
Setelah berjam-jam mereka tertawa dan berbagi cerita, Shinta tertidur dipangkuan ibunya, Syafa mengelus lembut rambut Puterinya. Ia mengingat masa kecil dimana Shinta tak bisa tidur tanpa usapan dari tangannya. Syafa pun tersenyum. Tidak lama kemudian Gunawan ayah Shinta pulang
"stttttt" Syafa meletakkan jari manisnya dimulut, menyuruh suaminya untuk tidak berisik. Gunawan pun menurut apa kata isterinya, ia duduk di sebelah Syafa dan mencium kening isterinya.
"Sudah lama tata datang?" tanya Gunawan berbisik
"Sudah dari siang tadi" Gunawan pun mengangguk mengerti.
"Dimana suami dan anaknya" Tanyanya lagi ketika tidak menemui menantunya
"Lagi pergi bersama nyonya lili" Gunawan pun mengerutkan keningnya bingung, mengapa mereka pergi tanpa anaknya. Ada apa yang terjadi. Mengetahui khawatiran yang di rasakan suaminya, Syafa memegang bahu Gunawan
"Jangan khawatir, tata tidak ikut karena ia rindu pada kita" Syafa memberikan penjelasan kepada suaminya.
"Apa kau percaya?" Gunawan menatap Puterinya yang tidur dengan nyenyak, namun raut wajahnya menunjukkan muka kesedihan dan kekhawatiran. Syafa pun mengangguk, Gunawan permisi pada isterinya untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
***********
Waktu sudah menunjukan pukul 08 malam, Shinta membantu ibunya untuk menyiapkan makan malam, Gunawan duduk di kursi meja makan.
"Sayang, jam berapa suamimu menyusul kesini" Shinta pun terdiam, ia pun tak mengetahui dimana suami, anak, dan ibu mertuanya saat ini. Sudah beberapa kali Shinta menelpon Revan namun Revan tak mengangkat telpon dari Shinta.
"Yah, sepertinya mereka akan pulang larut malam. Apa boleh Tata menginap disini?" Tanyanya takut takut.
"Kau berbicara apa nak, ini rumahmu juga. Kapanpun tata ingin disini tidak masalah" jawab Syafa. Shinta pun tersenyum, Gunawan semakin curiga dengan Puterinya namun ia memilih untuk tidak ikut campur masalah rumah tangga Puterinya. Setelah selesai makan malam, Shinta masuk kedalam kamarnya.
"Aku rindu kamar ini" ia langsung membaringkan tubuh nya diatas tempat tidur, ia begitu merindukan kamarnya.
"Nyaman sekali" Shinta menatap langit langit kamarnya, Shinta teringat akan Syifa dimana dia sekarang, lagi apa, sudah makan apa belum.
"Mengapa Revan marah sekali" matanya pun kembali berkaca-kaca.
"Tidak, kau tidak boleh cengeng didepan kedua orang tua mu tata!" Shinta mencoba menghibur dirinya sendiri. Ia mengecek ponsel miliknya namun tidak ada kabar sedikit pun dari suaminya. Shinta hanya bisa pasrah dan memejamkan kedua matanya. Dadanya begitu sesak rasanya, ia tak tahu harus bagaimana. Bahkan ia juga gak tahu hal yang dia lakukan itu salah ataupun benar. Shinta memejamkan kedua matanya.
***********
Pagi harinya, Shinta terbangun dan membuka matanya perlahan. Ia melihat sekelilingnya bahwa ini kamarnya, ya kamar nya dari masa kecil bukan di rumah suami nya. Ia pun merasa sedih mengingat pertengkarannya dengan Revan.
"Sebagai seorang wanita yang tak bisa memiliki anak, aku mendapatkan gelar seorang ibu dari anak lain. Namun, juga tega memisahkan anak itu dari ibu kandungnya sendiri. Mengapa aku jahat seperti mereka yang tega memisahkan ibu dan juga anaknya"
__ADS_1
"Namun mengapa perbuatanku juga dianggap salah oleh mereka"
*Tok.....tokkkkk
"Sayang, ini ibu" Syafa mengetuk pintu kamar anaknya, Shinta membuka pintu nya.
"Diluar ada suamimu" Shinta pun begitu semangat keluar dan menghampiri suaminya
"Kau datang" Shinta tersenyum lebar melihat kedatangan suaminya, ternyata Revan masih perduli padanya walau lagi marah sekalipun.
"Aku ingin menjemputmu" jawabnya dingin. Gunawan dan Syafa menghapiri anak dan menantunya.
