Ibu Sambung

Ibu Sambung
Kesempatan


__ADS_3

Ponsel Syifa terus saja berbunyi, mantan kekasihnya Arash beberapa kali menghubunginya bahkan mengirimkan pesan kepada Syifa


Sayang maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti hati mu. Aku mencintai mu sayang, tolong jangan marah dan angkat panggilan ku ~ Arash


Syifa segera memblokir akses untuk berkomunikasi dengan Arash, mungkin ia bisa menerima jika Arash mengatakan hal buruk kepadanya. Namun tidak untuk keluarganya, Syifa begitu menyayangi dan mencintai keluarganya. Baginya yang paling berharga dan utama adalah keluarga.


"Maafkan aku Arash, namun aku tidak bisa bersama mu lagi. Keluarga ku lebih penting dari apapun!" Gumamnya perlahan, Alana menoleh ke arah kakaknya


"Kakak kenapa enggak tidur. Enggak bisa tidur ya?"


Syifa tersenyum kepada adiknya dan segera mematikan ponselnya "Ini mau tidur, Alana kenapa enggak tidur? Alan udah nyenyak itu!"


"Iya kak, Alana enggak bisa tidur. Ponsel kakak juga tadi berisik,"


Syifa menjadi tidak enak hati kepada adiknya, spam dari Arash membuat adiknya tidak bisa tidur "Maafin kakak ya, tadi grup kampus sedang membahas tugas. Jadinya ponsel kakak berisik dan kakak lupa untuk silent ponsel!"


"Enggak apa-apa kak, Alana memahaminya kok. Kakak tidur lah, nanti kakak bisa sakit!"


"Iya sayang, kakak akan tidur. Tapi Alana dahulu yang harus tidur!"


Syifa mendekati adiknya, mengelus rambut Alana. Lalu mengecup kedua adiknya secara bergantian. Walau Alan dan Alana sudah tidak anak-anak lagi, namun ritual Syifa mencium kedua adiknya sebelum tidur selalu ia lakukan.


Dan hal itu tidak membuat di kembar menjadi risih, Alana langsung memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Syifa pun menjauh dari kasur adik-adik. Ia mengingat Khanza, apakah Khanza bisa tidur tanpa adanya ia? Syifa serba salah, jika ia pergi Alana akan sedih namun jika Alana menetap maka Khanza akan menangis di rumah maminya.


Untuk menggunakan ponselnya saja Syifa tidak jadi, ia tidak mau membuat si kembar menjadi terganggu tidurnya.


Syifa hanya bisa mengambil nafas panjang, ia berharap agar Daddy-nya bisa mengatasi Khanza.


********


Benar saja, di kediaman rumah Caca. Khanza menangis hebat, ia marah karena kakaknya pergi tanpa memberitahu "Khanza mau sama kakak, mau sama mama Shinta. Kenapa mama Shinta tidak membawa Khanza pulang? Mama Shinta udah janji mau bawa aku pulang!"


"Sayang, mama dan kakak sedang ada urusan. Kamu di sini saja dulu sama Daddy juga mami ya?" Arvan berusaha menenangkan anaknya, Caca kewalahan menghadapi Khanza tanpa anak sulungnya Syifa


"Kemana Syifa? Kenapa ia belum pulang juga? Dia kan tahu adiknya enggak bisa di sini kalau dia tidak ada. Mengapa anak itu tidak mengerti!"


"Syifa sedang ada tugas kuliah jadi enggak bisa pulang,"


"Seharusnya dia bicara dulu dong atau bisa kerjakan tugasnya di rumah. Lihat, Khanza histeris begini. Pusing kepala aku!"


Caca pergi meninggalkan Khanza dan suaminya. Arvan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya


"Sayang, jangan menangis kesayangan Daddy! Khanza sudah besar kan nak? Kak Syifa sedang ada tugas di kampusnya. Setelah kak Syifa selesai dengan tugasnya kak Syifa akan kembali lagi ke sini?"


Arvan memeluk anaknya yang terisak "Daddy, kenapa mama pulang enggak memberitahu Khanza? Apa mama udah enggak sayang Khanza? Kenapa semuanya begitu jahat sama Khanza? Apakah Khanza enggak pantas untuk di sayangi?"

