
"Jika itu untuk kebahagiaan anak-anak, papa setuju. Menurut papa itu ide yang sangat bagus, tapi jika mereka tidak mau. Jangan kalian me-maksa cucu-cucu papa."
"Iya, Pa. Kita nggak akan me-maksa anak-anak, sebagai mana nyaman mereka aja."
"Bagus lah jika begitu, Papa nggak mau anak-anak kalian merasa tidak nyaman. Dan papa ingin, kalian bersikap adil kepada anak-anak kalian."
"Iya, Pa. Kita akan ke kamar anak-anak untuk bertanya pada mereka."
"Tidak! Lebih baik suruh pelayan memanggil mereka!" saran Tommy. Revan pun mengikuti perintah papa nya dan menyuruh pelayan untuk membawa anak-anaknya ke bawah.
Alana dengan aktif nya paling bersemangat turun dari tangga menghampiri mama, papa, Kakek dan nenek nya.
"Ada apa, papa?" tanya nya dengan wajah yang menggemaskan.
"Sabar ya nak, tunggu Alan dan kaka Syifa turun dulu." Alana melihat kakak dan saudara kembar nya yang masih ketinggalan jauh
"Alana udah sampai bandung, kalian masih di Medan aja." ketus Alana kepada kakak dan saudara kembar nya.
"Alana, Sayang." tegur sang nenek.
"Habis nya meleka lama sih nek, Alana aja udah sampai."
"Kan kita nggak kaya kamu yang lasak!" ketus Alan kembali, Alana memonyongkan mulut nya ke depan.
__ADS_1
"Kenapa pa?" tanya Syifa dengan lembut, Revan menyuruh anak-anak nya untuk duduk. Setelah anak-anak nya duduk Revan pun menceritakan tentang rencana nya kepada sang anak.
"Anak-anak papa yang paling papa cinta dan sayangi. Papa mau bilang, lebih tepat nya meminta pendapat pada kalian."
"Pendapat? Apa itu pendapat?" tanya Alana yang bingung
"Pendapat itu seperti. Misal nya papa bertanya, lebih bagus warna biru atau Hitam. Begitu sayang,"
"Oh." Alana membulat kan mulut nya yang kecil.
"Papa boleh lanjut lagi, Sayang?" tanya Revan kepada sang anak, Alana pun mengangguk.
"Papa berfikir untuk membuat kamar yang begitu besar untuk kamu, kak Syifa dan Alan tempati bersama. Jadi, kalian akan sekamar bertiga. Karena papa melihat, Alan ataupun Alana selalu di kamar kakak. Begitu juga sebalik nya, kakak yang sering mondar mandir ke kamar kalian. Jadi papa memutuskan untuk membuat kamar untuk kalian, itu juga jika kalian mau. Papa nggak akan memaksa anak-anak papa. Jika, menurut kalian nggak nyaman papa nggak akan maksa."
"Yey! Alana setuju banget pa. Apalagi jika papa pisahin Kamal Alana dengan Alan." Alana menatap sinis saudara kembar nya. Alan mendengus dengan malas.
"Gimana kalau kamu, Sayang?" tanya Revan kepada Alan, karena hanya Alan yang belum mengeluarkan pendapat nya.
"Alan setuju aja. Kalena Alan lebih suka belsama kakak."
"Baik lah, anak anak papa udah setuju semua ya? Nggak ada paksaan ya nak?"
"Iya, Pa." jawab ketiga anaknya secara bersamaan.
__ADS_1
"Kakak Syifa juga jangan khawatir. Jika kak Syifa merasa tidak nyaman, atau membutuh kan privasi sendiri. Kakak Syifa akan memakai kamar kak Syifa sendiri." ucap Shinta.
"Syifa nyaman kok ma, kan Syifa bersama adik-adik Syifa."
"Alan dan Alana juga harus janji, jika sudah sekamar dengan kakak. Jangan membuat kakak repot dan jangan menyusahkan kakak ya?"
"Iya, Mama." jawab kedua anaknya dengan serentak. Revan senang mendengar persetujuan dari semua orang. Ia pun mengambil ponsel nya untuk menghubungi orang yang akan me-handle kamar anak-anak nya. Dia juga meminta desain yang terbaik untuk kamar anak-anak nya.
"Apakah sekalang kita bisa sekamal dengan kakak, Pa?"
"Belum, sayang. Tunggu kamar nya selesai di buat ya. Papa akan minta waktu secepatnya, kalau sekarang itu akan sempit untuk kalian bertiga. Kasihan kakak nya yang begitu sesak."
"Baik lah, Pa. Suluh om nya cepat ya pa? Alana udah nggak sabal." ujar Alana kembali heboh, bahkan Alana melompat kegirangan. Revan menyuruh anak-anak nya untuk kembali ke kamar dan bermain. Sedang kan Revan, menghabiskan waktu mengobrol dengan isteri dan ke dua orang tua nya. Revan juga meminta maaf pada papa nya atas sikap nya kemarin.
"Pa, maafin Revan kalau kemarin udah membuat papa sakit hati ya? Revan nggak bermaksud untuk membuat papa sedih, papa tau kan kalau Revan sayang banget sama mama dan papa. Revan akuin, sekarang Revan seorang ayah. Tapi, Revan kan adalah putera kalian. Revan nggak bisa jauh atau kalian marah pada Revan. Mama adalah malaikat Revan, dan papa adalah jagoan, pahlawan terhebat untuk Revan. Kalian yang selalu ada untuk Revan." kini, Revan tak mampu menahan air mata nya, Tommy yang melihat anaknya menangis pun mendekati dan langsung memeluk sang anak.
"Papa juga minta maaf, jika papa sering bicara kasar kepada kamu dan isteri mu. Mungkin, kalian juga sering tersinggung dengan ucapan papa. Tapi, percayalah papa sangat menyayangi kalian. Papa ini hanya lah pria tua yang sangat kuno. Papa selalu mengambil pelajaran di setiap pengalaman kehidupan kita. Papa nggak mau kamu terpuruk, terjatuh seperti dulu. Itu sangat menyakitkan bagi seorang ayah melihat anak nya mengasingkan diri nya sendiri. Memang papa tidak seperti mama yang sabar, juga mengungkapkan rasa sayang papa. Tapi, papa begitu menyayangi diri mu, isteri dan juga anak-anak mu."
Shinta merasa terharu dan bahagia melihat suami dan ayah mertua nya akur seperti itu.
"Begitu dong, kan enak lihat nya akur begini. Nggak selalu diam-diaman atau saling bertengkar." ujar Shinta dengan perasaan yang sangat bahagia. Revan dan Tommy saling melepaskan pelukan mereka satu sama lain.
"Papa diam atau marah, bukan berarti papa tidak menyukai atau tidak sayang pada mu, Shinta. Papa hanya tidak ingin mengungkap kan perasaan papa. Tapi melihat jagoan kecil papa hari ini menangis, papa jadi nggak bisa menahan emosi papa." ujar Tommy yang mencoba tertawa, namun mata nya berkaca-kaca seakan menahan tangis.
__ADS_1
Suami ku benar-benar menurun pada papa mertua ku, kelihatannya sangat dingin dan tidak perduli. Tapi, nyata nya mereka sangat penyayang dan lelaki yang baik hati. Setelah bertahun-tahun aku menikah dengan anaknya. Baru ini aku bisa memahami sifat ayah mertua ku, terimakasih pa sudah membuat anak yang begitu menggemaskan seperti Revan. Aku menyayangi mu pa! ~ Batin Shinta yang tak berani mengungkap kan nya secara langsung, mungkin Shinta malu atau takut