
"Iya, Mama. Semut nya jaat, menggigit lehel mami. Makanya mami teliak kecakitan tadi malam."
Uhuk...
Mendengar ucapan Alana yang begitu polos, Caca dan yang lain nya pun tersedak. Terutama Shinta, begitu antusias ingin mendengar kan cerita anak nya dan meledek Caca padahal tadi malam diri nya pun melakukan ritual yang sama. Ibu Syafa dan Kaynara hanya menggeleng kan kepala dan tersenyum saja. Syifa yang bingung tak mengerti hanya bisa melanjut kan makanan nya. Syifa menyuapi adik lelaki nya yaitu Alan.
Caca yang malu pun hanya meminum segelas air dengan rasa canggung.
"Semut nya sangat besar ya, nak?" pancing Shinta dengan jahil. Caca melihat ke arah Shinta dan menatap dengan sinis. Sedang kan Shinta hanya meledek ke arah Caca. Alana ingin berbicara kembali namun Syafa melarang dan menyuruh cucu nya untuk menghabis kan sarapan nya.
********
Setelah sarapan, Revan dan Arvan pun pergi untuk bekerja. Hari ini juga hari pertama Syifa masuk ke jenjang sekolah menengah pertama (SMP), Revan mengantar Puteri sulung nya ke sekolah. Sebelum berangkat Syifa pamit kepada semua orang.
"Semoga hari pertama mu sekolah menyenang kan, Sayang." ucap Caca yang memeluk dan mencium kening
__ADS_1
Syifa. Shinta memberi kan bekal makanan untuk Syifa, ia pun meminta Syifa untuk tidak jajan sembarang di luar sana. Karena itu kurang lah sehat, Syifa pun berangkat bersama Papa nya
******
Di sisi lain, terlihat Shinta yang sedang bersantai di kamar membaca buku majalah sambil menikmati makanan ringan. Caca masuk dan mengganggu nya
"Pergi lah!" usir Shinta
"Tidak!"
"Siapa juga yang ingin bercanda." sambung Caca lagi. Caca pun tidur di samping Shinta yang masih fokus dengan majalah nya.
"Apa kau tahu, aku begitu sangat kebingungan menghadapi Alana." Shinta pun menahan tawa, dan pura-pura fokus terhadap majalah nya.
"Aku tidak tahu." jawab Shinta dengan dingin nya. Caca yang merasa sebal karena Shinta tak menggubris nya ia memilih tidur di samping Shinta.
__ADS_1
Setelah Kaynara dan Rangga pindah, mereka juga akan pulang kerumah masing-masing dan menjalankan kehidupan masing-masing seperti semula. Bulan depan, kedua orang tua Revan juga kembali dari luar negeri. Shinta begitu sangat merindukan Ibu dan Ayah Mertua nya. Sudah berapa tahun belakangan ini mertua nya tidak bisa pulang di karena kan virus yang sedang menyerang beberapa negeri.
**********
Ibu Syafa pun merenung, ia sudah terbiasa dengan keramaian dan kegaduhan kegaduhan jail yang biasa di lakukan oleh anak dan cucu nya. Kini, tinggal beberapa hari lagi mereka di sini. Kembali seperti semula di saat Shinta sudah menikah. Syafa hanya tinggal berdua dengan suami nya. Gunawan yang melihat isteri nya melamun pun mencoba untuk mendekati sang isteri.
"Ada apa?" tanya Gunawan dengan lembut nya.
"Tidak ada, Mas."
"Jangan berbohong pada suami mu ini." walau sudah tua dan memiliki cucu keromantisan Gunawan dan Syafa tidak pernah pudar. Bahkan semakin tua semakin romantis.
"Aku tahu kamu berbohong dan menyembunyikan sesuatu dari ku" ucap Gunawan dengan lembut
"Tidak, saya hanya akan merasa kesepian jika anak anak kembali kerumah suami mereka. Saya sudah terbiasa dengan keramaian yang di buat oleh mereka.
__ADS_1
"Sayang, mereka sudah dewasa dan menikah. Biar lah mereka menjalan kan kehidupan sebagai orang tua. Tugas kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan saja."