
Jennika pun meletakkan piring di dapur, rumah ini begitu senyap dan sunyi.
Jennika mencuci piring bekas makan Alana. Ia langsung pergi menuju kamar Shinta kembali.
Jennika meminta Shinta untuk istirahat, biar dia yang menjaga Alan dan Alana.
Namun, Shinta menolak. Ia ingin fokus menjaga anak-anak nya sendiri.
"Tidak perlu Jen, aku akan mengurus mereka sendiri. Kau lebih baik tidur saja."
Jennika pun tak mau memaksa, ia tidak mau keadaan Shinta semakin drop.
Jennika pun pamit ingin kembali ke kamar nya.
*******
Di sisi lain, Rival merasa frustasi mencari keberadaan jennika yang tak juga ketemu.
Ia mengetahui kabar kematian anak nya Shinta. Namun di pemakaman, ia tidak melihat keberadaan jennika.
"Apa mungkin dia tidak tau kabar itu? Atau memang jennika di sembunyikan oleh dokter Shinta?"
Rival begitu kesal, ia sudah mencari keberadaan jennika di mana pun namun tidak ketemu.
Rival tidak rela, jika Jennika pergi menjauh dari nya.
Rival merindukan tubuh jennika. Ia juga sudah lama tidak melihat penderitaan Jennika.
Rival seperti seorang psikopat, ia bahagia melihat jennika yang menderita. Ia juga membayangkan bagaimana diri nya bermain dan menikmati tubuh jennika..
Menikmati di setiap jeritan-jeritan jennika yang menangis dan meminta ampun.
Mengingat itu, ia kembali kesal.
Rival berjanji akan mencari keberadaan jennika di mana pun wanita itu berada. Ia tidak akan membiarkan jennika hidup dengan tenang.
Rival pun mencoba mengubungi suami jennika. Bertanya bagaimana perkembangan suami jennika mencari keberadaan jennika.
Namun suami nya terdengar sangat santai dan tidak terlalu memusingkan keberadaan jennika.
Ia memang sudah ingin melepaskan jennika, dan suami jennika berkata jika ia sudah tidak memerlukan jennika lagi.
Rival menahan amarah nya saat mendengar ucapan itu, namun ia harus berusaha tetap Normal dan mendukung keputusan suami jennika agar bisa mengendalikan suami jennika.
"Bro, gue hargai semua keputusan Lo. Tapi, gue saranin Lo juga harus ingat bagaimana anak Lo mati."
Rival tersenyum puas, ia yakin ucapan nya berhasil membuat suami jennika kembali merubah pikiran nya.
Setelah mengatakan itu, Rival mematikan ponsel nya
Mungkin, jika Jennika tidak mengkhianati dan menikah dengan Rival. Ia pasti akan membahagiakan jennika sebagai seorang ratu.
Apalagi, cinta Rival begitu besar untuk jennika. Namun, sakit hati yang ia rasakan karena wanita itu mengubah nya menjadi iblis.
******
Revan berada di kamar ke dua orang tua nya, kepala nya terasa sangat penat.
Mama Lily membuat kan segelas kopi untuk Revan.
"Minum lah, nak. Jangan terlalu memikirkan hal ini. Percaya lah semua akan baik-baik saja. Ini hanya mengenai waktu."
Revan mengambil segelas kopi di tangan mama nya, ia pun menyeruput kopi itu perlahan-lahan.
"Terimakasih ma,"
Memang di saat kepala begitu penat, dan dada begitu sesak. Hanya ibu yang bisa menenangkan anak nya.
Tommy meminta istri nya untuk menemani sang anak, ia akan pergi ke kamar tamu lain untuk istirahat.
Lily mengangguk, saat ini Revan tidak bisa sendirian.
Sebesar atau se-dewasa apapun kita, kita tetap lah anak kecil di mata seorang ibu.
Lily kembali menyemangati anak nya.
Ia juga tidak menyalakan menantu nya atas itu semua.
