
Syifa memejamkan kedua mata nya. Menahan emosi yang sudah memuncak di hati nya. Syifa membuang nafas perlahan, ia mengingat ucapan sang mama jika berhadapan dengan lawan jangan menggunakan otot melainkan menggunakan akal kita dengan baik.
Amira dan teman-teman se-geng nya tertawa. Syifa pun tersenyum, duduk dengan begitu santai nya. Amira yang kesal melihat Syifa tidak menangis pun ingin melukai Syifa, namun Syifa bukan lah gadis yang lemah. Diam ketika dirinya di permainkan. Syifa menahan tangan Amira, Amira dan teman-temannya pun terkejut.
"Santai aja dong mir, kenapa emosian gini. Katanya, ketua geng. Masa lemah sih dengan beginian." ujar Syifa dengan senyuman licik nya.
Syifa menepis tangan Amira, ia mengambil makanan yang tadi Amira buang, dengan santai Syifa memasukan makanan itu ke dalam mulut Amira.
"Makan mir, biar kamu tau bagaimana enak rasanya masakan dari keluarga ku."
"Kurang ajar!" Amira kembali ingin menampar Syifa. Dengan sigap Syifa kembali menangkis tangan Amira.
"Makanan ini pantas untuk sampah seperti kamu!" ucap Syifa dengan tenang. Amira yang kesal pun memilih pergi meninggalkan Syifa sendiri. Teman-teman Amira menyusul diri nya. Syifa membuang nafas nya perlahan.
"Ya, Tuhan. Maaf kan aku, tapi mereka memang pantas mendapat kan pelajaran." ujar Syifa, tiba-tiba Syifa kaget dengan suara tepuk kan tangan dari seseorang. Syifa menoleh ke arah suara itu berasal. Betapa kaget nya Syifa melihat seorang pria sebaya nya masuk, mendekati diri nya.
"Kamu hebat sekali, kamu melawan mereka dengan sangat menakjubkan. Tidak membutuh kan tenaga yang banyak, kamu membuat gadis sombong itu malu." ujar pria itu. Syifa diam tak bergeming, diri nya merasa malu. Pria itu adalah teman nya yang datang ke acara ulang tahun Syifa beberapa waktu lalu.
"Ternyata, diam mu ini ada hal yang begitu tidak ter duga ya? Gadis lain, pasti akan menangis jika di perlakukan seperti itu oleh Amira, tapi kau melawan nya sendiri dengan begitu berani."
__ADS_1
"Mama ku tidak mengajarkan ku untuk jahat atau takut pada siapapun, jika aku benar. Aku pantas untuk membela diri, tapi tidak dengan cara kekerasan." ucap Syifa yang merasa gugup.
"Kau? Wanita pemberani seperti mu bisa juga gugup begini." teman pria Syifa mendekati diri nya.
"Sayang, ini orang yang sudah membuat ku kesal." ucap Amira yang tiba-tiba masuk ke kelas, ternyata lelaki itu adalah kekasih Amira. Hal itu membuat Syifa sedikit sakit, tapi ia mencoba untuk biasa saja. Lagipula, baginya mereka masih sangat kecil. Tidak, pantas untuk berpacaran. Syifa mendongak kan wajah nya yang awal nya menunduk malu kepada pria itu. Namun, sekarang tatapan Syifa pada pria itu pun biasa saja.
"Ternyata, kau pacar dari gadis sombong yang barusan kau bicarakan? Aku rasa, tidak ada yang perlu di bicarakan karena ucapan kalian tidak penting." Syifa berlalu pergi dari kelas menuju taman.
Di taman, Syifa duduk termenung. Ia tak percaya, jika pria yang dia suka memiliki pacar. Bahkan pacar nya adalah wanita yang selalu saja menganggu Syifa dan Raisa.
Raisa yang melihat Syifa duduk di taman menghampiri Syifa
"Tumben banget kamu mau ke luar kelas? Bukan nya tadi lagi makan?" tanya Raisa dengan mulut nya yang penuh makanan.
