
Didalam ruangan terdapat Shinta yang sedang berbaring, Ayah dan Ibunya masuk kedalam ruangan. Segera Syafa mendekati dan memeluk tubuh anaknya. Seorang Ibu yang selalu cemas jika anaknya sedang terluka, sakit, maupun sedih. Kasih sayang yang Syafa berikan menjadikan Shinta menjadi wanita yang sangat lembut terhadap anak kecil. Ia mewarisi sifat ibunya yang keibuan.
"Ay...Ayah..Ibu ma...maafkan Tata karena pergi tak izin kalian" Melepaskan pelukan ibunya. Air mata nya mengalir deras, ia menyesali perbuatannya. Walau umurnya sudah sangat dewasa, namun ia tetap bertingkah layaknya anak kecil jika dihadapan orang tuanya. Ayah Shinta mendekati tubuh anaknya, menggenggam tangan pucat anaknya dan memeluk Puteri kesayangannya itu.
"Kamu gak salah sayang, Ayah yang meminta maaf karena sudah menampar kamu. Ayah sangat takut kamu kenapa-kenapa. Apalagi sekarang kamu menjadi anak yang tidak penurut" Ucap Ayahnya dengan penyesalan. Shinta tak menjawab ucapan ayahnya ia memeluk erat tubuh ayahnya. Gunawan mencium pucuk kepala anaknya. Melirik isterinya yang masih tak mau berbicara kepadanya. Syafa memalingkan wajahnya dari sang suami, dia masih tak rela jika suaminya bersikap kasar kepada anaknya. Ibu mana yang tak sakit hati jika ada yang membentak atau memukul anaknya sekalipun itu suaminya sendiri. Ruangan menjadi sangat tegang, Shinta menyadari sikap kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu. Tata sudah tak apa, Tata sebentar lagi akan praktek sebaiknya ibu dan ayah pulang kerumah dan beristirahat" Tersenyum lebar pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Apa tak sebaiknya kau beristirahat saja di rumah sayang? emmmm" ucap ibunya lembut, memegang lembut pipi anaknya yang memerah akibat tamparan dari sang suami.
"Masih sakit kah?" Tanya Syafa lagi, Shinta menggenggam tangan ibunya, dan menjauhkan tangan ibunya dari pipi yang memerah itu dengan lembut. Sebenernya masih sangat sakit namun ia tak ingin ibunya khawatir, Shinta menutupi rasa sakitnya.
"Tata sudah gak kenapa-kenapa kok Bu" Tersenyum.
"Baiklah ibu akan pulang, jaga dirimu baik baik nak" mencium kedua pipi, dan hidung Shinta. Syafa beranjak keluar dari ruangan itu dan meninggalkan suaminya tanpa berkata apapun.
__ADS_1
"Iya yah" ucap Shinta. Gunawan mengikuti sang isteri dari belakang. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka, bahkan di dalam mobil Syafa tak mengeluarkan satu kata pun. Hanya suara nafas mereka saja yang terdengar, mobil terhenti di depan rumah mereka, Syafa langsung keluar dari mobil tanpa menghiraukan suaminya lagi. Gunawan keluar dari mobil mengacak acak rambutnya dengan frustasi. Karena ia paham jika sang isteri sudah marah sangat susah untuk di bujuk. Gunawan mengikuti sang isteri dari belakang, mereka masuk kedalam rumah. Gunawan sudah tak tahan lagi akan sikap isterinya.
"Maafkan aku sayang, sampai kapan kau akan mendiamkan ku hmm" memeluk Syafa dari belakang, namun tak ada sahutan dari Syafa, tiba-tiba tubuh Syafa bergetar. Isakan tangis terdengar, Gunawan spontan langsung membalikkan tubuh isterinya.
"Aku tau aku salah, maafkan aku" menghapus air mata yang membasuhi kedua pipi isterinya. Mencium kedua pucuk Maya isterinya.
"Kumohon berbicara lah padaku" memeluk isterinya dengan penuh kasih sayang dan penyesalan. Syafa akan menjadi sangat emosional jika menyangkut dengan Puterinya.
__ADS_1
"Aku sakit jika kau melukai anak kita hiks" Akhirnya bersuara juga.
"Aku berjanji takkan mengulanginnya lagi" Syafa mengangguk dan membalas pelukan sang suami dengan sangat manja nya. Ia mencium pucuk kepala sang isteri.