Ibu Sambung

Ibu Sambung
Season - Tak suka


__ADS_3

"Tidak usah, Sayang. Aku pergi sendiri saja, kau juga harus ke kantor bukan?"


"Iya, sih. Tetapi, bagaimana bisa aku membiar kan isteri ku berpergian sendiri?" Shinta pun mencoba meyakin kan suami nya bahwa ia tak akan kenapa-kenapa


"Baik lah, jika kau takut aku pergi sendiri. Aku akan minta supir mengantar ku." akhir nya Revan pun mengizin kan Shinta pergi, Shinta mencium pucuk tangan Revan, lalu pria itu pun mencium kening isteri nya.


"Hati-hati, kabarin aku jika kau sudah sampai."


"Iya, Sayang."


Mereka pun saling berpelukan satu sama lain, lalu kedua nya melepas kan pelukkan itu.


********


Syifa bermain dengan adik-adik nya juga nenek dan kakek dari Papa nya. Terlihat, wajah Syifa sangat tidak bersahabat. Lili yang melihat cucu nya seperti tidak nyaman pun mendekati Syifa


"Cucu nenek yang cantik, kenapa cemberut?"


"Tidak apa nek!" jawab nya singkat, ia tak ingin meluap kan segala keluh kesal nya.


"Nenek tahu kamu lagi kesal, Sayang. Selain nenek ini nenek mu, nenek juga ibu mu. Nenek yang sudah merawat mu sedari kau belum genap satu bulan. Jangan berbohong pada nenek mu ini, apa cucu kesayangan nenek ini nggak mau lagi berbagi cerita dengan nenek nya?" mendengar ucapan sang nenek, Syifa pun menangis dan memeluk nenek nya.


"Kakak, kenapa menangis?" tanya Alana dengan wajah imut nya. Alan pun langsung menoleh ke arah kakak nya. Syifa segera menghapus air mata dan mencoba tersenyum kepada ke dua adik nya.


"Kakak tidak menangis, Adik. Mata kakak hanya sedikit berdebu saja."


"Cini Alana embus."


"Alan juga mau hembus mata kakak."


Kasih sayang dan perhatian yang di berikan kedua adik nya membuat Syifa merasa terharu. Syifa pun melepas kan peluk kan nya dari sang nenek lalu memeluk ke dua adik kembar nya.

__ADS_1


"Kalian adik-adik tersayang kakak."


Kami juga sayang cama kakak


"Gitu dong, kakak adik harus saling menyayangi." ucap Mama Lili.


"Alan dan Alana, Sayang. Kalian bermain sama kakek dulu ya? nenek mau ngomong sama kakak kalian. Boleh, nak?"


"Boleh nenek." Alan dan Alana pun pergi meninggal kan kakak dan nenek nya berdua, setelah melihat kedua cucu nya menjauh. Mama Lili mengelus rambut panjang cucu nya.


"Sekarang, cucu nenek cerita sama nenek ada apa?"


"Syifa sedih nek, sekarang Papa sangat berubah. Selalu memarahi Syifa padahal hanya masalah kecil, Syifa merasa seperti di abai kan." Syifa menghapus kembali air mata nya yang berlinang membasahi pipi.


"Sayang. Mama dan Papa itu sangat menyayangi kamu, kamu adalah kesayangan kami."


"Tidak nek! Syifa akuin kalau mama Shinta begitu menyayangi Syifa, mama juga tidak pernah berubah kasih sayang nya. Tetapi, Papa jauh sangat berbeda, apa papa sudah tidak sayang lagi pada Syifa?" suara nya terdengar semakin terisak, Lili berusaha menenang kan cucu nya.


"Sayang, itu semua tidak seperti yang Syifa pikir kan. Mungkin saja papa sedang ada masalah atau tidak enak badan. Atau mungkin perusahaan papa sedang kacau sayang makanya papa mudah marah. Kamu kan tahu memang bagaimana watak papa mu yang sangat mudah marah kan? kamu ingat nggak sayang? dulu sewaktu belum ada mama Shinta di kehidupan kita, papa juga sering marah tidak jelas. Bahkan, kita sangat sering tidak bicara dengan papa, tetapi papa selalu sayang kan sama Syifa? bahkan jika ada yang menyakiti Syifa, papa orang pertama yang akan melindungi Syifa?"


