
Syifa langsung segera ke rumah sakit saat Alan memberikan kabar jika Alana masuk rumah sakit. Hatinya gelisah, bahkan ia berlari di koridor rumah sakit agar segera menemui adiknya
"Mama, papa gimana kabar Alana?" Syifa bertanya dengan cemas "Alana selama ini mengkonsumsi obat penenang,"
"Apa? O-obat penenang?" Syifa hampir jatuh saat mendengar itu, hatinya hancur. Bagaikan di sambar petir kabar itu sangat membuat Syifa syok
"Bagaimana bisa pa? Darimana Alana mendapatkan obat penenang itu?"
"Dia meminum obat penenang punya Tante Jennika,"
Syifa ingat sekarang, pantas Alana sering kali ke kamar teman mamanya itu. Saat Syifa melihatnya Alana selalu beralasan jika ia merindukan Tante Jennika
"Sayang, kamu kenapa melamun?" Revan bertanya kepada putri sulungnya "Selama ini Syifa selalu lihat Alana masuk ke kamar Tante Jennika bahkan saat kakak tanya, Alana selalu mengatakan jika ia merindukan Tante Jennika, pa!"
Revan menghela nafas panjang "Alana sudah lama mengkonsumsi obat itu. Saat umur delapan tahun, dan kakek Gunawan juga nenek Syafa mengetahuinya,"
Syifa pun terdiam, seringkali dulu ia mendengar percakapan nenek dan kakeknya tentang obat penenang. Namun Syifa tidak menyadari jika mereka membahas Alana bukan Tante Jennika
"Iya pa, dulu Syifa pernah mendengar kakek dan nenek membahas obat penenang. Dan jangan sampai di konsumsi lagi, saat Syifa bertanya kakek dan nenek mengatakan jika mereka membahas Tante Jennika. Seharusnya Syifa bisa menyelidiki lebih lanjut, namun Syifa buta untuk melihat kebenarannya,"
Revan memeluk anaknya "Sudah lah kak, ini bukan kesalahan kamu. Papa dan mama juga tidak tahu, ini kesalahan papa sebagai orang tua yang tidak bisa menjaga kalian dengan baik!"
"Lalu bagaimana dengan Alana pa?"
"Saat ini Alana sedang istirahat, papa enggak mau menganggu dia. Dan biarkan kita menjaganya dari luar saja!"
Syifa mengangguk, melepaskan pelukannya dari sang papa. Menoleh ke arah mamanya, Syifa pun mendekati dan langsung memeluk mamanya "Mama jangan sedih ya, kita akan bersama-sama menjaga Alana dan juga Alan. Mama jangan merasa bersalah, karena ini bukan kesalahan mama. Jika ada yang harus di salahkan, ini kesalahan Syifa yang gagal menjaga adik-adik,"
"Tidak sayang! Jangan mengatakan itu! Kamu tidak bersalah, mama yang salah. Mama terlalu abai dengan kalian selama ini,"
"Kak, kamu udah makan?" Revan bertanya kepada putri sulungnya, Syifa dan Shinta melepaskan pelukan satu sama lain
"Udah pa," sebenarnya Syifa belum sempat makan namun ia tidak mau papa dan mamanya semakin khawatir.
Ia tidak mau menambah pikiran kedua orang tuanya
Syifa duduk di samping Shinta, memberikan kekuatan untuk mamanya. Melihat suasana yang tegang Syifa tahu jika mama dan papanya sedang marahan
"Di saat seperti ini, sebaiknya jangan ada yang saling menyalahkan. Jika ada yang salah, itu semuanya salah! Tolong ma, pa! Kita harus tetap saling menguatkan untuk Alana bukan malah berantem dan saling menyalahkan!"
Walau Revan dan Shinta tidak mengatakan apapun, namun Syifa tahu bagaimana kedua orangtuanya terutama papanya yang selalu tempramental.