__ADS_1


"Hust! Anak kesayangan Daddy enggak boleh berbicara seperti itu sayang! Semua orang menyayangi Khanza! Mami, Daddy, mama Shinta, papa Revan, kak Syifa, kak Alana, kak Alan juga kak Raisa semua menyayangi Khanza. Hanya saja, saat ini mereka sedang ada keperluan lain jadi enggak bisa temani Khanza!"


"Daddy, Khanza mau pulang! Khanza kangen sama mama dan papa! Khanza enggak mau di sini,.mami dan kak Raisa jahat!"


Arvan menghapus air mata anaknya "Tidak ada yang jahat sayang, semuanya begitu menyayangi Khanza. Namun kamu yang tidak mau mendekat dengan mami juga kak Raisa. Kamu enggak pernah memberikan kesempatan kepada Daddy, mami dan kak Raisa untuk dekat dengan kamu. Bahkan, kamu juga merasa tidak nyaman dengan kami,"


"Daddy bukan betutu! Khanza sayang sama Daddy. Tapi Khanza Enggak suka di sini!"


"Nak, Khanza kan sudah besar. Khanza harus mengerti sayang, jika rumah Khanza di sini. Bukan di rumah mama Shinta! Kamu harus bisa menerima semuanya nak jika ibu kamu adalah mami Caca. Iya, mama Shinta juga adalah ibu kamu. Tapi yang melahirkan Khanza adalah mami Caca. Dan mami Caca sangat menyayangi kamu, tapi kalau Khanza terus menangis seperti anak-anak begini. Bagaimana bisa mami lebih dekat dengan kamu?"


Khanza terdiam, apa yang di katakan oleh Daddy-nya itu benar! "Nak coba sekali saja, belajar menerima kami sebagai kedua orang tua Khanza. Daddy yakin, Khanza akan merasa bahagia dan nyaman. Karena cepat atau lambat Khanza juga harus menerima segalanya nak! Khanza enggak bisa pungkiri jika Khanza anak kami, dan rumah sesungguhnya Khanza di sini!"


"Daddy, kenapa Daddy dan mami tinggalin Khanza. Kalau kalian orang tua Khanza, mengapa Khanza hidup bersama mama Shinta, papa Revan, kak Alana, kak Alan dan juga kak Syifa? Kenapa kalian tinggalin Khanza? Apa Khanza enggak berharga sehingga kalian meninggalkan Khanza sejak bayi? Mama selalu bilang jika itu bukan kemauan Daddy dan mami. Namun kenapa harus Khanza yang jadi pilihan untuk tetap tinggal? Kenapa harus kak Raisa yang ikut menemani Daddy dan mami? Kenapa mami enggak bawa Khanza, kan Khanza masih bayi saat itu. Masih membutuhkan mami dan Daddy, dan kenapa saat sekarang Khanza udah besar. Khanza udah nyaman dengan keluarga Khanza dengan mama Shinta, papa Revan, kak Alana, kak Alan dan kak Syifa kalian datang lagi? Kenapa Daddy?"


Khanza bertanya dengan nada yang berat, ia juga terisak senggugukan. Arvan tidak tahu harus menjawab apa karena ia tidak memiliki jawaban apapun.


Arvan hanya bisa memeluk anaknya dan meminta maaf "Sayang, maafin Daddy. Itu semua di luar kekuasaan Daddy, andai Daddy mempunyai kesempatan memutar waktu. Daddy pasti akan membawa kamu atau Daddy memilih langsung tiada di situ agar mami tidak meninggalkan kamu,"


"Daddy jangan mengatakan itu!" Khanza melepaskan pelukannya dari sang ayah, menutup mulut Arvan dengan kedua tangannya yang tidak terlalu besar.


"Khanza enggak suka Daddy bicara seperti itu! Jangan berbicara seperti itu Daddy! Khanza sayang Daddy, jangan pernah berpikiran seperti itu lagi Daddy! Maafin Khanza kalau udah buat Daddy sedih. Khanza sayang Daddy, dan Khanza janji enggak akan menangis atau rewel lagi, Khanza butuh Daddy! Daddy jangan pernah berpikir tentang kematian lagi ya?"


Arvan terharu mendengar ucapan anaknya, matanya berkaca-kaca. Ia pun mengusap rambut Khanza "Daddy sayang banget sama kamu, Daddy enggak bisa memutar waktu. Tapi Daddy ingin menebus semuanya nak. Tapi tolong berikan Daddy kesempatan untuk bisa ada di hati kamu,"

__ADS_1


__ADS_2