Revan pun kembali menceritakan semua yang terjadi kepada mama nya
"Mengapa kakak nya Caca begitu jahat? Dan dia juga tidak mengenal keluarga kita mengapa dia begitu?" tanya mama Lily yang juga merasa kesal.
Revan mengatakan jika kakak nya Caca di pengaruhi oleh mendiang Elsa.
"Cia tumbuh bersama Elsa, mama tau bagaimana jahat nya wanita itu. Ia selalu memakai topeng di depan Cia, seolah dia lah yang selalu tersakiti di sini. Padahal, Elsa lah penyebab semua kekacauan yang terjadi."
Revan tidak menyangka, jika ada seorang ibu yang bersifat sangat buruk.
Ia rela melakukan segala cara untuk tergapai pembalasan dendam nya, walau anak menjadi korban
__ADS_1
"Keegoisan nya sudah menghancurkan hidup Caca anak nya, dan sekarang. Ia merusak masa depan anak yang lain nya hanya karena pencapaian dendam nya. Revan tidak mengerti ma, di saat ia sudah tiada pun ia masih meninggalkan rasa dendam itu."
Lily kembali menenangkan anak nya agar Revan bisa mengendalikan diri dan tidak terbawa emosi.
"Ma, bukan Revan yang meninggalkan Caca. Caca juga meninggalkan Revan dan Syifa juga karena keinginan Elsa, namun mengapa di saat tujuan nya sudah terpenuhi ia tidak merasa puas ma? Mengapa seolah-olah Revan yang meninggalkan anak nya demi wanita lain?"
Revan tidak mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh mending ibu nya Caca.
"Sudah lah nak, percuma kamu kesal. Dia juga sudah tenang di sana. Sudah ya? Tugas kita saat ini yang terpenting adalah membantu istri mu menyembuhkan luka nya. Karena di sini kalian semua korban, dan Shinta juga korban. Dia korban yang tidak bersalah dan tidak tau menau tentang masa lalu kamu."
Revan mengangguk, namun bagaimana ia bisa membantu istri nya jika istri nya terus saja bersikap dingin dan menghindar dari nya.
*******
Keesokan pagi nya, semua orang sarapan seperti biasa..
Shinta tidak membiarkan pekerja masuk ke dalam rumah nya kecuali kepala pelayan yang sudah lama bekerja.
Sementara pekerja yang lain, di istirahat kan di rumah belakang.
Jika Shinta di kamar atas, baru lah pelayan dan pekerja lain nya mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Shinta meminta ke dua anak nya untuk duduk di samping nya..
Alan dan Alana ingin melahap makanan mereka, namun Shinta menghentikan nya.
"Tunggu nak, mulai sekarang. Sebelum Alan dan Alana makan atau minum. Mama akan terlebih dahulu mencicipi nya. Setelah mama memastikan ini semua aman, baru kalian memakan dan meminum nya oke?"
Shinta tersenyum kepada ke dua anak nya, Alan dan Alana yang tidak mengerti apa ucapan mama nya pun hanya mengangguk.
Revan ingin memprotes, namun mama Lily menghentikan anak nya..
Lily mengerti, sikap Shinta begitu karena ia merasa trauma.
Setelah memastikan makanan dan minuman untuk ke dua anak nya aman baru lah Shinta mempersilahkan anak-anak nya untuk makan.
Revan takut hal itu melukai hati kepala pelayan.
"Pak Muh, saya minta maaf jika tindakan istri saya mungkin menyakiti hati anda."
"Tidak nak, Revan. Bapak mengerti, apalagi kalian juga baru mengalami peristiwa yang buruk. Dan pelaku nya adalah salah satu di antara kami, saya memakluminya."
Revan berterimakasih kepada kepala pelayan yang sudah memaklumi sikap Shinta.
Namun apakah itu tidak berlebihan? Shinta bisa saja menyakiti hati para pekerja nya.