"Dan tolong, jangan bawa-bawa orang lain dalam kehidupan kita,"
Revan dan Shinta tahu apa maksud Syifa. Ia pasti membahas tentang adiknya Khanza
Revan yang tak tahan pun akhirnya bersuara "kak, papa enggak pernah keberatan kalau mama mu mengurus Khanza. Namun semenjak adanya Khanza di rumah, mama abai dengan Alana dan Alan. Lihat lah, Alana sampai meminum pil penenang seperti itu dan mama tidak tahu,"
"Papa juga enggak tahu kan? Syifa juga enggak tahu. Enggak ada yang tahu pa, kalau mama abai. Lalu apa kita? Sama saja bukan? Bahkan mama abai karena mengurus anak yang lain. Sedangkan kita? Abai dengan si kembar karena kesibukan kita sendiri, lebih egois siapa di sini pa, Mama atau kita?"
Revan terdiam mendengar ucapan anaknya
"Mama memang salah pa, karena terlalu menyayangi Khanza hingga mengabaikan anaknya yang lain. Namun kita lebih salah! Kita tidak mengurus siapa-siapa. Dan kita pun gagal menjaga Alana, di rumah mama tetap mengurus Alan dan Alana. Walau mungkin perhatian mama enggak selalu untuk si kembar. Tapi mama tetap memperhatikan si kembar, makannya, kesehatannya, jadwal belajar, jadwal tidur. Semua mama perhatian, namun mama juga memiliki batasnya pa!"
"Tapi andai Khanza enggak ada. Mama pasti akan lebih fokus ke mereka!""
"Papa, saat mami menitipkan Khanza dengan kita papa juga enggak keberatan kan? Kasian Khanza pa! Bahkan di rumah mami Caca saja dia tidak di inginkan!"
Mendengar itu membuat Shinta langsung menoleh ke arah anaknya "Maksud kamu apa nak?"
"Iya ma, pa! Raisa bukan lah seperti dulu lagi. Dia sangat membenci Khanza, bahkan sangat manja sekarang. Dan mami Caca lebih menyayangi Raisa, apapun yang Raisa katakan selalu di turutin sama mami. Bahkan, mami enggak pernah memberikan perhatiannya walau Khanza di sana. Kasian Khanza, di sana ia tidak di terima, di sini juga seperti itu!"
__ADS_1
"Nak, di sana itu keluarganya. Kita hanya bertugas menjaga dia, dan saat mami dan Daddy mu telah kembali. Khanza harus dengan keluarganya,"
"Iya pa! Syifa tahu, tapi mami pun tidak ada sayangnya dengan Khanza. Ia hanya fokus dengan Raisa! Bahkan menutup mata untuk Khanza! Hanya Daddy yang sayang dengan Khanza. Tapi Daddy sakit, enggak berdaya. Dan di rumah itu Raisa selalu saja membuat keributan."
Shinta merasa sedih mendengar cerita anaknya, namun apa yang bisa ia lakukan? Ia hanya bisa berdoa, demi kebahagiaan Khanza saja.
Revan menoleh ke arah istrinya sejenak, namun Shinta hanya menunduk. Air matanya menetes namun dengan cepat ia menghapusnya
Walau ia tidak mengandung dan melahirkan Khanza, namun sejak bayi ia yang mengurus Khanza, ia memberikan ASI-nya untuk Khanza. Salah kah jika ia menyayangi dan menganggu Khanza sebagai anak kandungnya?
"Pa, kakak enggak mintak untuk kalian menerima Khanza lagi di rumah! Kakak enggak minta untuk Khanza bisa kembali ke rumah, tapi kakak mohon jangan pernah membawa-bawa Khanza dalam masalah keluarga kita. Dia sudah cukup menderita di rumah orang tua kandungnya sendiri! Jangan lagi di sini selalu di jadikan bahan untuk di salah-salah kan! Tolong dong pa!" Syifa meminta dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menyayangi adik-adiknya dan ia tidak tega melihat Khanza yang tidak di terima di mana pun
Setelah mengatakan itu, Syifa masuk ke ruangan Alana
"Alana, kakak pikir kamu tidur?" Syifa seakan tidak mengetahui apapun
"Enggak kak, Alana tidak bisa tidur. Alana pikir kakak enggak akan datang,"
Syifa mendekati adiknya, langsung memeluk adiknya dengan penuh cinta "Bagaimana kakak enggak datang, kalau adik kesayangan kakak lagi sakit gini?" Syifa mencubit pipi Alana perlahan
"Sakit kak!" Alana meringis namun ia juga tertawa.
"Kakak senang kalau melihat adik kakak tersenyum bahagia seperti itu. Makin cantik!"
"Benar kak?"