"Amira? Dia memang anak yang nakal, bahkan dia selalu ingin menguasai kelas. Tidak ada yang berani padanya termasuk diri ku. Apalagi dia membawa teman-teman nya begitu banyak." celoteh Raisa. Raisa juga menjelaskan jika geng Amira begitu sangat di segani bahkan oleh kakak kelas sekali pun. Syifa tak menggubris ucapan teman nya itu. Raisa bercerita panjang lebar, namun Syifa tidak fokus. Ia memikirkan tentang pacar Amira.
"Syifa!" panggil Raisa kembali, Syifa pun tersentak. Tidak lama bel berbunyi, menandakan semua murid harus masuk ke dalam kelas. Syifa dan Raisa pun masuk ke dalam kelas. Syifa duduk di bangku nya, ia mencari alat tulis milik nya namun tidak ada. Syifa menoleh kepada Amira yang sedang tersenyum licik memandang Syifa. Syifa hanya menggeleng dan meminjam alat tulis kepada Raisa. Guru pun datang ke kelas mereka memberikan kertas soal dan jawaban untuk mereka isi.
Syifa fokus dengan kertas ujian di hadapannya, mengisi dengan jawaban yang benar. Tidak butuh waktu lama bagi nya mengumpul kertas ujian itu. Syifa melihat Raisa yang terlihat bingung oleh soal ujian. Ingin sekali Syifa memberitahu, namun Syifa sadar jika memberikan contekan itu adalah hal yang salah. Syifa hanya berdoa agar Raisa bisa menjawab soal itu tanpa kesulitan apapun.
__ADS_1
Syifa yang sudah mengumpul ujian, di suruh guru pengawas untuk langsung pulang. Syifa menunggu jemputan supir nya. Perut Syifa berbunyi, tadi ia hanya makan sedikit karena Amira yang membuang bekal milik nya.
******
Sesampai di rumah, Shinta menghampiri sang anak. Menanyakan bagaimana ujian hari ini, Shinta juga meminta maaf karena tidak mengurus Syifa pagi ini. Bahkan tidak membuat kan bekal untuk Syifa. Syifa pun memaklumi mama nya
"Mama jangan meminta maaf seperti ini. Syifa memaklumi nya kok ma, lagipula Syifa yakin jika mama tidak sengaja melakukan ini."
"Tapi, wajah mu terlihat begitu kesal nak?" tanya Shinta yang mengira anak nya marah padanya. Syifa pun menjelas kan jika ini semua bukan karena diri nya.
"Ma, Syifa nggak marah sama mama. Syifa hanya ada masalah kecil di sekolah. Makanya, Syifa begitu kesal saat ini. Tapi, ini semua bukan karena mama kok."
"Masalah apa nak? Apakah ada masalah dengan ujian Syifa?"
"Tidak kok ma, ujian nya berjalan dengan lancar. Dan Syifa menjawab nya tanpa kendala. Kan setiap malam, Syifa selalu belajar bahkan di dalam mobil ketika menuju sekolah, Syifa membawa buku."
"Lalu, masalah apa nak? Syifa jangan buat mama khawatir."
"Masalah dengan teman ma, tapi itu tidak terlalu besar. Hanya masalah kecil."
__ADS_1
"Tapi, mama."
"Mama ku, Sayang. Percaya lah. Jika Syifa nggak marah sama mama, Syifa seperti ini karena teman Syifa yang begitu nakal. Dia selalu saja menganggu Syifa ma." akhirnya Syifa pun mencerita kan segala perbuatan teman nya kepada diri nya. Shinta yang mendengar nya merasa emosi, ingin sekali Shinta datang dan menegur teman Syifa yang selalu menggangu anak nya itu. Namun, Syifa melarang. Karena ia tidak mau, jika teman teman nya mengira Syifa memang lah anak mami.