Shinta menatap suami nya dengan tajam.
Ia tidak mau jika masalah kembali runyam, lebih baik mereka mengalah daripada Shinta menjadi histeris atau bagaimana
"Iya, nak. Mama, papa dan juga suami mu tidak keberatan untuk itu." ujar Lily yang tersenyum kepada menantu nya.
Shinta tersenyum terharu, akhir nya ada yang memahami dan mengerti perasaan nya.
"Terimakasih banyak ma sudah mengerti Tata."
Jennika pun hanya bisa diam, memakan sarapan nya. Sebagai tamu di rumah ini ia tidak mempunyai hak untuk ikut campur bukan?
Namun, sebenarnya jennika juga tidak setuju dengan sikap Shinta sekarang.
Tanpa sengaja, mungkin Shinta bisa melukai hati banyak orang.
Tidak semua orang bisa memahami dan mengerti Shinta, namun jennika tidak bisa berbuat apapun..
Shinta menoleh ke arah jennika.
"Jen, aku akan mengantar anak-anak ke sekolah, kamu ke kamar aja. Takut nya, nanti saat aku tidak ada. Suami mu kembali datang ke sini."
Lily dan Tommy juga sudah mengetahui masalah yang di alami oleh jennika.
"Ada mama dan papa. Jika nanti suami nya datang dan bertanya kami akan mengatakan jika jennika tidak ada di sini. Jangan khawatir." ujar Tommy, Shinta mengangguk.
Jennika mengatakan kepada Shinta jika ia tidak perlu mengkhawatirkan diri nya.
"Ta, setelah ini aku akan langsung masuk ke kamar. Jangan khawatir."
"Sayang, biar aku yang mengantarkan anak-anak." Revan memberikan penawaran kepada istri nya namun Shinta menolak.
"Tidak perlu, biar aku saja yang mengantar anak-anak."
Revan tak mau berdebat lagi, ia pun meninggalkan meja makan itu. Berpamitan kepada ke dua orang tua nya untuk pergi ke kantor.
Alan dan Alana ingin berangkat bersama papa nya.
Revan menatap Shinta, Shinta pun tidak bisa menolak permintaan anak-anak nya.
Revan tersenyum, ia pun mengantar istri dan anak-anaknya ke sekolah.
Mereka pun berpamitan kepada Lily dan Tommy.
__ADS_1
Shinta menuntun ke dua anak nya masuk ke dalam mobil, Shinta duduk di belakang bersama Alan dan Alana.
Revan tidak mau mempermasalah kan hal itu, ia langsung melajukan pegal gas mobil nya.
Tidak ada pembicaraan di antara ke dua nya, hanya ada kebisingan dari kegaduhan Alan dan Alana..
Shinta menatap luar jendela dengan pandangan yang kosong, sesekali air mata nya jatuh. Membasahi pipi nya yang putih.
Revan tidak tau mau sampai kapan semua nya terus begini
Ia akan berbicara kepada istri nya setelah mengantarkan anak-anak.
Mereka pun sampai di sekolah TK tempat Alan dan Alana belajar.
Shinta turun membawa ke dua anak nya ke dalam, Revan pun mengikuti istri nya.
Setelah mengantarkan anak-anak ke kelas. Revan memegang tangan Shinta..
"Aku ingin bicara."
Shinta melihat jam di tangan nya
"Lain kali saja, kau sudah terlambat."
"Perusahaan itu milik ku, aku bebas mau datang kapan saja. Jangan mencari alasan!"
Namun Shinta mengatakan jika ia tidak mau bicara dengan suami nya.
"Lain kali saja."
Shinta berjalan menjauhi Revan, Revan berteriak dengan kesal..
"Mau sampai kapan kamu begini?"
Shinta menghentikan langkah nya. Ia pun berbalik mendekati suami nya.
"Enggak tau!"
"Bukan cuman kamu yang kehilangan anak, aku juga!" teriak Revan kepada Shinta.
