Ibu Sambung

Ibu Sambung
Menenangkan


__ADS_3

Revan menjaga anak dan isteri nya yang sedang terlelap. Terlihat senyuman manis di wajah nya, Revan lelaki dingin yang begitu sulit untuk tersenyum namun semenjak kehadiran Shinta merubah segala sifat dinginnya.


Setelah puas memandangi wajah sang isteri. Revan bangkit dari ranjang untuk melihat anak-anak nya yang lain. Alana tidur di kamarnya sendirian, sedangkan Alan tidur di kamar Syifa. Anak-anak nya tidur dengan pulas. Revan pun memutuskan untuk ke dapur mengambil segelas teh. Setelah mengambil teh, Revan pergi ke ruang keluarga untuk santai sejenak bersama kedua orang tua nya.


"Mama dan Papa nggak tidur siang?"


"Tidak, kamu tahu sendiri mama paling nggak bisa tidur siang, di mana isteri dan anak-anakmu?" tanya Gunawan. Revan mengatakan jika isteri dan anak-anaknya sedang tidur. Revan juga menanyakan pendapat tentang pengasuh untuk sang anak kepada mama dan papa nya. Mama Lili setuju dengan ide Revan, Tapi Tommy kurang setuju


"Jika satu anak memiliki satu pengasuh, lalu apa tugas isteri mu? Dia bisa saja lalai dengan tugas nya, dan tak memperhatikan anak-anak. Kita juga nggak tahu, gimana sifat-sifat para pengasuh itu. Mengurus dua anak apakah dia berat? Papa setuju jika kalian memakai pengasuh, tapi kan dia bisa membagi waktu untuk anak-anak nya. Dan memakai tiga pengasuh sekaligus itu akan boros. Pengeluaran kita juga banyak. Papa tahu kamu yang mencari uang tapi bukan berarti kamu bisa menghambur hambur kan nya."


"Ini bukan masalah menghaburkan uang atau lalai dalam tugas, tapi pa ini demi kebaikan anak dan isteri Revan. Papa kenapa sih nggak pernah mau ngerti." kesal nya dan memilih pergi.


"Harusnya papa jangan begitu."


"Terserah lah, papa memang tidak pernah ada benar nya di mata kalian." Tommy pun beranjak pergi meninggalkan Lily. Mama Lily yang melihat sikap suami nya pun menangis, menetes kan air mata.


Lily pun beranjak untuk menemui anak nya terlebih dahulu, memegang bahu Revan yang terlihat kesal.

__ADS_1


"Nak, Jangan salah sangka dengan papa mu."


"Revan kesal, Ma. Kenapa Papa yang sekarang begitu, selalu menentang keputusan dan pendapat kami. Kami ini anak dan menantu papa, bukan musuh nya. Lagipula, Shinta tidak mau memakai banyak pengasuh. Revan yang membujuk nya dengan susah payah. Jika, Shinta mendengar ucapan papa dia akan sedih dan tetap dengan pendiriannya."


"Sayang, mama mengerti ke khawatiran mu pada keluarga. Tapi, yang di katakan papa juga tidak salah. Kamu juga nggak salah, kalian memiliki sudut pandang yang berbeda. Itu nggak salah, Mama melihat dari sudut pandang keduanya. Nanti, Mama akan memberikan pengertian kepada Papamu. Maklum saja, Mama dan Papa mu ini sudah tua, ketinggalan jauh teknologi dari kalian. Kalau kami dulu, anak sepuluh pun bisa menjaga sendiri. Sudah, jangan di ambil hati ucapan papa mu. Kita juga dulu, bukan berasal dari keluarga yang kaya. Jadi, papa mu lebih mengajari kita untuk mendahulukan yang paling penting. Semua memang penting, tapi ada yang jauh lebih penting nak, Mama harap kamu mengerti dengan ucapan mama." Revan pun mengangguk dengan ucapan sang mama


"Andai Revan memiliki sifat seperti mama yang begitu bijaksana dan lembut. Tidak mudah emosi."