"Pa, ma" Revan menyalami kedua orang tua Shinta.
"duduk-duduk" Gunawan mempersilakan menantunya untuk duduk.
"Yah, Bu. Tata mau siap siap dulu ya" mereka pun mengangguk. Shinta pergi meninggalkan kedua orang tua dan juga suaminya. Revan pun berbincang bincang pada ibu dan ayah mertuanya 45 menit berlalu Shinta keluar dengan pakaian yang sudah rapi dan wangi.
"Ayo" ajak tata. Revan pun bangkit dan pamit pada kedua mertuanya. Mereka pergi dan melajukkan mobil pulang kerumahnya. Disepanjang jalan tak ada obrolan dari mereka.
"Ma...maaf" akhirnya Shinta yang membuka pembicaraan, ia menundukkan kepalanya. Revan menoleh kearah Shinta
"Maaf karena aku sudah lancang mempertemukan Syifa dengan"
"Sudah jangan dibahas, lupakan saja" belum sempat Shinta melanjutkan omongannya Revan sudah memotong pembicaraan mereka deluan
"hmm iya" Shinta pun mengangguk
"Kau semalam dari mana bersama Syifa dan mama lili?"
"Kami semalam membawa papa berobat, maaf tak memberitahu mu terlebih dahulu, semalam aku melihatmu tidur dengan pulas jadi tidak tega membangunkannya."
"Oh begitu" jawabnya singkat, Revan mengacak-acak rambut Shinta setelah itu tidak adalagi pembicaraan dari mereka. Mobil pun berhenti dihalam rumah Revan, Shinta dan Revan masuk kedalam rumah
"Mama" Teriak Syifa dari dalam dan langsung memeluk Shinta, Shinta membalas pelukan Puterinya.
"Mama dari mana" tanyanya
"Mama dari rumah nenek Syafa sayang" Shinta pun mencium pipi Puterinya, menggendong dan membawa tubuh anaknya kedalam kamar. Shinta begitu bosan tidak ada aktivitas apapun didalam rumah, bukan ia tak ingin menjaga Syifa terus terusan. Namun, kebiasaanya yang sudah biasa mengatasi pasien dan sekarang hanya berdiam diri membuatnya bosan.
__ADS_1
"Kau kenapa" Revan masuk dan bertanya pada isterinya, Shinta pun menoleh kearah Revan.
"Aku bosan dengan rutinitas ku sekarang yang hanya berdiam diri dirumah"Shinta menjawab pertanyaan Revan tanpa menoleh sedikitpun, ia asyik dengan membelai rambut Syifa.
"Lantas apa rencana mu?"
"Apa kau bosen merawat anakku?" tanya Revan. Shinta menatap Revan dengan sinis.
"Kenapa kau melihatku begitu" namun shinta tak menjawab pertanyaan Revan.
"Ma, Syifa mau main sama nenek lili" Shinta pun mengangguk, Syifa langsung pergi meninggalkan Shinta dan Revan dikamar. Revan mendekati Shinta dan menyelipkan rambut Shinta di balik telinganya.
"Mengapa kau selalu saja marah-marah" tanya Revan.
"Harus nya aku yang bertanya, mengapa kau selalu bersikap menyebalkan!" geram Shinta. Revan pun hanya tertawa dan menarik hidung Shinta
"Sakit tau!" Shinta memukul Revan dan memegang hidungnya yang kemerahan. Revan menarik kepala Shinta untuk masuk kedalam pelukannya.
"Apa kau tidak bosan terus-terusan berantam?" tanya Revan sambil menyibakkan rambut Shinta
"Sangat bosan, aku juga bosan selalu di katakan wanita lemah yang terus terusan menangis seperti anak kecil" keluhnya.
"Siapa yang berani mengatakan itu padamu?"
"Mereka!"
"Jangan dengarkan apa kata mereka, ini kisah kita berdua. Jika mereka tidak suka ya tidak usah dilihat" Revan mencium pucuk kepala Shinta dan memberikan ketenangan pada isterinya.
"Aku ingin berlibur"
"Baiklah, Minggu depan kita akan berlibur"
"Kau serius?" tanyanya seolah tak percaya.
"Apa wajahku seperti seorang pembohong?"
"Tidak" menjawab dengan cepat.
"Terimakasih" Shinta memeluk kembali suaminya dan mencium pipi Revan. Revan pun begitu terkejut dengan tindakan isterinya, namun ia tersenyum dan membalas pelukkan itu.
__ADS_1