"Iya dong, masa kakak bohong sama kamu!"
"Kakak juga cantik banget?"
Syifa tersebut menatap adiknya dengan teduh "Kakak sayang banget sama kamu, jangan ngelakuin hal itu lagi ya? Kakak enggak sanggup melihat kamu sakit begini!"
Alana tersenyum "Iya kak, Alana janji enggak akan melakukan kesalahan lagi! Alana enggak akan mengulanginya lagi! Alana sangat sayang sama kakak juga!"
Syifa terdiam sejenak, lalu ia pun tersenyum sambil membelai rambut adiknya. Menundukkan pandangannya agar mata mereka saling bertemu "Kamu enggak usah mikir apapun lagi, yang penting kamu sembuh ya?"
Alana pun mengangguk "Adik kakak yang pintar!" Setelah mengusap rambut Alana, Syifa langsung melepaskan pelukannya. Ia pun mendekati arah meja, mengupas buah untuk sang adik.
Setelah selesai mengupas buah, Syifa menyuapi adiknya
"Alana harus banyak-banyak makan buah biar cepat sehat!"
"Tapi Alana sudah kenyang sekali kak! Alana sudah makan tadi, nanti saja ya?"
"Loh itukan makan nasi, bukan makan buah. Sekarang waktunya makan buah. Buka mulut nya aaaaa,"
"Alana kenyang kakak!"
"Sedikit aja ya?" Akhirnya Alana pun menerima suapan dari kakaknya. Revan, Shinta dan Alan pun masuk
"Papa mengira anak papa lagi tidur!"
"Enggak pa! Alana enggak bisa bobok! Alana ingin pulang aja pa!"
"Sayang, kamu belum boleh pulang nak. Kita harus menunggu hasil tesnya! Sabar ya nak?"
"Tapi Alana enggak mau pa di sini. Alana mau pulang ke rumah, Alana mau kumpul dengan mama, papa, Alan dan kakak di rumah!"
"Kan ini kita sudah berkumpul?"
"Ih papa! Ini kan bukan di rumah! Ini di rumah sakit pa!" Jawab Alana dengan manja. Membuat Revan terkekeh melihat tingkah anaknya yang manja
__ADS_1
Revan mendekati anaknya "Tetap lah menjadi Alana papa yang manja!"
"Jangan pa! Itu akan sangat merepotkan sekali!" Sahut Alan, mereka pun bergurau agar suasana menjadi cair. Namun tidak dengan Shinta, hati kecilnya tidak bisa di bohongi. Ia memikirkan ucapan Syifa bagaimana Caca dan Raisa memperlakukan Khanza apalagi saat ini anaknya Syifa tidak ada di sana, bagaimana dengan Khanza
"Mama, kenapa melamun?" Alana bertanya kepada mamanya, Shinta pun langsung sadar "Tidak sayang! Mama enggak melamun!" Shinta tersenyum kepada anaknya, Revan tahu jika istrinya sedang memikirkan apa. Namun ia tidak mau membahasnya di depan anak-anak terutama di depan Alana. Ia tidak mau anaknya menjadi sedih
"Mama harus pergi sebentar ya? Ada yang ingin mama urus," Shinta berpamitan kepada anak dan juga suaminya.
Ia ingin menemui Caca, setelah itu ia berjanji tidak akan lagi memikirkan Khanza karena saat ini ia sedang memikirkan Khanza.
"Raga mama di sini, namun hati mama masih dengan Khanza," ujar Alana tiba-tiba. Shinta mendekati putrinya, ia menangis dan memohon maaf sambil menciumi kedua tangan Alana
"Sayang, maaf kan mama. Tapi mama harus pergi sebentar hanya sebentar. Setelah itu, mama janji akan fokus dengan kamu. Bukan hanya raga mama namun juga hati dan pikiran mama, namun sekarang mama harus menyelesaikan ini nak?" Alana pun mengangguk "Pergilah ma jika itu membuat hati mama senang!" Shinta langsung memeluk anaknya dengan erat "Terimakasih banyak sayang!"
Setelah mengatakan itu, Shinta langsung melepaskan pelukannya dan berlalu pergi. Revan dengan geram ingin mengejar istrinya namun di larang oleh Alana
"Papa! Biarkan mama pergi jika itu membuat hati mama lebih tenang!" Ujar Alana. Revan pun tak banyak bicara, ia menuruti ucapan anaknya
"Iya sayang, apapun akan papa lakukan demi kamu!"
