
Alana pun diam sejenak, memikirkan cara untuk membujuk saudara kembar nya itu.
"Kenapa kau masih saja di hadapan ku? Pelgi lah, atau main kan saja apa yang ingin kau main kan."
"Alan, jangan begitu. Alana kan mau main belsama Alan." Alana membujuk saudara kembar nya dengan begitu manja, Alan tak bergeming sedikit pun. Alana menyadari jika perbuatan nya kemarin bukan lah hal yang benar. Alana menangis dengan sungguh, meminta maaf.
"Alan, Maafin Alana hiks." Alana menangis dengan sengguguk. Dengan erat Alana memeluk saudara kembar nya begitu manja.
"Alan hiks." ujar Alana kembali, walau Alan anak yang sangat dingin, tetapi dia begitu menyayangi saudara kembar nya itu.
"Sudah, jangan menangis Alana!" Alana melepaskan pelukan mereka dan tersenyum.
"Alan nggak malah lagi sama Alana?"
Alan pun mengangguk, Alana kembali memeluk Alan dengan erat.
"Alana sayang Alan. Maafin Alana ya? Alana janji tidak akan nakal lagi."
"Kau selalu saja mengucap kan tidak akan nakal lagi namun selalu mengulangi nya." kesal Alan. Alana pun tertawa dengan wajah lucu nya.
"Alan, Kita kan masih kecil. Jadi, tidak apa-apa jika belmain. Alana tidak mau sepelti Alan. Yang selalu belsikap sepelti Olang dewasa. Sangat membosankan." Alan menoleh sinis ke arah saudara kembar nya itu, diri nya begitu bingung dengan sikap Alana. Terkadang bertingkah sangat menyebalkan.
"Lebih baik tel-lihat membosankan dalipada halus membuat keluaga beltengkal! Kau tahu, Alana? Mama dan kakek kemalin beltengkal hebat. Itu semua kalena kau sekala-lang Mama dan Kakek tidak bicala satu sama lain. Itu yang kau sebut menyenangkan?" tanya Alan kepada Alana. Alana terkejut dengan ucapan Alan.
"Mama dan kakek beltengkal?"
"Iya!" Alana mewek karena Alan sudah membentak nya, mata Alana berkaca-kaca. Alan membuang nafas nya dengan kesal. Lalu, menenangkan Alana.
"Maaf kan Alan. Sudah jangan menangis." pinta Alan, Alana pun mengangguk.
Alana mengatakan pada Alan jika diri nya akan membuat Mama dan Kakek nya kembali akur, Alan pun mempercayai dan ikut dalam rencana Alana dalam menyatu kan keluarga nya. Alana dan Alan keluar dari kamar, Menuju ruang keluarga.
__ADS_1
Terlihat Papa Tommy dan Mama Lily sedang menikmati teh, sambil menonton tv. Alana dan Alan mendekati nenek dan kakek nya.
"Kakek, Nenek." panggil Alan dan Alana secara bersamaan. Mama lily pun tersenyum kepada kedua cucu nya.
"Sini, Sayang." Mama lily memangku ke dua cucu nya duduk tepat di samping nya.
"Kalian sedang apa?"
"Alana dan Alan sedang ingin belmain sama nenek dan kakek."
"Kakek sedang tidak ingin bermain." ujar Tommy yang ingin beranjak pergi, namun Alana memegang jemari tangan kakek nya dengan lembut. Tommy menghentikan langkah kaki nya, menoleh ke arah Alana dengan tatapan kesal.
"Kakek lagi gak mau bercanda, lebih baik kamu lepasin tangan kakek."
"Kakek, maafin Alana ya? Alana salah, jangan malah lagi. Alana beljanji tidak akan nakal lagi. Tapi, kakek jangan malah." Alana menatap Tommy dengan tatapan teduh nya. Tommy pun luluh dengan tatapan cucu nya.
"Apa yang Alana ingin kan?"
"Kakek sudah memaafkan mu." Alana pun tersenyum bahagia.
