Ibu Sambung

Ibu Sambung
Bagai Orang Asing


__ADS_3

Revan begitu tak sabaran melihat tingkah isteri nya.


Ia juga heran, kenapa Shinta masih saja malu-malu begini jika ingin berhubungan intim. Wajah Shinta masih saja memerah, ia membuka pakaian nya satu persatu, memperlihatkan tubuh nya yang indah dan putih mulus tanpa ada cacat sedikit pun.


Revan memandangi isteri nya dengan mata yang berbinar, pemandangan yang sungguh indah bagi diri nya.


Bersama Shinta, bagaikan candu bagi nya.


"Tutup lah matamu! Jangan melihat ku seperti itu, seakan singa yang kelaparan mengincar mangsa nya." Shinta menggerutu. Membuat Revan menahan tawa nya, merasa sangat lucu dengan ekspresi wajah sang isteri.


Kini, Shinta sudah memakai lingerie merah yang di suruh oleh Revan. Shinta bertanya kepada Revan kapan ia membelikan pakaian ini untuk diri nya.


"Tadi, saat aku mengantar Syifa. Aku melihat lingerie yang begitu indah ini terpajang di butik. Jadi, aku memiliki ide untuk memberikan hadiah ini untuk isteri ku tersayang."


Terkutuk lah butik itu! Hanya itu yang Shinta bisa katakan di dalam hati nya, jika saja butik itu tidak memajangkan pakaian menyebalkan ini, pasti diri nya tidak akan ada di posisi yang sangat tidak enak seperti ini.


"Sudah."


"Jangan cemberut seperti itu dong, sayang." Revan membisikan sesuatu di telinga Shinta, membuat sekujur tubuh nya menggeliat karena merasa geli.


Shinta memejamkan ke dua mata nya perlahan, menikmati suasana yang mulai menghanyutkan diri nya.


Shinta pun sudah kehilangan kendali, ia pasrah dengan apa yang suami nya lakukan nanti.


Revan menuntun Shinta perlahan menuju ranjang yang mereka tempati, lalu membaringkan tubuh sang isteri.


Perlahan, Revan membelai pipi Shinta dengan penuh cinta, Shinta semakin hanyut dalam perlakuan manis dari suami nya.


Revan menatap ke dua mata Shinta, dengan dalam. Ke dua nya saling memandang satu sama lain, bibir Revan mendekat di telinga isteri nya.


"Aku mencintai mu." bisik Revan dengan manja, Shinta yang sudah kehilangan kendali pun langsung memeluk suami nya dengan erat. Revan perlahan mengecup leher sang isteri, Shinta mendongakkan kepala nya agar sang suami dengan leluasa bermain di leher jenjang nya itu.


Mengecup dengan perlahan, sesekali meninggalkan cap kepemilikan di leher Shinta. Lalu, turun ke bawah dengan sangat lembut dan santai.


Shinta begitu nyaman dengan perlakuan suami nya, karena Revan selalu memperlakukan ia dengan lembut, tidak tergesa-gesa.

__ADS_1


Ke dua nya menghabiskan malam yang panas dengan puas. Dan melampiaskan kerinduan yang beberapa bulan ini di tahan oleh ke dua nya.


*************


Raisa yang sudah tidur pun memeluk mami nya dengan manja. Begitu juga dengan syifa.


Malam semakin larut, Caca menatap langit-langit kamar anak nya dengan tatapan yang kosong.


Sesekali, Caca menoleh ke arah Raisa dan Syifa secara bergantian. Ia mengecup ke dua anak nya.


Caca berfikir, andai saja. Ia tidak membuang Raisa dulu. Mungkin, dia sudah sangat bahagia memiliki keluarga yang sangat utuh, suami nya juga tidak harus marah pada nya.


Namun, nasi sudah menjadi bubur. Tapi, jika di berikan bumbu pasti tidak akan terlalu buruk rasanya.


Begitulah seumpamanya, apa yang sudah terjadi di masa lalu tidak bisa di hindari. Namun, saat ini yang terpenting adalah bagaimana bisa membuat anak-anak nya merasa bahagia.


Terus aja teringang di kuping Caca, saat suami nya mengatakan jika anak nya pernah di adopsi dan di jadikan pengemis oleh orang lain.


Hal itu membuat Caca merasa sangat sakit, ia beranjak dari tempat tidur perlahan agar ke dua Puteri nya tidak terbangun.


