mengangkat telepon nya. Lalu, Arvan menerima telepon dari seseorang. Wajah Arvan tampak cemas setelah mematikan telepon tersebut.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Iya, ada apa? mengapa kau tampak khawatir sekali, nak?"
"Sayang, kenapa?" Caca pun ikut merasa cemas melihat reaksi suami nya setelah menerima telepon dari seseorang itu.
"Siapa yang menelpon mu? dan ada apa? mengapa kau tampak sangat cemas?"
"Tadi karyawan ku menelpon dan berkata bahwa kantor ku kebakaran. Aku harus pergi untuk melihat nya."
"Aku ikut."
"Tapi, Sayang?"
"Yang di katakan suami mu benar, Nak. Apalagi saat ini kau sedang mengandung." sahut Gunawan. Caca tidak dapat membantah, ia sangat menghormati keputusan dari Ayah Shinta yang ia anggap seperti Papa kandung nya sendiri.
"Hati-hati ya." hanya itu yang bisa Caca ucap kan.
"Aku pamit dulu ya." Arvan mengecup kening Caca.
__ADS_1
"Yah, Bu. Arvan pergi dulu ya, tolong titip Caca."
"Baik lah, Hati-hati ya." Arvan pun segera pergi meninggal kan mereka. Caca merasa sangat cemas
"Tenang lah, nak." Syafa mencoba menenang kan Caca.
"Semoga tidak terjadi apa-apa." sahut Gunawan. Gunawan dan Syafa berusaha meyakinkan Caca bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, tetap saja Caca merasa sangat gelisah. Sudah 2 jam Arvan pergi dan belum juga kembali atau memberi kan kabar sedikit pun. Berulang kali Caca mengecek ponsel nya, apakah arvan sudah mengabarin diri nya atau belum.
"Bagaimana ini, Bu." tanya Caca dengan lemas.
"Tenang lah, ingat kamu tidak boleh banyak pikiran, Sayang." Syafa mengelus pundak Caca. Caca hanya bisa berdoa sambil memeluk Alana dengan penuh kasih sayang seakan Alana memberikan kekuatan pada Sahabat dari Ibu nya tersebut.
"Mengapa ia belum kembali atau pun memberi kan kabar, Bu?"
"Mungkin suami mu sedang mengurus semua nya nak, bersabar lah!" Gunawan pun berusaha untuk menenangkan Caca.
"Semua akan baik-baik saja, percaya lah." Caca ingin sekali percaya akan ucapan Syafa, namun kegelisahan nya belum juga berakhir
"Semoga tidak terjadi apa-apa, Tuhan." pinta Caca dalam hati
__ADS_1