"Sifat papa mu juga tidak terlalu buruk, hanya saja sedikit tidak sabaran seperti anak mama yang satu ini." Mama Lily berusaha memecahkan suasana yang tegang.


"Terimakasih ya, Ma. Sudah menjadi mama yang terbaik untuk Revan. Selalu sabar dengan sifat Revan yang terkadang menyebalkan. Bahkan, tidak sedikit Revan membuat mama sakit dan terluka, bahkan membuat mama menangis. Tapi, mama selalu sabar dan selalu sayang sama Revan." mama Lily pun menjadi terharu dengan ucapan anaknya. Mama Lily segera memeluk Revan.


"Walau kamu sudah menjadi seorang ayah atau pun kakek, kamu adalah bayi kecil nya mama. Rasa sayang mama tidak akan pernah berubah untuk kamu anak nya mama. Kasih ibu kepada anak itu sepanjang masa. Jadi, mama minta kamu bisa menyayangi dan menghormati isteri mu. Perjuangannya sangat besar dan tidak lah mudah untuk melahirkan juga membesar kan anak-anak mu. Butuh kesabaran dan tenaga yang sangat extra."


"Iya, Ma."


"Sudah lah, masuk ke dalam kamar dan lihat isteri beserta anak-anak mu."

__ADS_1


"Iya, Ma." Revan melepaskan melepaskan pelukkan mereka dan berpamitan kepada mama nya untuk pergi ke kamar. Sebelum meninggalkan mama Lili, Revan mencium sang ibu dengan penuh sayang dan juga air mata.


Sebesar apapun anak, seorang anak tetap lah anak yang manja kepada ibu nya, tidak perduli seberapa tua usia nya. Ia akan menjadi anak kecil yang manja jika bersama ibu tercinta. Apalagi, Mama Lily tidak pernah memarahi Revan sedari kecil. Jika Revan melakukan kesalahan, mama Lily selalu menegur dan memberikan pengertian dengan lembut.


**********


Shinta yang terbangun, melihat tidak ada suami di sisi nya. Mulai mencari di sisi lain, namun tidak ada siapapun hanya ada ia dan baby nya. Shinta ingin beranjak dari tempat tidur. Namun, suara pintu kamar nya bunyi. Orang yang ia cari masuk kedalam kamar. Shinta melihat wajah suami nya yang sembab. Segera ia beranjak dari tempat tidur mendekati sang suami, menanyakan apa yang terjadi hingga suami nya menangis.


"Sayang, kenapa?"


"Tidak ada."


"Jangan bohong! Issss, kenapa." manja Shinta yang memeluk Revan, Revan yang tak kuasa pun menangis di pelukkan isteri nya.


"Tadi, habis berbincang dengan mama. Rasanya sudah lama sekali, aku tidak berbincang dan di peluk oleh mama karena diri ku selalu merasa malu dan cuek kepada mama. Nyata nya, dengan sikap ku yang begitu menyebalkan, mama masih saja tetap peduli dengan ku. Rasanya sangat bahagia sekali, saat mama memelukku dan memberikan ketenangan hati. Awalnya, tadi aku sempat bertengkar sedikit dengan papa karena pemikiran kami yang berbeda. Tapi, mama tetap berusaha netral tanpa membela siapa-siapa. Mama memang mama yang sangat baik. Rasanya aku menyesal sekali, selalu membuat mama menangis dan sedih sewaktu remaja."


"Sudah ya ganteng ku, jangan menangis lagi dong. Masa sih ganteng nya aku nangis kaya gini. Katanya jagoan, katanya pria yang tidak lemah. Kenapa menangis, sudah ya? Jika begitu, mulai sekarang. Jangan pernah lagi membuat mama dan papa bersedih karena sikap atau perkataan mu. Mereka orang tua kita, jadi udah tugas kita sebagai anak untuk selalu membuat mereka bahagia dan melindungi mereka. Sudah dong, Sayang ku jangan menangis ganteng ku." Shinta mencoba menenangkan suami nya yang begitu mewek.

__ADS_1


__ADS_2