"Telimakasih kakek." ucap Alana memeluk kakek nya. Tommy mengembangkan sedikit senyuman nya, bagaimana pun dia begitu sangat menyayangi cucu-cucu nya.
"Sudah, pergi main bersama saudara kembar mu. Tapi ingat, jangan melakukan hal yang tidak benar lagi. Kamu mengerti?"
"Mengelti kakek."
"Yang di kata kan oleh kakek mu benar, Sayang. Kakek marah, karena kakek sayang padamu. Mengkhawatirkan keadaan kamu. Alana memang masih sangat kecil, tapi Alana juga harus berfikir sebelum bertindak ya nak? Kamu tau kan bagaimana dunia luar itu sangat buruk, untung saja mami mu yang menemukan mu. Bagaimana jika orang jahat? Mungkin, kami tidak akan melihat Alana kesayangan kami lagi." ucap mama Lily memberitahu cucu nya dengan penuh lembut. Alana pun mengerti ucapan nenek nya. Ia sekali lagi meminta maaf atas perbuatannya. Alana dan Alan pun pergi ke kamar.
Alana bertanya kepada Alan bagaimana caranya untuk bersikap baik dan tidak membuat keluarga kecewa.
"Alan juga nggak tahu, Alana. Alan juga seling nakal."
__ADS_1
"Tapi, Alan tidak pelnah membuat keluaga malah." ucap Alana dengan begitu manja, Alan juga berfikir dengan keras.
"Alan tau, sebaiknya Alana diam saja. Jangan banyak bicala."
"Mana bisa! Mulut Alana bisa bebusa jika tidak belbicala."
"Alana benel juga, tunggu Alan belpikil dulu." kedua kembar itu pun berfikir dengan keras, tanpa di sadari kedua orang tua nya sedang tersenyum melihat kelakuan ke dua nya dari balik pintu.
"Lihat, anak kita. Sifat mereka jauh sangat berbeda, namun mereka selalu menyayangi dan kompak. Aku senang sekali." ucap Shinta yang terus memandangi ke dua anak nya.
"Benar, sifat Alana yang menyebalkan sama seperti ibu nya. Tetapi, hati nya begitu sangat baik dan polos."
"Dan sikap dingin Alan nurun pada papa nya. Sudah menyebalkan, dingin pula. Membuat Mama nya pusing." ujar Shinta yang tak mau kalah.
"Sebaiknya kita biar kan mereka, jika mereka tahu kita mengintip seperti ini. Mereka akan malu, dan kembali bertengkar." ajak Revan, Shinta pun mengangguk. Mengikuti sang suami yang berlalu pergi meninggal kan kamar Alan dan Alana.
**********
Syifa yang masih sangat kesal pun termenung di dalam kamar, tanpa ia sadari air mata nya jatuh membasahi kedua pipi nya yang manis itu. Hati nya masih sangat sakit, walau Syifa berusaha untuk melupakan segala rasa sakit nya. Tetap saja, ia tak bisa membohongi diri nya sendiri.
Wajah yang ia sembunyikan di bantal, membuat bantal itu basah.
"Sayang." Syifa terdiam, mencoba menahan tangis nya ketika mendengar suara ibu sambung nya yang sedang memanggil. Syifa sejenak mengatur nafas nya.
"I-iya, Ma."
"Nak, kenapa kamu menutup wajah mu di bantal? Kan sesak sayang?"
"Ti-tidak ma, kepala Syifa terasa pusing. Syifa ingin istirahat ma. Dan po-posisi seperti ini begitu nyaman sekali rasanya." Syifa pun membohongi mama nya, ia tak ingin Shinta mengetahui jika diri nya sedang menangis dan bersedih hati. Syifa tahu, jika mama nya mengetahui apa yang Syifa rasakan. Shinta tidak akan diam, dan pergi ke sekolah untuk melaporkan teman-tenan yang sudah mengganggu nya.
Ibu sambung nya itu tidak tahu, jika lelaki yang anak nya sukai adalah orang yang bergabung dengan teman-teman yang sering menganggu nya di sekolah.
__ADS_1