"Sayang, semua orang itu tidak ada yang sempurna. Bahkan, nenek sekalipun masih banyak memiliki kekurangan dalam mendidik kamu dulu, apalagi papa mu. Sekarang, kamu sudah menjadi kakak, bahkan mama mu juga sedang mengandung. Nanti, empat anak yang harus papa mu perhati kan. Bukan hanya kamu saja, Sayang! tetapi bukan berarti mama dan papa mu tidak menyayangi Syifa. Mereka sangat menyayangi Syifa, sangat sayang. Tetapi adik-adik Syifa juga butuh perhatian dari mama dan papa. Mereka masih sangat kecil belum mengerti apapun. Dan ada nya kakak Syifa bisa membantu mama dan papa bukan?" Syifa pun memikir kan ucapan nenek nya.


*******


Caca menyambut ke datangan Shinta, ia menyuruh Shinta untuk masuk langsung ke dalam kamar.


"Sebaik nya kita bicara di kamar aja, Arvan juga nggak ada di rumah."


"Baik lah." Caca mengajak Shinta ke dalam kamar. Caca duduk di ranjang.


"Kenapa wajah mu? kaya orang sakit aja." ledek Shinta pada Caca.

__ADS_1


"Aku lagi nggak mau becanda, ini serius harus di bicarain!" ucap Caca serius.


"Oke, kita serius! kamu mau bicara apa sampai nyuruh aku ke sini? memang nya ngga bisa ke rumah aku?"


"Nggak! di sana itu rame, Ta! nggak enak lah aku ada mertua mu, di rumah aku sepi. Nggak ada siapa-siapa." ujar Caca


"Yaudah kamu mau bicarain apa?"


"Tunggu deh! aku mau ambil minum dulu."


"Yeee dasar oncom!" teriak Shinta pada sahabat nya itu. Caca pun tertawa lalu keluar kamar untuk mengambil minum. Tidak lama kemudian, Caca kembali membawa kan minuman untuk Shinta.


"Aku mau bahas tentang Syifa." Caca duduk di samping Shinta


"Kenapa dengan anak kita?"


"Dia tadi malam menghubungi aku."


"Ya emang nya kenapa? kamu kan juga emak nya dia. Wajar lah dia menelpon, yang nggak wajar kalau dia nelpon tetangga." gurau Shinta


"ishhh! aku serius, Tata!"


"Baik lah baik! aku juga akan serius, emang nya ngapain Syifa menelpon?" Caca pun menceritakan apa yang di ucap kan anak nya tadi malam dari telepon.


Bagaimana ini? apa yang harus aku katakan pada Caca? apa aku harus cerita sama dia, tapi bagaimana dengan keadaan nya jika tahu semua ini? ah aku sangat bingung... ~ batin Shinta.


"Aku juga bingung harus apa, Ca. Kau tahu kan bapak dan anak itu sama-sama keras nya. Tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Kamu pasti tahu bagaimana posisi ku sekarang. Satu sisi, suami satu sisi lagi adalah anak."


"Aku juga bingung, makanya aku suruh kamu kesini. Jika aku mengikuti ucapan Syifa, Revan pasti akan marah pada mami. Mungkin saja, dia tak akan membiar kan aku menemui Syifa. Jika aku tak mengikuti ucapan Syifa, ia akan mengira bahwa aku tak menyayangi nya dan melupakan diri nya karena sudah memiliki keluarga baru. Aku bisa saja membawa Syifa kesini." ucapan Caca terhenti karena sorotan mata Shinta yang tajam. Seakan tak menyukai ucapan Caca


"Aku bisa saja kan? tetapi aku tak ingin kau sedih!" wajah Shinta pun kembali mencoba berpikir.

__ADS_1


Wajah ke dua ibu hamil jika bicara serius, sama-sama cantik yak hihi



__ADS_2