Sesampai di balkon, Caca berhadapan dengan suami nya Arvan.


Dia menundukkan kepala nya, Arvan ingin pergi dari tempat itu, namun Caca memanggil nya.


"J-jika kau ingin di sini, tetap lah di sini. Biar aku yang pergi."


"Ini rumah ku, aku bisa kemana saja yang aku mau!" ketus Arvan.


"Iya, aku tahu ini adalah rumah mu. Jadi, aku memutuskan untuk pergi dari sini besok."


Arvan menghentikan langkah kaki nya yang ingin pergi dari sana, ia terdiam. Membalikan badan nya menoleh Caca, apa yang ia dengar barusan itu tidak lah salah.


"Kau ingin pergi?"


Arvan tersenyum, ia pun mempersilahkan Caca pergi dari sana dengan satu catatan Caca tidak bisa membawa anak-anak nya.

__ADS_1


"Kenapa? Dia anakku!"


"Anakmu? Kau sudah kehilangan hak sebagai seorang ibu. Apa kau tidak malu berbicara dan mengatakan jika kau adalah ibu mereka? Kau lupa apa yang lakukan pada Raisa?"


"Iya, aku masih mengingat nya. Dan, iya. Jika aku ibu yang buruk, apakah kau suami dan ayah yang baik?" Caca menatap Arvan dengan penuh kecewa, rasa sabar nya seketika menghilang.


Dia sudah muak dengan sikap suami nya. Ia ingin Arvan kembali seperti dulu.


"Aku memang melakukan kesalahan, tapi apa kau benar.? Seutuh nya ini salah ku saja? Dan kau tidak bersalah?"


"Apa kesalahan ku?" teriak Arvan. Caca yang spontan menampar suami nya.


"Itu, itu kesalahan mu! Kau selalu saja bersikap semau mu. Saat dulu aku tidak mencintai mu, kau memaksa ku untuk menikah dengan mu. Kau dan mama ku menjauhkan ku dari anakku sendiri. Kau selalu mengancam ku dulu, untuk tidak bertemu dengan Syifa. Jika kau marah karena di pisahkan oleh anak mu, apa aku tidak bisa marah?"


Arvan terdiam, apa yang di katakan oleh Caca memang lah benar. Dulu, diri nya begitu egois. Tidak mengizinkan Caca untuk bertemu dengan Syifa. Padahal, Syifa masih membutuhkan ASI nya.


"Saat Syifa masih sangat bayi, dia membutuh kan ibu nya bahkan masih membutuhkan ASI ku. Apakah tindakan mu itu benar? Apa aku tidak bisa marah? Aku tidak bisa menjaga anakku dan memberikan nya ASI. Iya, perbuatan ku itu tidak benar. Tapi, apa kau benar? Apa kau tidak pernah membuat kesalahan? Bahkan di saat seorang isteri di perlakukan dengan lembut oleh suami nya baik saat berhubungan intim atau tidak. Tapi, kau? Selalu pulang dalam keadaan mabuk, memperlakukan ku dengan kasar, bahkan seperti layak nya binatang saat melakukan intim itu. Apakah aku salah jika aku tidak siap memiliki anak dari mu waktu itu?"


Caca yang tak tahan pun menangis histeris, ia meluapkan segala rasa sakit nya.


"Bahkan di saat kau sudah terlalu menyakiti ku dulu, aku melupakan segala nya. Aku tidak pernah mengingat bagaimana hari-hari burukku saat mengenal mu. Apa kau lupa, kehadiran mu membuat ku hancur! Cinta ku di renggut secara paksa, kau dan mama ku sama saja. Tapi, apa pernah aku dendam pada mu? Tidak!"


Arvan kini bungkam dengan ucapan Caca.


"Kenapa? Kenapa kau diam? Apa ucapan ku salah? Jika kau memang tidak bisa memaafkan ku. Tidak apa, aku sudah mengambil keputusan untuk bercerai pada mu. Ini memang kesalahan ku, yang terlalu berharap kebahagiaan padamu. Aku salah,"


Caca berbicara dengan nada yang gemetar, dada nya sangat sesak. Ia sudah tidak sanggup lagi, menghadapi sikap suami nya.


Seakan ia di perlakukan seperti orang asing saja.


************


----------------------------------------------------


Terkejut banget dapat komen kaya gini, yang tau info nya mohon dong di perjelas. Sakit banget kalau tau ada yang plagiatin tapi judul nya beda:(

__ADS_1



__ADS_2