***********
Caca yang sedang menikmati teh bersama suaminya pun kedatangan tamu yang tidak terduga.
"Nyonya, tuan ada tamu," ujar pelayan baru yang tidak mengenal Shinta
"Siapa? Suruh saja masuk!" Caca pun meminta pelayannya untuk tamu itu masuk.
"Mama!" Teriak Khanza yang melihat Shinta, Shinta langsung memeluk Khanza dengan penuh cinta dan kerinduan yang mendalam "Sayang, mama sangat merindukan kamu," Shinta menangis memeluk Khanza yang selama ini ia rawat seperti anaknya sendiri
"Khanza juga kangen sama mama, mama datang ke sini mau jemput Khanza kan?" Shinta terdiam, melepaskan pelukannya dari Khanza.
"Mama kenapa diam? Mama mau jemput aku kan?"
"Tata, kenapa enggak ngomong dulu kalau mau kesini? Khanza kamu ke kamar dulu ya! Mami mau bicara sama Tante Shinta!"
"Mama bukan Tante!"
Caca tak menjawab ucapan anaknya, "Khanza sayang, kamu ke kamar dulu ya nak? Mama mau bicara dengan mami dan Daddy kamu. Okey?"
Khanza mengangguk "Iya mama, tapi jangan lama-lama ya mama?"
Shinta mengangguk, Khanza langsung berlari ke kamarnya
"Kenapa kamu datang?" Caca bertanya dengan sedikit sinis, ia mengira jika Shinta akan merebut anaknya
"Aku mau bicara sama kamu dan Arvan."
"Tentang apa Ta? Katakan saja!" Arvan pun penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Shinta
"Aku sudah mengetahui semuanya dari Syifa. Mengapa kamu bisa tidak adil dengan Khanza? Aku merawatnya dari kecil, aku yang memberikannya ASI dan setelah kalian kembali. Kalian bukannya menyayangi Khanza, namun terus membuatnya sedih! Jika kalian tidak bisa merawatnya biar aku yang menjaganya. Tolong jangan sakiti Khanza!"
Caca terdiam "Ta, Khanza itu anak aku! Anak kandung aku! Enggak mungkin aku nyakitin anak aku sendiri! Dan aku berterima kasih karena kamu sudah menjaga dan merawat anak aku. Tapi kamu juga harus tau dan menerima semuanya. Khanza itu anak aku, dan aku yang berhak atas anak aku bukan kamu! Kehadiran kamu ke sini akan membuat Khanza semakin sulit menerima aku dan Arvan. Stop dong Ta! Kamu juga memiliki keluarga, aku udah pisah sama anak aku selama sepuluh tahun. Biarin aku dekat dengan dia! Kamu enggak perlu ngajarin apa yang harus aku lakuin atau tidak!! Ta, Syifa udah sama kamu. Kamu sudah merebut dia dari aku, aku kehilangan hak aku sebagai ibu saat Syifa lebih memilih kamu waktu kecil. Dan sekarang, kamu mau lakuin hal yang sama untuk Khanza?"
"Sayang, kenapa kamu mengatakan itu kepada Shinta?"
"Aku mengatakan yang sebenarnya! Khanza ini anak kita, aku ibu mereka dan aku tahu mana yang benar dan mana yang tidak untuk anak aku. Untuk apa dia datang? Seolah-olah aku ibu buruk yang tidak bisa menjaga anak aku!" Caca terlihat sangat kesal
"Bukan begitu Caca! Aku hanya ingin kamu merawat dan menyayangi Khanza dan Raisa tanpa di beda-bedakan! Khanza adalah sebagian hidup aku, dan saat aku mendengar kesedihannya aku hancur!"
"Sudah kalian jangan bertengkar tolong! Jangan sampai Khanza mendengar keributan ini. Yang di katakan Shinta itu benar! Kamu harus menyayangi anak-anak tanpa ada yang di bedakan Caca! Dan apa maksud kamu? Shinta masih tetap berhak, ia memiliki hak untuk Khanza! Karena ia yang merawat anak kita selama ini!"
__ADS_1
Arvan pun membela Shinta karena memang hanya Shinta yang tulus dengan Khanza