Shinta meneteskan air mata nya, lalu menghapus nya. Dengan suara yang berat dan bergetar ia mengatakan kepada suami nya untuk memberikan nya waktu.
"Kalau gitu, kasih dong aku waktu untuk bernafas, untuk aku menerima semua nya..Untuk menerima segala nya tanpa membenci keadaan!"
"Kamu sudah membenci keadaan Shinta, bahkan kamu membenci ku, dan masa lalu ku. Bahkan kamu membenci Syifa yang tidak tau apa-apa!"
Shinta terdiam sejenak, mengambil nafas panjang.
Dada nya masih terasa sesak, ia menatap suami nya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Karena memang masa lalu mu yang sudah membuat ak-aku kehilangan anak aku!"
"Aku tau, tapi apa kesalahan ku, kesalahan Caca dan juga Syifa? Aku juga enggak mau anak kita meninggal, apa kamu pikir aku bahagia? Caca bahagia? Enggak! Kita semua ini korban."
"Cukup, Van! Kalau kamu bilang korban. Yang menjadi korban di sini aku dan anak aku Al! Al yang tidak tau apa-apa. Aku yang enggak ada di saat kamu dan masa lalu kamu mengalami semua kesulitan itu! Aku enggak ada, anak aku enggak. Tapi kenapa kami yang selalu menjadi sasaran? Mau sampai kapan ini terus berlanjut? Dulu, aku udah menderita karena masa lalu mu. Dan sekarang, anak aku meninggal karena masa lalu mu..Mau sampai kapan? Sampai kapan aku dan anak-anak ku menanggung semua nya?"
Shinta menatap tajam suami nya, ia meminta Jawaban dari semua ketidakadilan ini.
"Ya aku enggak tau, aku selalu berusaha menghindar dan melindungi kalian."
"Tapi nyata nya anak aku meninggal!"
Sulit sekali untuk Shinta menerima segala nya.
"Kamu jangan gini dong, Ta!" ujar Revan ia tidak bisa melihat istri nya terus-terusan menjadi seperti ini "Kamu gini juga enggak bisa ngembaliin Al!"
"Lalu? Apa aku berubah seperti biasa bisa kamu balikin anak aku? Bisa? Jawab Van! Kalau bisa, aku akan balik seperti dulu! Engga kan? Atau harus nunggu kehilangan lagi?"
Revan memukul dinding, untung saja suasana sekolah itu sepi.
Tidak ada yang mendengar pertengkaran mereka.
Shinta menghapus air mata nya berlalu pergi meninggalkan suami nya.
"Terus saja kamu lari dari masalah! Terus pergi sana, pergi yang jauh!" teriak Revan kepada Shinta namun Shinta tidak menghiraukan ucapan suami nya.
Revan menganggap Shinta terlalu berlebihan padahal Revan yang tidak mengerti tentang rasa sakit dan penderitaan yang di alami oleh Shinta.
Revan tidak tau lagi apa yang harus ia katakan dan jelaskan kepada istri nya agar Shinta mengerti dan menerima semua kenyataan ini..
Bukan hanya Shinta yang merasa hancur dan kehilangan, Revan pun merasakan hal yang sama.
"Apa kau berfikir hanya kau saja ibu nya? Jika kau ibu nya, aku ayah nya. Aku juga merasakan sakit dan kehilangan yang sama."
Revan berulang kali memukul dinding dengan keras hingga menyebab kan tangan nya luka dan penuh darah.
Shinta duduk di taman belakang sekolah anak nya, di situ ia menangis sejadi-jadinya.
Ia benci dengan semua keadaan ini, sekejap kebahagiaan nya di ambil dengan paksa oleh kenyataan..
__ADS_1
Takdir apa ini? Mengapa takdir bersikap tidak adil kepada ku? Kenapa harus aku dan anak ku? Kenapa aaaahhhsss!
Shinta menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan rasa sakit dan kepedihan nya.