
Caca pun menyuruh sang anak untuk mendekat, Syifa mendekati Caca. Ia tahu, jika raut wajah ibu nya masih saja bersedih. Ingin sekali rasanya, Syifa menghapus segala kesedihan yang ada.
"Ma, Syifa mau izin untuk pulang dulu ke rumah Oma. Mama dan papa ada di rumah Oma Syafa. Oma menanyai Syifa, jadi papa akan menjemput. Setelah itu, Syifa akan kembali lagi ke sini." ujar Syifa memberikan penjelasan kepada anak nya. Caca pun mengangguk.
"Sayang, titip salam mama untuk Oma ya? Mama sangat merindukan Oma juga opa."
"Mama ikut saja, agar mama bisa sedikit lega." Caca ingin sekali ikut pergi ke rumah orang tua Shinta. Namun, ia yakin. Jika di sana, Caca tidak akan bisa kuasa menahan kesedihan nya.
Ia tak ingin, kedua orang tua Shinta pun merasa cemas akan diri nya, Caca tersenyum. Menolak anak nya dengan lembut.
"Mama ingin sekali ke sana, Sayang. Tapi, kamu juga tahu, ada adek kamu Raisa di sini. Dia akan kesepian, lain kali saja mama ke sana ya nak? Sekalian mama akan mengenal kan Raisa kepada mereka."
"Baik lah, Ma. Syifa pergi dulu." Syifa pun memeluk ibu nya dengan erat, hati nya terasa sangat sakit. Namun, ia pun tidak bisa melakukan apapun sebelum segala pertanyaan yang ada di benak nya bisa terjawab.
*****
__ADS_1
Di luar, terdengar suara mobil Revan yang memasuki halaman rumah Caca, Syifa pun segera keluar untuk menemui ayah nya.
Syifa masuk ke dalam mobil, hanya ada Revan sendirian yang menjemput.
"Ayo, Sayang." Syifa mengangguk, tanpa basa-basi. Revan langsung melajukan mobil nya menuju rumah mertua.
"Pa." panggil Syifa kepada papa nya dengan nada lembut, Revan pun menoleh sebentar ke arah sang anak lalu memfokuskan pandangan nya ke depan. Syifa pun mengurungkan niat nya.
Ia tahu, jika diri nya bertanya kepada sang ayah, bukan jawaban yang diri nya dapat melainkan sebuah Omelan.
"Tidak, Syifa hanya ingin tahu apakah Alan dan Alana merindukan Syifa?"
"Pasti nya, Sayang. Kamu tahu bagaimana kedua adik mu tanpa kakak nya, terutama dengan Alan." jawab Revan yang pandangan nya fokus ke depan.
"Sayang, papa juga mau meminta maaf kepada kamu, karena tadi papa sudah memarahi mu ya nak?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa pa, Syifa memaklumi nya kok. Syifa tahu apa yang papa katakan itu tidak salah."
"Kamu memang anak papa yang paling baik."
"Papa juga papa nya aku yang terbaik." balas Syifa kembali. Tak terasa, mobil yang di kendarai Revan sudah berhenti di halaman rumah kedua orang tua Shinta.
Syifa mau pun Revan segera turun dari mobil, Syifa ingin mencari keberadaan mama nya. Syifa tak sabar rasanya ingin mengetahui segala kebenaran yang ada.
Namun, langkah Syifa di hentikan oleh nenek dari ibu nya itu.
Syafa yang memanggil cucu nya, langsung mendekati dan memeluk Syifa.
"Oma sangat merindukan mu, Sayang." ujar Syafa dengan lembut, ia pun memeluk Syifa dengan begitu erat. Memang benar, sudah lama kedua nya tidak bertemu.
Syifa juga sangat merindukan kakek dan nenek dari ibu nya tersebut, namun pikiran nya tak bisa lepas dari ibu yang sudah melahirkan nya.
__ADS_1
Pertama, Caca datang ke rumah mereka dengan wajah penuh dengan lebam, kedua mama nya pulang sendirian, lalu menangis di gudang. Tentu saja, hal itu membuat pikiran Syifa menjadi kacau dan khawatir